Chapter 140
"Apa pun pilihan kalian, tidak akan mengubah sikapku atas kalian. Kita adalah saudara," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada pasukannya yang tersisa.
"Kami akan selalu berada di belakang Tuan Tumenggung!" teriak para prajurit pasukan Tumenggung Jala Rananggana menyampaikan pilihan mereka.
Demikianlah, pasukan yang semula bertempur di hutan Pronojiwo itu kini terlihat telah bersatu padu, berjalan beriringan menuju arah timur, ke arah Benteng Randu Agung.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Kademangan Pronojiwo? Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, Tumenggung Jala Pati telah bermain mata dengan Mahapatih Dyah Halayuda untuk memperalat setengah dari pasukan Tumenggung Jala Rananggana agar masuk ke hutan Pronojiwo. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Tumenggung Jala Rananggana, diam-diam mereka telah membawa seluruh pasukan Majapahit lewat jalan lain masuk ke Kademangan Pronojiwo, yang telah ditinggalkan oleh pasukan Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.
Tanpa perlawanan apa pun, pasukan Majapahit dengan mudahnya menguasai Kademangan Pronojiwo, menawan warga dan para pengungsi yang ada di sana.
Kedatangan pasukan Majapahit yang begitu cepat bergerak mengepung Kademangan Pronojiwo telah membuat para warga dan pengungsi tidak berdaya untuk lari menyelamatkan diri.
Para lelaki, orang tua, wanita, dan anak-anak telah diperintahkan keluar dari rumah dan digelandang ke sebuah tanah lapang dekat banjar desa.
Beruntung, seorang lelaki muda lepas dari pengawasan mereka dan berhasil lolos lari ke hutan Pronojiwo, lalu melaporkannya langsung kepada Adipati Menak Koncar apa yang terjadi atas warga dan para pengungsi di Kademangan Pronojiwo.
Itulah sebabnya Adipati Menak Koncar begitu marah kepada ayah mertuanya sendiri, menduga Tumenggung Jala Rananggana dan pasukannya telah menjebaknya.
Namun ternyata, Tumenggung Jala Rananggana tidak mengetahui kelicikan Senapati Agungnya sendiri, merasa telah menjadi umpan tak berharga.
Tiga pasukan dengan tunggul, rontek, dan umbul-umbul berbeda terlihat berjalan bersama.
"Apa yang telah terjadi?" kata Empu Nambi dalam hati, yang melihat tiga pasukan dari kesatuan yang berbeda itu tengah memasuki gerbang pintu Benteng Randu Agung.
Apalagi, ia melihat sebuah umbul-umbul besar yang sudah sangat dikenalnya ketika dirinya masih menjabat sebagai Patih Amangkubumi di istana Majapahit.
"Kesatuan pasukan Jala Rananggana," Empu Nambi kembali berkata dalam hati sambil memandang sebuah umbul-umbul bergambar harimau putih di dalam lingkaran matahari.
"Sungguh sebuah kegembiraan melihat seorang mertua berjalan beriringan dengan anak menantunya," kata Empu Nambi penuh kegembiraan menyambut kehadiran Tumenggung Jala Rananggana di Benteng Randu Agung.
"Seorang tuan rumah yang baik biasanya mengadakan yang tidak ada untuk menjamu besannya," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada Empu Nambi penuh persahabatan.
Terlihat Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Rangga Pamandana, dan para pemimpin pasukan lainnya telah duduk bersama di pendapa Benteng Randu Agung.
"Bukankah pasukan kalian seharusnya berada di Kademangan Pronojiwo?" kata Empu Nambi sambil memandang ke arah Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana, berharap salah seorang di antaranya dapat bercerita apa yang telah terjadi.
Maka Adipati Menak Koncar langsung bercerita apa yang terjadi di Kademangan Pronojiwo saat itu, juga cikal bakal mengapa Tumenggung Jala Rananggana akhirnya bergabung bersama pasukannya.
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari penguasaan Kademangan Pronojiwo itu?" kata Panji Samara.
"Yang pasti, mereka masih menganggap Benteng Randu Agung ini terlalu kuat untuk digempur langsung oleh mereka. Masih terlalu pagi untuk menilai apa yang sebenarnya mereka inginkan dari penguasaan Kademangan Pronojiwo. Masih terlalu banyak kemungkinan mengapa mereka harus membayar dengan harga yang sangat mahal, mengorbankan setengah pasukan Jala Rananggana hanya untuk menguasai Kademangan yang tidak berarti itu," kata Empu Nambi menanggapi pertanyaan Panji Samara.
Semua orang di atas pendapa Benteng Randu Agung itu seperti terpancing untuk terus berpikir, menjadikan suasana di atas pendapa itu begitu sepi, hening tanpa suara apa pun. Semua orang tampaknya telah terperangkap dalam alam pikirannya masing-masing.
"Kademangan itu memang tidak berarti apa pun, namun warga dan para pengungsi yang ada di sana pasti sangat berarti bagi sebagian prajurit yang ada di Benteng Randu Agung ini. Setidaknya di sana ada keluarga mereka: istri, anak, atau orang tua mereka sendiri," kata Tumenggung Jala Rananggana memecahkan suasana keheningan di atas pendapa.
Perkataan Tumenggung Jala Rananggana seperti pedang tajam yang bergerak menikam jantung dan pikiran semua orang.
Lebih-lebih Adipati Menak Koncar yang langsung tersentak, pucat pasi.
Sontak semua mata di atas pendapa Benteng Randu Agung itu langsung tertuju ke arah Empu Nambi, berharap orang tua yang sangat bijak itu dapat menyampaikan pendapatnya, memberikan jalan keluar.
Empu Nambi memang melihat ketegangan memenuhi semua orang di atas pendapa itu, terbaca lewat cahaya mata mereka yang penuh pengharapan dan ketergantungan kepada dirinya seorang.
Namun Empu Nambi tidak berkata apa pun, tidak juga menemukan jawaban apa pun di kepalanya.
Terlihat Empu Nambi hanya menarik napas panjang, berharap dapat menemukan jawaban. Namun, pikirannya seperti tidak bekerja. Yang terbayang adalah ratusan sandera yang dipenuhi suasana mencekam, dipenuhi suara-suara bentakan kasar.
Dan di antara bayangan itu tergambar dua orang anak lelaki kecil yang tengah ketakutan di pelukan ibunya.
Wajah kedua anak lelaki dan ibunya itu adalah wajah kedua cucu lelakinya sendiri bersama anak menantunya.
"Mereka harus membayar mahal bila terjadi sesuatu atas kedua cucu dan anak menantuku, meski sehelai rambut mereka," kata Empu Nambi seperti bergumam kepada dirinya sendiri.
"Akhirnya pertanyaanku telah terjawab. Bukan nilai Kademangan itu yang berarti bagi mereka, tetapi sandera jiwa warga dan pengungsi itulah sebagai barang berharga bagi mereka. Setidaknya sebagai umpan pancingan agar kita keluar dari benteng ini, atau sebagai alat tukar mereka memeras kita untuk memenuhi dan menuruti apa keinginan mereka," kata Panji Samara.
"Banyak hal yang bisa terjadi, banyak kemungkinan yang akan kita temui. Mari kita pasrahkan diri kita kepada Pemilik segala jiwa, Pemilik hidup dan kehidupan ini. Semoga Gusti Yang Maha Agung memberikan jalan keselamatan kepada kita, memberikan jalan ketenangan kepada hati dan pikiran kita, dan selalu berada dalam genggaman tangan, mata, dan perlindungan-Nya," kata Empu Nambi berusaha melepas kecemasannya sendiri, melepaskan kepentingan dirinya sendiri.
Mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan meleburkan segala pikiran akal budinya ke dalam kekuasaan Yang Maha Tunggal, Pemilik alam semesta ini.
Hening seketika suasana di atas pendapa benteng agung itu. Perkataan Empu Nambi begitu menyejukkan hati, seperti sihir yang amat kuat, memberikan pengharapan, memberikan keyakinan-keyakinan bahwa jalan terbaik pasti akan mereka dapatkan.
"Hanya Dia-lah Yang Maha Tunggal yang mengetahui apa yang terjadi jauh di luar batas dinding pagar batu benteng ini. Hanya Dia-lah Yang Maha Tunggal yang mengetahui apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, nanti malam, besok, atau lusa nanti. Sementara nafsu dan laskar pikiran kita selalu mengusung kita seakan dewa yang dapat berbuat sebagaimana Sang Hyang Widhi berbuat dan berkuasa," Empu Nambi kembali berkata.
Perkataan sang guru suci itu kembali seperti sihir yang amat kuat, melenyapkan kecemasan dan kegusaran hati semua orang yang hadir di atas pendapa itu. Perkataan guru suci itu seperti mata air yang jernih mengalir di atas sungai kecil yang bening, mengalir di atas danau yang sepi dan dalam, begitu teduh menyejukkan mata hati dan jiwa.
Ternyata, orang-orang di Benteng Randu Agung itu tidak harus menunggu lama tentang nasib warga dan pengungsi di Kademangan Pronojiwo. Karena di pagi harinya, terlihat seorang lelaki berkuda mendekati Benteng Randu Agung.
"Katakan kepentinganmu datang ke Benteng Randu Agung ini," kata seorang prajurit penjaga di panggungan kepada lelaki berkuda itu.
"Aku utusan Mahapatih Dyah Halayuda, ingin bertemu dengan Empu Nambi," kata lelaki berkuda itu kepada prajurit penjaga.
"Bukakan pintu gerbang untuknya, dan antarkan langsung kepada Empu Nambi," kata prajurit penjaga itu kepada kedua kawannya.
Terlihat dua prajurit tengah menuruni tangga panggungan.
"Kuantar kamu ke hadapan Empu Nambi," kata salah seorang prajurit penjaga itu kepada lelaki berkuda yang mengatakan dirinya sebagai utusan Mahapatih Dyah Halayuda.
Ternyata di pendapa Benteng Randu Agung telah berkumpul para pemimpin pasukan bersama Empu Nambi.
"Orang ini mengatakan utusan Mahapatih Dyah Halayuda, ingin bertemu langsung dengan Empu Nambi," kata seorang prajurit penjaga kepada Empu Nambi.
"Bawa orang itu kepadaku," kata Empu Nambi kepada prajurit penjaga itu, yang langsung turun dari panggung pendapa untuk membawa kembali utusan Mahapatih Dyah Halayuda.
Terlihat prajurit penjaga itu telah naik kembali ke panggung pendapa sambil membawa utusan Mahapatih Dyah Halayuda.
"Katakan apa yang ingin disampaikan oleh Mahapatih Dyah Halayuda kepada kami," kata Empu Nambi kepada utusan itu.
"Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda hanya ingin menyampaikan bahwa warga di Kademangan Pronojiwo saat ini masih dalam keadaan selamat tak kurang apa pun," kata utusan itu kepada Empu Nambi.
"Hanya itukah Mahapatih Dyah Halayuda mengutusmu datang kepadaku?" kata Empu Nambi kepada utusan itu.