Chapter 61
"Hujan yang turun cukup deras seperti ini biasanya tidak begitu lama," ujar Mahesa Dharma kepada ayahnya sambil ikut memandang hujan yang masih turun cukup deras itu.
Sementara itu, pada pagi yang sama dalam cuaca yang cukup cerah di sebuah tempat yang berjarak sekitar setengah hari perjalanan dari Hutan Kemiri, terlihat sekumpulan prajurit tengah membongkar perkemahan darurat mereka. Nampaknya mereka akan melanjutkan perjalanan kembali setelah bermalam di tempat itu.
Sosok sang Patih dari Daha itu terlihat begitu gagah perkasa berdiri di atas kudanya. Janggutnya yang tebal dan terpelihara rapi menambah kewibawaannya. Terlihat Patih Mahesa Amping dan putranya telah bersiap di atas kuda masing-masing untuk melanjutkan perjalanan sebagai utusan Kerajaan Daha untuk menyaksikan wisuda Rajamuda Tumapel dan Rajamuda Kahuripan yang dilakukan secara bersamaan di Istana Majapahit.
Nampaknya sang Patih telah memilih bermalam di tempat itu dengan perhitungan agar tidak menarik perhatian banyak orang, dibandingkan jika mereka bermalam di sebuah kademangan. Sebagaimana diketahui, rombongan utusan kerajaan biasanya membawa banyak barang berharga sebagai upeti dan hadiah. Patih Mahesa Amping nampaknya ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.
"Kita sudah siap melanjutkan perjalanan, wahai Tuanku," ujar seorang pemimpin prajurit pengawal kepada Patih Mahesa Amping.
"Mari kita berangkat," jawab Patih Mahesa Amping kepada putranya sambil menghentakkan perut kudanya.
Terlihat rombongan pasukan berkuda mengiringi di belakang sang Patih yang sangat berwibawa di atas kudanya. Mereka berjalan perlahan di atas jalan yang keras, sebuah jalan tanah yang biasa digunakan oleh para pedagang untuk datang dan pergi ke Kotaraja Kediri. Dalam perjalanan, sang surya pagi mulai merangkak menerangi wajah-wajah para prajurit. Rombongan berkuda dari Daha itu terus berjalan menyusuri jalan yang mendatar panjang, meski terkadang terjal dan berliku.
"Seperti inilah kehidupan yang kita jalani, wahai putraku. Tidak selamanya kita berjalan di atas tanah datar; terkadang di depan mata kita terbentang jalan terjal yang penuh liku," kata Patih Mahesa penuh senyum kepada putranya, Adityawarman.
"Aku menikmati perjalanan ini, wahai Ayahku," sahut Adityawarman dengan wajah cerah ceria.
"Kamu benar, wahai putraku. Pahit, getir, asam, dan manis kehidupan adalah sebuah racikan kenikmatan yang harus kita resapi," kata Patih Mahesa Amping sambil menghirup napas panjang, menikmati harum daun hijau yang terbawa oleh embusan angin siang itu.
Demikianlah, Patih Mahesa Amping dan rombongannya terus berjalan dipayungi langit yang cerah, membelah padang dan perbukitan hijau. Hingga ketika cahaya matahari mulai menyengat kulit, Mahesa Amping memerintahkan rombongannya untuk beristirahat. Beberapa prajurit Daha yang mendengar perintah itu segera melompat dari kuda, mencari tempat teduh untuk bersandar dan mengeringkan peluh yang membasahi tubuh mereka.
"Kita berteduh di dekat bebatuan besar itu," ajak Mahesa Amping kepada putranya menuju sebuah batu besar yang dinaungi pohon rindang.
Desir angin berembus lembut menyapu wajah Patih Mahesa Amping yang telah bersandar di bebatuan bersama putranya. "Ketika Raja Jayakatwang masih berkuasa, ayahmu bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya pernah duduk di bebatuan ini sebagai dua orang pembegal sambil mengamati para pedagang yang lewat," tutur Patih Mahesa Amping kepada Adityawarman.
"Ayah bersama Baginda Raja pernah menjadi pembegal?" tanya Adityawarman tidak percaya.
"Tidak selamanya kita harus berperang berhadapan dengan pedang di tangan. Ayahmu terpaksa menjadi pembegal di berbagai tempat untuk membangun pencitraan bahwa Raja Jayakatwang tidak mampu mengamankan kerajaannya sendiri," jelas Patih Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Aku hanya pernah mendengar bahwa Ayah dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya memenangkan peperangan dengan gilang-gemilang. Baru hari ini kudengar cerita tentang perang sebagai seorang pembegal jalanan," ujar Adityawarman sambil tertawa, membayangkan ayahnya yang sangat dihormati itu ternyata pernah menjadi pembegal.
Patih Mahesa Amping hanya tersenyum memandang putranya. "Begitulah peperangan. Adakalanya kita memenangkan pertempuran, namun terkadang kita harus pulang membawa kegetiran hati menanggung kekalahan. Sementara yang paling menyakitkan dalam sebuah peperangan adalah manakala kawan-kawan dekat kita tidak dapat kita jumpai lagi di dunia ini, tewas di saat pertempuran. Pada saat itu, tidak ada obat apa pun untuk menyembuhkan kepiluan hati ini."
"Ternyata sebuah peperangan banyak menimbulkan kepedihan hati. Ternyata pula kemenangan gilang-gemilang Baginda Raja Sanggrama Wijaya berada di atas darah dan air mata para sahabat setianya," kata Adityawarman dengan wajah merenung, membayangkan sebuah pertempuran besar.
"Kamu benar, wahai putraku. Namun, peperangan bukan hanya dibanjiri darah dan air mata, melainkan juga penderitaan panjang manakala tidak ada lagi tempat berlindung karena hampir seluruh wilayah dikuasai musuh, sementara tidak ada seorang pun yang berani menampung kami karena dianggap pemberontak," ujar Patih Mahesa Amping, melukiskan penderitaan masa perjuangan menghadapi kekuasaan Raja Jayakatwang.
"Tidak ada yang berani menerima kalian?" tanya Adityawarman penuh perhatian.
"Tidak semuanya. Masih ada seorang mantan pembesar Singasari yang simpatik terhadap perjuangan kami untuk menghidupkan kembali kekuasaan Singasari di Jawadwipa. Dialah Adipati Sunginep yang diam-diam memberi kami naungan, menyumbang banyak kuda, serta membeli banyak budak untuk menjadi tambahan pasukan agar kami dapat kembali melawan kekuasaan Raja Jayakatwang," kenang Patih Mahesa Amping tentang kebaikan Adipati Sunginep.
Mendengar penuturan ayahnya, Adityawarman terdiam membisu. Ia membayangkan ayahnya yang saat ini bergelimang kehormatan ternyata memiliki kenangan pahit di masa perjuangan bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Kita sudah cukup beristirahat, mari kita lanjutkan perjalanan," ajak Patih Mahesa Amping.
Demikianlah, rombongan Patih Mahesa Amping kembali bergerak, sementara sang mentari terus bergeser ke arah barat. Wajah bumi mulai suram di penghujung senja; seekor elang jantan melintas dan menghilang di kerimbunan Hutan Kemiri.
"Kita bermalam di muka hutan ini," perintah Patih Mahesa Amping kepada pemimpin prajurit. Tak lama berselang, dua puluh prajurit Daha sibuk membangun perkemahan darurat.
"Berada di alam terbuka lebih baik daripada di antara kerimbunan hutan lebat karena kita dapat melihat musuh yang datang," jelas Patih Mahesa Amping kepada Adityawarman.
"Bukankah kita tidak sedang dalam suasana peperangan, Ayah?" tanya Adityawarman.
"Peperangan tidak akan pernah berakhir, wahai putraku," jawab Patih Mahesa Amping dengan wajah bijaksana.
"Peperangan tidak akan pernah berakhir?" ulang Adityawarman.
Mahesa Amping tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang sambil menatap wajah putranya yang telah dewasa namun belum sepenuhnya memahami asam garam kehidupan.
"Peperangan adalah dendam yang tidak akan pernah berkesudahan. Peperangan kita kemarin adalah buah dari peperangan orang terdahulu, sementara peperangan nanti adalah buah dari peperangan hari ini," tegas Patih Mahesa Amping.
"Di mana kita mendapat kedamaian dan ketenteraman hati bila merasa ada musuh di mana-mana?" tanya Adityawarman.
"Di dalam dirimu telah mengalir darah ksatria. Seorang ksatria terlahir dan hidup hanya untuk mengenal tajamnya ujung pedang, yang mengharuskan kita siap siaga setiap waktu menghadapi ancaman musuh, baik yang terlihat maupun yang bersembunyi di balik kegelapan malam," pungkas Patih Mahesa Amping, menasihati putranya agar tidak pernah lengah sedikit pun.