Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 72

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 72

"Bila Paduka mengizinkannya, hamba menawarkan seseorang yang kesetiaannya tidak diragukan lagi, dialah Kakang Mahesa Semu," kata Patih Mahesa Amping kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Terima kasih telah menunjukkan kepadaku siapa gerangan orang yang dapat dipercaya dan tidak dapat disangsikan kesetiaannya. Semoga Kakang Mahesa Semu tidak menolak penawaranku untuk menjadi seorang Tumenggung di istanaku ini," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil memandang Mahesa Semu.

"Titah Paduka Raja adalah sabda para dewa, hamba menerima titah Paduka," jawab Mahesa Semu di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Tumenggung Lembu Weleng mungkin hanya seekor cicak yang sudah dapat kita jerat, sementara jauh di sana ada seekor buaya besar yang masih berkuasa di sarangnya. Kemapanan tatanan kehidupan di bumi Majapahit ini nampaknya tengah diuji oleh segelintir manusia yang iri melihat kejayaan kerajaan Paduka yang terus berkembang ini," kata Patih Mahesa Amping, bercerita tentang usaha sekelompok bayangan hitam yang mencoba mencelakai orang-orang terdekat Baginda Raja dan memutus jalur pusat perdagangan Majapahit di Tanah Ujung Galuh.

"Kemegahan istana ini nampaknya telah membutakan hatiku, membutakan kesadaranku bahwa ada sebuah bayangan hitam yang diam-diam telah menyiapkan alat pemukul di balik tirai persembunyiannya, menanti saat kelemahan dan kelengahan kita datang," kata Baginda Raja.

Mendengar perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, setiap orang di pendapa agung terdiam merenung dan berpikir sejenak.

"Paman Guru," sapa Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil memandang ke arah Ki Gede Bajra Seta. "Di penjuru kerajaan ini, siapa pun telah mengenal ketajaman mata pedang buatan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, namun tiada seorang pun yang mengetahui bahwa ketajaman pemikiran Paman Guru jauh lebih tajam dari mata pedang mana pun. Tunjukkan kepadaku apa yang harus aku lakukan menghadapi musuh yang bersembunyi itu," pinta Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil tersenyum.

Terlihat Ki Gede Bajra Seta menarik napas panjang, seolah hendak mengumpulkan segenap akal budi dan nalar ketajaman pikiran yang dimilikinya.

"Muridku, Baginda Raja Sanggrama Wijaya, memancing seekor buaya besar yang bersalah untuk keluar dari persembunyiannya memang sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Sementara itu, tidak mudah untuk mendekati sarang mereka sendiri. Hal yang dapat kita lakukan adalah merebut makanan mereka; dengan cara itulah kita dapat membunuh seekor buaya besar di sarangnya sendiri. Hanya pemikiran ini yang dapat Paman gurumu berikan," tutur Ki Gede Bajra Seta kepada Baginda Raja.

"Wahai saudaraku, Patih Mahesa Amping, tunjukkan kepadaku bagaimana caraku merebut makanan mereka," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Mendengar perkataan Baginda Raja, semua orang di pendapa agung memalingkan pandangan ke arah Patih Mahesa Amping. Lelaki gagah perkasa dengan sepasang mata tajam itu tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam. Semua yang hadir terdiam, menunggu perkataan Patih Mahesa Amping yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dalam memecahkan masalah pelik.

"Sumber kekeruhan ini telah kita dapatkan lewat pengakuan beberapa tawanan yang dapat kami sadap dalam perjalanan menuju Kotaraja Majapahit, yaitu ada seorang yang punya pengaruh besar di Tanah Lamajang," ujar Patih Mahesa Amping mulai menuturkan pemikirannya. "Kita memang tidak perlu menurunkan pasukan besar untuk menggempurnya. Hal yang paling mudah adalah memutuskan jalur perdagangan mereka, memutus hubungan perdagangan dengan para pedagang dari Balidwipa, serta memutus jalur perdagangan menuju bandar pelabuhan Pasuruan."

"Sebuah cara yang hebat, merebut makanan musuh. Aku akan mengutus beberapa orang untuk memengaruhi para pedagang dari Balidwipa. Aku juga akan memengaruhi pedagang asing agar tidak datang ke bandar pelabuhan Pasuruan. Terakhir, aku akan menyiapkan para pembegal jalanan sebagaimana yang pernah kita lakukan kepada Raja Jayakatwang," kata Baginda Raja.

Tiba-tiba, semua pandangan tertuju kepada seorang prajurit pengawal yang datang menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Ampun, Tuanku Paduka. Ki Mangkubumi bersama dua orang putranya mohon izin untuk bertemu dengan Tuanku Paduka," lapor prajurit pengawal itu.

"Katakan kepadanya bahwa di sini ada banyak sahabat lama yang menunggunya," jawab Baginda Raja.

Tidak lama berselang, Maha Patih Mangkubumi datang bersama dua putranya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menakjingga. Sebagaimana diketahui, mereka adalah adipati yang ditugaskan di Tanah Lamajang dan Tanah Blambangan. Mereka datang ke Kotaraja Majapahit memenuhi undangan hari wisuda dan perkawinan Putri Gayatri dan Kertawardana.

"Nampaknya di sini telah berkumpul para sahabat lama," sapa Maha Patih yang murah senyum itu sambil memandang ke arah Ki Gede Bajra Seta dan Patih Mahesa Amping.

Setelah Ki Mangkubumi dan kedua putranya duduk di pendapa agung, Baginda Raja secara singkat menyampaikan rencananya menghadapi gerakan yang berasal dari bumi Lamajang.

"Hamba mohon ampun. Sebagai seorang Adipati di Lamajang, hamba sampai tidak mengetahui ada pergerakan yang akan mengganggu kemapanan di bumi Majapahit ini," kata Adipati Menak Koncar setelah mendengar penuturan Baginda Raja.

"Aku akan mengutus beberapa orang untuk melakukan kekacauan di bumi Lamajang; bersikaplah seakan-akan kamu tidak mengetahuinya," perintah Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Adipati Menak Koncar.

"Siapa gerangan orang-orang yang akan ditugaskan membuat kekacauan itu agar hamba tidak salah langkah bertindak?" tanya Adipati Menak Koncar.

Baginda Raja Sanggrama Wijaya tersenyum dan terdiam sesaat. Semua orang di pendapa agung turut terdiam menunggu perkataan Baginda Raja.

"Dibutuhkan seseorang yang setia dan amanah yang akan menjalani tugas ini. Menurutku, Kakang Mahesa Semu adalah orang yang sangat patut melaksanakan tugas ini sebelum ia resmi menjadi seorang Tumenggung di istana Majapahit. Semoga tugas awal di bumi Lamajang menjadi bekal untuk memahami medan telik sandi yang sebenarnya," ujar Baginda Raja.

Semua mata tertuju ke arah Mahesa Semu.

"Semoga hamba dapat mengemban tugas dan kepercayaan Tuanku Baginda Raja," ujar Mahesa Semu sambil merangkapkan kedua tangannya di dada dengan penuh hormat.

"Gajah Mada dan Adityawarman, kuperintahkan kalian untuk ikut membantunya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil tersenyum memandang kedua anak muda itu.

"Titah Paduka hamba junjung," jawab Gajah Mada dan Adityawarman bersamaan.

"Wahai putra Empu Nambi, aku akan menurunkan beberapa orang untuk memengaruhi para pedagang dari Balidwipa. Sebagai seorang Adipati di Blambangan, tugasmu adalah membantu orang-orangku itu," kata Baginda Raja kepada Adipati Menakjingga.

"Hamba akan siap membantu dengan segenap hati," jawab Adipati Menakjingga dengan sikap penuh hormat.

"Aku berharap awan hitam di atas bumi Lamajang akan cepat berlalu. Kemapanan bahtera Majapahit harus kita jaga bersama. Tanpa itu, bahtera Majapahit ini tidak akan sampai ke tanah impian kita semua; tanah impian kerajaan sang Siwa di bumi ini, tanah dan lautan yang dipenuhi kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian sentosa," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Di atas pendapa agung hari ini aku melihat beberapa anak muda. Ingatlah bahwa kami orang tua akan hilang terkubur tanah; di tangan kalian bahtera Majapahit ini kuwariskan. Pegang erat-erat kemudi layar bahteramu agar tidak keluar dari jalur cita-cita pendahulumu. Tanah dan lautan ini adalah karunia dari Gusti Yang Maha Agung untuk bangsamu. Aku tidak akan rela orang asing memilikinya, meski segenggam tanah bumi ini," lanjut Baginda Raja kepada para anak muda yang hadir.

Perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya terdengar begitu agung, membuat semua orang terpaku merenunginya. Sementara itu, langit senja perlahan menghilang berganti gelap malam. Cakrawala di atas istana Majapahit dihiasi wajah bulan yang belum bulat sempurna serta jutaan bintang yang berkedip abadi.

"Terima kasih telah memenuhi undanganku, sampai bertemu kembali di acara wisuda dan perkawinan putriku," ucap Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada para tamu dan sahabat setianya saat hendak undur diri meninggalkan pendapa agung.

Demikianlah, para tamu Baginda Raja Sanggrama Wijaya satu per satu menuruni anak tangga pendapa agung.

"Sampai bertemu besok, Ki Sandikala," sapa Patih Mahesa Amping kepada Empu Nambi saat mereka berada di persimpangan jalan istana.

Empu Nambi kemudian mengambil arah jalan lain bersama kedua putranya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment