Chapter 158
"Bersiaplah, mereka sudah datang," kata Adityawarman kepada seorang prajurit di dekatnya yang telah melihat pasukan berkuda akan segera melewati mereka.
Kembali para prajurit pilihan itu menunjukkan kemahirannya. Dari kegelapan malam, terlihat mereka bergerak dengan sangat sigap dan penuh perhitungan yang matang. Hanya dengan satu lompatan, mereka berhasil menjangkau dada musuh-musuh mereka yang masih berada di atas punggung kuda. Lima puluh orang pasukan berkuda berhasil mereka lumpuhkan dalam sekali sergapan.
"Mari kita menyusul kawan-kawan kita yang sudah merapat di luar pagar istana," ujar Adityawarman kepada beberapa prajurit yang menyertainya.
"Pagar luar istana telah kita kuasai," lapor seorang prajurit yang sengaja menunggu kedatangan Adityawarman.
"Lepaskan panah sanderan agar Gajah Mada dan pasukannya bergerak masuk ke istana."
Tidak lama berselang, tiga buah panah sanderan melesat menerangi udara malam Kotaraja Majapahit. "Saatnya kita bergerak," kata Gajah Mada kepada Ki Lurah Sanakeling saat melihat tiga buah panah sanderan susul-menyusul di langit malam Kotaraja Majapahit. Ki Lurah Sanakeling pun segera menghampiri seorang penghubung.
Dalam waktu singkat, perintah berantai diterima oleh setiap kelompok prajurit kesatuan Jala Yudha yang telah cukup lama menanti di tepian Sungai Kalimas, yaitu perintah untuk bergerak bersama ke arah istana Majapahit. Seperti pasukan hantu yang mengerikan, pasukan segelar sepapan itu mendekati Kotaraja Majapahit yang sepi dan gelap. Suara derap langkah kaki pasukan yang datang dari arah tanah Ujung Galuh itu terdengar mengusik kesunyian malam.
"Para dewata telah mengutus laskarnya," bisik seorang lelaki tua kepada istrinya yang memberanikan diri mengintip dari celah pintu kayu. Begitulah kepercayaan warga Kotaraja Majapahit bahwa para dewata akan selalu melindungi putra sucinya dengan menurunkan laskar malam untuk menguasai kembali istana dari para penguasa kelam yang tidak mendapat restu.
"Tugas kita adalah menjaga dan mengamankan sekitar dinding ini hingga Gajah Mada dan pasukannya datang," perintah Adityawarman kepada pasukannya. Pertempuran pun tidak dapat dihindarkan. Pasukan Adityawarman sangat diandalkan dan memahami tugasnya dengan tidak bergerak jauh dari dinding pagar istana yang sengaja dipertahankan. Namun, gelombang pasukan Ikal-Ikalan Bang semakin bertambah jumlahnya, sementara pasukan Gajah Mada belum juga terlihat.
"Bertahanlah, pasukan Gajah Mada telah berdatangan," seru Adityawarman saat melihat pasukan Gajah Mada masuk melalui dinding pagar istana.
Gelegarrr! Terdengar suara hentakan cambuk yang membahana, memekakkan udara malam di istana Majapahit.
"Terima kasih, Kawan. Pasukanmu telah memudahkan kami memasuki istana ini," kata Gajah Mada kepada Adityawarman yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Simpan rasa terima kasihmu, mari kita hangatkan malam ini," sahut Adityawarman penuh semangat sambil memutar pedang panjangnya, melibas lima orang pasukan musuh hingga terlempar mundur.
Akhirnya, ribuan pasukan Gajah Mada berhasil masuk dan membanjiri istana Majapahit. Seperti gelombang amuk banjir bandang dari bendungan yang jebol, pasukan Gajah Mada memporak-porandakan dan meluluhlantakkan pasukan Ikal-Ikalan Bang. Pasukan Jala Yudha yang terbiasa bertempur di kegelapan malam di tengah lautan itu bergerak menyapu bersih musuh bak laskar badai.
"Anak muda, aku akan menghentikan gerak pedangmu yang ganas itu," kata Ikal-Ikalan Bang, seorang lelaki bertubuh pendek dan gempal yang berdiri di hadapan Adityawarman.
"Sungguh sebuah kehormatan berhadapan langsung dengan seorang tumenggung," balas Adityawarman.
Ikal-Ikalan Bang terkejut bukan kepalang mendapati kegesitan dan ketangkasan anak muda di hadapannya. Benturan pertama membuat Ikal-Ikalan Bang menyadari bahwa lawannya bukan anak muda sembarangan. Orang kepercayaan Ra Kuti itu menjadi lebih berhati-hati. Adityawarman tampak belum mengeluarkan kemampuan puncaknya, ia hanya menyejajarkan tingkat kemampuan lawannya untuk mengukur kedalaman ilmu yang dimiliki Ikal-Ikalan Bang.
Ikal-Ikalan Bang tidak menyangka akan tertahan oleh lawan muda yang sulit dilumpuhkan itu. Bahkan, dirinya seolah terkurung dalam duel satu lawan satu di tengah pertempuran besar. Ikal-Ikalan Bang harus meningkatkan kemampuannya agar segera menuntaskan pertempuran, namun Adityawarman tetap kukuh seperti gunung karang. Trisula di tangan Ikal-Ikalan Bang menerjang bertubi-tubi, namun putra Patih Mahesa Amping itu bergerak gesit bak burung sikatan, berkelit dan membalas serangan dengan dahsyat hingga membuat lawannya harus berguling di tanah.
Arena pertempuran mereka menjadi terpisah; orang-orang menyingkir karena takut terkena imbas dahsyatnya senjata keduanya. Sementara itu, di seluruh sisi istana, pasukan Gajah Mada perlahan tapi pasti berhasil menekan lawan yang kini kehilangan arah karena Ikal-Ikalan Bang terkunci oleh Adityawarman.
"Tetaplah dalam gelar kesatuan masing-masing," seru Gajah Mada. Di bawah kendalinya, pasukannya bergerak layaknya kawanan serigala yang menyergap sekumpulan banteng. Sambil menyapu pandangan, cambuk Gajah Mada ikut mematuk dan melecut prajurit lawan yang mendekat. Ribuan mayat bergelimpangan, darah menggenangi istana, dan suara denting senjata serta jeritan kesakitan memenuhi malam yang bising.
"Aku harus menyudahi peperangan ini," gumam Gajah Mada sambil memandang korban di kedua belah pihak. Ia mulai mencari seseorang. Hingga akhirnya, tatapan matanya tertuju pada seorang lelaki yang begitu tangkas memainkan pedang panjang, gesit menghindari sergapan pasukannya, dan telah melukai banyak prajuritnya.
Tarrr!