Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 119

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 119

"Kami telah melihat dua bahtera besar datang dari arah utara. Satu bahtera nampaknya akan merapat di Gadingrejo, sementara satunya lagi akan merapat di Bugulkidul," kata lelaki itu yang ternyata adalah salah seorang prajurit Panji Samara.

"Kami akan segera bergabung dengan kawan-kawan kami yang sejak senja tadi melaut," ujar Panji Samara dan Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

Terlihat Panji Samara dan Panji Wiranagari bersama beberapa prajuritnya segera menarik beberapa jukung yang telah lama mereka persiapkan ke arah pantai. Tidak lama berselang, jukung-jukung mereka telah meluncur di atas air laut di bawah keremangan langit malam. Sementara itu, Adipati Menak Koncar telah menemui pasukannya dan memerintahkan mereka untuk bergeser ke arah pantai Bugulkidul. Empu Nambi tampak ikut bersama pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar tersebut.

Di atas jukung yang sama, Panji Samara dan Panji Wiranagari mengayuh dayung mereka lebih cepat. Ternyata, mereka bersama beberapa jukung lainnya telah meluncur ke arah bahtera siluman mereka, sebuah perahu kayu cukup besar milik pedagang Madura yang biasa digunakan mengarungi lautan raya. Dengan sigap, Panji Wiranagari dan Panji Samara melompat ke perahu kayu tempat para prajuritnya menunggu.

"Angkat sauh dan matikan lentera!" perintah Panji Samara kepada para prajuritnya. "Kita mengikuti arah jukung Juwana," lanjutnya sambil menunjuk ke arah jukung di depan yang menjadi penunjuk jalan.

Maka, perahu kayu tanpa lentera itu bergerak, dikayuh oleh tiga puluh prajurit yang tampak sangat terlatih. Di belakangnya, mengiringi sekitar dua puluh jukung kecil yang masing-masing dimuati lima prajurit. Tak lama kemudian, Juwana memberikan pertanda dengan lenteranya bahwa sasaran mereka sudah terlihat dan terjangkau.

"Bersiaplah, kita akan merapat di bahtera itu," instruksi Panji Samara sambil menunjuk bahtera besar yang sedang menurunkan layar utamanya untuk bersandar. Di kegelapan malam, perahu kayu tanpa lentera itu meluncur bak hantu menuju bahtera Majapahit tersebut.

Brak!

Terdengar suara tabrakan dua perahu di tengah lautan. Dengan cekatan, Panji Samara dan Panji Wiranagari melompat ke dalam bahtera, diikuti oleh pasukannya. Sementara itu, dua puluh jukung lainnya merapat di sisi lambung bahtera yang lain dan segera naik ke atas dermaga kapal Majapahit itu. Seratus prajurit Majapahit di atas bahtera benar-benar tidak menduga akan adanya penyergapan secepat itu. Mereka menyangka ada bajak laut yang hendak merampok.

"Bajak laut! Bajak laut!" teriak para prajurit Majapahit saat serangan dadakan itu terjadi.

Pertempuran di atas bahtera besar itu pun berlangsung sengit. Denting senjata yang beradu dan suara gaduh langkah kaki di atas dermaga kayu terdengar riuh, bercampur dengan teriakan semangat yang bergelora.

Sementara itu, pasukan Adipati Menak Koncar telah sampai di pantai Bugulkidul, dermaga kecil tempat bersandar para nelayan. "Menyebarlah kalian!" perintah Adipati Menak Koncar. Tak lama berselang, pasukannya telah berada di posisi persembunyian masing-masing, menyatu dengan kegelapan malam.

"Lihatlah, bahtera besar itu sudah menurunkan layar mereka," kata Empu Nambi sambil menunjuk bahtera yang tengah bergerak merapat ke bibir pantai. Adipati Menak Koncar tampak menahan napas menunggu bahtera Majapahit itu bersandar. Begitu kapal bersentuhan dengan dermaga kayu, terdengar suitan panjang dari Adipati Menak Koncar—sebuah isyarat bagi pasukannya untuk menyalakan obor.

"Mereka telah menyambut kedatangan kita," ujar seorang prajurit Majapahit di atas bahtera saat melihat ribuan obor berjajar di kegelapan bibir pantai. Kecut dan gentar menyelimuti hati para prajurit Majapahit. Namun, sang senapati perang berteriak mengguntur, "Prajurit Majapahit adalah petarung sejati! Lepas pedang kalian dan turunlah ke daratan!"

Para prajurit Majapahit pun melompat turun ke dermaga dengan pedang terhunus. "Saatnya menjamu para tamu," kata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar. Suitan panjang kembali terdengar sebagai aba-aba. Prajurit Majapahit kembali gentar melihat ribuan obor di keremangan malam bergerak mendekat ke arah mereka. Cahaya ribuan obor itu tampak seperti mata ribuan hantu yang menggetarkan nyali.

"Hunus pedang kalian!" suara Adipati Menak Koncar menggelegar. Serentak, pasukannya melempar obor ke tanah dan menggantinya dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi, lalu berlari menerjang ke arah pantai.

Di sisi lain, pertempuran di atas bahtera besar Majapahit masih berlangsung seru. Seratus prajurit Majapahit bertempur sekuat raga dan jiwa meski kalah jumlah. Namun, pasukan Panji Samara dan Panji Wiranagari yang berpengalaman membuat prajurit Majapahit semakin terdesak. Satu demi satu prajurit Majapahit terlempar ke laut atau tertebas pedang. Denting senjata dan teriakan kemarahan mengisi suasana. Lambat laun, jumlah prajurit Majapahit menyusut tajam hingga tersisa sepuluh orang yang terkepung.

"Aku menyerah!" seru seorang prajurit Majapahit di bawah kepungan lawan.

"Lemparkan senjatamu!" bentak salah satu prajurit pihak Lamajang. Tanpa menunggu lama, prajurit Majapahit itu pun melepaskan senjatanya.

Sementara itu, di bibir pantai Bugulkidul, pasukan Adipati Menak Koncar telah menerjang pasukan Majapahit layaknya ribuan anak panah yang memporak-porandakan lawan. Pasukan Majapahit terdesak mundur ke arah bibir pantai. Semangat pasukan Lamajang tampak semakin membara karena dipimpin oleh dua sosok bersenjatakan cakra yang berdesing menyambar lawan. Dua sosok pemilik kesaktian tinggi yang sangat menggetarkan hati siapapun yang melihatnya itu adalah Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment