Chapter 142
Tanpa disengaja pada pagi itu, mereka harus berhadapan muka dengan pemimpin besar pasukan musuh yang konon sering mereka dengar memiliki kesaktian amat tinggi; dapat terbang mengendarai angin dan membakar hutan dengan tangannya.
Melihat rasa jeri di wajah para prajurit Majapahit itu, Empu Nambi menyapu pandangannya dengan senyum ramah, yang seketika membiaskan perasaan gentar para prajurit tersebut.
"Aku akan menunggu di sini dan tidak akan pergi jauh-jauh. Cepatlah kalian menyampaikan kabar tentang kedatanganku ini," ucap Empu Nambi dengan sinar wajah yang ramah dan senyum di bibirnya.
Dua orang prajurit Majapahit segera berlari masuk ke Kademangan Pronojiwo yang terjaga ketat itu. Tidak lama berselang, kedua prajurit tersebut datang kembali bersama sekitar lima ratus prajurit, di mana di antaranya terlihat seorang pembesar bersama mereka.
"Ternyata Empu Nambi adalah seorang ksatria besar yang menepati janji, datang di pagi ini seorang diri," ujar pembesar itu dari atas punggung kudanya.
"Aku datang untuk memenuhi tawaranmu, wahai Mahapatih Majapahit yang perkasa," jawab Empu Nambi kepada pembesar itu, yang tidak lain adalah Mahapatih Dyah Halayuda.
"Wahai para prajurit, lekas kalian tangkap orang ini!" perintah Mahapatih Dyah Halayuda kepada pasukannya.
"Aku tidak akan melakukan perlawanan setelah kamu memenuhi janjimu, yaitu melepaskan seluruh orang Lamajang yang tersandera di Kademangan Pronojiwo ini," ucap Empu Nambi dengan suara berwibawa yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.
Ternyata Empu Nambi sengaja melambari ucapannya dengan tenaga sakti ajian Gelap Ngampar, membuat para prajurit Majapahit tersentak dan ragu melaksanakan perintah Mahapatih Dyah Halayuda.
"Baik, aku akan memenuhi janjiku," sahut Mahapatih Dyah Halayuda yang ikut berdebar merasakan tenaga sakti yang dilepas oleh guru suci tersebut.
Mahapatih Dyah Halayuda memerintahkan beberapa prajuritnya untuk kembali ke Kademangan Pronojiwo. Tidak lama kemudian, terlihat rombongan warga Lamajang yang masih diliputi wajah penuh ketakutan dan kecemasan, digelandang oleh para prajurit Majapahit keluar dari gerbang gapura Kademangan Pronojiwo.
"Ki Sanepo, kemarilah," panggil Empu Nambi kepada seorang lelaki tua seusianya yang berjalan di ujung iring-iringan warga.
"Ampun, Tuanku Empu Nambi, apakah Tuan gerangan yang menukar seluruh jiwa kami?" tanya Ki Sanepo sambil duduk bersimpuh.
"Katakan kepadaku, apakah tidak ada lagi warga di dalam Kademangan Pronojiwo ini?" tanya Empu Nambi.
"Hamba orang terakhir dari iring-iringan ini," jawab Ki Sanepo.
"Berdirilah, wahai Ki Sanepo. Bawalah seluruh warga melewati hutan Pronojiwo," perintah Empu Nambi.
"Kami, warga bumi Lamajang, tidak akan melupakan budi besar Tuanku," ujar Ki Sanepo sambil berdiri.
"Cepatlah berjalan bergabung bersama para warga dan jangan sekali-kali kamu menoleh ke belakang," bisik Empu Nambi.
Ki Sanepo segera berjalan cepat menyusul iring-iringan warga Lamajang yang kian menjauh meninggalkan gerbang gapura Kademangan Pronojiwo.
"Wahai Empu Nambi, aku telah memenuhi janjiku melepas semua sandera. Serahkan dirimu menjadi tawananku," kata Mahapatih Dyah Halayuda kepada Empu Nambi, masih dengan rasa ragu karena menduga orang tua sakti itu tidak akan menepati janjinya.
"Wahai Mahapatih Dyah Halayuda, putra tunggal Empu Dyah Agniyuda yang penuh kemuliaan, keturunan sang Raja Wurawuri yang sakti mandraguna, mengapa kamu masih meragukan diriku? Perintahkan prajuritmu untuk mengikat kedua tanganku ini, aku tidak akan melakukan perlawanan," ujar Empu Nambi sambil menjulurkan kedua tangannya.
"Ikat tangan orang ini!" perintah Mahapatih Dyah Halayuda kepada prajuritnya dengan suara bergetar.
Ucapan Empu Nambi yang menyebut nama ayahandanya membuat Mahapatih itu terkejut bukan main. Bagaimana mungkin Empu Nambi mengetahui asal-usulnya serta keturunan Raja Wurawuri yang sudah sangat lama tidak disebut-sebut lagi? Mahapatih Dyah Halayuda turun dari kudanya dan mendekati Empu Nambi yang sudah terikat. Keduanya saling menatap tajam.
"Bagaimana Empu Nambi dapat menyebut nama ayahandaku dengan jelas?" tanya Mahapatih Dyah Halayuda dengan tatapan mata yang menghunjam.
Empu Nambi menanggapinya dengan wajah penuh senyum, seolah tanpa beban. "Nampaknya Empu Agniyuda seorang yang berhati bersih dan mampu melihat apa yang akan terjadi. Ia sudah dapat melihat bahwa akhirnya aku dapat bertemu dengan putranya yang hilang."
"Apa yang dikatakan oleh ayahandaku kepadamu?" tanya Mahapatih Dyah Halayuda penasaran.
"Ayahandamu berpesan agar kamu berhenti bermimpi dan kembalilah kepada ajaran suci para leluhurmu," jawab Empu Nambi.
"Hanya itu?"
"Bukan hanya itu," sahut Empu Nambi.
"Katakanlah," desak Mahapatih Dyah Halayuda.
"Ayahmu mengatakan, bila terlihat sekelompok burung belibis putih terbang rendah di kaki Gunung Semeru serta terlihat asap tebal kebakaran di hutan Pronojiwo, itulah pertanda bahwa umurmu sudah di ambang batas kematian."
Jantung Mahapatih Dyah Halayuda berdebar kencang mendengar perkataan yang disampaikan Empu Nambi, karena saat itu ia memang melihat sekelompok burung belibis putih berputar rendah di kaki Gunung Semeru, bersamaan dengan kepulan asap tebal dari hutan Pronojiwo.
"Ayahandaku salah membaca panggraitanya; semua pertanda itu adalah untukmu, wahai Empu Nambi!" teriak Mahapatih Dyah Halayuda sambil mencabut trisula kembarnya dan menghunjamkannya ke dada Empu Nambi yang masih terikat.
Satu trisula menembus dada kanan, sementara yang lainnya menembus jantung Empu Nambi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Orang tua itu roboh tertelungkup mencium tanah.
"Mahapatih, kamu telah membuat kuburan pasukanmu di sini," ucap Tumenggung Jala Pati.
"Apa maksud perkataanmu? Aku tidak mengerti," balas Mahapatih Dyah Halayuda.
"Kematian Empu Nambi akan membuat marah besar seluruh pasukannya. Mereka pasti datang dengan dendam membara, mati sebagai bela pati atau hidup membayar darah," ujar Tumenggung Jala Pati.
"Apakah kamu takut, wahai Tumenggung Jala Pati?" tantang Mahapatih Dyah Halayuda.
"Takut tidak ada dalam sejarah hidupku. Aku hanya mengingatkanmu sebagai senapati agungku bahwa tindakanmu menyalahi tata karma ksatria; membunuh seorang tawanan yang tidak berdaya," jawab Tumenggung Jala Pati dengan suara bergetar menahan kebencian kepada atasannya yang pengecut itu.
"Kamu salah besar. Kita datang ke bumi Lamajang dengan tugas membawa Empu Nambi hidup atau mati, dan sekarang kita telah melaksanakannya," sahut Mahapatih Dyah Halayuda tanpa penyesalan.
Tumenggung Jala Pati hendak membantah, namun tertahan saat sebuah bayangan hitam seperti ribuan serigala tampak keluar dari hutan Pronojiwo. Seluruh prajurit Majapahit tersentak kecut melihat pasukan besar bergerak dengan senjata terhunus menuju ke arah mereka.
Pasukan itu adalah prajurit Empu Nambi yang sejak malam telah menunggu di hutan Pronojiwo. Mereka melaksanakan amanat Empu Nambi untuk tidak membiarkan satu pun prajurit Majapahit keluar hidup-hidup dari bumi Lamajang.
Kedatangan mereka bagaikan sekumpulan serigala kelaparan yang menerkam domba. Prajurit Majapahit yang tangguh seolah kehilangan nyali melihat semangat membara di mata lawan. Dalam perang yang buas itu, Tumenggung Jala Pati kehilangan kendali atas pasukannya. Peperangan benar-benar tak terkendalikan; hanya ada hukum membunuh atau terbunuh. Tumenggung Jala Rananggana, Panji Anengah, Panji Wiranagari, dan Panji Samara bersama seluruh pasukannya—para prajurit berani yang disegani Majapahit—kini telah berbalik menjadi lawan di Kademangan Pronojiwo.