Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 107

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 107

"Aku telah menugaskan beberapa prajurit telik sandi untuk mengusut siapa orang di balik semua kekeruhan ini, dan semuanya mengerucut kepada satu nama: Ra Kuti," ujar Tumenggung Mahesa Semu kepada Patih Amangkubumi.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah berlaku adil dan mengayomi semua aliran agama. Keadilan macam mana lagi yang diinginkan oleh Ra Kuti?" sahut Patih Amangkubumi.

"Ra Kuti tampaknya menginginkan takhta kerajaan," jawab Tumenggung Mahesa Semu.

Dalam pembicaraan itu, Patih Amangkubumi juga bercerita tentang keterlibatan Ki Secang.

"Ki Secang yang dipekerjakan di pura istana?" tanya Tumenggung Mahesa Semu.

Patih Amangkubumi menjelaskan kecurigaannya, mulai dari cerita Supo Mandagri di hutan Perigian hingga ilmu kabut trisula kembar yang dimiliki oleh Ki Secang.

"Bila memang demikian, aku akan menugaskan beberapa prajurit telik sandi untuk membayangi gerak mereka," kata Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara itu, di pura istana, terlihat dua orang tengah bercakap-cakap. Mereka adalah Ra Kuti dan Ki Secang yang sedang membicarakan peristiwa di muka gerbang istana, di mana Patih Mahesa Amping dikeroyok oleh ribuan prajurit Majapahit.

"Racunku amat kuat; orang yang terkena racunku akan gila dan mati dalam beberapa hari," ucap Ki Secang dengan gembira.

"Belum ada berita tentang keadaan Patih Mahesa Amping dan kedua kawannya itu. Tidak ada seorang pun diperbolehkan masuk ke puri pasanggrahan Patih Amangkubumi."

"Racunku amat kuat. Aku yakin Patih Mahesa Amping telah membusuk di tempat kediaman Patih Amangkubumi itu," kata Ki Secang penuh keyakinan.

Namun, ternyata perkiraan Ki Secang melenceng jauh. Orang yang disangka telah membusuk akibat racun hati celeng bunting itu masih tetap hidup, bahkan berangsur-angsur menunjukkan tanda kepulihan. Beruntung, Patih Mahesa Amping ditangani oleh seorang ahli pengobatan mumpuni, yakni Patih Amangkubumi yang juga sering dipanggil Empu Nambi.

Dari hari ke hari, kesehatan Patih Mahesa Amping terus membaik, begitu pula dengan kedua sahabat setianya, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

"Pagi yang indah," ujar Patih Mahesa Amping ketika duduk di pendapa sambil memandang taman halaman muka puri pasanggrahan.

"Aku juga tidak menyangka bahwa pagi ini masih dapat melihat indahnya rerumputan hijau," sahut Ki Rangga Gajah Biru sambil bercerita kepada Patih Mahesa Amping bagaimana mereka berkuda membuntutinya dari Kotaraja Kediri hingga ke Kotaraja Majapahit.

"Kudaku telah tewas?" tanya Patih Mahesa Amping lirih setelah mendengar cerita tentang dirinya yang hilang ingatan dan mengamuk di pintu gerbang istana Majapahit.

"Benar, mati di tangan Tuan Patih sendiri," jawab Ki Demung Juru.

Sementara itu di Kepatihan, Patih Amangkubumi tengah menerima lima orang pendeta anggota Dharmayaksa, salah satunya adalah Dang Acarca Sujiwa. Patih Amangkubumi sudah dapat menebak bahwa kedatangan mereka adalah untuk menuntut keadilan atas diri Patih Mahesa Amping yang dianggap telah melakukan banyak pembunuhan.

"Hari ini kami datang sebagai anggota Dharmayaksa, ingin menyampaikan tuntutan keadilan atas apa yang telah dilakukan oleh Patih Mahesa Amping," ujar Pendeta Dang Acarca mewakili anggota lainnya.

Patih Amangkubumi merasa darahnya mendidih menahan amarah. Ia yakin kelima pendeta itu telah diperalat oleh Ra Kuti. Namun, ia sangat pandai menguasai diri. Meskipun hatinya panas, pikirannya tetap jernih dan tidak terpengaruh oleh situasi. Ia menduga Pendeta Dang Acarca Sujiwa pasti telah mendapatkan ancaman keras dari Ra Kuti.

"Pasti Ra Kuti telah membeli mereka dengan harga yang cukup tinggi," batin Patih Amangkubumi.

"Bukankah kemarin sudah aku katakan bahwa keputusan akan disampaikan di pertemuan agung pada akhir tahun sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya?" ujar Patih Amangkubumi sambil menahan amarah.

"Permasalahan Patih Mahesa Amping tidak bisa ditunda-tunda lagi, terlalu lama bila harus menunggu pertemuan agung," jawab Dang Acarca Sujiwa.

"Kami para anggota Dharmayaksa berkewajiban melaksanakan amanat keadilan yang dituntut oleh keluarga korban. Kasus Patih Mahesa Amping sudah menjadi pergunjingan umum. Kami ingin menghindari persangkaan bahwa keadilan hanya berlaku untuk rakyat jelata, sementara pejabat tinggi kerajaan tidak tersentuh sama sekali," tambah seorang pendeta lainnya.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya pasti akan bangga bila Tuan Patih Amangkubumi memutuskan kasus Patih Mahesa Amping secepatnya tanpa menunggu kedatangannya. Bukankah Tuan Patih tidak ingin ada persangkaan bahwa penundaan ini berkaitan dengan persahabatan Tuan dengan Patih Mahesa Amping?" sahut pendeta lain yang benar-benar menyudutkan Patih Amangkubumi.

Patih Amangkubumi bergetar menahan emosi, namun ia tetap mampu berpikir jernih.

"Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang gila?" tanya Patih Amangkubumi.

Kelima pendeta itu terdiam cukup lama sebelum Dang Acarca Sujiwa menjawab, "Kitab hukum Kutara Manawa memang tidak berlaku untuk orang gila, namun menurut kami, saat peristiwa itu terjadi, Patih Mahesa Amping dalam keadaan sehat jasmani dan rohani."

"Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang mati?" tanya Patih Amangkubumi lagi.

Setelah terdiam cukup lama, Dang Acarca Sujiwa kembali menjawab, "Kitab hukum Kutara Manawa memang tidak berlaku untuk orang mati."

"Terima kasih atas jawaban kalian. Sekarang, silakan tinggalkan Kepatihan ini. Besok akan kuputuskan kapan peradilan itu akan dilaksanakan," ujar Patih Amangkubumi.

Setelah para pendeta pergi, Patih Amangkubumi masih menerima kunjungan beberapa pejabat lainnya. Ketika sore menjelang, ia beranjak meninggalkan Kepatihan.

"Selamat datang, Ki Sandikala," sapa Patih Mahesa Amping kepada Patih Amangkubumi dengan panggilan akrab, sebagai tanda kedekatan mereka.

"Senang melihat kalian bertiga sudah berjemur diri di pendapa ini," ucap Patih Amangkubumi yang melihat kesehatan Patih Mahesa Amping, Ki Rangga Gajah Biru, dan Ki Demung Juru telah pulih. Adityawarman juga tampak bergabung di sana.

"Namun, kegembiraan kami berkurang karena melihat Ki Sandikala tampak memikul beban yang amat berat. Berbagilah dengan kami, semoga dapat meringankan beban pikiranmu," ujar Patih Mahesa Amping yang seolah mampu membaca isi hati sahabatnya.

Tanpa dapat mengelak, Patih Amangkubumi menceritakan tuntutan para anggota Dharmayaksa untuk mengadili Patih Mahesa Amping.

"Maafkan aku, meski berada di pembaringan, aku telah mendengar bisik-bisik pembicaraan kalian perihal tuntutan ini," ujar Patih Amangkubumi sambil tersenyum.

"Sebelum aku menyampaikan pikiran dan pandanganku, aku ingin bertanya kepada Ki Rangga Gajah Biru," kata Patih Mahesa Amping.

Ki Rangga Gajah Biru tampak terkejut, namun ia telah menyiapkan diri.

"Katakan sejujurnya, wahai sahabatku, apa perasaan orang-orang Kediri manakala mendengar aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini?" tanya Patih Mahesa Amping.

Semua mata di pendapa itu tertuju kepada Ki Rangga Gajah Biru. Ia menarik napas panjang, bersiap menjawab.

"Maaf bila aku berkata sejujurnya, dan ini bukan pujian untuk mengambil keuntungan dari Tuan Patih Mahesa Amping."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment