Chapter 172
Sebuah upacara perkawinan berlangsung sangat meriah dalam suasana damai yang memayungi bumi Majapahit Raya. Acara tersebut dihadiri oleh segenap keluarga dan kerabat istana, para raja, Juwaraja, serta seluruh utusan dari berbagai penjuru daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit Raya.
Hari itu, Ibu Suri Gayatri, ditemani Juwaraja Tribuwana dan Patih Gajah Mada, menjamu para penguasa di pendapa agung Istana Kahuripan.
"Ikatan perkawinan antara Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta telah memperkuat ikatan keluarga Kerajaan Majapahit ini," ujar Mahapatih Arya Tadah membuka pembicaraan.
"Blambangan dan Lamajang sudah kembali ke pangkuan kita, dan sekarang Kerajaan Wengker telah terikat dalam hubungan perkawinan. Sementara itu, Tumapel dan Kahuripan telah berada dalam satu kendali," tutur Ibu Suri Gayatri sembari menyapu pandangan ke arah semua orang yang hadir.
Seluruh hadirin terdiam, membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita yang dikenal memiliki pemikiran cemerlang dalam menata berbagai permasalahan di Kerajaan Majapahit tersebut.
"Masih ada satu wilayah di Kerajaan Majapahit ini yang perlu mendapatkan perhatian bersama, sebuah wilayah yang pernah menjatuhkan kerajaan ayahandaku, Raja Kertanagara," lanjut Ibu Suri Gayatri seraya kembali terdiam.
"Apakah yang Ibunda maksud adalah wilayah Daha?" tanya Raja Jayanagara.
"Benar, wahai putraku," jawab Ibu Suri Gayatri.
"Kekancinganku sebagai Juwaraja di Daha belum kulepaskan. Hingga saat ini, aku telah menunjuk Tumenggung Tanggulangin sebagai pejabat sementara di kepatihan," kata Raja Jayanagara.
"Peristiwa penyerangan orang-orang Mongol masih membekas di hati rakyat Kediri. Tujuh keturunan mungkin baru bisa menghapus luka berdarah itu. Banyak hal bisa saja terjadi; ada angin kepentingan yang diam-diam berembus menyalakan kembali bara dendam yang sudah meredup," ujar Ibu Suri Gayatri di hadapan hadirin.
"Ibunda pasti punya pemikiran. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Raja Jayanagara.
"Menempatkan seseorang yang dapat kita percaya di Daha," jawab Ibu Suri Gayatri.
"Siapa kira-kira pilihan yang tepat menurut Ibunda?" tanya Raja Jayanagara kembali.
"Aku mengusulkan Dyah Wiyat sebagai Juwaraja di Daha," ujar Ibu Suri Gayatri sambil memandang seluruh yang hadir. Beliau tersenyum, seolah dapat membaca isi pikiran setiap orang. "Aku mengerti kesangsian kalian terhadap usia Dyah Wiyat yang masih muda belia. Namun, aku akan menyertakan bersamanya seseorang yang tidak perlu diragukan lagi kesetiaan serta kemampuannya."
"Siapakah gerangan yang Nyimas Kanjeng Ratu maksudkan?" tanya Mahapatih Arya Tadah penasaran.
"Seorang pemuda yang kesetiaan dan kecintaannya bagi kerajaan ini tidak perlu disangsikan lagi. Saat ini ia ada bersama kita," kata Ibu Suri Gayatri.
Seketika, seluruh pandangan tertuju kepada seorang pemuda yang duduk bersimpuh menjadi pendengar yang baik. Pemuda itu tidak lain adalah Patih Gajah Mada.
"Ternyata kita memiliki pandangan yang sama terhadap anak muda ini. Hanya Patih Gajah Mada yang pantas menyertai Dyah Wiyat di Daha, karena di Kerajaan Kahuripan ini aku sudah melihat sendiri kemampuannya," kata Ibu Suri Gayatri dengan wajah penuh keceriaan.
"Wahai saudaraku, apakah engkau bersedia menjadi Patih di Daha?" tanya Raja Jayanagara kepada Patih Gajah Mada.
Semua orang menunggu jawaban anak muda itu. Gajah Mada menarik napas panjang sambil menegakkan dada.
"Hamba adalah seorang petarung yang tidak pernah memilih lawan di panggung pertempuran. Seandainya hamba ditugaskan berdiri satu abad lamanya untuk menjadi penyangga tiang istana Kerajaan Majapahit ini, maka selama itu pula hamba akan berdiri meski nyawa telah hilang. Seandainya hamba diperintahkan menjadi tanah tempat istana ini berdiri, hamba rela terinjak ribuan kaki dan menerima ribuan celaan demi kemuliaan kerajaan. Sendika dawuh," ucap Patih Gajah Mada dengan penuh kesungguhan.
Perkataan tersebut terasa merasuk sukma, membuat suasana pendapa agung menjadi sunyi senyap. Semua orang tergetar hatinya mendengar pernyataan setia sang patih.
"Terima kasih, wahai saudaraku. Kesediaanmu seperti semilir angin sejuk di padang kegersangan. Bila Majapahit adalah matahari, maka Daha adalah bulannya. Engkaulah bintang fajar yang akan memberikan harapan baru," jawab Raja Jayanagara.
"Tumenggung Adityawarman, ceritakanlah kepada saudaramu, apa yang engkau ketahui tentang orang-orang Kediri," titah Ibu Suri Gayatri.
"Yang kuketahui, orang Kediri selalu menganggap kita sebagai orang Jenggala, sementara di kepala mereka hanya ada semboyan *Panjalu Jayati*. Namun, ayahandaku Patih Mahesa Amping akhirnya dapat merebut hati mereka lewat kerja keras membangun Kediri tanpa pamrih serta bersikap adil tanpa pilih kasih," jelas Tumenggung Adityawarman.
"Penggambaranmu sangat kuat. Setiap bangsa tidak lepas dari ingatan sejarah masa lalu. Kemenangan Prabu Jayabaya dan kekalahan Kediri oleh Ken Arok adalah ingatan yang menggores kuat, membekas dalam bentuk kecintaan sekaligus kebencian," tutur Ibu Suri Gayatri. "Harapanku, semoga jejak langkah Patih Mahesa Amping menjadi pijakan bagi siapa pun yang bertugas di Istana Daha."
"Sendika dawuh," jawab Patih Gajah Mada sambil merangkapkan kedua tangan di dada.
Semilir angin senja berembus, menebarkan keteduhan di pendapa agung Kahuripan. Sang senja merayap perlahan, digantikan kegelapan malam.
Di altar kuil istana, rembulan terlihat temaram. Seorang dara bernama Biksuni Andini tengah meletakkan sajen persembahan di arca Sang Buddha dan Dewa Siwa. Di bawah bias cahaya rembulan, wajahnya tampak sempurna dan penuh kepasrahan dalam samadi. Ia telah mendengar kabar tentang tugas baru yang akan diemban oleh pahlawan pujaan hatinya di Kerajaan Daha.