Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 118

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 118

"Titahkan hamba untuk memangku jabatan Patih Amangkubumi, agar hamba dapat membangun kekuatan baru di Kerajaan Majapahit ini, dengan para prajurit yang setia, sadu, dan tuhu."

"Dan hamba berjanji akan membawa kepala Empu Nambi ke istana Majapahit ini, sebagai pengajaran besar kepada semua orang bahwa itulah ganjaran bagi seseorang yang telah menodai kesucian seorang raja titisan para dewata," kata Dyah Halayuda kepada Raja Jayanagara.

"Aku yakin dan percaya atas kemampuan Empu Halayuda. Hari ini juga aku akan memanggil Ki Kanuruhan Jangga untuk menyiapkan penobatan Empu Dyah Halayuda memangku jabatan Patih Amangkubumi," ujar Raja Jayanagara kepada Dyah Halayuda.

Bukan main gembiranya Empu Dyah Halayuda mendengar perkataan Raja Jayanagara; angannya terbang membumbung ke atas langit.

"Tercapai sudah segala citaku, akhirnya aku mendapatkan impianku."

"Akulah penguasa Kerajaan Majapahit ini, bukan anak muda lemah ini," kata Empu Dyah Halayuda dalam hati.

Delapan puluh delapan hari setelah penobatan Empu Dyah Halayuda sebagai Mahapatih di Kerajaan Majapahit, hampir semua orang menertawakan Mahapatih baru itu karena telah memerintahkan seribu prajurit Majapahit untuk melakukan serangan ke Tanah Lamajang dalam waktu dekat.

"Apakah Mahapatih baru itu tidak belajar dari pengalaman? Tiga ribu prajurit di bawah pimpinan Rangga Umbara kembali dengan tangan hampa, sekarang Mahapatih baru itu hanya memerintahkan seribu prajurit, dasar orang bodoh," ujar seorang pejabat tinggi istana memperbincangkan masalah penyerangan ke Tanah Lamajang itu.

Benarkah Mahapatih Empu Dyah Halayuda orang bodoh sebagaimana persangkaan kebanyakan orang saat itu? Mungkin semua orang mengatakan hal serupa sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pejabat tinggi di istana Majapahit, tetapi tidak bagi Tumenggung Mahesa Semu, seorang pejabat bendahara kerajaan yang memiliki jaringan sandi.

Dari pejabat bendahara kerajaan itu, Tumenggung Mahesa Semu telah mendapat berita bahwa dua pekan yang lalu Mahapatih Dyah Halayuda telah menyiapkan persediaan pangan untuk enam ribu pasukan selama sembilan puluh hari perjalanan yang ditempatkan di sebuah bahtera perahu besar.

"Seribu prajurit yang dikirim oleh Mahapatih adalah pengalihan perhatian agar persediaan pangan untuk enam ribu prajurit yang diangkut dengan bahtera perahu besar dapat tiba dengan aman di sebuah pantai tersembunyi di sekitar Pasuruan," kata Tumenggung Mahesa Semu mencoba menafsirkan berita dari pejabat bendahara kerajaan kepada Adityawarman.

"Mahapatih Dyah Halayuda tidak sebodoh yang orang lain perkirakan," sahut Adityawarman mengakui kecerdikan siasat Mahapatih Dyah Halayuda itu.

"Hari ini aku akan mengirim seorang utusan ke Tanah Lamajang," ujar Tumenggung Mahesa Semu.

Demikianlah, pada hari itu juga terlihat seorang penunggang kuda keluar dari gapura batas kotaraja Majapahit, menembus keremangan di ujung senja. Penunggang kuda itu adalah utusan Tumenggung Mahesa Semu yang akan menuju ke Tanah Lamajang untuk menyampaikan berita penting kepada Empu Nambi.

Sementara itu, keesokan harinya terlihat seribu prajurit Majapahit menaiki sebuah bahtera perahu besar yang bersandar di pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

"Kasihan para prajurit itu, menjadi korban kebodohan Mahapatih Dyah Halayuda," kata seorang saudagar besar di pelabuhan Tanah Ujung Galuh kepada kawannya yang melihat seribu prajurit Majapahit menaiki kapal.

"Raja Jayanagara telah salah memilih Mahapatih-nya," sahut kawan saudagar besar itu.

Di waktu yang sama di istana Kadipaten Lamajang, seorang penunggang kuda telah turun dari kudanya tepat di depan pintu gerbang istana.

"Aku ingin bertemu dengan Empu Nambi," kata lelaki penunggang kuda itu kepada prajurit pengawal.

"Apakah Empu Nambi mengenalmu?" tanya prajurit pengawal.

"Namaku Ki Bancak, katakan kepada Empu Nambi," jawab lelaki itu.

"Tunggulah di sini, kawanku akan menghadap Empu Nambi," kata prajurit pengawal yang langsung berbicara kepada rekannya.

Tak lama berselang, kawan prajurit itu kembali ke gardu jaga. "Empu Nambi menerima Ki Bancak di pendapa istana," katanya kepada Ki Bancak.

Segera, Ki Bancak diantar oleh seorang prajurit pengawal menuju pendapa istana.

"Selamat datang di istanaku, wahai Ki Lurah Bancak," sapa Empu Nambi kepada Ki Bancak yang ternyata sudah sangat dikenalnya itu.

Di pendapa istana, Empu Nambi ditemani oleh Adipati Menak Koncar, Panji Samara, dan Panji Wiranagari. Semua orang di atas pendapa itu mengenal Ki Bancak sebagai mantan prajurit Majapahit yang telah mengundurkan diri.

"Tumenggung Mahesa Semu telah memintaku untuk membawa berita yang sangat penting," ujar Ki Bancak, lalu ia menyampaikan rencana penyerangan prajurit Majapahit ke Tanah Lamajang.

"Perhitungan Mahapatih Majapahit itu sangat cerdas, datang di saat buah padi mulai menguning, saat lumbung kita hampir menipis," kata Empu Nambi setelah mendengar berita itu. "Beruntung kita masih punya banyak sahabat di istana Majapahit, seperti Tumenggung Mahesa Semu dan Ki Bancak ini."

"Kuserahkan kepada Ayahanda, bagaimana sepatutnya menerima tamu-tamu kita dari Majapahit itu," kata Adipati Menak Koncar kepada ayahnya.

"Kuserahkan dirimu menjadi tuan rumah yang baik malam ini di pantai Pasuruan," jawab Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar. "Sementara itu, Panji Samara dan Panji Wiranagari menyambut langsung bingkisan tamu-tamu kita di tengah lautan."

"Bagaimana dengan enam ribu pasukan Majapahit yang datang mengunjungi Bumi Lamajang ini?" tanya Adipati Menak Koncar.

Empu Nambi tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam. "Inilah hal paling pahit yang tidak kuinginkan dalam peperangan apa pun," ujarnya, lalu terdiam sejenak. Semua orang di pendapa itu menanti dengan cemas.

"Kita harus mengungsikan para penduduk dan membakar persawahan mereka yang sebentar lagi siap dipanen."

"Membakar persawahan penduduk?" Adipati Menak Koncar terperanjat.

"Kita akan berhadapan dengan enam ribu pasukan musuh yang kelaparan karena ransumnya sudah kita curi," jelas Empu Nambi.

"Kita hanya perlu bertahan di istana sambil membidik serigala-serigala yang kelaparan di luar tembok tinggi," simpul Adipati Menak Koncar.

"Waktu kita sangat singkat untuk menjamu tamu-tamu kita malam ini dan besok," tegas Empu Nambi.

Hari itu juga, Adipati Menak Koncar mengumpulkan para punggawanya untuk menyiapkan segala keperluan menghadapi serangan pasukan Majapahit.

"Mengungsilah kalian ke lereng Gunung Semeru, tunggulah saat yang aman untuk kembali," perintah Adipati Menak Koncar.

Tak lama berselang, seribu lima ratus prajurit Lamajang bergerak keluar dari istana, terbagi menjadi dua kelompok. Pasukan pertama berjumlah lima ratus orang dipimpin oleh Panji Samara dan Panji Wiranagari, bertugas merebut bahtera besar yang bermuatan persediaan pangan. Pasukan kedua berjumlah seribu prajurit dipimpin langsung oleh Adipati Menak Koncar.

"Keringat para petani harus dikorbankan," batin Empu Nambi di atas kudanya sambil memandang hamparan hijau persawahan yang luas.

Bulan sabit pucat terhalang awan hitam di langit pantai Pasuruan. Di keremangan malam, prajurit Lamajang menyebar di sepanjang pantai, bersembunyi di balik gerumbul perdu dan tanaman suru.

"Perhitunganku, mereka akan merapat malam ini," kata Empu Nambi.

"Prajuritku sudah menyebar menyamar sebagai nelayan di sekitar perairan ini. Kita hanya menunggu kabar dari mereka di mana kedua bahtera itu akan merapat," ujar Panji Samara.

"Tiga ratus prajuritku sudah berada di atas bahtera kayu; mereka akan memerankan lakon bajak laut di pesisir Pasuruan ini," kata Panji Wiranagari.

"Bagaimana dengan kesiapan prajuritmu?" tanya Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

"Mereka akan menyambut tamu dengan dua obor di tangan. Di kegelapan malam, ini pasti akan menggetarkan hati musuh; dua obor di tangan seakan-akan melipatgandakan jumlah prajuritku," jawab Adipati Menak Koncar.

"Nampaknya gending selamat datang sudah harus dimainkan," kata Empu Nambi sambil menatap seorang lelaki yang tengah merapatkan jukungnya di pasir pantai. Lelaki itu berlari ke arah persembunyian mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment