Chapter 78
Ternyata kawan penjaga itu ikut tertarik. Mereka semua keluar dari gardu jaga untuk melihat berbagai macam keris dan batu aji yang dibawa oleh Gajah Mada dan Supo Mandagri.
"Bukankah ini batu panca warna?" ujar salah seorang penjaga yang sangat tertarik dengan salah satu batu aji yang dibawa Gajah Mada.
"Benar, batu itu adalah panca warna yang berasal dari sebuah tempat di Tanah Pasundan. Prabu Guru Darmasiksa kabarnya memakai batu jenis ini di tangannya," jawab Gajah Mada membenarkan perkataan penjaga yang sedang mencermati batu di tangannya tersebut.
Mendengar perkataan Gajah Mada, seorang penjaga yang tengah memperhatikan sebuah batu aji menatap dalam-dalam ke arahnya.
"Kamu pernah ke Tanah Pasundan?" tanya penjaga itu kepada Gajah Mada.
"Sewaktu kecil, aku sering dibawa oleh ayahku berdagang hingga ke Tanah Pasundan," jawab Gajah Mada sambil tersenyum.
"Tunggulah di sini, aku akan mencoba menawarkan daganganmu ini kepada Ki Randu Alam. Kudengar dirinya sangat menggemari batu aji," ucap penjaga itu yang langsung berjalan ke arah pendapa rumah Ki Randu Alam.
Berdebar rasa hati Gajah Mada mendengar bahwa penjaga itu akan menawarkan barang dagangannya kepada Ki Randu Alam.
"Tamat sudah penyamaranku," batin Gajah Mada dengan perasaan dan pikiran yang tidak menentu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, beberapa penjaga lainnya masih sibuk melihat-lihat keris dan batu aji yang dibawanya.
"Bila tuan kami membeli barang daganganmu, jangan lupakan kami," ujar salah seorang penjaga kepada Gajah Mada.
Gajah Mada tidak menjawab apa pun, ia hanya tersenyum sebagai pertanda dirinya mengerti arah pembicaraan penjaga itu. Di benak lain, Gajah Mada masih memikirkan Ki Randu Alam yang sudah pasti akan mengenal jati dirinya karena mereka pernah bertemu dan bertempur di sekitar Kademangan Simpang.
Hati Gajah Mada semakin berdebar-debar manakala melihat seorang penjaga datang dari arah pendapa rumah Ki Randu Alam.
"Ki Randu Alam berkenan untuk melihat barang daganganmu," kata penjaga itu kepada Gajah Mada setelah sampai di gardu jaga.
Tidak ada kesempatan bagi Gajah Mada untuk menolak. Pikirannya pasrah menerima apa pun yang akan terjadi.
"Supo Mandagri, ikutlah bersamaku," ujar Gajah Mada kepada sahabatnya.
Sebagai orang yang telah mengenal Gajah Mada, Supo Mandagri tampak membaca ketegangan hati sahabatnya itu. Tanpa berkata apa pun, Supo Mandagri membantu Gajah Mada mengumpulkan barang dagangannya.
"Jangan jauh-jauh dariku," bisik Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang berjalan di sisinya.
Halaman rumah Ki Randu Alam memang cukup luas. Gajah Mada dan Supo Mandagri berjalan mengikuti penjaga tersebut. Sementara itu, hati dan perasaan Gajah Mada semakin berdebar-debar, membayangkan apa yang akan terjadi bila Ki Randu Alam masih mengenalinya.
"Naiklah ke atas, aku ingin melihat barang yang kalian punya," perintah Ki Randu Alam manakala mereka telah berada di bawah panggung pendapa.
"Orang tua itu nampaknya belum jelas melihatku," batin Gajah Mada yang mulai menapaki anak tangga panggung pendapa.
"Orang tua ini benar-benar tidak mengenaliku," gumamnya lagi ketika sudah berada di atas panggung pendapa bertatap muka dengan Ki Randu Alam.
Sambil menggelar barang dagangannya, Gajah Mada merasa heran karena Ki Randu Alam—atau yang dikenalnya dengan nama Ki Arya Wiraraja—benar-benar tidak mengenalinya. Padahal, mereka pernah beradu tangan dan bertempur di sekitar Kademangan Simpang saat Gajah Mada bertugas mengiringi keluarga kerajaan Majapahit berkunjung ke Kotaraja Singasari.
"Kerismu sangat halus pembuatannya," puji Ki Randu Alam sambil mengamati ukiran dan lekuk keris yang dihiasi oleh beberapa batu permata.
"Apakah orang tua ini sudah menjadi pikun?" batin Gajah Mada yang diam-diam mengamati wajah Ki Randu Alam. Lelaki itu memiliki rambut, kumis, dan janggut yang sudah putih seluruhnya, namun tubuhnya masih tegap dan kekar sebagai pertanda selalu berlatih olah kanuragan.
Pada saat itu, Gajah Mada dan Supo Mandagri duduk menyamping di dekat Ki Randu Alam yang duduk menghadap ke arah halaman pendapanya.
"Batu hijau dari tanah Gurun," gumam Ki Randu Alam sambil menerawang sebuah batu di tangannya.
"Ternyata Ki Randu Alam sangat ahli mengenal berbagai jenis batu aji," kata Gajah Mada dalam hati. Ia mulai merasa tenang, meyakini bahwa orang tua itu tidak mengenalnya atau telah melupakan wajahnya.
Namun, kembali hati anak muda itu berdebar kencang manakala dilihatnya seorang lelaki tua lain bersama seorang lelaki muda berjalan di halaman tengah menuju ke arah pendapa. Supo Mandagri pun ikut melirik kedua orang yang sedang mendekat itu.
Gajah Mada dan Supo Mandagri saling beradu pandang manakala kedua orang itu sudah mendekati anak tangga pendapa. Ternyata, Supo Mandagri telah mengenali lelaki tua itu. Sementara Gajah Mada tidak hanya mengenali si lelaki tua, tetapi juga anak muda yang berada di belakangnya.
Perasaan Gajah Mada dan Supo Mandagri menjadi ketar-ketir tidak karuan.
"Tamatlah sudah penyamaranku," batin Gajah Mada. Apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan manakala ia beradu pandang dengan lelaki tua itu. Lelaki itu tampak terkejut menatap wajah Gajah Mada.
"Ki Randu Alam, kedua orang itu adalah mata-mata musuh!" seru lelaki tua itu sambil menunjuk ke arah Supo Mandagri dan Gajah Mada.
Bersamaan dengan perkataan itu, Gajah Mada dan Supo Mandagri berdiri dan mundur beberapa langkah menjauhi Ki Randu Alam.
"Ki Ajar Pelandongan, katakan siapa kedua anak muda ini?" tanya Ki Randu Alam kepada lelaki tua yang ternyata adalah Ki Ajar Pelandongan.
"Aku pernah bertemu dengan mereka di sekitar hutan Kemiri. Salah satu di antara mereka memakai tanda prajurit Majapahit," ujar Ki Ajar Pelandongan.
"Kami juga pernah bertemu dengan orang itu di sekitar pesisir Tuban," sahut anak muda di dekat Ki Ajar Pelandongan yang ternyata adalah Kuda Anjampiani, sambil menunjuk ke arah Gajah Mada.
"Anak muda, benarkah apa yang dikatakan oleh mereka?" tanya Ki Randu Alam dengan tatapan tajam.
Gajah Mada merasa sudah terlanjur basah. Ia tidak mungkin lagi menutupi penyamarannya dan telah bersiap diri untuk menghadapi apa pun yang terjadi.
"Apa yang mereka katakan memang benar, aku adalah seorang prajurit Majapahit," jawab Gajah Mada dengan suara tenang.
"Terlalu berani masuk ke tempat kediamanku, kalian akan menerima ganjaran yang sesuai," tegas Ki Randu Alam.
"Kami bukan orang yang lemah, cobalah untuk menangkap kami," tantang Gajah Mada sambil memberi isyarat kepada Supo Mandagri untuk melompat melewati pagar kayu pendapa.
Dengan sangat cepat dan ringan, Gajah Mada melesat melewati pagar, diikuti oleh Supo Mandagri di belakangnya. Namun, begitu mereka menjejakkan kaki di halaman, Ki Randu Alam terbang melenting dengan sangat cepat, melampaui tubuh kedua anak muda itu.
"Tutup gerbang, jangan biarkan keduanya keluar!" perintah Ki Randu Alam kepada para penjaga.
Suara Ki Randu Alam didengar oleh orang-orangnya yang berada di pondok-pondok samping bangunan utama. Mereka segera keluar dan mendekati halaman muka. Dalam waktu singkat, Gajah Mada dan Supo Mandagri terkepung di tengah halaman luas itu tanpa senjata apa pun di tangan.
"Jangan menjauh dariku," bisik Gajah Mada kepada Supo Mandagri.
"Tangkap mereka!" perintah Ki Randu Alam.
Sekitar dua belas orang dengan berbagai jenis senjata mulai bergerak mendekati mereka. Tidak lama berselang, Gajah Mada dan Supo Mandagri harus meladeni serangan orang-orang Ki Randu Alam. Tidak sulit bagi Gajah Mada menghadapi mereka, namun pikirannya terpecah karena mengkhawatirkan Supo Mandagri yang mulai kewalahan.
Gajah Mada meningkatkan kemampuannya dan bergerak dengan sangat cepat. Luar biasa tandang Gajah Mada; tiga orang lawannya terpental terkena terjangan kaki dan tangannya. Ki Randu Alam, yang terus mengamati pertempuran, merasa takjub.
"Luar biasa anak muda itu," batin Ki Randu Alam. Belum habis gumamannya, empat orang lagi telah bergelimpangan terkena sapuan terjangan Gajah Mada.
"Anak muda ini adalah bagianku," ucap Ki Randu Alam sambil berjalan mendekati Gajah Mada.
Mendengar perkataan itu, beberapa orang menyingkir dari hadapan Gajah Mada dan beralih menyerang Supo Mandagri.