Chapter 223
Gajah Mada menghampiri wanita tua itu.
"Hanya sedikit terkejut ketika pedati tersungkur karena rodanya terlepas," kata Nyi Rangga kepada Patih Gajah Mada.
"Siapa gerangan bayi yang cakap ini?" tanya Patih Gajah Mada kepada Nyi Rangga.
Nyi Rangga tersenyum sambil memandang suaminya. Mungkin maksudnya agar Ki Rangga Gajah Biru yang menjelaskan siapa gerangan anak lelaki yang belum berusia dua tahun di pangkuannya itu.
"Anak lelaki ini adalah putra Ra Tanca. Apakah Tuan ingat tentang istri Ra Tanca yang bernama Utami itu?" tanya Ki Rangga Gajah Biru kepada Patih Gajah Mada.
"Aku masih ingat. Manakala aku meninggalkan Kediri, istri Ra Tanca memang tengah hamil tua," kata Patih Gajah Mada.
"Nyi Ra Tanca telah meninggal dunia setelah melahirkan bayinya," kata Ki Rangga Gajah Biru.
"Kasihan, anak ini menjadi yatim piatu," kata Patih Gajah Mada sambil menarik napas panjang.
"Itulah sebabnya aku membawanya kepada Tuan. Bukankah Tuan sendiri pernah berjanji akan menjadi ayah angkat dari bayi yang akan dilahirkannya?" tanya Ki Rangga Gajah Biru.
"Nala putra Ra Tanca. Aku ingat telah memberikan nama itu kepada calon bayi mereka," kata Patih Gajah Mada sambil memandang anak lelaki kecil dalam dekapan Nyi Rangga.
Andini, Bango Samparan, dan Ki Sahdatun terlihat ikut mendekat. Segera Patih Gajah Mada memperkenalkan Ki Rangga Gajah Biru dan istrinya kepada mereka.
Tidak perlu banyak waktu untuk memperbaiki roda pedati yang terlepas dari porosnya. Dengan bantuan semua orang yang ada, akhirnya pedati itu siap melanjutkan perjalanannya kembali.
Pedati itu mulai bergerak perlahan, diikuti oleh Patih Gajah Mada dan rombongannya. Hingga akhirnya, sebelum hari menjelang senja, mereka telah tiba di Kotaraja Majapahit.
Atas saran Patih Gajah Mada, pedati dan kuda-kuda mereka dititipkan di tempat tinggal seseorang yang dikenal baik oleh Patih Gajah Mada. Setelah itu, rombongan tersebut berjalan beriringan menuju arah Sungai Kalimas.
"Dengan penuh rasa senang hati, aku akan menyeberangkan Tuan," kata seorang pemilik rakit kepada Patih Gajah Mada, yang diketahuinya pasti akan membayar jasanya dengan berlipat ganda.
Tidak lama berselang, rombongan Patih Gajah Mada tiba di tepian Tanah Ujung Galuh. Di jalan Padukuhan Tanah Ujung Galuh, masih terlihat beberapa orang berlalu-lalang. Beberapa orang yang mengenal Patih Gajah Mada dengan cukup baik menyapanya dengan penuh keramahan.
Akhirnya, rombongan Patih Gajah Mada memasuki gerbang gapura puri pasanggrahan. Nyi Nariratih dan Sopo Mandagri menyongsong rombongan yang baru datang itu di muka tangga pendapa.
Kepada Nyi Nariratih dan Sopo Mandagri, Patih Gajah Mada memperkenalkan Bango Samparan serta keluarga Ki Rangga Gajah Biru.
"Paman Bango Samparan ini adalah ayahanda dari Andini, sementara Ki Rangga Gajah Biru dan Nyi Rangga adalah sahabat terdekatku selama aku di Kediri," kata Patih Gajah Mada memperkenalkan orang-orang yang bersamanya.
Tidak lama kemudian, puri pasanggrahan di Tanah Ujung Galuh itu menjadi begitu meriah, dipenuhi rasa suka cita saat mereka saling bercerita tentang pengalaman dan perjalanan masing-masing. Suasana menjadi kian dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan manakala Ki Sahdatun membuka pembicaraan tentang rencana pernikahan antara Patih Gajah Mada dan Andini.
"Patih Gajah Mada sebentar lagi akan berangkat mengemban tugas mulia ke Balidwipa untuk waktu yang cukup lama. Atas kehendak dan keinginan Patih Gajah Mada serta Andini, mereka akan melangsungkan pernikahan. Rencana ini sebelumnya telah kami bicarakan bersama di perjalanan. Mudah-mudahan maksud dan niat baik mereka dapat terlaksana, tentunya dengan dukungan dan doa kita semua," kata Ki Sahdatun di penghujung perjamuan makan malam di hadapan semua orang yang hadir di pendapa puri pasanggrahan Tanah Ujung Galuh saat itu.
Seketika suasana di pendapa itu menjadi hening. Sayup-sayup terdengar gemuruh angin dan ombak pantai.
Keesokan harinya, Patih Gajah Mada dan Andini dinikahkan secara Islam, tanpa upacara adat istiadat mana pun, hanya disaksikan oleh para kerabat terdekat yang kebetulan berada di Tanah Ujung Galuh.
Namun, meski tanpa upacara dan perayaan yang besar, pelaksanaan pernikahan itu membuat suasana kebahagiaan di Puri Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh terasa begitu sempurna, terutama bagi Nyi Nariratih dan Bango Samparan.
Pada saat itu, orang Muslim di bumi Majapahit memang masih sangat langka. Keislaman Patih Gajah Mada dan Andini pun belum diketahui oleh orang-orang di luar keluarga mereka.
Hal yang menggembirakan Patih Gajah Mada dan Andini adalah penerimaan dari keluarga dan kerabat dekat. Mereka begitu berlapang dada dan tidak mempermasalahkan pilihan agama yang dianut, serta acara pernikahan yang murni berlandaskan ajaran Islam.
"Sungguh sebuah keberuntungan aku dapat menghadiri dan menyaksikan pernikahan Tuan di Tanah Ujung Galuh ini," kata Ki Rangga Gajah Biru memberikan ucapan selamat kepada Patih Gajah Mada.
"Aku merasa bahagia karena hari pernikahanku ini dihadiri oleh para sahabat terdekat," balas Patih Gajah Mada kepada Ki Rangga Gajah Biru.
Dua malam Patih Gajah Mada berada di puri pasanggrahan Tanah Ujung Galuh. Sesuai perhitungannya, sudah saatnya ia berangkat melaksanakan tugas mulia yang diemban di pundaknya dari Kerajaan Majapahit sebagai senapati utama, untuk membawa kembali Balidwipa di bawah naungan Ibu Pertiwi, Majapahit Raya.
"Kakang, jangan merisaukan keadaan dinda di Tanah Ujung Galuh ini. Berangkatlah, wahai pahlawan hatiku. Aku di sini akan selalu berdoa untuk keselamatanmu," kata Andini kepada Patih Gajah Mada yang telah berkemas untuk segera meninggalkan puri pasanggrahan.
"Bila saja usiaku masih muda, aku pasti akan ikut bersama Tuan," kata Ki Rangga Gajah Biru kepada Patih Gajah Mada.
"Sebagaimana yang pernah kujanjikan di hadapan Utami, aku akan menjaga dan melindungi Nala putra Ra Tanca sebagaimana putraku sendiri," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Rangga Gajah Biru.
"Aku akan menjaga keluargamu di Tanah Ujung Galuh ini," kata Ki Sahdatun sambil memeluk erat Patih Gajah Mada.
"Terima kasih telah bersedia menjadi pelindung keluargaku. Kutitipkan Rangga Seta kepadamu, wahai penuntun cahaya hidupku," bisik Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun dengan penuh keharuan.
"Singkirkan keraguan di hatimu, wahai putraku. Seorang senapati agung tidak boleh menoleh ke belakang. Pandang lurus musuhmu dan angkat tinggi-tinggi pedang panglimamu agar semangat keberanian tumbuh dan hidup di hati pasukanmu," kata Nyi Nariratih melepas keberangkatan putra terkasihnya itu.
Biasanya, hati dan perasaan Nyi Nariratih begitu kuat menahan rasa haru manakala putranya berpamitan untuk waktu yang cukup lama. Namun hari itu, ia sepertinya tidak mampu menahan gejolak perasaannya. Matanya tampak berkaca-kaca menahan keharuan.
Diiringi tatapan orang-orang terdekatnya, Patih Gajah Mada melangkahkan kaki menuju gerbang gapura puri pasanggrahan. Manakala anak muda itu berada tepat di bawah gapura, ia berbalik badan menghadap ke arah pendapa tempat orang-orang masih berdiri mengiringi kepergiannya.
Sambil tersenyum lebar, Patih Gajah Mada melambaikan tangannya berkali-kali. Lambaian tangan itu dibalas oleh semua orang dengan penuh suka cita, melepas sang kekasih, kerabat, dan putra tercinta.
Hari itu, Patih Gajah Mada akan singgah sebentar ke Istana Majapahit untuk bertemu langsung dengan Mahapatih Arya Tadah.
"Selamat datang, wahai orang-orang muda, para kesatria penjaga Majapahit," kata Mahapatih Arya Tadah menyambut kedatangan kedua orang muda itu.
"Selamat berjumpa kembali, wahai Paman Mahapatih," balas Patih Gajah Mada menyapa orang tua itu.
"Berceritalah kepadaku, sejauh mana persiapan kalian menghadapi Kerajaan Bali?" tanya Mahapatih Arya Tadah kepada kedua pemuda itu.
Tumenggung Adityawarman mengawali pembicaraan mengenai pasukan besar yang sudah siap berangkat ke Balidwipa, yang kemudian dilanjutkan oleh Patih Gajah Mada yang menjelaskan beberapa siasat perang yang akan mereka laksanakan dalam penyerangan ke Kerajaan Bali.
"Tiga puluh ribu prajurit Majapahit akan memasuki wilayah Balidwipa secara terbuka dari arah utara dan selatan. Sementara itu, aku akan membawa lima ratus prajurit khusus secara sembunyi-sembunyi memasuki Balidwipa dari arah timur untuk langsung menyergap pusat Kerajaan Bali yang telah kosong karena mereka tengah menghadapi pasukan kita dari arah utara dan selatan," kata Patih Gajah Mada menyampaikan rencana siasat perang mereka.
"Luar biasa, sebuah siasat perang yang sangat cemerlang!" puji Mahapatih Arya Tadah.
"Mohon doa restu dari Pamanda. Rencananya, hari ini juga aku akan berangkat lewat jalur darat menuju Bandar Pelabuhan Banyuwangi. Lima ratus pasukan khususku mungkin sudah cukup lama menungguku di sana," kata Patih Gajah Mada kepada Mahapatih Arya Tadah.
"Doa dan restuku untuk keselamatan kalian berdua. Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu melindungi kalian," kata Mahapatih Arya Tadah kepada Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman.
Matahari telah bergeser turun dari puncaknya, dan awan putih bergerak lambat memenuhi cakrawala langit biru. Seorang pemuda di atas kudanya terlihat keluar dari gerbang batas Kotaraja Majapahit. Hari itu, Patih Gajah Mada seorang diri melakukan perjalanan menuju Bandar Pelabuhan Banyuwangi melalui jalur darat.