Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 117

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 117

"Panji Wiranagari," ucap Empu Nambi saat mengenali prajurit yang berada di barisan terdepan di antara para prajurit Majapahit yang telah bergerak maju.

Sebagaimana rombongan pertama dan kedua, rombongan ketiga itu pun terus bergerak maju dan berputar arah tepat di belakang Empu Nambi. Terlihat Rangga Umbaran tersenyum memandang wajah Empu Nambi yang masih belum dapat mengerti mengapa setengah dari pasukan prajurit Majapahit itu telah berbalik arah dan berpihak kepadanya.

"Semalam aku telah bercerita kepada semua prajuritku tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Empu Nambi saat ini. Aku tidak memengaruhi siapa pun, pilihan kuserahkan kepada para prajuritku sendiri," kata Rangga Umbaran sambil terus mengumbar senyumnya.

Empu Nambi menarik napas dalam, berusaha menekan keharuannya melihat keberpihakan para prajurit Majapahit, yang sebagian besar adalah pejuang utama yang bersama-sama bahu-membahu dalam suka dan duka mendirikan Kerajaan Majapahit.

"Empu Nambi pernah mengatakan kepadaku bahwa seorang ksatria utama adalah yang mampu melawan arus dan berani berseberangan. Bahwa seorang ksatria utama harus melihat bukan dengan perasaan hatinya, tapi dengan kejernihan pikirannya. Tampaknya kejernihan pikiranku mengatakan bahwa hari ini pasukanku kalah jumlah dibandingkan pasukan yang berada di belakang Empu Nambi," ujar Rangga Umbaran. Ia lalu membalikkan arah kudanya dan melangkah perlahan meninggalkan Empu Nambi, diikuti oleh kelima pengawalnya.

"Rangga Umbaran!" panggil Empu Nambi. Mendengar namanya dipanggil, Rangga Umbaran menghentikan langkah kudanya dan menoleh ke arah Empu Nambi. "Aku bangga denganmu. Ternyata kamu memang prajurit paling berani yang pernah kukenal," kata Empu Nambi dengan suara agak keras karena jarak mereka sudah cukup jauh. Rangga Umbaran tidak berkata apa-apa selain tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu menghentakkan kudanya kembali menuju pasukannya.

Juntai ujung bunga ilalang merunduk terhembus angin. Pasukan prajurit Majapahit yang tersisa terlihat semakin jauh meninggalkan batas kota Kadipaten Lamajang.

"Mari kita kembali," ujar Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar. Iring-iringan pasukan pun memasuki gapura batas kota Kadipaten Lamajang. Langkah kaki mereka seperti mendendangkan suara hati; langkah kegembiraan untuk segera bertemu keluarga, istri, dan kekasih tercinta.

"Pakde Kliwon, apakah mataku tidak salah melihat? Mereka kembali dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya," ujar seorang lelaki muda yang sedang memperbaiki saluran air kepada lelaki tua di dekatnya.

"Kamu benar, jumlah mereka memang bertambah banyak," jawab lelaki yang dipanggil Pakde Kliwon itu.

Saat itu musim hujan telah mengguyur bumi Lamajang. Para petani sedang memperbaiki saluran air di sawah yang telah ditebari benih padi gaga. Namun, manakala melihat iring-iringan pasukan melewati jalan utama yang membelah persawahan, mereka langsung berhenti bekerja, menundukkan kepala, serta merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai penghormatan kepada Adipati Menak Koncar dan pasukannya.

Sementara itu, sang surya belum sempurna berdiri di puncak cakrawala. Gugusan pegunungan Semeru, Bromo, dan Tengger tampak seperti raksasa biru yang masih rebah tertidur, menjaga bumi Lamajang yang damai, guyub, dan sejahtera.

"Tampaknya kita harus segera membangun barak-barak sementara untuk para prajurit Majapahit yang telah bergabung bersama kita," kata Adipati Menak Koncar kepada ayahandanya, Empu Nambi.

"Juga ransum selamat datang untuk mereka," sahut Empu Nambi sambil tersenyum. Demikianlah, pada hari itu para pelayan dalem istana Kadipaten Lamajang sibuk menyiapkan masakan lebih banyak lagi untuk para prajurit Majapahit yang baru bergabung.

Sementara itu, di pendapa istana Kadipaten, Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Rangga Pamandana, Panji Samara, Panji Anengah, dan Panji Wiranagari sedang merundingkan rencana menghadapi kemarahan istana Majapahit yang gagal membawa paksa Empu Nambi, serta pembangkangan para prajurit yang telah mendukung perjuangannya.

"Aku memang tidak berhasil dibawa untuk menghadapi pengadilan dagelan mereka, namun mereka telah menang satu langkah lebih maju; mereka telah menyingkirkanku dari lingkungan istana Majapahit. Entah siapa lagi yang akan mereka singkirkan setelah diriku ini," ujar Empu Nambi. Semua orang yang hadir di pendapa itu terdiam, merenungi perkataan Empu Nambi sembari mencoba meraba siapa sebenarnya dalang yang menyebarkan awan badai di sekitar istana Majapahit.

Suasana hening sejenak. "Ibarat mandi, kita sudah telanjur basah kuyup. Selama ini Ayahanda telah banyak berperan mengendalikan roda pemerintahan di Kerajaan Majapahit. Ayahanda juga punya hubungan yang sangat luas dengan para saudagar besar dari berbagai pelosok negeri. Aku, putramu, akan menyerahkan Tanah Lamajang ini kepada Ayahanda sebagai sebuah wilayah yang berdaulat, terlepas dari Kerajaan Majapahit," ujar Adipati memecah kesunyian.

Semua mata memandang ke arah Empu Nambi yang masih terdiam dengan sorot mata lurus ke arah dua pohon beringin kembar di tengah alun-alun.

"Aku setuju dengan usulan Adipati Menak Koncar. Bukankah Empu Nambi saat ini masih diakui sebagai Mahaguru Suci di persekutuan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa? Empu Nambi dapat menggalang kekuatan yang sangat besar dari setiap padepokan mereka," usul Panji Wiranagari. Semua orang berharap Empu Nambi memberikan tanggapan positif.

Empu Nambi menarik napas dalam-dalam. "Kalian tengok dua pohon beringin kembar itu, seperti itulah aku dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Kami telah bertekad dan berikrar yang sama untuk membesarkan kerajaan Majapahit ini menjadi bahtera Dewa Siwa yang terang benderang mengarungi lautan samudera luas, memerdekakan setiap manusia dalam kesetaraan, kemandirian, dan kemakmuran bersama. Sementara bahtera itu sudah jauh bergerak meninggalkan dermaganya."

"Bila hari ini aku mendirikan kerajaan baru di Tanah Lamajang ini yang terlepas dari kedaulatan Majapahit Raya, itu adalah pengingkaran atas tekad dan ikrarku, mendustakan hati nurani sendiri. Memproklamirkan kerajaan baru akan menjadi contoh buruk, karena dapat dipastikan beberapa wilayah akan melakukan hal yang sama, memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya. Pemberontakan akan muncul di mana-mana, peperangan berkobar tanpa henti. Lautan pengungsian, kemelaratan, dan penderitaan menjadi pemandangan sehari-hari, dan bahtera Kerajaan Majapahit akan hanyut tergulung badai," tutup Empu Nambi.

Semua orang di pendapa terbelenggu oleh pemikiran Empu Nambi, memahami sikap dan pendiriannya yang kokoh mencengkeram bumi. Sang surya pun terus bergerak menggenapi titah suci keberadaannya, menyempurnakan hari.

Berita tentang Empu Nambi dan pembelotan para prajurit Majapahit telah tersebar hingga ke bumi Blambangan, juga ke hampir seluruh padepokan di bawah persekutuan perguruan Teratai Putih di sepanjang Jawadwipa dan Balidwipa. Banyak utusan padepokan menyampaikan dukungan kepada Empu Nambi.

"Katakan kepada para ketua kalian rasa terima kasihku yang tak terhingga atas dukungan ini. Katakan bahwa yang aku lakukan saat ini hanya sekadar menjaga sepenggal kepalaku yang sudah tua ini," ujar Empu Nambi kepada para utusan.

Sementara itu, pihak yang paling keras sikapnya adalah Adipati Menak Jingga. Ia dengan berani mengusir para pejabat perwakilan dagang Kerajaan Majapahit yang berada di beberapa bandar pelabuhan di wilayah Blambangan. Sikap penguasa Blambangan itu didukung penuh oleh para saudagar kaya yang selama ini geraknya terhambat oleh aturan Kerajaan Majapahit. Letak Blambangan yang menjadi jembatan jalur perdagangan kepulauan sebelah timur Jawadwipa memang merupakan jalur emas yang sangat menggiurkan.

Sikap penguasa Blambangan itulah yang sengaja diputarbalikkan oleh Empu Dyah Halayuda sebagai bentuk pembangkangan dan penodaan wibawa Raja Jayanagara.

"Empu Nambi telah menghasut kedua putranya serta beberapa kesatuan prajurit Majapahit untuk melakukan pembangkangan dan tidak lagi menghormati kesucian Baginda Raja Jayanagara sebagai titisan para dewata."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment