Chapter 185
"Hadirkanlah Sang Siwa di dalam hatiku, terangilah wajahku dengan senyum para Sidharta," ujar Patih Gajah Mada dalam hati yang mulai menemukan kembali garis terang tali kebenaran di dalam sanubarinya.
Patih Gajah Mada telah tertidur dengan pulas, wajahnya memancarkan ketenteraman hati. Seandainya ada seseorang yang sengaja masuk ke dalam peraduannya, ia akan sangat terkejut melihat cahaya kebiruan yang lembut menyelimuti seluruh tubuh sang Patih muda yang tengah berada di puncak yoga dan samadi meski dalam keadaan terbaring.
Sementara itu, semburat warna merah di cakrawala langit malam Kademangan Simpang melintang dari arah timur ke barat. Perlahan dan sayup-sayup terdengar suara ayam jantan dari kejauhan. Hari mulai beranjak pagi.
"Senang bermalam di barak kalian," ujar Patih Gajah Mada dari atas kudanya.
"Salam lestari. Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu melindungi Tuanku," sahut Lurah Prajurit itu melepas kepergian sang pengawal.
Demikianlah, tiga ekor kuda terlihat membelah udara pagi yang sejuk melaju ke arah utara. Mereka adalah Patih Gajah Mada dan dua orang pengawalnya yang tengah melakukan perjalanan menuju Kotaraja Majapahit. Perjalanan mereka tidak jauh lagi; saat matahari mendekati puncak cakrawala, mereka telah memasuki gapura gerbang Kotaraja Majapahit.
Tiba di istana, Patih Gajah Mada langsung menghadap Mahapatih Arya Tadah di Bale Kepatihan. Sang Mahapatih baru saja menerima tamu terakhirnya.
"Selamat datang, wahai kemenakanku," sambut Mahapatih Arya Tadah.
"Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu memberkatimu, wahai Pamanku," balas Patih Gajah Mada.
Setelah masing-masing bercerita tentang berbagai hal selama perpisahan mereka, Patih Gajah Mada memulai pembicaraan mengenai urusan Kerajaan Kediri yang menjadi tanggung jawabnya.
"Tidak salah Ibunda Ratu Gayatri menunjuk dirimu menjadi patih di Daha," tanggap Mahapatih Arya Tadah setelah mendengar laporan mengenai kemajuan di Kerajaan Kediri.
"Masih ada satu urusan sangat penting yang akan aku sampaikan kepada Pamanda," ujar Patih Gajah Mada dengan suara perlahan sambil mengawasi keadaan sekitar karena khawatir ada orang lain yang mendengar.
"Sepertinya kamu merasa khawatir bahwa dinding ini bertelinga," sahut Mahapatih Arya Tadah seolah dapat membaca pikiran sang pemuda.
"Yang akan aku sampaikan adalah sebuah rahasia besar," kata Patih Gajah Mada sambil menarik napas panjang penuh kehati-hatian.
"Apakah aku perlu mengetahuinya, wahai kemenakanku?" tanya Mahapatih Arya Tadah dengan senyum lembut layaknya seorang ayah kepada putranya.
"Aku berharap Pamanda dapat memberikan tanggapan, apa yang seharusnya aku lakukan," ujar Patih Gajah Mada penuh kepercayaan.
"Katakanlah, wahai kemenakanku, bila memang kamu mempercayaiku," jawab Mahapatih Arya Tadah lembut.
Maka, Patih Gajah Mada menceritakan peristiwa pembunuhan Raja Jayanagara, di mana Ra Tanca sebenarnya menjadi korban kelicikan seseorang bernama Kuda Jenar.
"Apakah yang kamu maksud adalah Tanda Kuda Jenar, orang dari Wengker itu?" tanya Mahapatih Arya Tadah setelah Patih Gajah Mada menyelesaikan penuturannya.
"Pamanda mengenalnya?"
"Orang itu sangat dekat dengan Raden Kudamerta. Saat ini ia dipercayakan membangun kotaraja baru di Hutan Sastrawulan," jelas Mahapatih Arya Tadah.
"Aku akan menangkap orang itu agar kebenaran menjadi terang benderang," tegas Patih Gajah Mada.
Mahapatih Arya Tadah terdiam beberapa saat sambil menarik napas dalam-dalam. Patih Gajah Mada merasakan bahwa orang tua yang bijaksana itu tengah merenung.
"Wahai kemenakanku, di medan pertempuran kita biasa menyelesaikan segalanya dengan pedang, namun di panggung kekuasaan yang penuh muslihat ini, senjata kita adalah akal dan pikiran. Kita harus jeli melihat seluruh isi ranu yang luas dan dalam. Kita belum dapat memastikan apakah Tanda Kuda Jenar berdiri sendiri atau ada orang kuat yang mendalanginya," ujar Mahapatih Arya Tadah. "Yang aku khawatirkan, tindakanmu akan berakibat buruk bagi dirimu sendiri."
"Aku tidak mengerti maksud Pamanda."
"Bilamana kamu menangkap Kuda Jenar dan membawanya ke pengadilan istana, kamu seperti menelanjangi dirimu sendiri karena telah melakukan kesalahan besar dengan membunuh orang yang tidak berdosa," jelas Mahapatih Arya Tadah.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini?"
"Mereka telah memenangkan langkah pertama, maka tugas kita saat ini adalah menjaga jangan sampai mereka memenangkan langkah selanjutnya."
"Aku mulai mengerti jalan pikiran Pamanda; langkah mereka sebenarnya adalah takhta kerajaan ini," sahut Patih Gajah Mada.
"Pikiranmu sangat encer, wahai kemenakanku," puji Mahapatih Arya Tadah.
"Tapi, izinkan aku memberi sedikit pelajaran kepada Kuda Jenar, setidaknya untuk meyakinkan diriku bahwa dia ada di balik pembunuhan ini."
"Selama mereka tidak mengenal jati dirimu," pesan Mahapatih Arya Tadah.
Hari itu, Hutan Sastrawulan dipenuhi ratusan pekerja yang siang dan malam menyiapkan lahan untuk pusat Kerajaan Majapahit yang baru. Raden Kudamerta telah mempercayakan sahabatnya, Kuda Jenar, sebagai pemimpin para pekerja. Suara kapak beradu dengan batang kayu menjadi irama keseharian di hutan tersebut.
Kuda Jenar tengah mengawasi penebangan pohon di tengah keremangan hutan. Ia tidak menyadari bahwa sepasang mata telah lama mengamatinya. Tanpa disadari, sebuah benda halus meluncur cepat ke arahnya. Kuda Jenar, yang mewarisi ilmu tinggi dari ayahnya, Ki Agung Ngrayun, sempat mendengar desir suara benda itu, namun lajunya terlalu cepat untuk dihindari.
*Clep!*
Sebuah duri beracun menancap di lehernya. Kuda Jenar terperanjat, namun sedetik kemudian dunianya terasa berputar dan ia roboh ke bumi.
"Pimpinan kita jatuh pingsan!" teriak seorang pekerja.
Belum sempat para pekerja mendekat, seorang bercaping lebar telah berdiri di dekat tubuh Kuda Jenar.
"Kamu pasti melukai pimpinan kami!" bentak seorang penebang kayu sambil mengacungkan kapak.
"Aku hanya ingin meminjam pimpinanmu ini sebentar," ujar orang bercaping itu tenang.
Kedua penebang kayu itu menerjang dengan kapak di tangan, namun mereka berdua merasakan hantaman tangan yang kokoh di dada mereka. Seketika, keduanya terlempar jatuh ke tanah.