Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 68

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 68

"Kalian tidak perlu takut bahwa keenam kawanku itu akan ikut membantuku," kata Patih Mahesa Amping sambil tersenyum, mengetahui ke mana arah pembicaraan pemimpin orang-orang kasar itu.

"Seorang petinggi Majapahit yang kutahu adalah seorang yang dapat dipegang janjinya. Bersiaplah, Tuan, untuk menghadapi kami semua," sahut orang itu dengan suara lantang, seolah ingin didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu.

"Kita diminta untuk menjadi penonton yang baik," bisik Ki Gede Bajra Seta kepada kelima orang yang berada di dekatnya.

Mahesa Semu, Paman Muntilan, Gajah Mada, dan Adityawarman yang sudah tahu tingkat ilmu Patih Mahesa Amping tampak tersenyum sendiri sembari diam di atas kuda masing-masing. Sementara itu, Mahesa Dharma yang baru mendengar dari cerita ayahnya tentang cantrik terbaik di Padepokan Bajra Seta itu masih terlihat sangat tegang, membayangkan Patih Mahesa Amping dikeroyok oleh sekitar dua puluh orang kasar tersebut.

"Lihatlah, aku tidak memegang senjata apa pun untuk menangkap kalian semua," ucap Patih Mahesa Amping dengan sikap yang sangat tenang kepada orang-orang di hadapannya.

"Mari kawan-kawan, kita cincang petinggi Majapahit yang sombong ini!" seru pemimpin mereka sambil mengacungkan golok panjangnya tinggi-tinggi, mengajak kawan-kawannya mengeroyok Patih Mahesa Amping seorang diri.

Sementara itu, perasaan para pedagang dan orang-orangnya tampak terpecah. Beberapa dari mereka merasa cemas melihat Patih Mahesa Amping seorang diri menghadapi kelompok yang sebelumnya menjadi lawan mereka. Namun, sebagian lagi sangat percaya bahwa petinggi Majapahit itu dapat menghadapi lawannya. Melihat ketenangan, rasa percaya diri yang tinggi, serta ilmu gelap *Ngampar* yang terasa lewat hentakan suaranya, para pedagang itu yakin bahwa petinggi Majapahit bukanlah orang sembarangan.

Ternyata keyakinan para pedagang itu terbukti. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri beberapa penyerang pertama telah terlempar dengan cara yang tidak diketahui. Sementara itu, beberapa orang yang semula meragukan kemampuan Patih Mahesa Amping tampak terbelalak seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Lain halnya dengan para ksatria yang datang bersama Mahesa Amping; dengan kemampuan yang sudah cukup tinggi, mereka dapat menangkap gerakan Mahesa Amping yang memang sangat cepat dan tidak diikuti oleh pandangan mata orang biasa. Ke mana pun langkah Patih Mahesa Amping bergerak, pasti ada korban yang terlempar dan langsung roboh pingsan ke bumi, tidak mampu bergerak lagi.

"Menyerah atau kubuat kalian tidak berdaya seperti mereka ini," ujar Patih Mahesa Amping sambil berdiri di antara tujuh orang yang bergelimpangan.

Orang-orang kasar itu mundur ketakutan, tidak percaya kawan-kawan mereka dengan mudahnya jatuh tak berdaya tanpa mengerti cara petinggi Majapahit itu melakukannya. Yang mereka lihat hanyalah sosok Patih yang berkelebat sangat cepat hingga tidak dapat diikuti oleh pandangan mata.

"Kalian sudah tidak mempunyai pemimpin lagi," ucap Patih Mahesa Amping sambil menyentuh dengan ujung kakinya pemimpin mereka yang terbaring di tanah kotor tanpa bergerak.

Gertakan Patih Mahesa Amping berhasil menciutkan nyali orang-orang kasar itu.

"Kami menyerah, namun biarkan kami pergi," kata salah seorang dari mereka sambil melempar senjatanya.

Sikap itu segera diikuti oleh kawan-kawannya. Satu per satu mereka melemparkan senjata ke tanah, jauh dari jangkauan tangan mereka.

"Kali ini aku mengampuni jiwa kalian. Pergilah dan jangan mencoba memaksakan kehendak kepada siapa pun. Namun, ketujuh orang, termasuk pemimpin kalian ini, akan kubawa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tutur Patih Mahesa Amping dengan wibawa tinggi.

Ki Gede Bajra Seta tersenyum mendengar perkataan muridnya itu, diam-diam menyetujui sikapnya. Patih Mahesa Amping memiliki pikiran yang senada dengan gurunya.

"Ketujuh orang ini sudah cukup untuk kutanyai kelak, siapa orang yang mengupah mereka," batin Patih Mahesa Amping sambil menatap sisa orang-orang kasar yang melangkah pergi menjauh, berlawanan arah dengan jalur menuju Kotaraja Majapahit.

"Ke mana tujuan kalian?" tanya Patih Mahesa Amping kepada pemimpin rombongan pedagang.

"Kami akan ke Tanah Ujung Galuh untuk menjual kapuk dan hasil hutan lainnya. Dua pekan sebelumnya, salah seorang dari mereka datang ke rumah kami, mengancam agar kami tidak membawa kapuk ke Tanah Ujung Galuh, melainkan ke Tanah Lamajang," jawab pemimpin pedagang itu menceritakan duduk perkaranya. "Itulah sebabnya kami membawa beberapa orang pengawal, namun ternyata jumlah mereka lebih banyak daripada kami."

"Mengapa kalian tidak mengikuti permintaan mereka? Bukankah dari sini jarak ke Lamajang tidak berbeda jauh?" tanya Patih Mahesa Amping lagi.

"Jarak yang kami tempuh memang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kami akan merasa kurang untung bila menjual kapuk kepada tuan besar mereka di Tanah Lamajang dibandingkan dengan menjualnya kepada para pedagang asing di Tanah Ujung Galuh," jelas pemimpin pedagang itu. "Di samping itu, kami dapat membawa barang dagangan lain yang lebih berguna, seperti kain tenun dan barang lainnya yang banyak diminati oleh orang-orang pedalaman dibandingkan bila kami ke Tanah Lamajang atau singgah ke Bandar Pasuruan."

"Alasan kalian dapat kupahami. Sekarang, bantulah aku untuk mengikat mereka," perintah Patih Mahesa Amping.

Pemimpin pedagang itu memerintahkan anak buahnya untuk mengikat orang-orang yang masih tergeletak pingsan.

"Kita tunggu mereka siuman agar lebih mudah membawanya," ujar Patih Mahesa Amping saat melihat hampir seluruh orang kasar itu terikat tangannya.

Dengan sabar, mereka menunggu hingga ketujuh orang itu sadar. Tidak lama berselang, ketujuh orang itu mulai siuman dan terkejut mendapati tangan mereka sudah terikat.

"Suruh mereka berjalan, kami akan berjalan bersama kalian," perintah Patih Mahesa Amping dari atas punggung kudanya.

Demikianlah, ketujuh tawanan itu digiring berjalan di muka, sementara para pedagang mengikuti di belakang dengan gerobak yang ditarik oleh sapi jantan. Patih Mahesa Amping dan rombongannya berjalan di barisan paling belakang. Perjalanan mereka menjadi cukup lambat.

Ketika matahari berada tepat di atas kepala dan cahayanya tidak lagi terhalang oleh kerimbunan pohon besar, mereka berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat. Patih Mahesa Amping dan kelompoknya berteduh di bawah pohon besar yang rimbun, sementara para pedagang memilih pohon lain. Salah seorang pedagang tampak memberikan air dan bekal kepada para tawanan yang ditempatkan tidak jauh dari mereka.

Saat sedang beristirahat, Patih Mahesa Amping meminta Gajah Mada untuk membawa pemimpin tawanan tersebut menghadapnya.

"Apakah kamu punya nama?" tanya Patih Mahesa Amping kepada tawanan yang duduk dengan tangan terikat ke belakang itu.

"Orang memanggilku Ragil," jawab tawanan itu.

Patih Mahesa Amping tersenyum memandang tawanan yang usianya sebaya dengannya itu. Pakaiannya terbuat dari bahan kasar, khas para pengembara.

"Dari mana asalmu?"

"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku besar di antara para kuli angkut di Bandar Pasuruan," jawab tawanan itu dengan sikap tidak peduli.

"Aku tidak peduli dengan namamu atau tempat asalmu. Namun, kuingatkan kepadamu, jika kita telah tiba di Kotaraja Majapahit, kamu dan orang-orangmu akan kuserahkan kepada seorang pedagang budak belian," ucap Patih Mahesa Amping dengan suara pelan namun penuh penekanan ancaman.

Pada masa itu, hukum perbudakan memang masih berlaku. Orang yang tidak sanggup membayar utang atau tawanan perang dapat dijadikan budak belian. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari wajah tawanan itu, bukan karena cuaca yang terik, melainkan karena ancaman Patih Mahesa Amping yang terasa begitu mengerikan.

"Bayangkan lenganmu akan dirajah sebagai pertanda bahwa kamu adalah seorang budak hina. Bayangkan pula dirimu akan dibeli oleh majikan yang sangat jahat dan kejam."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment