Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 160

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 160

Suara lecutan yang mengguntur itu seketika mengguncang dada semua orang yang tengah bertempur; suara itu seperti tangan yang amat kuat mencekik leher mereka.

"Wahai para pasukan Ikal-Ikalan Bang, menyerah dan bergabunglah bersama para prajurit Majapahit dengan penuh kesetiaan, atau mati hari ini dengan kehinaan!" seru Gajah Mada dengan suara yang menggulung, memekakkan telinga, dan menyesakkan dada siapa pun yang mendengarnya.

Seketika itu juga pertempuran terhenti; semua orang terlihat memegang dada mereka yang terasa terguncang. Ternyata Gajah Mada telah melambari suaranya dengan Aji Gelap Ngampar yang amat kuat, yang mengguncang perasaan dan dada setiap orang di istana.

"Lepaskan senjata kalian, aku tidak akan mengulangi tawaranku," ujar Gajah Mada kembali dengan suara yang bergema dan menyesakkan dada.

Maka, seketika itu pula para prajurit pasukan Ikal-Ikalan Bang langsung melemparkan senjata mereka. Mereka memilih menyerah tanpa perlawanan.

Langit di atas istana Majapahit saat itu telah terang; kuning emas cahaya matahari pagi terbentang dari utara hingga selatan bumi. Sang fajar telah menampakkan wajahnya dengan sempurna di ufuk timur. Gajah Mada dan pasukannya telah menyelesaikan pertempuran dan menguasai kembali istana Majapahit. Sebuah kibar bendera kemenangan dari orang-orang muda yang membuka awal sejarah kejayaan Majapahit.

Riuh gemuruh para warga Kotaraja Majapahit penuh sukacita menikmati kemenangan para pahlawan mereka. Mereka menikmati jalan-jalan utama kotaraja tanpa rasa takut dan tanpa perasaan yang mencekam. Hari itu adalah hari kemerdekaan mereka setelah beberapa hari bersembunyi di balik pintu tertutup dengan hati yang dipenuhi kegelisahan. Itu adalah hari yang tidak akan terlupakan, sebuah hari baru yang melebihi hari-hari suci yang biasa mereka rayakan dengan penuh kegembiraan, kedamaian, dan sukacita.

Sehari setelah kemenangan pasukan Gajah Mada menguasai kembali istana Majapahit, Raja Jayanegara dengan penuh sukacita menerima seratus prajurit pasukan Bhayangkara yang akan menjemputnya pulang ke istana dan kembali ke singgasananya. Seluruh warga Kabuyutan Bebander terlihat berjajar di pagar halaman rumah mereka, melambaikan tangan kepada iring-iringan kereta kencana Raja Jayanegara yang bergerak perlahan menuju gapura batas Kabuyutan Bebander.

Haru biru terlihat di wajah Ki Buyut Bebander saat menatap ujung iring-iringan pasukan pengawal kereta kencana Raja Jayanegara yang bergerak menghilang di tikungan jalan. Di hati orang tua itu terbersit kebanggaan karena rumahnya telah menjadi tempat persembunyian seorang raja agung yang sangat dihormati di seluruh bumi Majapahit Raya. Wajah pagi di bumi Kabuyutan Bebander terlihat begitu cerah; semilir angin berhembus perlahan menggerakkan dahan dan dedaunan, seolah menjadi ungkapan kegembiraan hati Ki Buyut Bebander dan warga lainnya. Kemenangan Raja Jayanegara adalah kemenangan mereka. Seluruh warga Kabuyutan Bebander mencatat hari itu di hati mereka sebagai sebuah cerita panjang yang akan disampaikan kepada anak cucu sebagai kebanggaan orang Bebander.

Sementara itu, Putra Sangkala terlihat masih merajut jaring-jaring waktu sambil memandang wajah bumi yang terus berputar silih berganti siang dan malam. Setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti, para pejabat di istana Majapahit ikut terkena imbasnya, terutama mereka yang diketahui telah bermain mata dengan Ra Kuti. Ra Kuti sendiri telah dihukum seadil-adilnya sesuai Kitab Kutara Manawa Dharmasastra, yaitu ditanam di perempatan jalan sebagai seorang pendosa dan mati dilempari batu oleh setiap warga Kotaraja Majapahit yang membencinya.

Raja Jayanegara tidak melupakan jasa Tumenggung Mahesa Semu yang telah menyelamatkan kerajaan. Ia menganugerahinya kedudukan dan gelar kebangsawanan sebagai Patih Amangkubumi dengan nama Arya Tadah. Ternyata Patih Amangkubumi Arya Tadah adalah orang yang cakap dan dapat mengendalikan roda pemerintahan Majapahit sebagaimana zaman Empu Nambi. Istana Majapahit tertata kembali, dipenuhi para pejabat yang bersih, roda perdagangan kembali berputar, dan perbendaharaan kerajaan kembali terisi.

Bagaimana dengan Gajah Mada? Raja Jayanegara mengetahui kesetiaan serta ketinggian ilmu yang dimiliki Gajah Mada dan bermaksud mengukuhkannya menjadi seorang panglima perang. Namun, keinginan Raja Jayanegara tinggal harapan, karena Ibunda Ratu Gayatri telah memintanya terlebih dahulu untuk menjadikan Gajah Mada sebagai seorang patih di Kerajaan Kahuripan.

"Ibunda Ratu Gayatri pasti memiliki pandangan yang amat jauh, berharap Gajah Mada akan menjadi pilar penjaga Majapahit di masa yang akan datang. Gajah Mada adalah seorang yang sangat cakap untuk belajar banyak hal. Hamba yakin bahwa di tangan Ibunda Ratu Gayatri, anak muda itu akan menjadi orang yang mumpuni dan mewarisi kebijaksanaan Raja Kertanegara lewat putri bungsunya itu. Harapan Ibunda Ratu Gayatri adalah harapan hamba juga. Jika saatnya tiba, hamba akan dengan senang hati menyerahkan jabatan ini kepada anak muda itu," kata Patih Amangkubumi kepada Raja Jayanegara.

"Ayahandaku, Baginda Raja Sanggrama Wijaya, telah menitipkan keris Nagasasra kepada Gajah Mada sebagai pertanda kepercayaan Ayahanda kepadanya," balas Raja Jayanegara.

"Selain Gajah Mada, masih ada ksatria lainnya, seorang yang cakap dan memiliki kesetiaan yang tinggi," kata Patih Amangkubumi.

"Siapa orang itu, Paman Patih?" tanya Raja Jayanegara.

"Adityawarman, sepupu Tuanku sendiri," jawab Patih Amangkubumi Arya Tadah.

Demikianlah, Raja Jayanegara dan Patih Amangkubumi Arya Tadah sepakat mengangkat Adityawarman sebagai panglima perang Kerajaan Majapahit dan melepas Gajah Mada menjadi Patih di Kahuripan sesuai permintaan Ibunda Ratu Gayatri.

"Sebelum Gajah Mada ke Kahuripan, aku ingin menugaskannya menjadi dutaku untuk meluruskan kembali hubungan kita dengan dua orang putra Empu Nambi di Blambangan dan Lamajang," ujar Raja Jayanegara.

"Gajah Mada memang memiliki kedekatan dengan Empu Nambi, juga dengan kedua putranya itu. Mudah-mudahan kedatangan Gajah Mada dapat merekatkan kembali kesalahpahaman yang pernah terjadi di antara kita," sahut Patih Amangkubumi menyetujui.

Maka pada hari itu juga, Gajah Mada dipanggil untuk menghadap Raja Jayanegara di puri pasanggrahannya. Raja Jayanegara menyampaikan permintaan Ibunda Ratu Gayatri.

"Bila saja aku bisa memilih, aku lebih menginginkan dirimu berada di istana Majapahit ini. Namun, aku tidak mampu menolak permintaan Ibunda Ratu Gayatri," kata Raja Jayanegara kepada Gajah Mada.

Mendengar penuturan itu, Gajah Mada menarik napas panjang dan tersenyum. "Di istana Majapahit maupun di istana Kahuripan, dan di mana pun hamba ditugaskan, pengabdian hamba hanyalah untuk kejayaan bumi Majapahit. Hamba dibesarkan di lingkungan keluarga istana ini, sudah sewajarnya hamba menyerahkan bakti untuk keluarga ini. Inilah titipan Baginda Raja Sanggrama kepada hamba, yakni menjaga keluarga dan keturunannya," jawab Gajah Mada.

Dalam pembicaraan lain, Raja Jayanegara menyampaikan rencananya untuk menugaskan Gajah Mada menjadi duta ke Blambangan dan Lamajang.

"Sebuah kegembiraan hati dapat melaksanakan titah Tuanku. Mohon doa restu agar hamba dapat diterima sebagai duta, meluruskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi, dan meyakinkan kedua putra Empu Nambi tentang niat baik istana Majapahit yang telah kembali ke jalur amanat cita-cita para pendahulunya," kata Gajah Mada.

"Kapan kamu akan berangkat, Saudaraku?" tanya Raja Jayanegara.

"Besok pagi, saat sang fajar bergelantung di tiang layar perahu," jawab Gajah Mada dengan senyum.

Keesokan harinya, sebuah perahu bercadik ganda terlihat bergerak menjauhi dermaga pantai Tanah Ujung Galuh. Dua orang prajurit terlihat mengayuh perahu itu ke arah selatan pantai Jawadwipa.

"Senang berlayar bersama Tuan," kata salah seorang prajurit kepada Gajah Mada.

"Hari ini perjalanan kita cukup panjang, menyusuri pantai Jawadwipa hingga ke ujung timurnya," ujar Gajah Mada.

"Hamba lahir dan besar di bandar pelabuhan Banyuwangi," jawab prajurit itu sambil tersenyum.

"Apakah kedua orang tuamu asli Banyuwangi?" tanya Gajah Mada.

"Ibu saya orang Banyuwangi asli, sementara ayah saya berasal dari Balidwipa," jawab prajurit itu.

Demikianlah, Gajah Mada dan kedua prajurit itu berlayar menjauhi bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh. Rupanya, Gajah Mada lebih memilih jalur laut untuk perjalanannya kali ini dengan Kadipaten Blambangan sebagai tujuan pertamanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment