Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 184

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 184

"Nyi Ra Tanca, apakah kamu membenciku atas apa yang telah aku lakukan kepada suamimu itu?" tanya Patih Gajahmada.

Nyi Ra Tanca tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sementara itu, Patih Gajahmada dan Ki Rangga Gajah Biru terlihat menunggu jawaban dari wanita malang tersebut. Perlahan, Nyi Ra Tanca mengangkat wajahnya.

"Aku tidak menyalahkan Tuan Patih Gajahmada, karena aku tahu siapa dalang di balik semua ini yang telah menggunakan suamiku sebagai tameng dari perbuatannya," ujar Nyi Ra Tanca dengan suara pelan namun terdengar jelas.

"Demi tanganku yang telah menewaskan suamimu, aku akan membuat perhitungan dengan orang itu," tegas Patih Gajahmada.

"Tuan Patih Gajahmada, kita harus berpikir jernih karena kita belum tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang itu. Sementara kita juga belum mengetahui apakah orang itu bertindak atas suruhan atau atas keinginan pribadinya sendiri," Ki Rangga Gajah Biru mengingatkan.

"Ki Rangga Gajah Biru benar," sahut Patih Gajahmada.

"Selama kita belum mendapatkan petunjuk mengenai tujuan orang itu, rahasia besar ini harus kita jaga bersama," tambah Ki Rangga Gajah Biru.

"Ki Rangga Gajah Biru benar. Lingkaran takhta Kerajaan Majapahit ibarat belantara hutan perburuan; kita tidak tahu siapa yang diburu dan siapa pemburunya, siapa lawan dan siapa kawan," kata Patih Gajahmada.

"Peristiwa Ranggalawe, peristiwa Empu Nambi, peristiwa Patih Mahesa Amping, dan kematian Raja Jayanagara adalah pelajaran mahal bagi kita bahwa lingkaran takhta Majapahit ini tidak pernah sepi dari para pengkhianat dan para pemimpi yang diam-diam ingin meruntuhkan kemapanannya. Kerajaan Majapahit tidak akan berdiri kokoh selama masih ada orang-orang seperti mereka, para penghasut, para perusuh, dan para pejabat kotor yang mencari keuntungan dari kekeruhan bumi ini. Tuan Patih Gajahmada, aku akan selalu berada di belakangmu, di belakang para ksatria penjaga bumi Majapahit ini," lanjut Ki Rangga Gajah Biru.

"Aku tidak menyangsikan kesetiaanmu, Ki Rangga. Manakala ayah angkatku, Patih Mahesa Amping, dihujat oleh banyak orang, Ki Rangga Gajah Biru dengan penuh keberanian berada di sampingnya. Semoga aku dapat berbuat sebagaimana Ki Rangga Gajah Biru, berdiri di atas kebenaran yang kita yakini meski harus sendiri tanpa kawan melawan arus," jawab Patih Gajahmada.

"Tuan Patih Gajahmada saat ini tidak sendiri, masih ada aku yang akan selalu percaya bahwa kebenaran akan menang," ujar Ki Rangga Gajah Biru.

"Kebetulan sekali pekan depan aku ada urusan di Istana Majapahit. Semoga aku dapat menyelami apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian Raja Jayanagara," kata Patih Gajahmada.

"Semoga Tuan Patih Gajahmada dapat menyingkapnya dengan kejernihan hati," balas Ki Rangga Gajah Biru.

"Nyi Ra Tanca, kuhargai jerih payahmu datang ke Daha ini untuk mengungkap kebenaran, dan kuhargai pula ketulusan hatimu untuk tidak menaruh dendam kepadaku," kata Patih Gajahmada kepada Nyi Ra Tanca.

"Aku hanya wanita biasa, hanya ini yang dapat kuperbuat untuk memutihkan nama baik suamiku," ucap Nyi Ra Tanca dengan suara serak yang masih diliputi kesedihan.

"Di mataku, Nyi Ra Tanca adalah seorang wanita yang punya ketabahan hati teguh, seorang istri yang setia menjaga kehormatan nama baik suaminya," puji Patih Gajahmada.

"Terima kasih, Tuan Patih Gajahmada telah menerima kebenaran dariku. Hal ini telah mengobati perih dan pedih luka di dalam hatiku atas cemoohan banyak orang yang telah menistakan keluarga kami," ujar Nyi Ra Tanca sambil merangkapkan kedua tangannya sebagai tanda terima kasih.

Pembicaraan mereka bertiga terhenti ketika pintu pringgitan terbuka lebar. Nyi Rangga Gajah Biru muncul bersama seorang pelayan wanita sambil membawa makanan dan minuman. "Mudah-mudahan masakan orang Daha ini sesuai dengan lidah Tuan Patih," ujar Nyi Rangga Gajah Biru sembari menyajikan hidangan.

Demikianlah, Nyi Rangga Gajah Biru ikut menemani makan siang, dan pembicaraan beralih ke hal lain. Nampaknya, Patih Gajahmada, Nyi Ra Tanca, dan Ki Rangga Gajah Biru telah sepakat menutup rapat rahasia besar di balik kematian Raja Jayanagara. Ketika Patih Gajahmada pamit, Ki Rangga Gajah Biru tidak berkata apa pun perihal Nyi Ra Tanca. Hari-hari selanjutnya, keberadaan Nyi Ra Tanca dan rahasia jati dirinya tetap tertutup rapat. Nyi Ra Tanca diterima tinggal di rumah Ki Rangga Gajah Biru sebagai seorang wanita bernama Utami, wanita malang yang tidak memiliki kerabat di Kotaraja Daha.

Pagi itu, di beberapa tempat di Kotaraja Daha masih terlihat genangan air akibat hujan deras semalaman. Tiga orang penunggang kuda berjalan perlahan menuju batas kota. Salah seorang dari mereka adalah Patih Gajahmada yang dikawal oleh dua orang prajurit. Ketika telah melewati gapura batas kota, mereka memacu kuda menembus udara pagi di bawah tatapan matahari.

Patih Gajahmada melakukan perjalanan menuju Kotaraja Majapahit. Ia menikmati perjalanannya, terutama saat melewati padukuhan yang terlihat damai. Hamparan persawahan yang luas dengan pengairan yang merata membuat para petani bersemangat. Para pedagang dengan gerobak kuda pun merasa aman karena prajurit Majapahit telah ditempatkan di beberapa daerah sebagai kesatuan khusus yang melakukan perondaan di darat maupun di laut.

"Bumi Majapahit ini adalah surga yang jatuh dari langit, anugerah dari Gusti Yang Maha Agung," batin Patih Gajahmada. Namun, saat teringat cerita Nyi Ra Tanca, hatinya gelisah. "Tanganku ini telah berlumur darah orang yang tak berdosa," sesalnya dalam hati.

Kedua prajurit terkejut melihat kuda Patih Gajahmada tiba-tiba berlari kencang. Mereka segera menghentakkan kuda masing-masing agar tidak tertinggal. Rupanya, Patih Gajahmada tidak menyadari gerakannya yang terbawa perasaan untuk segera tiba di Kotaraja Majapahit guna meluruskan masalah Ra Tanca. Setelah menyadari laju kudanya, Patih Gajahmada memperlambat langkah. Kedua prajurit itu pun mengikuti dengan bingung, saling beradu pandang tanpa mengerti sikap junjungan mereka.

"Kita bermalam di barak kesatuan prajurit di Kademangan Simpang," kata Patih Gajahmada saat melihat gerbang Kademangan Simpang. Malam itu, mereka singgah di barak dan disambut dengan sangat istimewa oleh lurah prajurit setempat.

"Sungguh sebuah penghormatan bagi kami mendapat kunjungan Tuan Patih," ujar sang lurah.

"Mudah-mudahan kami bukan tamu yang membosankan," balas Patih Gajahmada dengan penuh keramahan untuk menghilangkan jarak kepangkatan. Patih Gajahmada adalah sosok yang sederhana dan bersahaja; ia tidak terbiasa menggunakan jabatannya untuk dihormati. Lurah prajurit tersebut sangat terkesan dengan budi luhur dan wawasan tinggi Patih Gajahmada.

"Berusahalah kalian membaur dengan warga di sekitar agar mereka tidak merasa takut, melainkan menghormati dan mencintai kalian. Jangan sekali-kali menyakiti perasaan mereka. Keberhasilan kalian membaur adalah bukti keberhasilan menjaga bumi ini," pesan Patih Gajahmada.

"Nasihat Tuanku akan kami laksanakan dengan penuh kesadaran," jawab sang lurah.

Larut malam, lurah prajurit mempersilakan Patih Gajahmada beristirahat. Namun, Patih Gajahmada tidak dapat memejamkan mata. Bayangan Ra Tanca selalu hadir. "Aku seorang pembunuh," bisiknya menyesali perbuatan masa lalunya.

Namun, saat ia berusaha mengendapkan akal budinya dan menghadirkan Sang Maha Tunggal, gejolak hatinya perlahan reda. "Tiada gerak selain gerak-Mu, tiada takdir selain ketentuan-Mu. Aku hanyalah bayang-bayang-Mu. Hitam dan putih hati manusia berada dalam genggaman-Mu," ucap Patih Gajahmada dalam kepasrahan penuh, mengakui kekerdilan dirinya di hadapan Sang Pemilik Alam Semesta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment