Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 225

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 225

Secara singkat, Putu Risang bercerita kepada Ki Pasunggrigis tentang kejadian yang menimpa Padepokan Pamecutan.

Kejadian itu berawal dari penolakannya untuk memperkuat pasukan Kerajaan Bali yang berniat melepaskan diri dari Persemakmuran Majapahit Raya.

"Aku telah memerintahkan seluruh cantrikku untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Tampaknya, para prajurit Kerajaan Bali menjadi murka mendapati Padepokan Pamecutan telah kosong tanpa seorang pun. Dari kejauhan, aku masih dapat melihat bangunan Padepokan Pamecutan terbakar," ujar Putu Risang menceritakan peristiwa yang menimpa padepokannya itu.

"Ternyata kita memiliki pandangan yang sama, sama-sama tidak menginginkan adanya peperangan antara Kerajaan Bali dan Kerajaan Majapahit," kata Ki Pasunggrigis, menceritakan dirinya sendiri yang telah memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai Mahapatih Kerajaan Bali.

"Nalar, budi, dan pikiran seorang raja harus berdiri dan diutamakan demi kesejahteraan serta kemakmuran rakyatnya, mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Harkat dan martabat seorang raja dinilai dan dikenang atas apa yang telah dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak. Itulah warisan seorang raja besar yang akan dikenang sepanjang masa," ujar Putu Risang menyampaikan pandangannya kepada Ki Pasunggrigis.

Demikianlah, sejak saat itu hubungan Ki Pasunggrigis dan Putu Risang menjadi semakin akrab. Banyak kesamaan di antara mereka, terutama pandangan mengenai arti sebuah perdamaian dan cinta kasih di bumi.

Hari-hari terlihat mereka lewati di Padepokan Pasunggrigis, demikian nama padepokan yang terletak di Padukuhan Tengkulak tersebut—sebuah padukuhan kecil dan sepi yang jauh dari keramaian, meskipun letaknya tidak begitu jauh dari Kotaraja Bali.

Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari Kotaraja Bali, berita mengenai keadaan dan suasana Balidwipa serta sekitarnya cepat sekali sampai di Padepokan Pasunggrigis. Kabar tersebut dibawa oleh para pedagang atau para cantrik Padepokan Pasunggrigis yang kadang membawa dan memasarkan hasil kerajinan mereka berupa alat-alat pertanian serta beragam senjata ke Kotaraja Bali dan sekitarnya.

"Ada kabar bahwa pasukan Majapahit telah datang memasuki Balidwipa lewat utara dan selatan," kata Ki Pasunggrigis kepada Putu Risang dan adiknya, Ki Anupati, pada suatu pagi.

"Pasukan Majapahit pasti telah mengepung Kerajaan Bali dari berbagai arah. Tampaknya, pasukan yang datang dari arah pantai timur sangat pandai menyusup hingga tidak diketahui kehadirannya," sahut Putu Risang menanggapi berita tentang kehadiran pasukan Majapahit di Balidwipa tersebut.

"Kamu benar. Kudengar para senopati pasukan Majapahit adalah pemikir ulung dalam merencanakan siasat perang mereka. Mudah-mudahan saja Baginda Raja Bali dapat berpikir jernih menghadapi perang ini," kata Ki Pasunggrigis yang masih mengkhawatirkan sikap Baginda Raja Bali yang pernah menjadi muridnya itu.

Ternyata pikiran dan pandangan Putu Risang tentang kehadiran pasukan Majapahit tidak jauh meleset dari apa yang terjadi. Sebab sesungguhnya, dialah salah seorang guru dari senopati agung yang telah mengemban tugas meredam pemberontakan Raja Bali. Sang senopati agung itu adalah salah seorang ksatria muda penjaga Majapahit yang bernama Patih Gajah Mada.

Sebagaimana yang ada di dalam pikiran Putu Risang, saat itu memang benar ada sebuah pasukan yang datang dari arah pantai timur Balidwipa. Pasukan itu berada di bawah pimpinan langsung Patih Gajah Mada, yang ditunjuk sebagai Senopati Agung untuk melaksanakan serangan ke Kerajaan Bali. Patih Gajah Mada bersama pasukannya telah sampai di Balidwipa secara senyap dan tersembunyi, tanpa diketahui oleh pihak lawan.

"Aku pernah menyarankan Baginda Raja Bali untuk tidak mengosongkan Kotaraja Bali," kata Ki Pasunggrigis kepada Putu Risang dan Ki Anupati.

"Para senopati Majapahit akan berupaya mendorong pasukan Bali keluar dari Kotaraja Bali, karena itulah rencana akhir mereka di Balidwipa ini," ujar Putu Risang menyampaikan pikirannya.

"Saat ini Kerajaan Bali memiliki beberapa patih yang mumpuni. Namun, tanpa siasat perang yang baik, pertahanan mereka akan menjadi benteng yang rapuh dan mudah terkoyak," kata Ki Pasunggrigis kepada Putu Risang.

"Baginda Raja Bali terlalu percaya diri atas kekuatan pasukan yang dimilikinya saat ini, tanpa melihat kekuatan pihak lawan secara luas," sahut Ki Anupati yang selama ini lebih banyak berdiam diri menyimak pembicaraan Ki Pasunggrigis dan Putu Risang.

"Kita tidak berpihak kepada siapa pun. Namun, peperangan besar yang akan terjadi ini pastinya akan menyisakan kesengsaraan yang panjang pada akhirnya bagi pihak mana pun, terutama bagi penduduk Balidwipa yang tidak memiliki kepentingan maupun keuntungan apa pun dari peperangan ini," kata Ki Pasunggrigis.

"Dua gajah raksasa bertempur, tetapi mereka tidak bertempur di arena palagan, melainkan di padang terbuka yang luas ini. Balidwipa akan porak-poranda setelah sekian tahun dibangun dengan penuh cinta kasih oleh para leluhur."

"Aku pernah ikut bersama pasukan Majapahit dalam berbagai peperangan mereka. Tampaknya, di Balidwipa ini pasukan Majapahit akan menghadapi medan pertempuran yang jauh lebih luas daripada yang pernah dihadapi sebelumnya," kata Putu Risang.

"Juga sebuah peperangan yang sangat panjang," sambung Ki Pasunggrigis.

Sementara itu, hujan sejak pagi masih saja mengguyur Padepokan Pasunggrigis. Terlihat rumput-rumput hijau di halaman pendopo padepokan mulai tergenang air. Ternyata hujan merata hampir di seluruh bumi Balidwipa saat itu, membuat sebagian orang mengurungkan niat untuk keluar dari rumah mereka.

Hujan juga turun mengguyur sebuah hutan yang lengang dan sepi di sebelah timur Kotaraja Bali. Hutan itu sangat lebat, tempat yang hampir setiap orang di Balidwipa tidak berani memasukinya. Konon, menurut cerita sebagian orang, hutan tersebut dihuni oleh makhluk gaib dari bangsa dedemit dan jin. Itulah sebabnya tidak seorang pun di Balidwipa saat itu yang mengetahui bahwa ada sepasukan prajurit Majapahit yang sudah beberapa hari menggunakan hutan tersebut sebagai tempat persembunyian mereka.

Mereka yang tengah bersembunyi di dalam hutan itu adalah pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh Patih Gajah Mada. Pasukan itu berjumlah tidak lebih dari lima ratus orang, namun dipercaya memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Sebagian dari mereka adalah murid perguruan Teratai Putih dari Pasundan, para cantrik pilihan dari Padepokan Bajra Seta yang terkenal, serta beberapa prajurit pilihan dari Lamajang, Singasari, dan Kediri.

Tugas utama pasukan khusus tersebut adalah menyerang Kotaraja Bali secara langsung, tetapi mereka memerlukan persiapan dan waktu yang tepat untuk melaksanakan serangan itu.

"Hari ini diperoleh kabar bahwa dua pasukan besar telah keluar dari Kotaraja Bali menuju arah utara dan selatan," kata seorang lelaki muda. Pemuda itu adalah Kresna Kepakisan, yang telah ditunjuk langsung oleh Patih Gajah Mada sebagai wakil senopati pasukan khusus di hutan tersebut.

"Berapa besar kekuatan pasukan mereka yang akan menghadapi pasukan kita di utara dan selatan?" tanya Patih Gajah Mada kepada Kresna Kepakisan.

"Menurutku, jumlahnya masih setengah dari kekuatan kita di utara dan selatan," jawab Kresna Kepakisan.

"Meskipun jumlah mereka lebih sedikit daripada kekuatan kita di utara dan selatan, mereka lebih menguasai dan mengenal medan pertempuran. Mudah-mudahan saja pasukan kita di utara dan selatan dapat berhati-hati, terutama saat menghadapi mereka," ujar Patih Gajah Mada menyampaikan tanggapannya.

"Menurut kabar, masih ada kekuatan besar yang tersisa di Kotaraja Bali saat ini. Tampaknya, mereka masih memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk menghalau pasukan kita di utara dan selatan hanya dengan setengah kekuatan saja," kata Kresna Kepakisan kepada Patih Gajah Mada.

"Semoga saja pasukan kita di utara dan selatan dapat memancing mereka agar mengerahkan seluruh pasukan keluar dari Kotaraja Bali. Di saat itulah kita akan menggempur Kotaraja Bali yang telah terkikis kekuatannya," kata Patih Gajah Mada menyampaikan rencananya.

"Hingga saat ini, kita belum mendapatkan hubungan dari pasukan yang berada di utara dan selatan," kata Kresna Kepakisan kepada Patih Gajah Mada.

"Kita harus terus memantau perkembangan suasana di Balidwipa agar kita tidak salah langkah," ujar Patih Gajah Mada kepada Kresna Kepakisan.

Beberapa hari kemudian, datanglah sekitar dua ratus ekor kuda yang berhasil diselundupkan ke Balidwipa, langsung menuju hutan tempat pasukan Patih Gajah Mada bersembunyi. Patih Gajah Mada merasa gembira karena di antara kuda-kuda itu terdapat kuda kesayangannya—seekor kuda hitam yang sangat kuat bernama Cemani.

Maka pada hari itu juga, tampak Patih Gajah Mada menunggangi kuda kesayangannya dengan ditemani oleh Kresna Kepakisan, mencoba mendekati Kotaraja Bali dari berbagai sudut untuk memastikan arah terbaik dalam melakukan penyerangan ke Kotaraja Balidwipa.

Beberapa pekan kemudian, datanglah beberapa orang penghubung dari pasukan Majapahit di utara dan selatan Balidwipa. Mereka membawa berita penting mengenai situasi medan pertempuran di dua tempat yang berbeda itu. Sementara itu, pasukan Majapahit di sebelah selatan tengah menghadapi perlawanan sengit dari pihak lawan.

"Senopati pasukan Bali di sebelah selatan bernama Ki Tambyak. Ia adalah sosok yang sangat dikenal di Kerajaan Bali sebagai panglima perang yang sangat ahli dalam menyusun berbagai siasat pertempuran," kata Kresna Kepakisan kepada Patih Gajah Mada, menyampaikan berita yang didapatnya dari para penghubung.

"Sebagaimana dugaanku, pasukan lawan lebih mengenal medan pertempuran mereka. Kupercayakan kepadamu, wahai Kakang Kepakisan, untuk membantu pasukan kita di selatan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment