Chapter 122
"Ternyata begitu mudah menguasai Tanah Lamajang," ujar Lembu Peteng dengan senyum bangga sembari membayangkan penguasa bumi Lamajang telah melarikan diri karena takut menghadapi mereka.
Mendengar perkataan Lembu Peteng membuat Ki Jabung Terewes berpikir serupa. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk terus bergerak mendekati istana kadipaten yang tampak lengang itu.
Namun, manakala pasukan Ki Jabung Terewes sudah sangat dekat dengan istana Kadipaten Lamajang, ribuan anak panah meluncur menghujani mereka dari balik pagar dinding batu istana.
"Gila, gila, gila!" teriak Ki Jabung Terewes sambil mundur bersama pasukannya keluar dari jangkauan anak panah.
Puluhan prajurit Majapahit yang tidak mampu berlari dan menghindar dengan cepat terluka parah terkena hujan panah tersebut.
"Aku akan merobek perut semua orang di dalam istana itu," geram Ki Jabung Terewes yang berhasil menyelamatkan diri dari hujan anak panah.
"Kita harus menghancurkan pintu gerbang istana itu," kata Ikal-Ikalan Bang. Ia melihat hanya pintu gerbanglah yang dapat digempur, sementara dinding pagar yang mengelilingi istana terbuat dari batu yang sangat tebal.
"Perlu sebatang pohon besar dan sebuah pedati," ujar Lembu Peteng mencoba memutar akalnya.
Maka, beberapa prajurit menebang sebuah pohon kayu yang cukup besar dan menemukan sebuah pedati yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
"Kita harus melindungi prajurit kita yang akan membawa kayu dan pedati itu," kata Lembu Peteng saat melihat alat pendobrak gerbang istana siap diluncurkan.
"Dengan hujan anak panah," sahut Ikal-Ikalan Bang. "Begitu pintu gerbang dapat dihancurkan, kita segera menerobos masuk bersama," ujar Ki Jabung Terewes dengan tidak sabar.
Akhirnya, sebuah batang kayu besar di atas pedati didorong oleh sekitar dua puluh orang prajurit Majapahit. Untuk melindungi kawan-kawan mereka yang tengah menggerakkan pedati, ratusan prajurit Majapahit menghujani istana Kadipaten Lamajang dengan anak panah. Sementara itu, ribuan prajurit lainnya bersiap menerobos masuk begitu gerbang hancur.
Namun, tidak ada yang menduga sama sekali—baik Ki Jabung Terewes, Lembu Peteng, maupun Ikal-Ikalan Bang yang paling cerdas—bahwa dari dalam istana meluncur ribuan anak panah api yang menghujani pedati dan batang kayu di atasnya. Akibatnya, para prajurit Majapahit yang bertugas membawa pedati itu berlarian meninggalkan pedati yang terbakar, serta meninggalkan beberapa rekannya yang tertembus panah berapi.
"Gila, gila, gila!" tubuh Ki Jabung Terewes bergetar melihat kegagalannya.
"Ikal-Ikalan Bang, apakah kamu punya rencana lain?" tanya Ki Jabung Terewes yang mulai buntu pikirannya.
"Kita sudah membuang banyak waktu, sebentar lagi hari akan gelap. Malam ini kita carikan akal bersama, tentunya dengan pikiran yang lebih jernih lagi," usul Ikal-Ikalan Bang.
Tampaknya Ki Jabung tidak memiliki rencana lain selain mengikuti usulan bawahannya yang dipercaya memiliki otak lebih encer dibanding Lembu Peteng itu. Sesuai perkataan Ikal-Ikalan Bang, hari memang segera gelap. Ki Jabung Terewes kemudian memerintahkan pasukannya untuk mundur ke perbatasan kota.
Sementara itu, para prajurit Lamajang yang berjaga di sepanjang dinding istana tidak menyerang prajurit Majapahit yang sedang mengumpulkan mayat kawan-kawan mereka di depan istana Kadipaten.
"Menurut perhitunganku, mereka akan melakukan penyerangan habis-habisan esok hari," kata Empu Nambi kepada orang-orangnya di atas pendapa istana Kadipaten. "Menurut perhitunganku pula, para prajurit dari Blambangan dan orang-orang dari Perguruan Teratai Putih dari Balidwipa telah tiba di Tanah Lamajang ini."
"Dengan kedatangan bantuan pasukan dari Blambangan dan Balidwipa itu, jumlah kita akan menjadi sangat lebih dari cukup untuk menghantam para prajurit Majapahit itu," ujar Adipati Menak Koncar.
"Bila terjadi perang brubuh, perlu keseragaman untuk menghindari kesalahan mengenal kawan dan lawan," kata Rangga Pamandana.
"Itulah yang aku khawatirkan. Maka, kutugaskan kepadamu, wahai Rangga Pamandana, malam ini juga untuk menemui para prajurit dari timur Jawadwipa ini dan menyampaikan tanda pengenal yang akan kita kenakan," perintah Empu Nambi.
"Pertanda apa yang akan kita kenakan kepada prajurit di pihak kita, Ayahanda?" tanya Adipati Menak Koncar.
"Daun jarak di kepala," jawab Empu Nambi.
Demikianlah, pada malam itu juga Rangga Pamandana ditugaskan menemui para prajurit dari Blambangan dan simpatisan dari Perguruan Teratai Putih yang diperhitungkan masih dalam perjalanan menuju Tanah Lamajang.
"Kami akan membiarkan mereka menerobos masuk ke istana ini. Di saat seperti itulah pasukan yang kamu bawa datang menjepit mereka," pesan Empu Nambi kepada Rangga Pamandana.
Waktu terus bergulir, malam berganti pagi. Kesibukan luar biasa terlihat di dapur umum; petugas menyiapkan ransum untuk para prajurit Lamajang. Sementara itu, jalan di depan istana Kadipaten Lamajang masih lengang, namun setiap prajurit Lamajang terus berjaga mengamati keadaan.
"Pasukan daun jarak, itulah sandi kita hari ini," ujar seorang kepala prajurit Lamajang sambil membagikan tangkai daun jarak untuk dikenakan di kepala setiap prajurit.
Perlahan, warna pagi mulai terang disinari cahaya matahari. Wajah-wajah tegang menghiasi para prajurit Lamajang yang yakin bahwa prajurit Majapahit akan muncul kembali. Akhirnya, yang ditunggu pun tiba, diawali dengan derap langkah kaki dan suara tombak yang beradu dengan tanah, menciptakan kegaduhan untuk menggetarkan semangat lawan.
Barisan prajurit Majapahit berhenti beberapa tombak di luar jangkauan anak panah. Hari itu, mereka telah menyiapkan beberapa anak tangga dari batang kayu.
"Persiapkan pasukan pemanahmu!" seru Ki Jabung Terewes kepada Lembu Peteng. Tanpa menunggu perintah kedua, Lembu Peteng mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, diikuti oleh prajurit penghubung yang mengangkat tiang bendera.
"Serang!" teriak Lembu Peteng. Prajurit penghubungnya segera menggerakkan bendera ke kiri dan ke kanan sebagai isyarat agar pasukan pemanah maju ke depan.
Ratusan pemanah bergerak maju sambil melepaskan anak panah jauh ke atas pagar dinding istana. Di balik deru hujan anak panah, ratusan prajurit Majapahit maju membawa batang-batang kayu yang telah dibentuk menjadi anak tangga. Meski serangan balasan dari balik dinding istana sempat mencerai-beraikan mereka, pasukan pembawa anak tangga itu tetap bergerak maju tanpa menghiraukan hujan panah yang menghujani kepala mereka.
Dengan semangat luar biasa, para prajurit Majapahit berhasil menyandarkan batang-batang kayu itu ke dinding batu istana dan segera dipanjati oleh ratusan prajurit. Namun, nasib nahas menimpa mereka yang memanjat; sabetan pedang tajam dari prajurit Lamajang yang telah bersiap di balik dinding langsung menebas mereka hingga jatuh terhempas ke tanah.
Walaupun demikian, beberapa prajurit Majapahit berhasil lolos dan melompat masuk, namun mereka segera disambut oleh puluhan pedang dan lembing lawan. Ikal-Ikalan Bang, yang berada dalam barisan tersebut, berhasil menerobos masuk dan mengamankan jalur celah dinding bersama beberapa prajuritnya. Dari jalur itulah, pasukan Majapahit mulai mengalir masuk ke dalam istana Lamajang.