Chapter 157
Sangat sepi. Para pedagang dari Tanah Ujung Galuh belum ada keinginan untuk memasuki Kotaraja Majapahit.
"Beberapa kawanku yang bekerja sebagai buruh angkut bercerita bahwa banyak pedagang mengurungkan niatnya untuk singgah di bandar pelabuhan Ujung Galuh," ujar tukang rakit itu bercerita tentang suasana dan keadaan di bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.
"Anggap saja ini pengganti hari-hari sepimu," kata Gajah Mada kepada tukang rakit itu setelah memberikan bayaran penyeberangannya empat kali lipat dari biasanya.
"Terima kasih, senang berjumpa dengan Tuan," kata tukang rakit itu dengan penuh rasa gembira.
"Terima kasih pula telah mengantarku," kata Gajah Mada sambil melompat ke dermaga kayu.
"Tiga kali orang itu menyeberang, aku bisa libur sepekan ini," ucap tukang rakit itu dalam hati sambil menghitung keping yang diberikan oleh Gajah Mada kepadanya.
Sementara itu, Gajah Mada sudah jauh meninggalkan tepian Sungai Kalimas. Langkah kakinya terlihat menuju arah benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh.
"Kami di benteng ini tidak sabar menunggu kedatangan Tuan," kata seorang prajurit yang membukakan pintu gerbang untuk Gajah Mada.
"Terima kasih, semua berkat kesaksian Ki Lurah Sanakeling," kata Gajah Mada kepada prajurit itu yang ternyata adalah Ki Lurah Sanakeling.
"Aku akan mengantar Tuan ke tempat kerja Tumenggung Jala Yudha, karena Tuan adalah pimpinan kami," kata Ki Lurah Sanakeling kepada Gajah Mada.
"Pemimpin sementara," ujar Gajah Mada sambil tersenyum kepada Ki Lurah Sanakeling.
Demikianlah, Gajah Mada mengikuti Ki Lurah Sanakeling menuju tempat kerja Tumenggung Jala Yudha sehubungan dengan tugas yang akan diembannya untuk memimpin pasukan besar dalam menguasai kembali Kotaraja dan istana Majapahit dari tangan Ra Kuti.
"Terima kasih, Ki Lurah," kata Gajah Mada kepada Ki Lurah Sanakeling yang mengantarnya.
Kehadiran Gajah Mada ternyata langsung diketahui oleh para perwira tinggi di benteng itu yang memang tengah menunggunya. Tidak berselang lama, para perwira tinggi itu sudah berkumpul seluruhnya.
"Sejak hari ini, untuk sementara waktu pimpinan kuambil alih. Persiapkan pasukan yang berada dalam wewenang kalian masing-masing, karena besok malam kita sudah akan bergerak," kata Gajah Mada kepada para perwira tinggi itu.
Di hadapan para perwira tinggi itu, Gajah Mada dengan rinci menyampaikan langkah demi langkah yang harus mereka lakukan.
"Kita menunggu isyarat dari pasukan pembuka yang akan menjadi jembatan kita menuju gerbang istana," kata Gajah Mada kepada para perwira tinggi itu. "Pesanku, pastikan sejak hari ini tidak ada seorang pun prajurit keluar dari benteng ini. Pastikan bahwa rahasia rencana gerakan kita tidak bocor."
"Sejak hari ini, kupercayakan Ki Lurah Sanakeling sebagai petugas penghubungku. Perintahnya adalah perintahku," tambah Gajah Mada.
Diam-diam, para perwira tinggi itu mengakui sikap dan bahasa Gajah Mada yang sangat tegas dan berwibawa layaknya seorang pemimpin besar, meski usianya masih begitu muda.
"Beristirahatlah kalian hari ini agar pada saatnya kita dapat melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Kata sandi kita hari ini hingga menjelang malam nanti adalah: Sang Naga Gelisah Menunggu Bulan Hilang," pungkas Gajah Mada melepas para perwira tinggi itu kembali ke tempatnya masing-masing.
Setelah para perwira tinggi itu keluar ruangan, hanya ada Ki Lurah Sanakeling yang tetap menemani Gajah Mada.
"Sebelum tengah malam, kita sudah harus berada di seberang Sungai Kalimas. Kita perlu banyak rakit untuk dapat menyeberangkan para prajurit," kata Gajah Mada kepada Ki Lurah Sanakeling.
Ki Lurah Sanakeling sangat tanggap dengan keinginan Gajah Mada. "Aku akan menugaskan beberapa prajurit untuk menyiapkan sejumlah rakit yang kita butuhkan, tentunya tanpa menarik perhatian orang banyak."
"Senang bekerja sama denganmu," ungkap Gajah Mada dengan terbuka kepada Ki Lurah Sanakeling.
"Senang juga bekerja dengan orang muda seperti dirimu," jawab Ki Lurah Sanakeling sambil tersenyum.
Demikianlah, sejak hari itu pimpinan di benteng Tanah Ujung Galuh telah diambil alih oleh Gajah Mada dengan dukungan penuh para perwira tinggi kesatuan pasukan Jala Yudha. Sebuah pasukan yang biasanya dipercaya untuk mengamankan jalur perdagangan Majapahit dari para bajak laut kini dituntut untuk bertempur di daratan menghadapi pasukan Ikal-Ikalan Bang.
Hari itu, putra sangkala terlihat tengah menganyam jaring-jaring waktu. Konon, malam nanti akan banyak darah manusia yang menjadi sesaji tumbalnya. Pasukan gabungan yang terdiri atas prajurit Srikandi, telik sandi, dan Bhayangkara telah berhasil menyusup di beberapa padukuhan terdekat di sekitar Kotaraja Majapahit di bawah kendali Adityawarman. Adityawarman dipercaya memimpin pasukan pembuka yang akan menjadi jembatan bagi pasukan utama dari benteng Tanah Ujung Galuh, satu-satunya kesatuan pasukan Majapahit yang masih setia kepada Raja Jayanagara.
"Tidak ada masakan apa pun hari ini, wahai orang muda," kata Ki Bancak di kedainya saat menerima kedatangan seseorang.
"Sang Naga Gelisah Menanti Bulan Hilang," kata orang itu dengan wajah penuh senyum.
"Ternyata aku berhadapan dengan orang sendiri," balas Ki Bancak.
"Di belakangku ada sekitar sepuluh orang yang hendak bersembunyi di kedai ini," ujar orang itu menyampaikan maksudnya.
"Senang aku melayani kalian," jawab Ki Bancak sambil mempersilakan orang itu duduk. Tidak lama kemudian, kesepuluh orang itu memenuhi kedai Ki Bancak. Demi keamanan, Ki Bancak menutup rapat kedainya.
"Ternyata kamu salah satu dari mereka," kata Ki Bancak kepada salah seorang yang muncul, yang tidak lain adalah Adityawarman.
"Sengaja aku bergabung di kedai ini. Konon, nasi serundeng di kedai ini tersohor kelezatannya," ujar Adityawarman.
"Jangan khawatir, aku akan menyiapkan nasi serundeng untuk kalian," kata Ki Bancak dengan senyum.
Sebagaimana sepuluh orang di kedai Ki Bancak, ratusan prajurit lainnya telah menyusup diam-diam di beberapa rumah penduduk di sekitar Kotaraja Majapahit yang dapat menjamin kerahasiaan mereka. Para prajurit di bawah kendali Adityawarman itu menyusup layaknya pasukan senyap, menanti saat bulan sabit tua bersembunyi di langit malam.
Putra sangkala masih merajut jaring-jaring waktu, sementara malam masih jauh di ujung balik bumi—sebuah penantian yang sungguh menggelisahkan hati. Di ujung kegelisahan, putra sangkala telah menebar senja di langit Kotaraja Majapahit. Sepi senyap suasana di beberapa jalan utama karena warga memilih diam di rumah, berharap masa-masa yang tidak menentu itu segera berakhir.
Ra Kuti hanya mampu menguasai istana dan Kotaraja Majapahit, namun belum dapat merebut kepercayaan warga yang tetap yakin bahwa kerajaan adalah milik para putra dewata, pemilik wahyu keraton yang disucikan lewat darah keturunan Raja Erlangga dan keluarga Singasari. Warga tetap percaya bahwa Raja Jayanagara masih hidup dan akan kembali merebut singgasananya.
Menjelang tengah malam, warga Kotaraja Majapahit percaya bahwa utusan pasukan dewata telah hadir di tengah-tengah mereka, mendatangi rumah-rumah membawa kabar gembira.
"Kami datang membawa kesetiaan kepada Raja Jayanagara, padamkan pelita di rumahmu," seru seorang prajurit kepada warga.
Dengan penuh kerelaan, warga memadamkan pelita. "Raja Jayanagara yang kita tunggu akhirnya datang bersama laskar dewata untuk menguasai kembali istana," kata seorang lelaki kepada istrinya. Dengan padamnya pelita di semua rumah, seketika Kotaraja Majapahit menjadi seperti kota hantu yang gelap dan mencekam.
Di tengah malam yang gelap gulita, ratusan prajurit senyap telah menyebar ke tujuh puluh titik jalan utama Kotaraja Majapahit. Pasukan Ikal-Ikalan Bang yang berjaga tidak menyadari bahaya yang mengintai. Tanpa hambatan dan perlawanan berarti, para prajurit senyap itu berhasil melumpuhkan mereka dalam tempo singkat.
Cahaya kunang-kunang terlihat menerangi tujuh puluh titik di jalan utama Kotaraja Majapahit sebagai tanda keberhasilan.
"Mereka telah melaksanakan tugas dengan singkat," ujar Adityawarman kepada beberapa prajurit yang menyertainya saat melihat kunang-kunang itu menyala.