Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 34

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 34

Perlahan tapi pasti, Hutan Randuagung berubah menjadi sebuah pemukiman baru. Nama Arya Wiraraja dan Kuda Anjampiani perlahan menghilang, banyak orang hanya mengenal seorang saudagar kaya raya dan putranya yang menguasai daerah perdagangan di sepanjang sempalan ujung Jawadwipa yang berbatasan dengan Balidwipa itu.

Hari ke hari, nama Arya Wiraraja dan Kuda Anjampiani seperti tenggelam. Banyak orang hanya mengenal nama Ki Randuagung dan putranya, Randumas, sebagai seorang saudagar yang budiman telah menanamkan banyak budi dan pengaruhnya di sekitar mereka.

Namun, Arya Wiraraja, sang elang tua itu tidak lagi bermata setajam dulu. Diluar perhitungannya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah membina para ksatria baru yang akan menjaga Majapahit dari waktu ke waktu. Di Kediri, ada Raja muda Jayanagara dan Adityawarman yang telah dilatih dan dibina langsung oleh Patih Mahesa Amping.

Di Tuban, ada Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat yang dilatih langsung oleh ibundanya sendiri, Gusti Kanjeng Ratu Gayatri. Dan diam-diam, Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Patih Mangkubumi telah membina seorang ksatria muda Majapahit yang lain, yang selama ini dipercayakan untuk melaksanakan beberapa tugas rahasia, sang ksatria muda itu tidak lain adalah Gajahmada.

Dua kubu kekuatan tumbuh berkembang seperti sebuah ajang saling memupuk kekuatan baru. Baginda Raja Sanggrama Wijaya ternyata seorang yang mempunyai pandangan yang sangat tajam mengetahui bahwa Majapahit sebelah timur berkembang di pengaruhi oleh kekuatan bayangan tandingan.

"Saudaraku Empu Nambi," berkata Baginda Raja kepada Patih Mangkubumi di Pasanggrahannya, Pura Kartika. "Bukan maksudku meragukan kesetiaan putramu, Adipati Menak Koncar. Namun aku mengkhawatirkan perkembangan Majapahit di sebelah timur jauh dari kendali pusat kerajaan. Dan aku bermaksud memecah kekuasaan disana menjadi dua wilayah yang terpisah," berkata kembali Baginda Raja melanjutkan kata-katanya sambil memandang Patih Mangkubumi yang terlihat sudah semakin tua itu.

Terlihat Patih Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam, mencoba mendalami apa yang dipikirkan oleh junjungannya itu yang akhir-akhir ini sering sekali mengasingkan diri. Nampaknya peristiwa kematian Ranggalawe dan Rakyan Kebo Arema telah membuat hati Raja besar ini telah kehilangan semangat juangnya.

Wajahnya yang dahulu selalu penuh semangat terlihat selalu muram seperti menanggung sebuah kesalahan atas kematian kedua sahabat seperjuangannya itu. "Tuanku Baginda Raja, hamba juga telah merasakan bahwa perkembangan di wilayah timur Majapahit seperti sebuah bayangan kekuatan, seperti seekor naga besar yang perlahan tumbuh kaki," berkata Patih Mangkubumi mencoba memahami jalan pikiran junjungannya itu.

"Ternyata Empu Nambi masih seperti yang dulu, masih selalu dapat membaca apa yang aku pikirkan," berkata Baginda Raja dengan sedikit tersenyum. "Tuanku Baginda Raja, ternyata Majapahit tumbuh berkembang jauh melampaui tanah kekuasaan Raja Erlangga, lebih besar dari kekuasaan para raja Daha dan Kahuripan, lebih besar dari kekuasaan para raja Tumapel. Namun sebesar apapun kerajaan Majapahit ini tumbuh, harus ada dalam batas kendali tuanku Baginda Raja," berkata Patih Mangkubumi diam sejenak sambil memandang junjungannya yang nampaknya penuh perhatian mendengar semua ucapannya itu.

"Usul hamba bukan hanya memecah wilayah di timur Majapahit, juga di bagian barat Majapahit ini," berkata kembali Patih Mangkubumi. "Wilayah barat Majapahit?" bertanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya. "Benar Tuanku Baginda, sebagaimana Kadipaten Lamajang, Kadipaten Tuban juga perlu menjadi perhatian kita," berkata Patih Mangkubumi sambil menjelaskan wilayah mana yang harus dipecah itu dan mengapa harus dipecahkan.

"Ternyata Empu Naradha telah mewarisi kebijaksanaannya ke dalam jiwa keturunannya. Wahai Empu Nambi, apa yang harus aku lakukan agar tetap dapat memegang kendali kencana kerajaanku yang tumbuh semakin besar ini?" berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Terlihat Patih Mangkubumi tersenyum mendengar pujian dari Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Tuan harus memegang kendali kereta kencana sebagaimana sang Siwa memegang kendali kencana dengan delapan tangannya," berkata Patih Mangkubumi sambil memandang wajah Baginda Raja Sanggrama Wijaya. "Sang Siwa dengan delapan tangannya?" bertanya Baginda Raja meminta Patih Mangkubumi menjelaskannya.

"Hamba adalah satu tangan tuanku," berkata Patih Mangkubumi sambil tersenyum. "Aku mengerti maksudmu, aku perlu mengangkat tujuh orang patih untuk menggenapinya?" berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya mencoba menangkap arah perkataan orang tua yang sangat dihormatinya itu.

Akhirnya, berkat usulan dari Patih Mangkubumi yang sangat memahami tentang ajaran suci nawasanga itu telah memutuskan Baginda Raja untuk mengangkat tujuh orang patih yang bertugas membantu mengendalikan roda pemerintahan Kerajaan Majapahit. Tujuh orang putra Majapahit yang cakap dan dapat dipercaya, para cantrik pilihan dari berbagai padepokan yang tersebar di Kerajaan Majapahit.

Memang tidak mudah untuk mendapatkan tujuh orang putra terbaik yang akan melaksanakan tugas mewakili tangan dan mata Baginda Raja. Namun dengan semangat dan keuletan yang kuat telah berhasil di temukan para putra terbaik itu. Mereka tujuh orang Darmaputra yang disamping memiliki wawasan yang luas, juga memiliki tataran ilmu kanuragan yang cukup tinggi.

Demikianlah, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menentukan hari penobatan tujuh orang Darmaputra bersama wisuda dua orang adipati di wilayah timur dan barat Majapahit. Tujuh orang Darmaputra yang terpilih itu bernama Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedang, Ra Yuyu, Ra Pangsa, dan Ra Banyak.

Sementara itu, dua orang adipati baru yang akan diwisuda adalah Adipati Buntarlawe yang berkedudukan di Bojonegoro, dan Adipati berkedudukan di Banger. Menak Jingga yang ratusan prajurit Majapahit telah ditugaskan menyebarkan berita itu ke berbagai pelosok penjuru Kerajaan, membawa undangan resmi dari Baginda Raja.

Bergembiralah hati hampir semua orang penghuni Padepokan yang terletak di dekat air terjun Nglirip itu manakala melihat tiga orang prajurit datang menemui mereka membawa undangan langsung dari Baginda Raja untuk datang ke Kotaraja Majapahit menyaksikan wisuda tujuh orang Darmaputra dan dua orang Adipati baru.

"Sudah lama ibunda tidak melihat suasana Kotaraja Majapahit," berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada kedua putrinya yang berkenan untuk datang memenuhi undangan itu. "Kita bisa mampir terlebih dulu di Jabung, keluarga Jayakatwang akan merasa gembira bilamana kita datang sambil membawa seorang cucunya," berkata Gajahmada yang mengusulkan perjalanan lewat jalur laut.

Kicau burung hutan terdengar saling bersahutan mengisi udara pagi dan kegembiraan suasana penghuni padepokan keluarga Nyi Ajeng Nglirip yang terlihat telah siap berkemas untuk melaksanakan sebuah perjalanan panjang yang cukup jauh, ke Kotaraja Majapahit.

Nyi Ajeng Nglirip, Gajahmada, dan Andini terlihat masih menoleh sebentar melambaikan tangannya kepada para penghuni Padepokan yang masih berdiri di muka halaman mengantar keberangkatan mereka. Wajah Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat terlihat begitu ceria melangkah menyusuri sungai Nglirip yang bening dan deras membentur bebatuan menuruni perbukitan hijau.

Dua gadis itu terlihat sudah menjadi semakin matang dewasa seiring dengan tataran ilmu kanuragan mereka yang sudah berkembang dengan pesatnya lewat bimbingan Gajahmada dari hari ke hari selama mereka menetap di padepokan Nyi Ajeng Nglirip itu. Siapapun tidak akan menyangka, di balik kelembutan dan gemulai pembawaan mereka, tersimpan sebuah kekuatan tersembunyi yang mampu menghamburkan gunung batu cadas sekalipun.

Gemblengan Gajahmada dan Kanjeng Gusti Ratu Gayatri itu telah membuat kedua gadis itu seperti dua mutiara ratusan tahun yang berkilau keras dan amat kuat. Mereka berdua sudah dapat mengungkapkan kekuatan tenaga inti sejati dirinya sendiri, mampu melontarkan angin serangan yang dahsyat lewat terjangan angin pukulan mereka dan bergerak melesat begitu cepat dan ringan seperti seekor kijang berlari.

Tidak terasa, rombongan Nyi Ajeng Nglirip telah berjalan cukup jauh meninggalkan daerah air terjun Nglirip dan telah memasuki daerah padukuhan di sekitar Kadipaten Tuban. Gajahmada yang telah menjadi saksi suasana di saat Majapahit dan Tuban tengah berseteru, kini melihat suasana beberapa Padukuhan di sekitar Kadipaten Tuban amat sangat berbeda dari sebelumnya, nampak begitu aman dan tenteram, para warga padukuhan tidak lagi mencurigai orang asing yang datang dan pergi.

Ketika matahari sudah bergeser sedikit turun dari puncaknya, terlihat rombongan itu telah memasuki kota Kadipaten Tuban. Hari itu, meski bukan hari pasaran tidak menjadikan pasar kota Kadipaten menjadi sepi. Masih ada beberapa pedagang yang menggelar barang dagangannya, juga beberapa kedai makanan yang tetap buka.

"Mari kita singgah di kedai itu," berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil menunjuk ke arah sebuah kedai yang berada di tengah pasar. Namun langkah kaki rombongan itu terhenti manakala melihat sebuah kerumunan di seberang kedai yang mereka tuju itu.

"Sepertinya akan terjadi sebuah pertarungan," berkata Gajahmada sambil berhenti melangkah. "Dua orang bertarung untuk menebus hutang pati," berkata Nyi Ajeng Nglirip yang banyak mengenal beberapa adat dan istiadat beberapa daerah.

"Apakah mereka akan bertarung sampai mati?" bertanya Dyah Gajatri kepada ibundanya ketika melihat dua orang petarung telah dilingkari pinggangnya dengan sebuah tali yang terhubung satu dengan lainnya hanya berjarak sekitar lima langkah di antaranya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment