Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 199

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 199

"Raden Kudamerta telah melampaui wewenangnya sebagai anggota Batara Prabu," ujar Mahapatih Arya Tadah yang merasa tidak setuju dengan sikap Raden Kudamerta yang bertindak di luar jalurnya.

"Ada seribu prajurit Majapahit yang pekan ini akan berangkat di bawah pimpinan Senapati Kuda Jenar," lapor Tumenggung Adityawarman kepada Mahapatih Arya Tadah.

"Raden Kudamerta telah bertindak terlalu jauh," ucap Mahapatih Arya Tadah dengan nada tidak senang.

"Maaf, Paman Mahapatih. Bukankah tidak ada bedanya siapa pun prajurit yang ditugaskan ke sana?" tanya Tumenggung Adityawarman yang belum mengerti sikap Mahapatih Arya Tadah.

"Aku harus menjelaskan kepada Tumenggung Adityawarman apa yang sebenarnya terjadi di wilayah tak bertuan itu," batin Mahapatih Arya Tadah.

"Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di atas tanah tak bertuan itu," kata Mahapatih Arya Tadah kepada Adityawarman.

Maka dengan sangat hati-hati, Mahapatih Arya Tadah bercerita tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi di wilayah tak bertuan itu, mulai dari masa Raja Jayanagara hingga urusan Patih Gajah Mada dengan seseorang bernama Ki Sadeng.

"Itulah rahasia besar yang kami jaga selama ini," ujar Mahapatih Arya Tadah mengakhiri ceritanya.

"Kasihan saudaraku Patih Gajah Mada yang harus memikul beban rahasia besar ini seorang diri," sahut Tumenggung Adityawarman.

"Sekarang ada aku dan kamu yang ikut memikul beban itu bersamanya," balas Mahapatih Arya Tadah dengan senyum tulus.

"Pamanda benar. Setelah mendengar kisah di balik semua ini, aku akan berada di belakang saudaraku, Patih Gajah Mada. Tunjukkan kepadaku apa yang harus aku lakukan, wahai Pamanda?" tanya Tumenggung Adityawarman.

"Gembira hatiku karena kau telah melihat benang merah dari peristiwa besar ini. Bawalah seribu pasukan Majapahit sebagai penyeimbang pasukan Kuda Jenar di tanah tak bertuan itu. Biarlah urusan Ki Sadeng menjadi urusan pribadi antara Patih Gajah Mada dan Ki Sadeng, yang kuyakini dapat dituntaskan oleh anak muda itu sendiri."

Dalam pertemuan itu, Mahapatih Arya Tadah juga menyampaikan beberapa hal penting untuk menyelesaikan permasalahan yang mungkin muncul di wilayah tak bertuan tersebut.

"Biarkan pasukan Kuda Jenar mendahului pasukanmu. Kamu dapat membawa pasukanmu sehari setelah keberangkatan mereka melalui jalur laut," perintah Mahapatih Arya Tadah dalam menyusun siasat.

"Aku sudah rapuh dimakan usia; kini hanya mampu memberikan saran dan pikiran," tambah Mahapatih Arya Tadah.

"Saran dan pikiran Paman Mahapatih adalah pedang tajam yang dapat meratakan belantara hutan bagi kami orang muda," balas Tumenggung Adityawarman penuh hormat.

"Aku merasa gembira di hari tua ini masih dapat melihat para ksatria penjaga Majapahit yang tumbuh berkembang dalam darahmu. Ternyata Empu Nambi benar, akan selalu lahir ksatria penjaga Majapahit; mati satu tumbuh seribu," ucap Mahapatih Arya Tadah dengan wajah bangga.

"Kalian para orang tua telah mendidik kami untuk setia menjaga bumi ini," sahut Tumenggung Adityawarman.

Demikianlah mereka menghabiskan waktu hingga jauh malam untuk menyusun berbagai siasat atas kemungkinan yang bisa terjadi di wilayah tak bertuan itu. Kedekatan antara Tumenggung Adityawarman dan Mahapatih Arya Tadah, yang pernah bertugas bersama dalam satuan khusus telik sandi, membuat pikiran mereka mudah sejalan dalam memecahkan masalah.

Sepekan berlalu. Malam itu, purnama terlihat terbelah di ujung ranting cemara yang tumbuh tinggi di sudut istana Majapahit. Awan hitam menutupi langit istana yang megah, yang menghadap ke arah Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh—pelabuhan besar yang selalu ramai dipenuhi pedagang dari berbagai penjuru dunia.

Di kegelapan malam itu, lima perahu dagang merenggang menjauhi dermaga kayu Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh. Tak seorang pun mengetahui bahwa di dalam empat perahu besar itu terdapat seribu prajurit Majapahit yang berlayar menuju Bandar Pelabuhan Banyuwangi. Dua hari dua malam keempat perahu itu terapung menyusuri tepian pantai Jawadwipa, hingga akhirnya tiba saat matahari tenggelam di ufuk barat.

Seribu prajurit memenuhi dermaga Bandar Pelabuhan Banyuwangi. "Mereka pasti prajurit Majapahit yang ditugaskan untuk membersihkan perampok yang menguasai wilayah tak bertuan itu," ujar seorang pedagang. Semua mata memandang gerak seribu prajurit Majapahit yang langsung berjalan ke arah timur Banyuwangi dan menghilang di kegelapan malam.

Di bawah cahaya rembulan, mereka terus berjalan hingga mencapai batas terakhir Kadipaten Blambangan sebelah barat, di sebuah pinggir hutan yang terbuka. "Kita bermalam di tempat ini," perintah Tumenggung Adityawarman. Prajurit pun membangun perkemahan darurat dan menyiapkan perapian.

"Besok kita harus menjalin hubungan dengan kawanan Duta Mangkara," kata Adityawarman kepada bawahan kepercayaannya.

"Hutan tempat mereka begitu luas, bagaimana kita bisa menemukan mereka?" tanya bawahannya.

"Ada banyak cara untuk memancing kawanan perampok keluar dari sarang mereka," jawab Tumenggung Adityawarman dengan senyum.

"Di kepala Tuan Tumenggung pasti telah tersimpan banyak cara sebelum turun ke medan ini," sahut perwira itu.

"Siapkan sebuah pedati," perintah Adityawarman.

Rembulan malam tampak sendu menatap awan tipis yang gelisah ditiup bayu. Sang pagi pun datang menjenguk tepian hutan di wilayah Kadipaten Blambangan. Terlihat sebuah pedati merayapi jalan tanah berbatu, diiringi tujuh orang lelaki. Seorang juragan duduk bersama kusir mengendalikan sapi yang menarik pedati tersebut. Meski barang bawaan tertutup jerami, keberadaan tujuh pengiring menandakan bahwa barang itu sangat berharga.

Pedati itu semakin masuk ke dalam wilayah tak bertuan, tempat yang sangat ditakuti para pedagang. Suara burung kepodang bersahutan, sementara tiga ekor bajing berlarian di antara dahan pohon. Udara pagi begitu segar dan sejuk karena hembusan angin dari lembah Gunung Raung.

"Berhenti!" bentak sebuah suara.

Dering kalung sapi berguncang dan pedati itu pun terhenti. Tujuh pengiring sigap mencabut pedang saat sekitar dua puluh orang berambut terurai menutup jalan mereka.

"Tinggalkan pedati kalian di sini, silakan lanjutkan perjalanan," ujar seorang lelaki tegap dengan sorot mata tajam, pertanda memiliki tenaga inti yang tinggi.

"Sarungkan senjata kalian. Bukankah mereka belum menarik senjata?" perintah juragan di atas pedati kepada pengiringnya. Para pengiring pun mematuhi perintah tersebut.

Juragan muda itu turun dari pedati dan menghampiri pimpinan para pembegal. "Apakah kalian tidak mengenal wajahku? Aku sudah membayar penuh di muka untuk perjalananku di wilayah ini," ucap juragan muda itu sambil menunjuk wajahnya sendiri.

"Aku tidak mengenal dirimu," jawab lelaki itu dengan dingin.

Suara dingin itu membuat juragan muda tersebut terdiam. Ia mengamati sosok lelaki tinggi tegap berotot di depannya, seorang yang tampak terlatih dan memiliki keyakinan tinggi atas kemampuan ilmunya.

"Apakah kamu orangnya Duta Mangkara?" tanya juragan muda itu dengan sikap orang kaya yang merasa bisa membeli segalanya.

Orang itu tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment