Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 98

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 98

"Kamu dapat membuat pondokan di tanah belakang puri pasanggrahan ini. Dan aku akan siap membantumu apa pun kebutuhanmu; bukankah aku ini saudaramu?" kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri.

"Terima kasih untuk semua dukunganmu. Memang perlu tempat khusus untuk membuat sebuah keris pusaka, sebuah tempat yang tenang. Aku merasa yakin bahwa puri pasanggrahan ini adalah tempat yang baik untuk berkarya, sebagaimana pujangga Jayakatwang telah banyak menciptakan karya tembangnya di tempat ini," kata Supo Mandagri dengan perasaan gembira mendapatkan dukungan dari sahabatnya itu.

Namun, pembicaraan mereka terhenti manakala Nyi Nari Ratih muncul dari pintu pringgitan. Melihat cara berjalan dan melangkahnya, ia tampak seperti seorang wanita yang sangat terlatih olah kanuragan.

"Masih hangat wedangnya," kata Nyi Nari Ratih sambil meletakkan tiga buah cangkir tembikar dan ikut duduk bersama mereka.

Kepada ibundanya itu, Gajah Mada bercerita tentang keinginan Supo Mandagri untuk membuat sebuah pondokan di tanah belakang Puri Pasanggrahan.

"Setiap manusia punya pembaktiannya sendiri-sendiri. Hanya jiwa yang merdeka yang mampu membuat sebuah karya besar. Setiap jiwa dicitrakan sesuai dengan apa yang telah diciptakannya," kata ibunda Nyi Nari Ratih dengan senyum yang begitu lembut.

Pencitraan hitam-putih Majapahit nampaknya telah dimulai, diawali dengan benih kebusukan yang mulai ditebarkan oleh Ki Secang dan Ra Kuti di pura istana Majapahit yang suci. Dua orang rohaniawan, para penghapal berbagai kitab suci itu, telah mulai menebarkan benih sejarah kesuraman kerajaan Majapahit.

Di sisi lain, diawali dari sebuah puri pasanggrahan milik mantan raja yang tersingkirkan, Raja Jayakatwang, benih kecemerlangan sejarah Majapahit tengah ditempa, diasah, dan diasuh dalam kasih seorang wanita yang lembut kepada dua anak muda untuk mengharumkan warisan budaya leluhur bangsa, dalam seni keris yang indah, dalam lekuk dan liku pemikiran leluhur yang indah dalam berkehidupan bersama, bermartabat dalam cinta kasih yang tulus penuh perdamaian dalam rangkaian satu kesatuan nusa-nusa untaian mutiara khatulistiwa.

Sejarah hitam dan putih, sejarah kesuraman dan kecemerlangan Kerajaan Majapahit telah dimulai. Diawali saat sang surya pagi tengah memanjat dan mendaki di pucuk tiang-tiang layar perahu dagang yang tengah bersandar di Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

Terlihat sebuah perahu jukung dengan tiga orang lelaki tengah menyusuri Sungai Perigian.

"Hari yang baik untuk menebang bambu dan kayu," kata seorang pemuda manakala perahu jukung mereka menepi di hutan Perigian.

"Kamu benar, purnama telah lewat. Kita akan mendapatkan bambu dan kayu yang kering dan terbebas dari kutu kayu," kata salah satu lelaki kepada pemuda itu yang tidak lain adalah Supo Mandagri.

Ternyata Supo Mandagri tengah mencari bambu dan kayu untuk membuat sebuah pondokan yang akan dibangun di belakang puri pasanggrahan atas izin Gajah Mada. Terlihat Supo Mandagri dan dua orang lelaki warga asli padukuhan Tanah Ujung Galuh yang dibayar untuk membantunya telah memasuki hutan Perigian lebih dalam lagi. Tiba-tiba ketiganya melihat seorang pemburu di hutan itu.

"Aku mengenal lelaki itu, seorang pengurus pura istana," kata Supo Mandagri kepada kedua pembantunya.

Supo Mandagri meminta kedua pembantunya untuk diam di tempat, sementara ia terus mengikuti lelaki yang dikenalnya, yang tidak lain adalah Ki Secang.

"Tetaplah kalian di sini, aku akan mengikuti orang itu," kata Supo Mandagri.

Maka dengan cara mengendap-endap dari kejauhan, Supo Mandagri terus mengikuti Ki Secang yang berjalan masuk ke hutan Perigian lebih dalam lagi. Terlihat Ki Secang berhenti dan diam di sebuah semak gerumbul. Sikapnya seperti seorang pemburu yang handal, bersiap siaga menunggu buruannya dengan sebuah tombak di tangan. Ternyata Ki Secang memang tengah berburu babi hutan, karena tidak jauh darinya terlihat sebuah liang besar tempat sarang sepasang babi hutan.

Nampaknya Ki Secang tidak perlu menunggu lama, karena tidak berselang lama terlihat sepasang babi hutan tengah berjalan menuju arah sarang mereka. Seekor babi hutan jantan mendahului masuk ke dalam sarang, sementara di belakangnya seekor babi hutan betina siap mengikuti. Namun, naas nasib babi hutan betina yang tengah bunting besar itu; sebuah tombak tajam terlihat meluncur dengan sangat cepat membelah udara.

*Clep!*

Ujung batang tombak berhasil menembus tepat ke babi hutan naas itu yang belum sempat masuk ke sarangnya. Jeritan mencicit dari babi hutan betina itu terdengar di hutan yang sunyi, namun hanya sekali. Itulah jeritan terakhir dari babi hutan betina yang terlihat rebah dengan ujung tombak tembus di batang lehernya.

"Sangat biadab, membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar," kata Supo Mandagri dalam hati, mengutuk perbuatan Ki Secang karena pada saat itu adalah tabu membunuh hewan apa pun yang tengah bunting besar.

Supo Mandagri terus mengamati Ki Secang yang dengan pisau pendeknya terlihat tengah membedah perut dan dada binatang naas itu. Supo Mandagri mengerutkan kening manakala dilihatnya dari kejauhan bahwa Ki Secang hanya mengambil hati binatang buruannya.

"Membunuh hewan hanya untuk diambil hatinya?" kata Supo Mandagri dalam hati penuh tanda tanya manakala dilihatnya Ki Secang berjalan menjauhi hewan buruannya yang masih menganga isi perutnya, dengan hanya membawa hati babi hutan betina yang tengah bunting besar itu.

Ketika Ki Secang sudah tidak terlihat lagi, menghilang di antara semak dan pepohonan yang rapat di hutan Perigian, Supo Mandagri keluar dari persembunyiannya dan langsung berjalan menuju arah tempat kedua pembantunya berada. Kepada kedua orang pembantunya itu, Supo Mandagri tidak bercerita banyak, hanya menyampaikan bahwa orang yang dibuntuti itu ternyata hanya tengah berburu babi hutan.

"Mari kita lanjutkan kerja kita, mencari bambu dan kayu," kata Supo Mandagri.

Tidak perlu banyak waktu, ketika hari masih di awal senja, mereka telah mendapatkan apa yang dicari. Saat malam tiba, manakala Gajah Mada dan Nyi Nari Ratih telah kembali dari Kotaraja Majapahit dan berkumpul bersama di Puri Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh, Supo Mandagri bercerita tentang apa yang dilihatnya di hutan Perigian.

"Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa Ki Secang telah membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar," kata Supo Mandagri kepada Gajah Mada dan Nyi Nari Ratih.

"Sungguh sebuah perbuatan kurang terpuji, membunuh binatang yang tengah mengandung anaknya," kata Gajah Mada menanggapi cerita Supo Mandagri.

"Naluri seekor harimau dapat memilih mangsanya, hanya memburu binatang jantan. Bila itu dilakukan oleh seorang manusia, maka derajatnya menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun," kata Nyi Nari Ratih ikut menanggapi.

"Yang sangat kuherankan, Ki Secang hanya mengambil hati binatang itu, meninggalkan begitu saja bagian yang lainnya," kata Supo Mandagri kembali tentang apa yang dilakukan oleh Ki Secang.

Gajah Mada mengerutkan keningnya, merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan Ki Secang dengan hati seekor babi hutan itu. Ia menoleh ke arah ibundanya, berharap wanita yang amat dicintainya itu dapat lebih tahu perihal apa yang diperbuat oleh Ki Secang. Nampaknya Nyi Nari Ratih dapat membaca keinginan putranya.

"Sayang sekali, aku tidak tahu untuk apa Ki Secang berbuat seperti itu," kata Nyi Nari Ratih sambil menggelengkan kepalanya perlahan di hadapan Gajah Mada.

Akhirnya pembicaraan bergeser perihal pembangunan pondokan di belakang Pura Pasanggrahan itu. Supo Mandagri menyampaikan bahwa sampai saat ini ia baru mendapatkan bahan kayu dan bambu, belum perlengkapan pengapian dan pernak-pernik lainnya sebagaimana layaknya para pandai besi.

"Setelah pondokan selesai, aku akan mencarikan barang keperluanmu itu," kata Gajah Mada.

Senang sekali Supo Mandagri mendengar janji Gajah Mada. "Aku seperti sudah tidak sabar, ingin secepatnya membangun sebuah keris pertamaku," kata Supo Mandagri dengan wajah berbinar-binar.

Sementara itu, masalah Ki Secang seperti menguap begitu saja; tidak ada seorang pun di antara mereka bertiga yang membicarakannya lagi.

"Nampaknya makan malam kita sudah disiapkan," kata Nyi Nari Ratih yang melihat seorang pelayan wanita keluar dari pintu pringgitan.

Benar saja, pelayan wanita itu bermaksud memberitahukan kepada mereka bertiga bahwa makan malam telah disiapkan di ruang dalam. Sementara itu, deru dan debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh semakin keras di malam yang semakin larut itu. Terlihat beberapa perahu dagang yang tengah bersandar terus bergoyang bersinggungan dengan tepi kayu dermaga.

Suasana Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh di malam itu masih saja ramai; hiruk pikuk para buruh angkut, suara canda tawa menggoda para wanita penghibur, dan cahaya oncor yang dipasang berjajar menjadi gerak kehidupan Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh yang sangat ramai di malam hari. Terlihat perahu dagang dari beberapa penjuru nagari bersandar di dermaga bandar pelabuhan yang tidak pernah sepi itu.

Bandar pelabuhan yang tidak pernah mati, begitulah orang menyebutnya, karena Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh tidak pernah sepi, pagi, siang, dan malam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment