Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 170

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 170

Mendengar pertanyaan Ki Ajar Bendawa, Dyah Wiyat dan Biksuni Andini memandang ke arah Gajah Mada yang dianggap sebagai pemimpin dalam rombongan mereka.

"Ki Ajar Bendawa boleh ikut bersama kami, setidaknya menjadi saksi dan jaminan bahwa muridnya benar-benar melaksanakan tugas sebagai pelayan dalam tiga hari ini," ujar Gajah Mada sambil tersenyum ke arah Ki Ajar Bendawa.

Matahari sudah cukup tinggi menyinari suasana di sekitar tepi sungai hutan perburuan itu ketika mereka meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah singgah. Namun, saat mereka mendekati rumah singgah, Ki Ajar dan Jaka Sesuruh merasa berdebar-debar. Semua orang, khususnya para pemburu, pasti tahu bahwa rumah singgah itu adalah milik keluarga istana Kahuripan.

Hal itulah yang membuat Ki Ajar Bendawa dan Jaka Sesuruh merasa cemas karena mereka ternyata berhadapan dengan keluarga istana Kahuripan yang sangat dihormati dan disegani oleh semua orang karena kedekatan mereka dengan keluarga istana Majapahit. Ketika mereka beristirahat di pendapa, dengan penuh kehati-hatian Ki Ajar Bendawa menanyakan jati diri Gajah Mada dan dua wanita yang bersamanya.

"Mohon maaf bila aku terlalu banyak bertanya, siapakah Tuan dan kedua putri ini sebenarnya serta kaitannya dengan keluarga istana Kahuripan?" tanya Ki Ajar Bendawa.

"Kami memang keluarga istana Kahuripan yang tengah berburu. Yang baru saja bertanding dengan murid Ki Ajar Bendawa adalah putri bungsu dari Ibunda Ratu Gayatri," jawab Gajah Mada.

"Ampunilah diri kami yang tidak tahu bahwa kami berhadapan dengan gunung yang amat tinggi, yakni keluarga istana Kahuripan yang sangat dihormati," sahut Ki Ajar Bendawa.

"Maaf bila aku memperkenalkan diri sebagai kakak dari sang putri. Kedudukanku sendiri hanya sebagai seorang patih di Kahuripan," kata Gajah Mada.

"Sungguh tersanjung diri ini bahwa hari ini aku berkenalan dengan seorang patih dari kerajaan Kahuripan," ucap Ki Ajar Bendawa sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan.

Akhirnya, tanpa diminta, Ki Ajar Bendawa memperkenalkan dirinya dan muridnya sebagai pengembara biasa yang kebetulan sedang melanglang buana di sekitar hutan Gunung Penanggungan. "Kami berdua berasal dari Tanah Wengker," tambahnya.

Selama dua hari Jaka Sesuruh menjadi pelayan di rumah singgah, Gajah Mada telah mendapatkan kawan baru, yakni Ki Ajar Bendawa. Gajah Mada sering menghabiskan waktu malamnya bersama Ki Ajar Bendawa ketika orang-orang di rumah singgah beristirahat. Gajah Mada merasa senang mendapatkan kawan bicara yang santun. Dari Ki Ajar Bendawa, banyak cerita yang ia dengar tentang keadaan dan suasana kerajaan Wengker.

"Warga Wengker umumnya adalah orang-orang yang kesehariannya sangat patuh dan taat kepada agamanya. Mereka adalah orang-orang yang pintu hatinya sudah terkunci untuk hal lain selain bekerja di sawah, beryoga, dan bersamadi," cerita Ki Ajar Bendawa.

"Pasti sebuah kota tua yang diberkahi, aman, dan sejahtera," tanggap Gajah Mada.

Dalam kesempatan lain, Ki Ajar Bendawa mencoba bertanya tentang gerak jurus Dyah Wiyat yang dilihatnya sebagai gerak yang sangat rumit yang baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya. "Aku mengenal gerak jurus aliran Perguruan Padepokan Bajra Seta, sementara gerak jurus yang dimainkan oleh sang putri sangat asing bagiku," ujar Ki Ajar Bendawa.

Gajah Mada hanya tersenyum. "Aku tahu bahwa Ki Ajar Bendawa pastinya akan memberikan pengarahan kepada Jaka Sesuruh tentang cara menghadapi sang putri. Maka, aku mencoba mengajarkan sang putri gerak jurus dari aliran yang berbeda untuk mengejutkan murid Ki Ajar Bendawa. Jurus yang Ki Ajar saksikan itu bernama Adityakundala," jelas Gajah Mada.

"Aku tidak akan menyesal bila esok umurku diambil oleh Sang Pencipta, ternyata di hari tua ini aku masih dapat menyaksikan gerak jurus yang amat langka itu. Sebuah jurus yang pernah kudengar ceritanya dari eyang buyutku, jurus yang tak terkalahkan dan diciptakan oleh seorang sakti di zaman dahulu bernama Empu Tantular," kata Ki Ajar Bendawa dengan mata berbinar.

"Aku mewarisi gerak jurus itu dari ayahku sendiri," kata Gajah Mada.

"Sungguh sebuah kegembiraan berjumpa dengan pewaris tunggal ilmu ciptaan Sang Empu Tantular," sahut Ki Ajar Bendawa yang semakin menghormati pemuda itu.

Hari-hari berlalu. Selama tiga hari itu, Gajah Mada semakin mengenali sosok Jaka Sesuruh sebagai lelaki yang santun dan menghargai wanita. Sementara itu, di peraduannya, Dyah Wiyat selalu menantikan pertemuan dengan pemuda itu yang menghadirkan debaran kebahagiaan.

"Kami tidak pernah merasa telah memenangkan sebuah pertaruhan. Tiga hari telah kalian penuhi sebagai pemenuhan janji para lelaki terhormat," ujar Gajah Mada saat perpisahan.

"Senang bertemu dengan kalian, bila ada waktu kami akan datang berkunjung," kata Ki Ajar Bendawa.

"Pintu istana Kahuripan akan selalu terbuka lebar untuk kalian berdua," jawab Gajah Mada.

Diiringi pandangan Gajah Mada, Biksuni Andini, dan Dyah Wiyat, Ki Ajar Bendawa dan muridnya berjalan memasuki hutan timur di kaki Gunung Penanggungan dan menghilang ditelan kegelapan. Tidak lama kemudian, Gajah Mada dan rombongannya pun meninggalkan rumah singgah untuk kembali ke kotaraja Kahuripan.

Lima orang penunggang kuda keluar dari hutan menuju kotaraja. "Kulit harimau yang sangat bagus," batin Gajah Mada saat melihat kulit harimau yang menjadi alas duduk sang putri. Sejak saat itu, kulit harimau itu selalu menyertai kehidupan Dyah Wiyat karena merupakan hasil perburuan bersama seorang pemuda tampan.

Seratus hari setelah penobatannya sebagai Patih di Kahuripan, Gajah Mada mulai memikirkan kesejahteraan warga. Perhatiannya tertuju pada tambak besar peninggalan Raja Erlangga di Padukuhan Kalagyan yang sudah menjadi puing. Pembangunan kembali tambak tersebut mendapat sambutan baik dari keluarga istana maupun warga.

Di musim kering, pembangunan dimulai. Warga berduyun-duyun menyumbangkan tenaga. Gajah Mada merasa gembira melihat tambak besar berdiri kembali, bahkan dua kali lebih besar dari aslinya.

"Tambak Kalagyan itu telah mengikat kecintaan para warga terhadap keluarga istana Kahuripan, dan engkaulah pahlawan kami di bumi Kahuripan ini," ujar Ibunda Ratu Gayatri penuh rasa terima kasih.

"Tanpa restu Nyimas Kanjeng Ratu, tambak besar sungai Kalagyan itu pasti masih menjadi puing yang tiada berarti," jawab Patih Gajah Mada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment