Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 168

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 168

Sementara itu, hari telah berada di ujung senja. Suasana di pinggir sungai di dalam hutan itu sudah menjadi begitu gelap.

"Mari kita kembali ke rumah singgah," kata Gajahmada kepada Dyah Wiyat dan Biksuni Andini.

Terlihat Dyah Wiyat dan Biksuni berjalan di belakang Gajahmada yang membawa rusa di atas pundaknya dengan begitu ringannya.

Senja baru saja berlalu di hutan timur kaki Gunung Penanggungan. Terlihat seorang pelayan dalam tengah menyalakan tujuh buah oncor di halaman muka rumah singgah.

"Mari kita turun ke halaman muka," kata Gajahmada kepada Dyah Wiyat setelah mereka beristirahat cukup dan menikmati santapan makan malam yang disediakan oleh para pelayan istana yang ikut di hutan perburuan itu.

Manakala mereka telah sampai di halaman muka, terlihat Gajahmada langsung membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi dirinya. Di dalam lingkaran itu, ia membuat tiga garis yang membagi lingkaran menjadi tiga bagian yang sama.

"Perhatikan olehmu, aku akan mengajarimu langkah-langkah dasar Adityakundala," kata Gajahmada sambil berdiri di pusat lingkaran dengan sikap kuda-kuda yang amat kuat seperti mencengkeram bumi.

"Langkah Adityakundala?" Dyah Wiyat mengulangi perkataan Gajahmada.

"Sebuah langkah ajaib di mana sampai saat ini tidak seorang pun mampu memecahkannya," kata Gajahmada sambil tersenyum.

Terlihat dengan sangat perlahan Gajahmada menggerakkan kakinya yang tidak pernah keluar dari lingkaran, dengan langkah kaki bergeser mengikuti garis segitiga.

"Aku akan mengulanginya," kata Gajahmada saat melihat Dyah Wiyat masih belum menangkap seluruh langkahnya. "Lakukan sebagaimana aku lakukan." Gajahmada kemudian melangkah keluar dari garis lingkaran yang dibuatnya.

Terlihat Gajahmada tersenyum gembira melihat Dyah Wiyat dengan lincahnya bergerak perlahan sebagaimana gerakan yang telah dicontohkan sebelumnya. Setelah puas melihat Dyah Wiyat dapat menirukan semua gerakannya dengan amat sempurna, Gajahmada meminta Dyah Wiyat untuk melakukannya dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat.

"Ilmu meringankan tubuh yang kamu miliki sudah sangat baik, lakukan gerakan itu hingga ke puncak tataran yang kamu miliki," kata Gajahmada kepada Dyah Wiyat.

Nampaknya Dyah Wiyat memang seorang gadis yang amat cerdas; ia langsung mengerti apa yang diinginkan oleh Gajahmada. Gadis itu berdiri dengan sikap kuda-kuda yang kokoh mencengkeram bumi.

Pandangan mata Gajahmada tidak berkedip melihat Dyah Wiyat tengah menarik napas panjang, mengendapkan segenap hasrat, pikiran, dan perasaannya kepada Gusti Yang Maha Agung. Ia tidak berkedip sedikit pun melihat Dyah Wiyat memulai gerakan yang diajarkannya dengan amat perlahan, namun lambat laun gerakannya menjadi begitu cepat hingga membuat tubuhnya seperti menghilang terbungkus bayangan hitam.

Pandangan mata Gajahmada masih tertuju ke arah Dyah Wiyat yang dilihatnya telah bergerak semakin lambat hingga akhirnya berhenti tidak bergerak sama sekali. Terlihat keringat mengalir di kening gadis manis itu.

"Sebuah gerakan yang benar-benar sangat luar biasa," kata Dyah Wiyat sambil mengusap keringat di keningnya.

"Apakah kamu telah merasakan dirimu seperti sebuah ombak di pantai?" tanya Gajahmada.

"Aku merasakan seperti sebuah ombak; semakin besar angin bertiup, semakin deras pula kecepatanku memburu pantai," jawab Dyah Wiyat.

"Apakah kamu juga merasakan seperti seekor elang perkasa mengarungi padang perburuanmu?"

"Aku merasakan seperti seekor elang perkasa di atas awan biru. Semakin angin berhembus, semakin kuat sayapku melayang dan menukik ke mana pun arah yang kuinginkan," jawab Dyah Wiyat dengan wajah penuh kegembiraan layaknya seorang anak kecil yang baru menemukan permainan baru.

"Kamu telah mewarisi sebuah jurus rahasia yang amat pelik. Terutama bila kamu dapat menggabungkannya dengan gerak olah kanuragan yang telah kamu kuasai dari jalur perguruan kita dengan cara acak, pasti akan membingungkan serta mengecoh lawanmu. Di saat itulah kamu dapat melihat peluang arah serangan ke mana pun yang kamu inginkan," kata Gajahmada dengan penuh rasa puas melihat Dyah Wiyat dapat mencerna semua yang diajarkan olehnya.

"Mari kita bertempur, aku akan menyerangmu dengan jurus perguruan mereka," kata Gajahmada sambil bersiap melakukan serangan.

Terkejut awalnya Dyah Wiyat mendapatkan serangan pertama Gajahmada dengan gerak yang sangat mirip dengan gerakan pemuda yang tadi sore menyerangnya.

"Bagus!" seru Gajahmada yang melihat Dyah Wiyat dengan begitu mudahnya dapat mengelak dari serangannya, bahkan telah membalas serangan dengan tidak kalah sigapnya.

Sementara itu, Biksuni Andini seperti mematung berdiri di atas pendapa rumah singgah menyaksikan latihan Dyah Wiyat dan Gajahmada. Sebagai seorang yang ahli olah kanuragan, ia tidak lepas memandang ke arah gerak Dyah Wiyat yang sangat aneh dan rumit, sehingga tidak mudah dibaca ke mana langkah dan arah serangan berikutnya. Biksuni Andini sedikit tersenyum manakala melihat gerakan Gajahmada yang benar-benar mirip dengan gerakan yang dilakukan anak muda lawan Dyah Wiyat tadi sore di pinggir sungai.

"Gerak langkah perguruan Wengker menjadi lebih sempurna di tangan Kakang Gajahmada," batin Biksuni Andini menilai gerakan Gajahmada yang menggunakan jurus perguruan Wengker saat menghadapi Dyah Wiyat.

Sementara itu, cahaya oncor yang sengaja dipasang di halaman muka terlihat sudah mulai redup.

"Cukup, kita sudahi latihan malam ini," kata Gajahmada sambil meloncat memberi tanda kepada Dyah Wiyat untuk berhenti.

"Bagaimana menurut Kakang penguasaanku dalam memahami gerak langkah Adityakundala ini?" tanya Dyah Wiyat.

"Orang tua itu malam ini pasti tengah melatih muridnya mempelajari jurus-jurus seranganmu dan menilai kelemahanmu. Besok, kita akan membuat mereka terkejut saat kamu melakukan serangan dengan jurus-jurus baru ini," kata Gajahmada penuh senyum kepuasan.

"Apakah Kakang yakin aku dapat mengalahkan pemuda sombong itu?"

"Tadi sore kamu sudah dapat mengalahkannya. Besok, dengan jurus barumu itu, aku yakin kamu akan lebih mudah lagi mengalahkannya," kata Gajahmada meyakinkan Dyah Wiyat.

"Terima kasih, bila aku dapat mengalahkannya, semua atas jasa Kakang Gajahmada," kata Dyah Wiyat dengan senyum menawan.

"Bukan karena jasaku, tapi karena kecerdasanmu," kata Gajahmada sambil menarik napas panjang, mencoba menutupi hasrat dan kekagumannya melihat kecantikan Dyah Wiyat yang semakin dewasa.

Sementara itu, beberapa oncor yang menerangi halaman muka rumah singgah terlihat sudah benar-benar redup kehabisan minyak.

"Saatnya kita beristirahat," kata Gajahmada kepada Dyah Wiyat.

Terlihat Dyah Wiyat menggandeng tangan Gajahmada beriring menuju arah pendapa di mana Biksuni Andini masih berdiri. Ternyata, Biksuni Andini sama sekali tidak merasa cemburu dengan sikap Dyah Wiyat kepada Gajahmada; ia mengerti bahwa mereka sudah seperti kakak dan adik kandung sendiri.

Gelap menggayuti malam di hutan perburuan yang sunyi. Terkadang terdengar suara tikus kecil menjerit di ujung cengkeraman seekor ular, suara burung celepuk yang semakin menjauh, dan auman sang raja hutan memecah kesunyian malam di hutan timur kaki Gunung Penanggungan.

Itulah suara degung malam penantian panggung altar pagelaran sendratari kehidupan, yang diawali dengan terbukanya layar pagi dalam semburat cahaya perak keemasan sang fajar di antara celah-celah daun, ranting, dan dahan pepohonan.

"Mari kita menemui janji," kata Gajahmada kepada Biksuni Andini dan Dyah Wiyat untuk berangkat ke pinggir sungai menemui Ki Ajar Bendawa dan muridnya.

Kicau burung pagi terdengar riuh mengantar langkah kaki mereka yang telah meninggalkan rumah singgah memasuki hutan belantara lebih jauh lagi.

"Nampaknya kalian tidak tidur sepanjang malam ini sehingga mendahului kami sampai di tempat ini," kata Gajahmada kepada Ki Ajar Bendawa dan muridnya yang memang telah berada di pinggir sungai tempat perjanjian mereka.

"Kedatangan kalian tidak terpaut jauh. Ternyata kalian orang-orang yang selalu menepati janji," jawab Ki Ajar Bendawa menyambut kedatangan mereka bertiga.

"Kemarin adikku telah memenangkan pertaruhan ini. Bila hari ini adikku kembali memenangkannya, maka kuberharap tidak ada kata lain dari pemuda ini untuk memenuhi ikatan kesepakatan kita," kata Gajahmada kepada Ki Ajar Bendawa.

"Bagaimana bila muridku memenangkan pertempurannya?" tanya Ki Ajar Bendawa sambil tersenyum penuh keyakinan.

"Artinya keadaan seimbang, tidak ada yang kalah dan yang menang," jawab Gajahmada.

"Harus ada yang menang!" sahut murid Ki Ajar Bendawa tiba-tiba.

"Baiklah, kemenangan kemarin kami anggap tidak ada. Jadi, hari ini adalah hari yang menentukan," kata Gajahmada sambil memandang ke arah Dyah Wiyat agar tidak membantah.

Ternyata, Dyah Wiyat menampakkan wajah yang acuh tak acuh, seolah ingin menyampaikan rasa kepercayaan yang amat tinggi bahwa hari ini dirinya akan mengalahkan anak muda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment