Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 139

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 139

Itulah sambutan selamat datang dari pasukan gabungan, para prajurit Lamajang dan Blambangan yang dipimpin oleh dua orang tangguh yang sudah malang melintang menghadapi berbagai macam pertempuran. Dua orang tangguh itu adalah Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana, yang terlihat memimpin pasukan mereka dari dua tempat berbeda untuk menghancurkan pasukan Majapahit yang tengah panik tak terkendali.

Dalam waktu yang sangat singkat, gebrakan awal tersebut langsung menyusutkan sepertiga jumlah prajurit Majapahit. Sebagian besar tewas seketika akibat hantaman batang dan cabang pohon besar yang tumbang, selebihnya tewas terkena sabetan pedang lawan saat masih dalam keadaan tidak siap dan panik. Beruntung, Tumenggung Jala Rananggana dapat dengan cepat mengendalikan situasi para prajuritnya yang bercerai-berai.

"Merapatlah kalian dan jangan terpisah dari kelompok masing-masing!" seru Tumenggung Jala Rananggana mengendalikan seluruh pasukannya.

Ia menarik napas panjang saat melihat para pemimpin kelompok prajuritnya sudah dapat membangun dan mengikat kembali kelompok yang tercerai-berai itu. Maka, perlawanan pasukan Majapahit mulai terlihat dapat bertahan menghadapi pasukan gabungan dari Lamajang dan Blambangan. Cara bertempur berkelompok itu berhasil mengurangi korban di pihak mereka, meski jumlah prajurit mereka telah berkurang drastis sejak memasuki hutan. Nampaknya, jumlah prajurit tidak banyak berpengaruh di tengah hutan, melainkan kekompakan setiap kelompok yang menentukan jalannya pertempuran.

Pertempuran berlangsung cukup lama. Gaya bertempur kedua pasukan yang berasal dari sumber yang sama membuat pertempuran tersebut layaknya latihan biasa, di mana masing-masing pihak tampak sudah dapat membaca gerak lawan. Di tengah suasana itu, Tumenggung Jala Rananggana mencoba menyapu pandangan, mencari anak menantunya. Namun, kerapatan hutan rimba membuat sosok Adipati Menak Koncar sangat sukar ditemukan.

Hingga akhirnya, pendengaran Tumenggung Jala Rananggana menangkap suara suitan panjang. Belum sempat berpikir apa pun, ia melihat pasukan lawan bergerak keluar dari pertempuran dan menghilang seolah tertelan bumi. Tinggallah pasukan Tumenggung Jala Rananggana termangu-mangu ditinggal lawan-lawan mereka.

"Tetaplah kalian dalam kewaspadaan, nampaknya musuh kita akan kembali memberikan kejutan lain," perintah Tumenggung Jala Rananggana.

Belum kering ucapannya, terdengar suara berdesir mengisi udara. Ia terkejut saat menyadari bahwa suara itu berasal dari ratusan anak panah yang meluncur dari berbagai penjuru mata angin. Seketika itu juga, ribuan prajurit Majapahit menjadi korban. Hanya sedikit yang selamat karena berlindung di balik pepohonan dan bebatuan, atau karena memiliki kemampuan bela diri yang tinggi seperti Tumenggung Jala Rananggana.

"Hancurlah seluruh pasukanku bila saja mereka datang dan muncul tiba-tiba seperti di awal pertempuran," batin Tumenggung Jala Rananggana saat hujan panah reda dan melihat pasukannya kembali bercerai-berai.

Namun, ketakutan sang Tumenggung tidak terjadi. Pihak lawan bukanlah gerombolan biadab tanpa nilai kemanusiaan. Pasukan dari Lamajang dan Blambangan tersebut masih memegang norma ageman yang kuat, sehingga mereka tidak kehilangan kendali diri meski jumlah pasukan lawan telah jauh berkurang. Tumenggung Jala Rananggana melihat para prajurit lawan muncul layaknya pagar betis yang mengepung pasukannya yang sudah terkoyak-koyak.

Ia berdiri mematung saat seorang lelaki datang menghampirinya dengan sorot mata penuh kebencian yang tajam. Hati Tumenggung Jala Rananggana berdesir melihat sosok anak menantunya itu, yang biasanya menatap dengan kasih sayang dan rasa hormat, kini memandangnya dengan kebencian yang mendalam.

"Mengapa Menak Koncar memandangku dengan sorot mata penuh kebencian?" tanya Tumenggung Jala Rananggana dalam hati, tidak mengerti mengapa sosok yang sangat dihormatinya itu kini berubah.

"Tak kusangka ayah mertuaku yang sangat kuhormati, yang selalu memberikan wejangan tentang nilai-nilai agung seorang ksatria sejati, ternyata telah datang dan bekerja sama dengan sekumpulan orang biadab berhati culas. Tidak kusangka ayah mertuaku yang kuhargai selama ini telah bersekutu dengan orang licik berhati rendah," ucap Adipati Menak Koncar dengan wajah penuh kebencian.

"Wahai anak menantuku, kelicikan dan kepicikan apa gerangan yang kamu tuduhkan kepadaku? Jelaskanlah agar aku tidak bertanya-tanya mengapa dirimu memandangku dengan mata penuh kebencian seperti itu?" tanya Tumenggung Jala Rananggana dengan perasaan pedih.

"Perlukah aku menjelaskannya?" sahut Adipati Menak Koncar datar.

Harga diri Tumenggung Jala Rananggana tersentuh mendengar cara bicara itu. "Wahai anak menantuku, kalah dan menang dalam pertempuran adalah hal lumrah. Hidup dan matiku di pertempuran ini adalah garis dari Gusti Yang Maha Agung. Bila hari ini aku berhadapan dengan pasukan dari ayah kedua cucuku, itu pun bagian dari garis hidupku sebagai prajurit Majapahit yang memegang janji. Namun, kebencian di dalam matamu telah membuat perih hati orang tua sepertiku ini," ucapnya dengan suara bergetar.

Mendengar perkataan orang tua yang sangat dihormati itu, perasaan Adipati Menak Koncar yang bergejolak mulai surut, berganti dengan keraguan.

"Pasukan Majapahit telah berlaku licik, menahan pasukanku di hutan ini sementara mereka diam-diam masuk dan menguasai Kademangan Pronojiwo dari jalan lain. Saat ini, warga dan pengungsi menjadi sandera hidup mereka. Katakan, bagaimana ayah mertua bisa mencuci tangan mengetahui dan bersekutu dengan kelicikan? Puaskah ayah mertua meraih kemenangan dengan cara culas, bukan dengan pedang dan kehormatan ksatria sebagaimana yang selalu ayah ajarkan kepadaku?" cecar Adipati Menak Koncar.

"Anak menantuku, ternyata kamu salah besar menilaiku. Aku membawa pasukan ini sebagai pasukan pembuka. Bila benar apa yang kamu katakan, itu artinya aku dan pasukanku telah diperalat dan dikorbankan untuk sebuah kemenangan culas yang tidak pernah terbesit sedikit pun di hatiku. Bila aku mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka, akulah yang akan menentang pertama kali. Jika memang benar ada penyanderaan warga, maka mulai saat ini aku akan berseberangan dengan mereka. Aku akan memerangi mereka bersamamu," tegas Tumenggung Jala Rananggana.

Adipati Menak Koncar tampak percaya, karena ia tahu ayah mertuanya tidak pernah berdusta dan sangat memegang teguh jiwa ksatrianya. "Maafkan anak menantumu ini, telah salah dan berpikir dangkal menilai ayah mertua," ujarnya sambil menunduk penuh penyesalan.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Yang harus kita selesaikan hari ini adalah menyelamatkan para warga yang menjadi sandera dan merebut kembali Kademangan Pronojiwo yang dikuasai pasukan Dyah Halayuda," jawab Tumenggung Jala Rananggana.

Para prajurit yang tersisa telah mendengar pembicaraan itu dan menyadari bahwa mereka hanya dijadikan umpan. Namun, sebagai pemimpin yang bijak, Tumenggung Jala Rananggana memberi kesempatan kepada prajuritnya untuk memilih. "Kalian masih dapat menentukan, ikut bersamaku bergabung dengan pasukan Empu Nambi, atau tetap berada di bawah naungan panji pasukan Majapahit."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment