Chapter 27
Tidak sembarang orang dapat keluar masuk istana untuk bertemu langsung dengan Baginda Raja. Tidak sembarang orang pula bisa mendapatkan kepercayaan langsung dari Baginda Raja untuk melaksanakan tugas rahasia mengamati daerah lawan di Tuban.
"Dan kamu telah membawa sendiri benda wahyu keraton, Mustika Batu Tuban yang sangat diminati banyak orang, titipan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri untuk diserahkan langsung kepada Baginda Raja. Sungguh, aku sebagai seorang ibu merasa sangat bahagia mendengar semua ceritamu, wahai putraku," kata Nyi Nariratih sambil tersenyum. Kecantikannya masih terpancar meski usianya mulai memasuki masa tua.
Gajahmada tersenyum menatap wajah ibunya yang tidak pernah berubah, penuh kasih sayang, namun masih menganggapnya sebagai anak lelaki kecil.
"Putramu memohon restumu. Aku akan segera kembali ke Tuban dalam waktu dekat ini untuk mengantar Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat," kata Gajahmada kepada ibunya.
"Ibumu merestui, wahai putraku. Merestui perjalananmu," jawab Nyi Nariratih.
Gajahmada pun berpamitan dan keluar dari barak prajurit khusus itu, pasukan Srikandi. Pasukan tersebut sangat disegani oleh kesatuan lain di Majapahit karena memiliki banyak prajurit wanita dengan keunggulan tingkat kemampuan olah kanuragan yang tinggi. Hal ini dikarenakan para prajurit wanita tersebut selalu dibina dan dibimbing langsung oleh seorang wanita perkasa, Nyi Nariratih.
Setibanya di Tanah Ujung Galuh, Gajahmada tidak langsung menuju pesanggrahan Jayakatwang, melainkan menuju ke arah sebuah padukuhan.
"Penciumanmu sangat tajam sekali, buah nangkaku memang sudah wangi dan matang," kata Ki Sanepo menyambut kedatangan Gajahmada di rumahnya. Ki Sanepo kemudian membawa Gajahmada ke ladangnya untuk memetik beberapa buah nangka yang sudah matang di pohon.
"Sampaikan salamku kepada Tuan Jayakatwang," kata Ki Sanepo ketika Gajahmada bermaksud pamit setelah membantu memetik banyak buah nangka di ladang.
"Salam Ki Sanepo akan kusampaikan. Keluarga Tuan Jayakatwang pasti akan sangat gembira menerima buah tangan ini darimu," balas Gajahmada.
"Anak muda yang perkasa," gumam Ki Sanepo dalam hati saat melihat Gajahmada keluar dari pagar rumahnya.
Setibanya di pura Jayakatwang, semua penghuni menikmati buah tangan yang dibawa oleh Gajahmada.
"Ki Sanepo sangat baik sekali," ujar Jayakatwang.
"Mungkin karena setiap hari Manis Galungan kita selalu mengunjunginya," sahut Nyimas Turukbali.
Akhirnya Gajahmada bercerita bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya merestui keberangkatan Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat untuk menemui ibu mereka di Tuban. Hati Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat sangat gembira mendengar kabar itu.
"Kapan kita berangkat ke Tuban?" tanya Dyah Wiyat kepada Gajahmada.
Gajahmada tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Jayakatwang, mengisyaratkan bahwa keputusan berada di tangan beliau.
"Aku merestui keberangkatan kalian. Namun pertimbangkanlah, apakah akan lewat jalur laut atau jalur darat?" tanya Jayakatwang.
"Aku pilih lewat jalur laut. Belum pernah aku merasakan naik Jung Majapahit yang besar itu," kata Dyah Wiyat.
"Aku memilih lewat jalur darat. Kakang Gajahmada pernah mengatakan bahwa perjalanan menuju Tuban sangat indah pemandangannya," sahut Dyah Gayatri.
"Keputusan berada di tangan Gajahmada, karena dialah yang akan mengantar kalian sampai di Tuban," ujar Jayakatwang memberikan jalan keluar.
Semua mata beralih ke arah Gajahmada. Gajahmada terdiam sejenak, matanya memandang kedua putri itu bergantian. Akhirnya, ia memberikan keputusan.
"Aku akan memilih jalan darat," kata Gajahmada.
Sontak Dyah Gayatri melompat kegirangan, sementara Dyah Wiyat tampak bermuka masam.
"Lewat jalur mana pun, bukankah yang terpenting bagimu adalah dapat menemui ibundamu?" hibur Nyimas Turukbali kepada Dyah Wiyat.
"Nenek Turukbali benar, yang penting aku dapat menemui ibunda," ujar Dyah Wiyat yang sudah bisa tersenyum kembali.
Pada hari yang dianggap baik untuk melakukan perjalanan jauh, pagi-pagi sekali Gajahmada, Dyah Gayatri, dan Dyah Wiyat telah berkemas untuk menuju Tanah Tuban. Kedua putri Majapahit itu mengenakan pakaian rakyat biasa agar tidak menarik perhatian, terutama dari orang-orang jahat.
"Kutitipkan kedua cucuku ini kepadamu," pesan Nyimas Turukbali kepada Gajahmada.
"Sampaikan salam kami kepada keponakanku, Gayatri," tambah Jayakatwang sambil menepuk bahu Gajahmada. Ia merasa yakin bahwa dengan kemampuan ilmu yang dimiliki pemuda itu, tidak akan ada yang berani berbuat jahat kepada kedua cucunya.
Nyimas Turukbali tidak kuasa menahan kesedihan saat melihat Gajahmada dan kedua putri itu keluar dari gerbang halaman pura. Ketika mereka bertiga menghilang di balik dinding pagar, ia memalingkan wajah dan berlari masuk ke ruang dalam. Jayakatwang pun tertinggal seorang diri, duduk di pendapa sambil memandang jauh ke depan. Yang ia pikirkan adalah hari-hari setelah ini. Kedua putri Majapahit itu sudah cukup lama meramaikan kediamannya, mengobati luka pedih akibat kehilangan putra tunggal mereka, Pangeran Ardharaja.
Sementara itu, Gajahmada, Dyah Gayatri, dan adiknya telah menyeberangi Sungai Kalimas menyusuri jalan padukuhan. Matahari belum tinggi ketika mereka mendekati sebuah perbukitan.
"Pemandangan di sini begitu indah," puji Dyah Wiyat sambil memandang berkeliling saat mereka berada di puncak bukit.
"Kita beristirahat di bawah keteduhan pohon besar itu," ajak Gajahmada sambil menunjuk sebuah pohon yang tumbuh di atas perbukitan. Mereka kemudian membuka bekal yang dibawa dari Tanah Ujung Galuh. Setelah cukup beristirahat, ketiganya kembali melangkah melanjutkan perjalanan menuju Tanah Tuban.
Hingga hari mulai mendekati malam, mereka belum juga mencapai padukuhan. Gajahmada memutuskan untuk bermalam di sebuah tanah lapang yang dipenuhi batu besar demi melindungi tubuh dari angin malam.
"Batu bernyanyi," kata Gajahmada sambil mengajak kedua putri mendekati sebuah batu panjang yang bagian atasnya tampak sengaja dipahat. Gajahmada mengambil sebuah batu kecil dan memukulkannya beberapa kali ke batu panjang itu. Betapa gembiranya kedua putri itu mendengar suara yang dihasilkan seperti bunyi bende yang bergema memantul dari tebing di depan mereka. Secara bergantian, Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat memukul batu tersebut, membuat suasana malam di tanah lapang itu tidak lagi sepi.
Namun tiba-tiba, Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat melepaskan batu pemukul dan mundur beberapa langkah ke dekat Gajahmada. Ternyata, di hadapan mereka muncul sekelompok orang liar dengan mata buas, memandang mereka bertiga seperti binatang buruan. Gajahmada pernah mendengar kabar bahwa masih ada orang liar di sekitar jalur antara Tanah Ujung Galuh dan Tuban yang menganggap orang luar sebagai mangsa.
Dyah Wiyat merasa sangat ketakutan, tidak menyangka perjalanan yang ia bayangkan indah justru bertemu dengan orang-orang liar yang menakutkan. Sementara itu, Dyah Gayatri lebih cepat mengendalikan diri dengan sikap tenang. Inilah yang membedakan gadis ini dengan wanita lain; ia lebih banyak menggunakan akal sehat daripada perasaan.
"Jangan takut, biarlah aku yang menghadapi mereka dengan caraku," kata Gajahmada sambil berdiri di depan batu bernyanyi.
Gajahmada memukul batu itu beberapa kali dengan keras. Orang-orang liar itu tampak mundur sambil memegang dada mereka. Ternyata Gajahmada telah mengerahkan kekuatan setara Ajian Gelap Ngampar yang hanya ditujukan kepada orang-orang liar itu, tanpa berdampak pada Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.
Gajahmada memukul batu itu lebih keras lagi. Ketika ia meningkatkan daya tenaga inti lewat tataran Ajian Gelap Ngampar, orang-orang liar itu langsung berlari menjauh sambil menutup telinga rapat-rapat dan menghilang di kegelapan malam.
Gajahmada berbalik menghadap kedua putri.
"Apa yang Kakang lakukan terhadap mereka?" tanya Dyah Gayatri heran melihat orang-orang liar itu lari ketakutan.
"Pada saatnya Tuan Putri akan mengetahuinya. Yang jelas, sekarang mereka tidak akan kembali dalam waktu lama," jawab Gajahmada. Ia kemudian mengajak kedua putri mencari tempat terbaik di antara bebatuan untuk beristirahat.
"Tidurlah, aku yang akan menjaga kalian," ucap Gajahmada setelah menemukan tempat yang terlindung dari dinginnya angin malam.