Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 115

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 115

"Nampaknya ada berita yang sangat penting sehingga kalian harus membuang malam dalam perjalanan ini," ujar Empu Nambi yang tidak dapat lagi menyembunyikan perasaannya.

Wajah ketiganya berubah menjadi kaku dan tegang.

"Kakang Tumenggung Mahesa Semu mungkin dapat menyampaikannya lebih jelas lagi," kata Gajah Mada sambil memalingkan wajah ke arah Tumenggung Mahesa Semu.

Tumenggung Mahesa Semu menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba mengurangi ketegangan di hatinya. "Kami datang bertiga bukan atas perintah siapa pun, tetapi demi kecintaan kami kepada Empu Nambi yang telah kami anggap sebagai orang tua sendiri," ucapnya memulai pembicaraan.

Mendengar perkataan itu, Adipati Menak Koncar langsung menoleh ke arah Empu Nambi, merasa ada hal penting yang berkaitan dengan ayahandanya.

"Istana Majapahit tengah tertutup awan hitam. Raja Jayanagara nampaknya sudah terperosok dalam lubang jebakan yang dalam, terperangkap dalam genggaman tangan gurita penghasutnya, hingga lebih mempercayai orang lain ketimbang kami bertiga," lanjut Tumenggung Mahesa Semu seraya berhenti sejenak untuk memandang Empu Nambi.

"Apa yang terjadi di Istana Majapahit sepeninggalku?" tanya Empu Nambi yang mulai tidak dapat menahan keingintahuannya.

"Tersiar berita bahwa Empu Nambi telah membunuh empat puluh prajurit Majapahit," ujar Tumenggung Mahesa Semu dengan tatapan tetap tertuju pada Empu Nambi. "Inilah yang membawa kami ke Tanah Lamajang; kami ingin meminta penjelasan dari Empu Nambi sendiri mengenai apa yang sebenarnya terjadi atas keempat puluh prajurit itu."

"Aku sudah menduga bahwa keempat puluh prajurit itu adalah umpan jebakan mereka," jawab Empu Nambi, lalu menceritakan dari awal perjalanannya hingga bertemu dengan para prajurit yang menghadangnya.

"Kami bertiga tidak meragukan sedikit pun keterangan Empu Nambi. Sebagaimana telah kami sampaikan kepada Raja Jayanagara, Empu Nambi tidak mungkin melakukan hal buruk itu," tegas Tumenggung Mahesa Semu. "Namun, Baginda tetap bersikeras untuk membawa dan mengadili Empu Nambi di Kotaraja Majapahit."

"Patih Mahesa Amping, Baginda Raja Sanggrama Wijaya, dan sekarang akulah yang ingin mereka singkirkan dari istana. Sementara Raja Jayanagara masih terlalu muda untuk membedakan kawan dan lawan, emas dan tembaga. Mungkin inilah saatnya aku mengingatkannya dengan senjataku sendiri agar mata hatinya terbuka," kata Empu Nambi.

"Kami bertiga pun tidak akan merelakan Empu Nambi menyerahkan diri masuk ke dalam jeratan mereka," sahut Tumenggung Mahesa Semu.

"Aku akan berdiri di samping ayahku, meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara," ujar Adipati Menak Koncar.

"Aku, Gajah Mada, akan berada bersama Empu Nambi," kata Gajah Mada sambil membusungkan dada.

"Aku, Adityawarman, akan berada bersama Empu Nambi," timpal Adityawarman.

"Aku, Mahesa Semu, juga berdiri bersama Empu Nambi," kata Tumenggung Mahesa Semu.

"Tumenggung Mahesa Semu, Angger Gajah Mada, dan Adityawarman, tempat kalian adalah di Istana Majapahit. Siapa lagi yang dapat kupercaya menjaga kerajaan ini selain kalian bertiga? Bila aku mengangkat senjata, bukanlah untuk memerangi Kerajaan Majapahit, melainkan memerangi kebusukan di dalamnya. Aku mengangkat senjata untuk mempertahankan diriku dan mencari keadilan. Kembalilah ke istana; keberadaan kalian di sana membuat hatiku tentram karena masih ada ksatria yang dapat dipercaya. Firasatku mengatakan aku bukan tumbal terakhir yang mereka butuhkan. Jika kalian berdiri bersamaku, mereka justru akan senang karena duri-duri yang menghalangi hasrat mereka untuk menguasai takhta Majapahit telah tersapu bersih," ujar Empu Nambi.

Suasana di pendapa istana Kadipaten Lamajang seketika hening. Semua orang terperangkap dalam bisu dan pikiran masing-masing.

"Kembalilah selagi tidak ada yang mengetahui keberpihakan kalian kepadaku. Mereka pasti akan membuat rencana yang lebih besar lagi. Bukalah mata kalian untuk mencari tahu siapa yang telah menebar badai di sekitar bahtera Majapahit. Himpunlah kekuatan baru yang bersih agar kalian mampu mengusir sang badai dan menyelamatkan takhta Majapahit," pesan Empu Nambi.

"Kami akan menjaga amanat dan pesan Patih Amangkubumi. Kami harus berpikir jernih tanpa mengandalkan perasaan semata. Kami akan selalu menjaga dan mencintai bumi Majapahit sebagaimana Empu Nambi pernah menjaganya. Izinkan kami berangkat malam ini juga kembali ke Kotaraja Majapahit," kata Tumenggung Mahesa Semu mewakili Gajah Mada dan Adityawarman.

"Terima kasih atas kesadaran kalian. Kesetiaan kalian tidak kusangsikan lagi. Kejernihan pikiran adalah sifat ksatria utama di medan pertempuran. Kurestui kalian berangkat malam ini. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu melimpahkan keselamatan kepada kita semua," ucap Empu Nambi.

Semua yang berada di pendapa berdiri dan saling berpelukan, sebuah perpisahan yang memilukan. Angin malam berdesir, pelita pendapa yang remang-remang mengiringi tiga ksatria yang menuruni anak tangga dan menghilang ke dalam kegelapan.

Hari ketiga belas setelah upacara pengabuan Ki Banyak Wedi, tepat sehari setelah upacara Makelud di Kademangan Randu Agung, Empu Nambi dan putranya, Adipati Menak Koncar, sedang duduk di pendapa agung ditemani seorang perwira tinggi yang memimpin rombongan dari Kotaraja Majapahit.

"Ampun, Tuanku Adipati. Ada tamu dari Kotaraja Majapahit ingin bertemu dengan Ki Patih Amangkubumi," lapor seorang prajurit pengawal.

"Apakah tamu itu menyebutkan jati dirinya?" tanya Adipati Menak Koncar.

"Tamu itu bernama Rangga Umbara," jawab prajurit itu.

"Antarkan tamu itu ke sini," perintah Adipati Menak Koncar. Tak lama kemudian, prajurit itu kembali bersama Rangga Umbara, perwira tinggi yang sudah dikenal oleh Empu Nambi.

"Nampaknya ada masalah yang sangat penting dari istana sehingga harus mengutus seorang Rangga Umbara," ujar Empu Nambi kepada tamunya.

"Dalam perjalanan dari Kotaraja Majapahit hingga ke Tanah Lamajang, kepalaku dipenuhi kebimbangan. Begitu berat tugas yang diemban ini," kata Rangga Umbara dengan suara penuh keraguan.

"Katakanlah, Rangga Umbara. Aku mengenalmu sejak lama sebagai prajurit yang paling tangkas dan berani, saat kita bersama-sama berendam setengah hari penuh di Sungai Kalimas untuk menyergap perahu perang pasukan Mongol," ujar Empu Nambi mengingatkan masa lalu mereka.

"Aku mengenal Ki Patih Amangkubumi dengan sangat baik. Aku tahu bagaimana cinta kasih dan pembelaan Ki Patih kepada kami, para prajurit Majapahit, baik di masa sulit maupun saat menang," kata Rangga Umbara yang masih tampak berat mengutarakan maksudnya.

"Katakanlah, meski mungkin pahit untuk diriku," pinta Empu Nambi dengan senyum kebapakan.

Rangga Umbara menarik napas panjang. "Jika ada tugas berat seperti memenggal kepala seekor naga terbang, aku pasti melakukannya. Namun, hari ini tugas yang diberikan kepadaku jauh lebih berat. Aku ditugaskan membawa Ki Patih Amangkubumi kembali ke Kotaraja Majapahit, baik secara sukarela maupun paksa, dalam keadaan hidup atau mati," ucap Rangga Umbara sambil menundukkan kepala.

Melihat hal itu, Empu Nambi merasa kasihan. "Rangga Umbara, tegakkan kepalamu. Jangan kecewakan aku karena telah mendidikmu sebagai seorang prajurit," tegas Empu Nambi.

Perlahan, Rangga Umbara menegakkan kepala.

"Laksanakan tugasmu sebagai seorang prajurit. Pertanyaanku, dengan cara apa kamu akan membawaku kembali?"

"Aku membawa tiga ribu prajurit Majapahit yang saat ini sudah berada di perbatasan Kadipaten Lamajang," jawab Rangga Umbara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment