Chapter 95
Pada saat itulah, barisan pasukan gabungan dalam jurus tempur Sang Naga Terbang turun ke bumi, langsung merobek-robek barisan kelompok musuh yang sudah terpecah menjadi semakin carut-marut, buyar, dan dengan sangat mudah ditaklukkan.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, enam kelompok barisan musuh sudah dapat ditaklukkan oleh pasukan gabungan yang terdiri atas para prajurit Majapahit, Lamajang, dan Blambangan tersebut.
Ternyata, Ki Secang telah melihat apa yang terjadi dalam pertempuran itu dan mengetahui sumber kehancuran barisan kelompok tempurnya.
"Dua orang bercambuk," ucap Ki Secang dalam hati dengan kemarahan yang memuncak.
Terlihat tubuh Ki Secang berkelebat mendekati salah satu orang bercambuk yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan itu. Ternyata, Ki Secang memilih Gajah Mada, orang bercambuk yang dilihatnya lebih dekat dari tempatnya berdiri.
"Cambukmu telah mengacaukan barisan tempurku," ujar Ki Secang dengan mata yang sangat tajam memandang ke arah Gajah Mada.
"Apakah ada yang salah dengan cambukku ini?" tanya Gajah Mada kepada orang tua itu dengan wajah sedikit tersenyum, seakan tidak gentar sedikit pun dengan tatapan mata yang terlihat begitu tajam dan menggetarkan hati.
"Anak muda, kamu terlalu percaya diri. Sayangnya, umurmu sudah sangat dekat di ujung trisulaku ini," kata Ki Secang sambil bergerak dengan begitu cepat menjulurkan trisulanya. Ia ingin segera menghabisi anak muda di hadapannya demi menyelamatkan barisan tempurnya.
Namun, orang tua itu telah salah menduga. Ia salah menempatkan anak muda di depannya sebagai orang biasa yang sekali terjang akan dapat dilukainya. Ki Secang terkejut bukan main ketika mendapati anak muda itu dapat bergerak dengan begitu cepat untuk menghindari serangan pertamanya, bahkan membalas dengan sebuah ayunan cambuk melingkar yang mengincar pinggang Ki Secang.
"Wuutt!" Suara angin ayunan cambuk Gajah Mada bergerak dengan tenaga yang amat kuat.
Kembali Ki Secang harus melompat mundur. Sementara itu, matanya melihat satu kelompok tempurnya kembali dapat dipecahkan oleh seorang bercambuk lainnya.
"Aku harus menyelesaikan anak setan ini," gumam Ki Secang dalam hati dengan perasaan geram.
Terlihat Ki Secang kembali menerjang dengan trisula terhunus ke arah dada Gajah Mada. Serangan Ki Secang berlipat-lipat kekuatan dan kecepatannya dari serangan sebelumnya. Namun, keinginan Ki Secang untuk segera menyelesaikan pertempuran ternyata kalis seperti air hujan yang turun di gurun pasir; hilang tanpa jejak. Ternyata, anak muda yang dihadapinya terlalu alot dan sangat licin seperti belut yang tidak mudah ditaklukkan.
Berkali-kali Ki Secang menyusun serangan, selalu saja serangannya dapat dielakkan oleh Gajah Mada. Sementara itu, terlihat dua kelompok tempurnya kembali dapat dipecahkan oleh orang bercambuk lainnya. Sorak-sorai para prajurit gabungan setiap kali menaklukkan kelompok tempur membuat Ki Secang murka hingga ke ubun-ubun.
Kembali serangan trisula di tangan Ki Secang datang berputar dan bergulung-gulung, berharap dapat langsung merobohkan lawan mudanya. Namun, lagi-lagi Gajah Mada dapat mengaliskan serangan yang amat dahsyat itu dan selalu dapat mengimbangi kecepatan serta kekuatan lawannya. Bahkan, Gajah Mada membalas menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang berlipat-lipat seiring dengan laju gerak Ki Secang yang sudah mencapai puncak ilmunya.
Ki Secang benar-benar putus asa melihat pasukannya yang perlahan tapi pasti mengalami kehancuran, sementara dirinya tidak juga dapat mengalahkan lawan yang semula dianggapnya tidak berarti itu. Akhirnya, Ki Secang tidak lagi mempedulikan pasukannya; yang ia pedulikan hanyalah mengakhiri nyawa anak muda yang menjadi salah satu penyebab kehancuran pasukannya.
Kilatan cahaya ketajaman trisula di tangan Ki Secang terlihat berkilat-kilat menyelubungi seluruh tubuhnya. Ia bergerak seperti anak panah yang ditarik dari busurnya dengan tenaga yang amat kuat, meluncur dengan sangat cepat ke arah Gajah Mada.
Gajah Mada masih merasa yakin bahwa kecepatan dirinya berada di atas lawannya, namun ia tetap melambari dirinya dengan ajian kekebalan setara Ajian Lembu Sekilan yang sangat tangguh untuk berjaga-jaga. Sedikit saja kelengahan akan berakibat nyawanya melayang tercabik-cabik trisula di tangan Ki Secang yang luar biasa itu.
Luar biasa serangan Ki Secang tersebut. Namun, Gajah Mada yang telah menguasai ilmu rangkap dengan sempurna langsung bergerak menghindari terjangan Ki Secang. Sambil menghindar, ia melakukan tekanan yang tidak kalah berbahayanya dengan menghentakkan cambuk pendeknya melalui teknik sandal pancing.
"Gelegar!!!"
Terdengar suara hentakan cambuk pendek Gajah Mada yang membuat Ki Secang melompat jauh untuk menghindar. Meski Ki Secang dapat menghindari serangan itu, suara hentakan cambuk tersebut masih dirasakan menghimpit dadanya. Ki Secang menyadari bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu memiliki ilmu kekuatan yang sangat dahsyat, bagaikan seorang pertapa yang telah bersemadi ratusan tahun lamanya.
Sementara itu, terdengar kembali sorak-sorai para prajurit gabungan yang telah menaklukkan kelompok tempur terakhir pasukan Ki Secang.
"Aku akan membunuh kalian semua!" teriak Ki Secang dengan suara yang bergulung-gulung, dihentakkan dengan tenaga saktinya. Beberapa prajurit terlihat bergulingan, tidak mampu menahan rasa sesak yang menghimpit dada mereka.
"Ajian Ilmu Gelap Ngampar," gumam Putu Risang dalam hati sambil berdiri mematung melihat pertempuran Ki Secang dan Gajah Mada yang belum juga usai.
Kali ini, Putu Risang melihat Ki Secang bukan hanya melepas Ajian Gelap Ngampar lewat suara, melainkan lewat kilatan cahaya ketajaman trisulanya yang sudah menyelimuti dirinya, diputar dengan gerakan sangat cepat dan kuat.
"Kabut kilatan cahaya trisula," kata Gajah Mada dalam hati, teringat pada Ki Banyak Ara yang pernah melakukan gerakan serupa. Kali ini, ilmu yang sangat langka itu dihentakkan oleh guru Ki Banyak Ara, yang pastinya berlipat-lipat kedahsyatannya.
Ternyata dugaan Gajah Mada tidak meleset; kabut kilatan trisula di sekitar tubuh Ki Secang semakin melebar.
"Selamatkan diri kalian!" seru Putu Risang mengingatkan para prajurit untuk menjauh dari pusaran kabut kilatan trisula tersebut.
Suasana menjadi riuh dengan suara para prajurit yang berlarian menjauhi lingkaran kabut. Gajah Mada merasa lega melihat para prajurit dan tawanan telah keluar dari lingkaran kabut yang sangat berbahaya itu.
"Kekuatan kabut Ki Secang pasti berlipat ganda," perkiraan Gajah Mada dalam hati. Ia pun meningkatkan daya kekebalan yang melambari tubuhnya sambil menatap lingkaran kabut yang terus bergerak ke arahnya. Gajah Mada masih berdiri tegap dengan cambuk yang menjurai ke tanah saat lingkaran kabut itu menjangkaunya.
Bukan main terkejutnya Ki Secang saat melihat lingkaran kabut kilatan trisulanya tidak merusak kulit Gajah Mada sedikit pun.
"Hanya dewa yang mampu menahan ilmuku," batin Ki Secang yang tidak percaya melihat Gajah Mada masih berdiri tegak.
Berbeda ketika berhadapan dengan Ki Banyak Ara, kali ini Gajah Mada dapat mengendalikan perasaannya. "Setiap orang pernah salah jalan. Mudah-mudahan aku dapat menunjukkan arah kepada Ki Secang untuk kembali menuju jalan kebenaran," pikir Gajah Mada sambil tetap berpikir jernih.
Dengan pikiran yang tenang, Gajah Mada memutar cambuknya perlahan, terus diputar tiada henti hingga semakin lama semakin cepat mengelilingi tubuhnya. Lambat laun, putaran itu membentuk pusaran angin yang menyelubungi tubuhnya.
Luar biasa, putaran angin ciptaan Gajah Mada mampu menghalau kabut kilatan cahaya trisula ciptaan Ki Secang. Perlahan tapi pasti, kabut yang sangat berbahaya itu kian menipis hingga akhirnya hilang sama sekali.
Setelah kabut itu sirna, tubuh Ki Secang terlihat masih terus memutar trisulanya.
"Gila!" umpat Ki Secang sambil melompat menjauh. Ternyata, putaran angin ciptaan Gajah Mada telah menekan dengan amat kuat dan mendorong pusaran angin kilatan trisula Ki Secang ke arah tuannya sendiri.
Ki Secang berdiri mematung, merasa telah terlepas dari ilmu kabutnya sendiri. Putu Risang yang melihat pertempuran itu berdecak penuh kekaguman.
"Gajah Mada telah menyempurnakan ilmunya di tingkat yang sangat tinggi," puji Putu Risang dalam hati. "Mudah-mudahan Gajah Mada dapat mengekang perasaannya," harapnya kembali saat melihat Gajah Mada tetap berdiri di tempatnya, tidak berusaha mengejar Ki Secang yang baru saja terlepas dari ancaman ilmunya sendiri.