Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 82

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 82

"Aku percaya bahwa Ki Banyak Wedi masih mengingat cita-cita adiluhung Raja Erlangga yang menjadi cikal bakal tumpuan berdirinya Kerajaan Majapahit. Ki Banyak Wedi adalah salah satu ksatria penjaganya yang sangat setia," ujar Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

"Perkataanmu sungguh telah mengingatkanku pada sumpah suci yang pernah kuucapkan di hadapan Raja Anusapati bahwa aku akan terus setia kepada cita-cita leluhur para putra Raja Ken Arok. Kematian putraku telah mengaburkan sumpah suciku itu. Namun hari ini, aku seperti hidup kembali untuk menjalani amanat suci menjaga putra-putra Ken Arok," tutur Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh semangat di hadapan Gajahmada dan Supo Mandagri.

"Ayah angkatku, Mahesa Amping, dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengangkat Ranggalawe sebagai saudaranya. Atas dasar kasih persaudaraan itulah, Baginda Raja Sanggrama menganugerahi Ranggalawe sebagai seorang Adipati di Tanah Tuban," kata Gajahmada.

Ki Banyak Wedi terdiam. Pandangan matanya dialihkan jauh menembus batang, daun, dan ranting pepohonan, menembus pekatnya Hutan Randu Agung, hingga menembus kejernihan mata hatinya. Sementara itu, hari telah berada di ujung senja; pekik suara binatang hutan perlahan menghilang, senyap. Keheningan pekat malam telah menyelimuti Hutan Randu Agung, dan kepungan suara jangkrik seolah menambah suasana menjadi kian sunyi. Di kegelapan rumah pohon itu, Gajahmada dan Supo Mandagri mulai dapat membiasakan diri melihat dalam kelamnya malam Hutan Randu Agung.

"Kekuatan pasukan Ki Banyak Ara tidak berada di Lamajang, melainkan telah dipusatkan di sebuah hutan sekitar Kadipaten Blambangan," ungkap Ki Banyak Wedi menyampaikan rahasia kekuatan saudara kembarnya itu.

"Berapa besar kekuatan mereka saat ini?" tanya Gajahmada.

"Kabarnya saudaraku itu telah menghimpun sekitar enam ratus orang. Rencana pertamanya adalah melumpuhkan pasukan di Kadipaten Blambangan," jawab Ki Banyak Wedi.

"Nampaknya kami harus meminta bantuan pasukan Kadipaten Blambangan dan Kadipaten Lamajang. Prajurit Majapahit hanya ada sekitar tiga ratus orang yang saat ini terpecah di tiga tempat: Pasuruan, Blambangan, dan Banyuwangi," ujar Gajahmada menjelaskan kondisi pasukannya.

"Pasukan di Hutan Tarik memang sangat sedikit saat itu, namun mereka mampu membuat Kerajaan Kediri kewalahan," kata Ki Banyak Wedi seraya tersenyum di balik kepekatan malam.

"Maksud Ki Banyak Wedi?" tanya Gajahmada meminta penjelasan.

"Jumlah bukanlah satu-satunya kunci kemenangan. Membunuh seekor ular harus mencari di mana kepalanya," jawab Ki Banyak Wedi.

"Aku mulai mengerti. Apakah itu artinya kita tidak perlu menurunkan pasukan gabungan untuk menghantam mereka, melainkan cukup melumpuhkan Ki Banyak Ara di kediamannya di Kademangan Randu Agung?" tanya Gajahmada mencoba membaca jalan pikiran Ki Banyak Wedi.

"Kamu memang cukup cerdas. Itulah yang aku maksudkan," ujar Ki Banyak Wedi dengan hati gembira layaknya seorang bocah yang menemukan permainan baru.

"Aku melihat ada beberapa orang yang cukup mumpuni selain Ki Banyak Ara di kediamannya," kata Gajahmada.

"Di sana ada Ki Ajar Pelandongan, Ki Gagakpati, dan seorang pendeta Brahmana bernama Ki Jatiwangi. Orang terakhir itu harus kamu sikapi dengan hati-hati, karena tataran ilmunya berada dua atau tiga tingkat di atas Ki Banyak Ara," pesan Ki Banyak Wedi.

Keheningan pekat malam masih menyelimuti Hutan Randu Agung. Di antara suara panjang jangkrik, terkadang terdengar lolongan serigala jantan yang tersisih dari kawanan. Suara itu sempat menghentikan pembicaraan mereka beberapa kali.

"Berapa banyak penjaga di kediaman Ki Banyak Ara saat ini?" tanya Gajahmada setelah lolongan serigala reda.

"Ada sekitar dua puluh lima orang. Mereka adalah para bajak laut yang selalu bersama Ki Banyak Ara," jawab Ki Banyak Wedi.

Pembicaraan kembali terhenti manakala di bawah mereka terdengar auman dua atau tiga ekor harimau yang memperebutkan mangsa. "Sebentar lagi pasti ada suara 'Si Mbah Belang' yang akan mengusir mereka," ujar Ki Banyak Wedi yang sudah hafal dengan kehidupan malam di kedalaman hutan itu. Benar saja, tak lama berselang terdengar auman harimau yang jauh lebih keras memecah kesunyian. "Itulah suara Si Mbah Belang. Hari sudah jauh malam bagi harimau tua itu untuk mencari ganjalan perut," lanjutnya.

Mendengar hal itu, Supo Mandagri sadar bahwa hari sudah larut. Keduanya perlahan meluruskan badan, sementara Ki Banyak Wedi merebahkan punggungnya bersandar di batang pohon. Supo Mandagri yang sudah tidak merasakan perih lukanya segera tertidur nyenyak. Di keremangan malam, Gajahmada menatap Ki Banyak Wedi yang telah memejamkan mata.

"Kasihan orang tua ini," batin Gajahmada membayangkan kehidupan terhormat Ki Banyak Wedi yang kini tersingkir dan terdampar di tengah hutan tanpa ada yang melayani.

Sementara itu, suara burung hantu memecah suasana malam, menjauh di ujung sepi. Masih di pedalaman Hutan Randu Agung, warna malam dan udara dingin perlahan pudar berganti nuansa pagi. Matahari mulai menembus celah-celah daun, namun kehangatannya tidak mampu menembus tanah dan batang pohon yang lembap serta berjamur.

"Selamat jalan anak-anak muda. Aku tidak dapat membantu kalian sepenuhnya. Pada saatnya nanti, aku hanya akan menyingkirkan cucuku, Kuda Anjampiani, ke tempat yang jauh dari pertempuran kalian," ujar Ki Banyak Wedi melepas kepergian Gajahmada dan Supo Mandagri.

"Sampai bertemu lagi, Ki Banyak Wedi. Terima kasih atas semua keterangannya," jawab Gajahmada.

"Semoga Gusti Yang Maha Agung berkenan memberi umur panjang, sehingga aku masih dapat melihat Majapahit terus berkembang, gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah papan," ucap Ki Banyak Wedi sambil melambaikan tangan.

Pagi itu, Gajahmada dan Supo Mandagri berjalan menembus lebatnya Hutan Randu Agung. Hingga matahari menggantung di pertengahan langit cakrawala, mereka tiba di padang ilalang luas yang berbatasan dengan hutan.

"Kita berjalan melingkar menghindari Kademangan Randu Agung," kata Gajahmada. Ia khawatir mereka akan bertemu dengan orang-orang Ki Banyak Ara.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka memasuki jalan tanah yang keras. "Apakah kita akan ke Kadipaten Lamajang?" tanya Supo Mandagri.

"Kita memang akan singgah di kediaman Adipati Menak Koncar," jawab Gajahmada.

Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa pedagang yang membawa gerobak. Besok adalah hari pasaran di Lamajang, sehingga banyak pedagang datang dari tempat yang jauh untuk mengadu peruntungan. Matahari mulai merayap turun ketika mereka memasuki wilayah Kadipaten Lamajang. Hamparan persawahan terlihat sejauh mata memandang, berujung pada tiga deretan pegunungan membiru—tempat bersemayam para dewa: Tengger, Bromo, dan Semeru.

"Sewaktu kecil aku tidak seperti mereka," ujar Supo Mandagri sambil menunjuk dua anak lelaki yang membantu ibunya membersihkan rumput liar di sawah. "Seumur mereka, aku sibuk membantu ayahmu di perapian menempa besi," lanjutnya seraya melihat anak-anak lain berlarian di galengan sawah.

"Sebuah bumi yang damai," sahut Gajahmada ikut menikmati suasana hamparan sawah yang tampak seperti lautan hijau mengelilingi padukuhan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment