Chapter 97
Dengan sebuah upacara kebesaran, mereka telah disambut langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Inilah awal babad baru bagi perselisihan yang panjang dan hancurnya sebuah persaudaraan yang ada di bumi Majapahit yang besar itu, karena di antara para tawanan yang mereka bawa, ada seorang yang benar-benar luput dari perhatian.
Orang itu adalah Ki Secang.
"Aku akan menjadi duri dalam daging mereka, aku akan menjadi mimpi buruk bagi mereka," ujar Ki Secang dalam hati dengan senyum kecutnya manakala tengah memasuki istana Majapahit.
Ki Secang diserahkan sepenuhnya dalam pengawasan Ra Kuti. Dalam perkenalan pertama, Ra Kuti sudah menyukai sikap orang tua itu dan mengizinkannya untuk tinggal serumah dengannya. Ki Secang ternyata begitu mudah mengambil hati Ra Kuti, hingga pejabat istana itu mempercayakan Ki Secang sebagai seorang pengurus Pura istana Majapahit.
Ra Kuti melihat Ki Secang sebagai pekerja yang sangat rajin; ia menyiapkan Pura istana dalam hari-hari upacara dengan sangat baik. Semakin bertambahlah rasa suka pejabat Dharmaputra itu kepada Ki Secang. Dalam waktu singkat, mereka terlihat begitu akrab layaknya dua orang sahabat.
Ra Kuti mulai mengenal Ki Secang lebih jauh lagi. Ia bukan hanya memiliki pemahaman yang tinggi atas berbagai kitab keagamaan, namun Ra Kuti juga mengetahui bahwa Ki Secang adalah seorang yang berilmu tinggi dalam olah kanuragan dan menyimpan banyak ajian ilmu yang langka. Akhirnya, secara diam-diam Ra Kuti mengangkat Ki Secang sebagai seorang guru.
"Tenaga hawa murniku yang kupupuk puluhan tahun lamanya telah terserap habis oleh Gajah Mada. Namun, aku masih dapat menjadi seorang guru untukmu, mewariskan semua ilmu yang kumiliki," kata Ki Secang kepada Ra Kuti.
Sejak saat itu, di malam-malam yang sepi, Ra Kuti giat berlatih di tempat terbuka di dalam Pura istana. Ra Kuti yang sudah punya dasar kanuragan yang cukup kuat dengan sangat cepat menyerap ilmu yang diajarkan Ki Secang kepadanya. Apakah Ki Secang seorang guru yang tulus? Sebenarnya tidak. Ki Secang telah melihat bahwa sebagaimana Ki Banyak Ara, ternyata Ra Kuti punya sebuah persamaan, yaitu seseorang yang haus akan kekuasaan dan sangat haus akan pujian.
Perlahan tapi pasti, Ra Kuti sudah berada di dalam genggaman Ki Secang lewat bisikan-bisikannya yang membahana, menerbangkan khayal dan angan Ra Kuti menuju puncak takhta istana.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya dikelilingi oleh orang-orang yang kuat, para sahabatnya yang sangat setia patuh melindungi dan menjaganya," kata Ki Secang kepada Ra Kuti. "Sebagaimana tanaman merambat, kita harus merusak pagarnya agar tidak ada tempat menggantung, dan tanaman itu akan mati dengan sendirinya."
"Patih Mahesa Amping dan Ki Mangkubumi adalah para pelindung Baginda Raja, dengan cara apa kita harus menghadapi mereka?" tanya Ra Kuti kepada Ki Secang.
"Mereka memang sakti mandraguna, tapi mereka sesungguhnya tidak kebal terhadap racun," ujar Ki Secang.
"Racun?" tanya Ra Kuti dengan mengerutkan kening, masih dalam penuh keraguan.
Sementara itu, di sebuah tempat di Tanah Ujung Galuh, terlihat sebuah puri pasanggrahan yang berdiri di atas tanah tinggi menghadap ke arah pantai. Bulan bulat bersinar cemerlang di atas langitnya. Puri pasanggrahan dan rembulan di atasnya sungguh sebuah lukisan alam yang amat elok, membuat iri langkah kaki untuk singgah mendatanginya.
Sudah sepekan Gajah Mada tinggal di puri pasanggrahan milik Jayakatwang itu. Atas amanat Jayakatwang, puri yang indah tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada. Sebagaimana diketahui, Jayakatwang dan istrinya telah mendampingi Kertawardhana yang menjadi Raja Muda di Tumapel. Sementara itu, Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri, Dyah Wiyat, dan Biksuni Andini yang juga menjadi penghuni puri tersebut telah mengikuti Ratu Tribuana Tunggadewi yang menjadi raja muda di Kahuripan.
Hari-hari Gajah Mada di puri pasanggrahan ditemani oleh sahabatnya, Supo Mandagri, dan ibu kandungnya, Nyi Nari Ratih, yang tidak lagi tinggal bersama pasukan khususnya di barak prajurit Srikandi di Kotaraja Majapahit.
Deru ombak pantai Tanah Ujung Galuh masih terdengar dari pendapa puri pasanggrahan di mana Gajah Mada tengah duduk sendiri memandang sang rembulan. Anak muda perkasa itu tengah menepati janjinya, menatap wajah sang rembulan. Karena jauh di tanah Kahuripan, diyakininya seorang gadis jelita telah melakukan yang sama, bersama memandang wajah sang rembulan. Gadis jelita yang selalu ada di hati anak muda perkasa itu tidak lain adalah Biksuni Andini, murid Nyimas Kanjeng Ratu Gayatri.
Tiba-tiba saja, mata Gajah Mada yang terlatih menembus kegelapan melihat sesosok bayangan hitam tengah memasuki pintu gapura puri pasanggrahan. Terlihat bibir Gajah Mada menebar senyum manakala sosok bayangan hitam itu ternyata adalah sahabatnya, Supo Mandagri.
"Puri pasanggrahan yang megah di bawah sinar rembulan, sungguh pasangan yang serasi," kata Supo Mandagri saat telah berada di tangga terakhir panggung pendapa menyapa sahabatnya.
Supo Mandagri duduk bersama Gajah Mada dan bercerita bahwa dirinya telah diperkenalkan oleh Empu Nambi kepada seorang teman baik di Kotaraja Majapahit yang dapat mencarikannya batu bintang. Itulah yang menyebabkan kepulangannya menjelang malam tiba.
"Batu bintang?" tanya Gajah Mada.
"Batu bintang yang dapat menjadikan pamor sebuah keris pusaka," jawab Supo Mandagri.
"Batu bintang yang jatuh dari langit?" tanya Gajah Mada penuh rasa ingin tahu.
Sementara itu, di waktu yang sama, Ki Secang dan Ra Kuti masih berada di Pura istana. Mereka berdua tengah membicarakan rencana busuk untuk menghancurkan orang-orang terdekat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Aku banyak mengenal berbagai jenis racun yang sangat mematikan. Ada sebuah jenis racun yang sangat kuat di mana seorang yang sakti seperti dewa tidak akan mampu hidup lebih lama lagi. Sebuah racun yang tidak berwarna, tidak tercium aromanya, namun racun paling manjur dan paling kuat yang kukenal di dunia ini," kata Ki Secang berusaha meyakinkan Ra Kuti.
"Bagaimana kita mendapatkan racun yang bertuah itu?" tanya Ra Kuti.
"Dari hati seekor induk celeng betina yang masih mengandung," jawab Ki Secang.
Diam-diam Ra Kuti menjadi semakin kagum kepada Ki Secang karena sangat ahli dan mumpuni mengenal berbagai jenis racun yang mematikan.
"Aku punya seorang kenalan baik, pengurus rumah tangga kerajaan Kediri, namanya Demung Gunari. Kita dapat membujuknya untuk melaksanakan rencana kita, meracuni Patih Mahesa Amping," kata Ra Kuti.
"Apakah Demung Gunari termasuk golongan kita?" tanya Ki Secang.
"Demung Gunari seorang pemuja Dewa Wisnu yang sangat taat. Aku yakin dirinya sangat bangga melihat aliran golongan kita besar di Jawadwipa ini dan akan menjadi sukarelawan yang patuh membantu perjuangan kita," sahut Ra Kuti.
"Bagus, kita bicarakan di rumah. Tidak baik terlalu malam di pura istana ini, akan mengundang pertanyaan para prajurit pengawal," kata Ki Secang.
Ketika mereka melewati gerbang istana Majapahit, beberapa prajurit pengawal tidak bertanya apa pun. Nampaknya mereka sudah terbiasa melihat Ki Secang dan Ra Kuti keluar dari istana di malam hari sebagaimana hari-hari sebelumnya. Ketika mereka tiba di rumah Ra Kuti yang tidak begitu jauh dari istana, keduanya melanjutkan pembicaraan.
"Membuat racun dari hati celeng betina itu sangat mudah, hanya perlu beberapa hari. Yang paling susah adalah mendekati Demung Gunari itu," ujar Ki Secang.
"Dalam beberapa hari ini aku akan minta izin dengan berbagai alasan untuk datang ke Kediri guna menjumpai kenalanku itu," jawab Ra Kuti.
"Bagus, aku berharap orang itu dapat kamu dekati untuk membantu perjuangan kita ini. Sementara kamu pergi ke Kediri, aku akan menyiapkan racun hati celeng betina itu," kata Ki Secang penuh semangat.
Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Gajah Mada dan Supo Mandagri masih asyik membicarakan batu bintang yang konon akan membuat pamor sebuah keris menjadi bertuah.
"Kenalan Empu Nambi itu bercerita bahwa batu bintang itu dapat dipesan lewat para pedagang bangsa Arab yang singgah di Tanah Ujung Galuh. Konon para pedagang bangsa Arab itu mendapatkan batu bintang tersebut dari sebuah bukit bernama Gunung Uhud di tempat asal mereka," ujar Supo Mandagri menjelaskan.
"Ternyata Empu Nambi telah menepati janjinya, membimbingmu dalam membuat sebuah keris pusaka," kata Gajah Mada dengan penuh kegembiraan.
"Empu Nambi memang banyak membimbingku dalam pembuatan keris pusaka, mulai dari laku khusus sebelum memulai pembuatan, sampai memperkenalkan kepadaku sembilan jenis logam terbaik yang dapat menghasilkan keris pusaka yang kuat dan berderajat," tutur Supo Mandagri.
"Sesuai dengan amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya, keris Naga Sasra harus kuserahkan kepada pewarisnya. Aku berharap pada saatnya nanti aku mempunyai keris Naga Sasra seperti itu, hasil buah tangan darimu sendiri," kata Gajah Mada yakin bahwa Supo Mandagri adalah seseorang yang berbakat.
"Terima kasih atas kepercayaanmu itu. Aku tidak sabar untuk memulai semuanya, menciptakan sebuah keris pusaka," jawab Supo Mandagri penuh harapan.