Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 113

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 113

Mendengar teriakan perintah dari pemimpinnya, para pengikutnya segera melepas pedang panjang mereka dan menerjang rombongan Patih Amangkubumi. Namun, para prajurit yang mengawal Patih Amangkubumi adalah prajurit pilihan yang berpengalaman. Mereka segera bersiaga menghadapi serangan kelompok yang mengaku sebagai prajurit Majapahit tersebut.

Dalam waktu singkat, pertempuran pecah. Kedua kelompok yang sama-sama mengenakan tanda keprajuritan Majapahit itu melebur dalam gelora pertempuran yang sengit. Suara denting pedang yang beradu, bentakan, dan sumpah serapah bergemuruh, menciptakan suasana peperangan yang menegangkan di jalan tanah di antara dua perbukitan.

Nasib nahas menimpa para prajurit penghadang yang mencoba menyerang seorang pria tua berjanggut putih yang tidak memegang senjata apa pun. Entah dengan cara apa, setiap orang yang mendekatinya akan terlempar hingga pingsan. Pria tua itu hanya berdiri di tempatnya; dua atau tiga penyerang langsung terjungkal setelah terkena sambaran tangan dan kaki yang bergerak seadanya.

Para prajurit penghadang itu tampaknya tidak mengetahui bahwa pria tua tersebut adalah Empu Nambi. Sebelum menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit, ia adalah guru suci sekaligus pemimpin tertinggi aliran Teratai Putih yang berpengaruh besar, dengan padepokan yang tersebar hampir di seluruh Jawadwipa dan Balidwipa. Jika saja Empu Nambi menghendaki, satu sapuan tenaga saktinya mampu merobohkan seluruh prajurit itu. Namun, ia hanya melumpuhkan lawan yang menyerangnya, tetap berdiri di tempatnya sambil menggerakkan tangan dan kaki seadanya hingga lawan-lawannya terpental tidak berdaya.

Meski menghadapi beberapa prajurit yang belum jera, Empu Nambi tetap mampu mengamati seluruh jalannya pertempuran. Ia melihat prajurit rombongannya masih mampu mengimbangi serangan lawan yang jumlahnya dua kali lipat. Berulang kali, pihak lawan terlempar terkena sambaran tangan Empu Nambi yang telah dilambari tenaga sakti dan daya gerak tingkat tinggi. Tak seorang pun lawannya dapat mengelak, meski hanya terkena angin sambarannya saja.

Melihat kesaktian Empu Nambi, para prajurit penghadang mulai berpikir untuk menghindar dan mencari lawan lain. Senyum tipis terukir di bibir Empu Nambi. Melihat hal tersebut, ia mulai bergerak masuk ke tengah pertempuran yang berkecamuk. Kehadirannya membuat lawan keder; ke mana pun tubuhnya bergerak, selalu ada jeritan dan prajurit yang terlempar. Akibatnya, dalam waktu singkat, jumlah pasukan lawan menyusut drastis.

"Selamatkan diri kalian!" teriak pemimpin mereka yang bersuara berat, memerintahkan untuk segera mundur.

"Jangan kejar mereka," ucap Empu Nambi kepada prajuritnya yang hendak mengejar. Mendengar perintah itu, para prajurit pun segera menghentikan langkah.

Empu Nambi menarik napas dalam-dalam saat melihat tidak ada satu pun prajurit rombongannya yang terluka. Ketika melihat beberapa prajurit lawan yang merintih menahan sakit, ia mendatangi mereka dan dengan penuh kasih menurunkan tangannya untuk mengobati. "Sempurnakanlah jasad mereka," perintahnya kepada para prajurit untuk menguburkan mereka yang tewas dalam pertempuran tersebut. Semua prajurit bekerja sepenuh hati untuk menyempurnakan jasad para lawan mereka.

"Mari kita melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sini ada sebuah Kademangan tempat kita bisa menitipkan para tawanan," kata Empu Nambi kepada perwiranya.

Hari belum beranjak senja ketika rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Lamajang dengan membawa para tawanan. Sepanjang jalan, Patih Amangkubumi terus berpikir keras, merunut kejadian yang dialaminya hari ini dengan peristiwa sebelumnya, seperti percobaan pembunuhan terhadap sahabatnya, Patih Mahesa Amping, di hutan Kemiri dan kasus racun hati celeng bunting.

"Nampaknya sekarang akulah yang akan menjadi sasaran mereka," batin Empu Nambi setelah menemukan benang merah dari berbagai peristiwa tersebut. "Istana Majapahit telah dibayangi tangan-tangan hitam di luar pengetahuan Raja Jayanagara."

Saat hari di ujung senja, rombongan tiba di Kademangan Japan. Ki Demang menerima mereka dengan tergopoh-gopoh dan menyiapkan kediamannya serta rumah tetangga untuk tempat beristirahat. Atas permintaan Empu Nambi, para tawanan ditempatkan di lumbung desa dengan penjagaan yang sangat ketat.

"Aku menitipkan para tawanan di Kademangan Japan ini. Pada saatnya, akan kami bawa ke Kotaraja Majapahit," ujar Empu Nambi.

Sementara itu, di sebuah hutan, dua lelaki baru saja menghabisi nyawa sepuluh orang prajurit yang memakai tanda keprajuritan Majapahit, termasuk pemimpin mereka yang bersuara berat.

"Kita harus membunuh sisa dari mereka yang telah menjadi tawanan Empu Nambi," ujar salah seorang lelaki sambil menyarungkan trisula kembar di pinggangnya. Lelaki itu adalah Dang Acarca Empu Dyah Halayuda, seorang pendeta yang diangkat Raja Jayanagara sebagai anggota Dharmayaksa, sedangkan rekannya adalah Ra Kuti.

Ternyata, sehari sebelum keberangkatan Empu Nambi, keduanya telah menyiapkan empat puluh orang untuk menghadang. Mereka telah lama menggalang kekuatan prajurit baru di tempat rahasia yang tidak diketahui Raja Jayanagara. Kekalahan empat puluh orang itu memang sudah diperhitungkan; mereka hanyalah umpan hidup dalam rencana panjang yang disusun rapi penuh selubung hitam.

Malam itu, keduanya berada di sekitar Kademangan Japan. Mereka adalah orang berilmu tinggi yang dengan mudah menyelinap mendekati lumbung desa yang dijaga sepuluh prajurit pengawal.

"Pasir besiku akan melumpuhkan mereka," bisik Empu Dyah Halayuda. Ra Kuti bergidik melihat kelihaian rekannya itu. Dengan ayunan tangan yang cepat, pasir besi meluncur seperti ribuan jarum terbang. Dalam sekejap, sepuluh pengawal lumbung tergeletak tanpa suara.

Keduanya dengan tenang naik ke atas lumbung. "Kami yakin Tuan-tuan akan datang menyelamatkan kami," ujar salah satu tawanan. Namun, baru saja bicara, tawanan itu terbungkam selamanya terkena sabetan trisula Empu Dyah Halayuda. Dua belas tawanan yang terkurung terbelalak ngeri; harapan mereka untuk bebas buyar seketika.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment