Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 64

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 64

Dalam keadaan masih berbaring di atas tanah berumput, Patih Mahesa Amping segera menceritakan apa yang telah terjadi pada diri mereka di Hutan Kemiri, juga tentang keputusannya untuk memindahkan racun yang sangat ganas itu dari tubuh Adityawarman ke dalam dirinya.

"Nampaknya kamu telah memilih keputusan yang sangat rumit, wahai saudaraku," ujar Ki Gede Bajra Seta dengan rasa haru mendengar semua cerita Patih Mahesa Amping.

"Aku merasa telah memilih keputusan yang benar, wahai Kakang. Bukankah kita pernah mengalaminya sebagai seorang ayah yang penuh rasa haru melihat putra kita yang masih bayi merintih di tengah malam buta? Kita akan selalu berkata bila saja dapat menanggung sakit bayi kita itu. Dan dalam pandanganku, masa depan Adityawarman masih sangat panjang dibandingkan dengan waktuku ini yang hanya tinggal dua tiga kali tikungan saja," kata Patih Mahesa Amping dengan bibir tersenyum dan suara yang begitu tabah kepada Ki Gede Bajra Seta yang mendengarnya dengan perasaan terharu.

"Kamu memang tidak pernah berubah, wahai saudaraku," ujar Ki Gede Bajra Seta yang telah mengenal Patih Mahesa Amping sejak kecil sebagai seseorang yang tidak pernah berkeluh kesah atas apa pun yang dialaminya.

"Apakah Kakang telah memeriksa keadaan putraku?" tanya Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta.

"Aku telah memeriksanya, tidak ada yang perlu dirisaukan tentang keadaannya, meski saat ini belum juga terjaga dari pingsannya," jawab Ki Gede Bajra Seta memberitahukan keadaan Adityawarman kepada Patih Mahesa Amping.

"Ayah, langit terlihat mulai mendung," ujar Mahesa Dharma kepada ayahnya.

"Saudaraku, kami akan membawamu ke Padepokan Bajra Seta," ujar Ki Gede Bajra Seta sambil mengangkat tubuh Patih Mahesa Amping yang telah lumpuh itu ke atas pundaknya.

Sementara itu, Mahesa Dharma telah meletakkan tubuh Adityawarman di atas pundaknya. Namun, keduanya seperti tidak membawa beban yang berat. Mereka berdua berlari dengan ringannya, bahkan terkadang kaki mereka seolah tidak menyentuh tanah lagi, melesat terbang.

Kabut pagi masih menyelimuti bumi Kotaraja Majapahit. Awalnya, satu dua orang tidak begitu memperhatikan dua buah pedati yang sudah tidak ada penarik kudanya, diletakkan begitu saja di pinggir jalan Kotaraja Majapahit pada pagi itu. Namun, manakala kabut pagi mulai menghilang perlahan dan jalan mulai ramai dilalui orang, mereka mulai tertarik dengan keberadaan dua pedati yang sepertinya ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Gemparlah suasana di jalan Kotaraja Majapahit saat mengetahui bahwa isi dari kedua pedati itu adalah dua puluh mayat prajurit Daha. Kabar menghebohkan itu begitu cepat menjalar hingga ke pelosok Kotaraja Majapahit. Semua orang pada hari itu membicarakan perihal kedua puluh mayat tersebut, hingga akhirnya berita menggemparkan itu sampai ke istana Majapahit.

Pertama kali mendengar berita itu, Baginda Raja Sanggrama Wijaya merasa seperti mendengar dentuman halilintar di siang bolong. Segera, Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengaitkannya dengan berita keberadaan para penghuni Hutan Kemiri beberapa hari yang lalu. "Mereka adalah para prajurit Daha yang mengawal Patih Mahesa Amping," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dalam hati dengan perasaan berdebar.

Sementara itu, Gajahmada yang telah mendengar berita menggemparkan tersebut segera menuju ke jalan tempat kedua pedati itu ditemukan. Dengan wajah penuh cemas dan dada berdebar, ia memeriksa satu per satu kedua puluh prajurit Daha yang sudah tidak bernyawa itu. Gajahmada bernapas lega manakala tidak menemukan Patih Mahesa Amping di antara kedua puluh mayat tersebut.

"Keterlambatan yang seharusnya tidak terjadi bila saja Baginda Raja Sanggrama memberikan perintah menurunkan prajurit Majapahit untuk menghancurkan para penghuni Hutan Kemiri itu," gumam Gajahmada dalam hati, menyesali keputusan Baginda Raja yang terlambat dan terkesan lamban.

"Ampunilah hambamu," ucapnya dalam hati saat terbersit di benaknya bahwa Baginda Raja Sanggrama ada di balik semua ini. "Aku harus mencari tahu keadaan ayah angkatku itu, semoga Gusti Yang Maha Agung selalu melindunginya," lanjut Gajahmada dalam hati penuh kegundahan. Hingga tak terasa, langkahnya membawanya ke Pura Pasanggrahan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Duduklah, wahai putra angkat saudaraku," sapa Baginda Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada yang datang menemuinya di serambi pura. Gajahmada duduk berhadapan dengan Baginda Raja dengan wajah tertunduk ke arah lantai kayu. Sekilas, Gajahmada menangkap wajah Baginda Raja yang tampak kehilangan cahaya keceriaannya seperti biasanya.

"Apakah kamu sudah memastikan bahwa dua puluh mayat di jalan Kotaraja itu memang benar prajurit Daha?" tanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Hamba telah memastikannya dari pertanda keprajuritannya. Mereka adalah dua puluh orang prajurit pengawal sahabat Tuanku, Patih Mahesa Amping," jawab Gajahmada dengan suara datar dan memberikan penekanan pada kata "sahabat Tuanku".

Ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya memahami makna penekanan itu. Seolah sebuah pedang tajam tertuju ke lehernya. "Aku tahu kamu begitu kecewa denganku, wahai putra angkat saudaraku," ujar Baginda Raja.

Lama keduanya berdiam diri. Nampaknya masing-masing telah tenggelam dalam pikiran dan perasaan sendiri.

"Bila saja hari ini ada manusia paling rendah di muka bumi, akulah orangnya. Wahai Gajahmada, akulah Raja penguasa Jawadwipa yang paling hina, yang tidak mengenal budi karena membiarkan sahabat yang setia kepadanya berada dalam mara bahaya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya seperti seseorang yang tengah menghinakan diri sendiri.

Mendengar perkataan tersebut, Gajahmada merasa kasihan atas perasaan bersalah yang menyelimuti penguasa tunggal Majapahit itu. Gajahmada juga menyesali perkataannya yang tajam melukai perasaan orang yang dihormatinya.

"Ampunilah hamba, wahai Paduka junjungan hamba. Ampunilah perkataan hamba yang telah menggores perasaan Paduka. Ampunilah pikiran hamba yang sempat meragukan kesetiakawanan Paduka. Mendengar kata penyesalan yang Paduka ucapkan di hadapan hamba adalah sebuah keagungan seorang raja. Janganlah Paduka menghinakan diri sendiri," ujar Gajahmada.

Suasana serambi itu kembali sepi. Gajahmada menatap wajah Baginda Raja dan masih melihat duka yang mendalam.

"Keagungan raja adalah yang dapat memelihara cahaya Sang Siwa di dalam hatinya, sementara aku telah memilih jalan raja kegelapan. Di mana dapat kusembunyikan wajah ini bila bertemu dengan sahabatku, Patih Mahesa Amping?" tutur Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan penuh penyesalan.

Gajahmada menarik napas panjang. "Ampuni hamba, wahai Baginda Raja. Bukankah Gusti Yang Maha Agung telah membentangkan jembatan suci bagi semua hamba-Nya? Bila Baginda Raja tergelincir kemarin, masih ada waktu untuk bangkit dan berdiri kembali meniti jembatan itu dengan lebih berhati-hati," ucap Gajahmada.

"Kata-katamu seperti air dingin yang menyejukkan hatiku, namun tetap saja ada perasaan bersalah sebelum mengetahui kepastian tentang sahabatku, Patih Mahesa Amping," kata Baginda Raja.

Mendengar hal itu, perasaan Gajahmada kembali terayun dalam kerisauan mengenai nasib ayah angkatnya. Keheningan di serambi itu akhirnya terpecahkan oleh kehadiran Ki Patih Mangkubumi. Setelah duduk menghadap Baginda Raja, lelaki tua berwajah teduh itu membawa berita tentang keadaan Patih Mahesa Amping.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment