Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 161

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 161

Tidak banyak halangan dalam pelayaran Gajah Mada menuju Bandar Pelabuhan Banyuwangi. Mereka singgah di beberapa pantai timur Jawadwipa saat bekal makanan dan air tawar menipis, lalu mengembangkan layar penuh ketika angin berhembus cukup kuat.

"Begitu kaya alam bawah laut kita," ujar Gajah Mada kepada kedua prajurit di perahunya saat melihat beberapa perahu nelayan bergerak menuju tepi pantai di sebuah pagi, dengan begitu banyak ikan memenuhi perahu mereka.

"Ikan berlimpah, padi berlimpah, itulah pertanda kemakmuran bumi milik kita," kata salah seorang prajurit sambil tersenyum.

"Ada lagi pertanda kemakmuran; perut para prajurit semakin membuncit karena tidak ada lagi peperangan," sahut prajurit lainnya sambil tertawa.

"Seandainya saja para pembesar dan para raja berpikir sebagaimana kalian berpikir, pasti bumi ini dipenuhi dengan kedamaian," tanggap Gajah Mada menanggapi perbincangan kedua prajuritnya.

"Apakah ada perbedaan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang mereka pikirkan?" tanya prajurit yang berasal dari Banyuwangi kepada Gajah Mada.

Gajah Mada tidak langsung menjawab; ia hanya tersenyum dan menarik napas panjang.

"Yang kita pikirkan sebatas isi perut kita yang hanya sebesar kepalan tangan ini, sementara yang mereka pikirkan adalah kekuasaan, martabat, dan kehormatan yang jauh lebih besar dari batok kepala mereka sendiri," jawab Gajah Mada sambil tersenyum memandang kedua prajurit yang bersamanya.

Di beberapa bandar pelabuhan yang cukup ramai di sepanjang pantai ujung Jawadwipa, Gajah Mada sesekali meminta kedua prajuritnya menepi untuk melihat suasana dan keadaan di sana.

"Perseteruan antara keluarga Empu Nambi dan keluarga istana Majapahit telah melahirkan kemakmuran yang tidak merata di ujung timur Jawadwipa ini. Para pembesar di bumi ini tidak dapat lagi melindungi para petani dan para perambah hasil hutan," batin Gajah Mada saat melihat langsung para saudagar besar memperkaya diri tanpa memikirkan keringat petani dan para perambah hutan.

"Paman Adipati Menak Jingga dan Paman Adipati Menak Koncar harus melihat ini dengan perasaan dan hati yang dingin, serta mempercayai niat baik keluarga istana Majapahit dan cita-cita para pendiri kerajaan, salah satunya adalah ayahanda mereka sendiri, Empu Nambi," batin Gajah Mada kembali.

Demikianlah, setelah singgah di beberapa tempat untuk melihat suasana, akhirnya pada suatu pagi yang cerah, perahu Gajah Mada tiba di Bandar Pelabuhan Banyuwangi di ujung paling timur Jawadwipa, sebuah pelabuhan yang sangat ramai dipenuhi perahu besar para pedagang dari berbagai penjuru bumi.

Salah seorang prajurit yang bersama Gajah Mada ternyata memiliki banyak kenalan di pelabuhan itu, sehingga dengan mudah mereka mendapatkan tiga ekor kuda yang cakap dan kuat. Setelah beristirahat cukup, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju Kadipaten Blambangan.

Matahari belum mendekati puncak cakrawala ketika mereka mendekati Kota Kadipaten Blambangan, sebuah tempat di timur kaki lereng Gunung Raung yang dipenuhi petak-petak persawahan luas sepanjang mata memandang.

"Sebuah tempat yang sangat subur dan makmur, membuat aku iri untuk melucuti pedang dan pakaian keprajuritanku ini, lalu berganti dengan pakaian seorang petani," ujar salah seorang prajurit yang baru pertama kali datang ke Kota Kadipaten Blambangan.

"Kamu akan berkata lain seandainya kamu datang saat warga di sini dicekam rasa takut, saat Ki Secang dan gerombolannya yang bersarang di lereng Gunung Raung membakar bumi ini dengan peperangan," tutur Gajah Mada bercerita tentang peristiwa peperangan yang pernah terjadi di bumi Blambangan.

Akhirnya, mereka bertiga mendekati istana Kadipaten Blambangan.

"Katakan bahwa aku, Gajah Mada dari istana Majapahit, ingin datang menghadap," ujar Gajah Mada kepada seorang prajurit pengawal di gerbang pintu masuk istana.

"Tunggulah di sini, aku akan meminta perkenan Tuan Adipati Menak Jingga," jawab prajurit pengawal itu.

Prajurit pengawal istana berjalan ke arah pendapa agung, menghilang terhalang pohon-pohon besar yang rindang. Tidak lama berselang, ia kembali dengan wajah dan sikap yang jauh lebih ramah.

"Adipati Menak Jingga berkenan menerima Tuan," katanya.

"Terima kasih," jawab Gajah Mada.

"Serahkan kuda kalian kepada kami untuk dijaga dengan baik," ujar prajurit itu sambil memanggil dua kawannya untuk membawa kuda-kuda tersebut, sebuah perlakuan khusus bagi tamu agung yang berkunjung ke istana Kadipaten Blambangan.

Gajah Mada bersama dua prajurit Majapahit yang menyertainya segera diantar menemui Adipati Menak Jingga.

"Selamat datang kembali di istanaku, wahai Mahesa Muksa," sambut Adipati Menak Jingga dengan menyebut nama kecil Gajah Mada.

"Angin timur berhembus menarik kuat layar perahuku, menarik perasaan rinduku untuk menemui seorang lelaki perkasa penguasa bumi Blambangan ini," sahut Gajah Mada kepada Adipati Menak Jingga yang terlihat gagah dan tampan, layaknya sosok Bima dalam cerita pewayangan.

"Pintu istanaku selalu terbuka untukmu, untuk seorang pahlawan yang telah menyelamatkan bumi Blambangan ini," ujar Adipati Menak Jingga.

Kedua prajurit Majapahit yang menyertai Gajah Mada semakin mengagumi sosok tersebut yang pernah terlibat dalam peperangan di Blambangan. Selanjutnya, Adipati Menak Jingga dan Gajah Mada saling bercerita tentang berbagai kejadian selama mereka berpisah.

"Sumber kekeruhan yang selama ini banyak mempengaruhi kebijakan Raja Jayanagara telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Istana Majapahit kini telah memaku kembali amanat dan cita-cita para pendiri kerajaan dalam semangat pembaharuannya," cerita Gajah Mada.

Mendengar penuturan itu, Adipati Menak Jingga tampak gembira. "Kabut gelap di atas istana Majapahit nampaknya telah berlalu," gumamnya.

"Hari ini aku datang sebagai duta istana Majapahit, mewakili keluarga istana menghadap langsung Paman Adipati Menak Jingga," ujar Gajah Mada.

Adipati Menak Jingga memicingkan mata, seolah menebak arah pembicaraan selanjutnya.

"Aku datang mewakili Jayanagara untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang selama ini terjadi antara Empu Nambi dan istana Majapahit," lanjut Gajah Mada.

Adipati Menak Jingga terdiam cukup lama, memalingkan wajah menatap halaman pendapa agung yang luas, dipenuhi rerumputan hijau dan pohon-pohon rindang.

"Maaf dari Raja Jayanagara tidak akan mengembalikan kehidupan ayahandaku," ucap Adipati Menak Jingga lirih.

Gajah Mada menarik napas panjang, memahami perasaan putra bungsu Empu Nambi itu. Suasana di atas pendapa agung seketika hening, semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Empu Nambi dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya bekerja keras membangun kerajaan ini seperti membangun sebuah perahu besar yang utuh, yang terdiri dari Majapahit Barat dan Majapahit Timur. Perahu besar itu tidak akan mampu bergerak sedikit pun manakala dua penguasa di barat dan timur tidak bersatu padu," ujar Gajah Mada memecah kesunyian.

Adipati Menak Jingga masih berdiam diri, memandang halaman pendapa.

"Di perjalananku kemarin, aku melihat berbagai ketimpangan di beberapa bandar pelabuhan; para pribumi seperti asing di buminya sendiri, menjadi sapi perah oleh segelintir saudagar besar yang menjalin hubungan dengan pedagang asing. Di manakah nurani putra bungsu Empu Nambi saat itu? Ke mana perginya cita-cita luhur semangat membangun bumi ini? Sementara itu, aku masih merasakan bahwa Empu Nambi masih hidup, masih menjaga bumi ini di antara kita," ucap Gajah Mada berusaha menggugah hati Adipati Menak Jingga yang masih keras dan menyimpan amarah atas kematian ayahandanya.

Tanpa terduga, Adipati Menak Jingga menatap tajam ke arah Gajah Mada. Wajahnya yang tampan tampak berwibawa, layaknya Bima yang baru tersadar dari amuk amarahnya.

"Kamu benar, wahai putra angkat Patih Mahesa Amping. Sebagaimana dirimu, aku pun merasakan bahwa ayahandaku hari ini masih hidup dan berada di antara kita. Aku menjadi malu kepada diriku sendiri, membiarkan amarahku menjadi amuk, membiarkan ketimpangan terjadi sebagai pemberontakan terselubung, dan memungkiri hati nuraniku sendiri," ujar Adipati Menak Jingga.

"Pandanglah dengan jelas apa yang ada di tanganku ini," ujar Gajah Mada sambil memegang sebuah keris.

"Keris Nagasasra milik ayahandaku yang telah diberikan kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya," sahut Adipati Menak Jingga tanpa berkedip.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment