Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 177

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 177

Pegangan keempat orang kerdil itu terasa begitu kuat. Meski Raden Kudamerta telah mengerahkan seluruh tenaga saktinya, pegangan itu tetap melekat erat di kedua tangan dan kakinya. Raden Kudamerta sudah mirip boneka kayu yang diperebutkan oleh empat bocah nakal; tangan dan kakinya ditarik dari empat sisi yang berbeda.

Raden Kudamerta terus meronta, namun tarikan keempat orang kerdil itu semakin keras, seolah ingin memecahkan tubuhnya. Ia membayangkan nasib kuda kesayangannya yang mati dengan tubuh terpotong empat, daging dan darah berhamburan. Ia merasa nasibnya akan berakhir serupa.

Namun, kepasrahan Raden Kudamerta yang menanti ajal tiba-tiba tersentak. Pegangan keempat orang kerdil itu melemah dan melepaskannya begitu saja, membuatnya jatuh telentang ke tanah bersamaan dengan suara bentakan dari arah yang tidak jauh.

"Lepaskan orang itu!" teriak seseorang kepada keempat orang kerdil tersebut.

Raden Kudamerta berusaha bangkit untuk melihat siapa gerangan orang yang begitu mudah memerintah empat orang kerdil aneh dan berkemampuan tinggi itu. Cahaya bulan menyinari wajah orang tersebut, dan Raden Kudamerta tampak sangat mengenalinya.

"Kuda Jenar?" batin Raden Kudamerta, heran melihat anak muda sahabatnya itu tidak merasa takut berhadapan dengan keempat orang aneh tersebut.

Kuda Jenar kembali membentak, memerintahkan keempat orang kerdil itu pergi menjauh. "Cepat kalian hengkang dari hadapanku sebelum ayahku, Ki Agung Ngrayung, datang melihat kalian!"

Mendengar perkataan Kuda Jenar, wajah keempat orang kerdil itu langsung pucat pasi. Raden Kudamerta tidak habis pikir bagaimana orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi itu bisa begitu takut hanya dengan mendengar nama ayah Kuda Jenar, hingga mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.

"Terima kasih, kau telah menyelamatkan jiwaku," ujar Raden Kudamerta kepada Kuda Jenar.

"Beruntung mereka percaya ayahku ada di dekat sini. Jika tidak, mana sanggup aku menghadapi empat orang kerdil yang sangat sakti itu," jawab Kuda Jenar sambil tersenyum.

"Hampir saja nasibku seperti kuda milikku," ucap Raden Kudamerta sembari memandang empat potongan daging kudanya yang tergeletak di tanah dengan darah yang masih basah.

"Beruntung aku datang tepat saat mereka hendak membinasakan tubuhmu," kata Kuda Jenar sambil menggelengkan kepala.

"Hendak ke manakah kau, Kuda Jenar?" tanya Raden Kudamerta sembari memerhatikan pakaian sahabatnya yang tampak seperti seorang pengembara.

"Bumi Wengker terlalu sempit untukku. Aku tengah mencoba mengadu nasib di Kotaraja Majapahit," jawab Kuda Jenar.

"Ternyata kita searah. Aku dapat mengajakmu bekerja di istana Majapahit," tawar Raden Kudamerta.

"Bekerja di istana Majapahit?" tanya Kuda Jenar penuh kegembiraan.

"Kebetulan aku kenal dekat dengan salah seorang pejabat istana, anggota Dharmaputra bernama Ra Tanca. Aku akan memintanya agar dirimu dapat menjadi pembantunya, menjadi seorang Tanda di istana Majapahit," jelas Raden Kudamerta.

"Menjadi seorang Tanda Arya di istana Majapahit?" Kuda Jenar tampak tidak percaya.

"Aku yakin kemampuanmu lebih dari sekadar seorang Tanda. Yang kuketahui, kau dan ayahmu adalah ahli pembuat candi di Bumi Wengker," ujar Raden Kudamerta penuh senyum.

"Aku akan berbakti dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Mudah-mudahan tidak memalukan orang yang telah membawaku ke istana," janji Kuda Jenar.

Sementara itu, malam merayap di atas perbukitan dan rembulan telah bergeser dari puncak cakrawala. Raden Kudamerta dan Kuda Jenar membuat lubang untuk menguburkan bangkai kuda tersebut. Larut malam, Raden Kudamerta tertidur lelap di balik bebatuan besar, sementara Kuda Jenar masih bersandar di dekatnya.

Mata Kuda Jenar menatap seekor serigala di bawah pohon Nyamplung yang rindang. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. Raden Kudamerta menganggap semua ini sebagai kebetulan, padahal semua kejadian ini adalah rekayasa Kuda Jenar.

Kuda Jenar memiliki banyak mata dan telinga di istana Daha, sehingga ia tahu rencana perjalanan Raden Kudamerta ke Kotaraja Majapahit. Ia kemudian menghubungi empat orang kerdil yang haus akan ilmu langka itu. Kuda Jenar menjanjikan ilmu meracik racun warisan leluhurnya sebagai imbalan bagi mereka untuk melakukan sandiwara tersebut.

"Aku akan mengajarkan kalian racun yang ampuh, namun sebagai bayarannya, kalian harus membantuku melakukan sebuah sandiwara," ujar Kuda Jenar saat itu.

Kini, serigala itu masih duduk rebah di bawah cahaya bulan, menanti dalam kesunyian. Namun, wajah malam bukanlah keabadian. Perlahan, garis merah mulai membujur di cakrawala timur; raja malam telah meninggalkan tahtanya.

"Hari yang cerah untuk melanjutkan perjalanan," ajak Raden Kudamerta.

Perjalanan pun berlanjut menuju Kotaraja Majapahit. Tidak berapa lama kemudian, gapura selatan Majapahit yang menjulang tinggi terlihat di hadapan mereka.

Setelah beberapa hari tinggal di istana, Raden Kudamerta memperkenalkan Kuda Jenar kepada Ra Tanca. Garis keberuntungan masih menaungi Kuda Jenar; Ra Tanca memang sedang membutuhkan seorang Tanda yang tanggap. Karena Kuda Jenar adalah pemuda yang cakap, Ra Tanca pun menyukainya.

Dalam pergaulan, Ra Tanca dan Kuda Jenar semakin akrab karena keduanya sama-sama ahli mengenai tanaman obat.

"Obat dapat menjadi racun yang kuat, sebaliknya racun dapat menjadi obat yang mujarab," ujar Ra Tanca.

"Seperti ilmu kesaktian, tidak ada ilmu putih atau hitam. Semua tergantung pada pemiliknya, bagaimana ia membawa dan menggunakan ilmunya," tanggap Kuda Jenar.

Suatu hari, Ra Tanca memperkenalkan istrinya kepada Kuda Jenar. Kuda Jenar terkejut saat mengetahui bahwa istri Ra Tanca adalah sepupu Ra Kuti, pejabat istana yang pernah memberontak. Namun, ia tidak memperlihatkan keterkejutannya.

"Di Kotaraja Majapahit ini, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa istriku masih sepupu Ra Kuti," ungkap Ra Tanca.

"Setiap orang punya sejarah hitam sendiri. Yang berdosa adalah Ra Kuti, sementara istrimu tidak terkait dosa apa pun yang diperbuat sepupunya," jawab Kuda Jenar datar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment