Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 86

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 86

Oncor yang diletakkan di luar samping regol pintu gerbang terlihat menyapu wajah orang tua itu, menambah keyakinan prajurit tersebut bahwa orang tua itu tidak akan membuatnya kesusahan. Apalagi mereka saat itu berlima. Di dalam hati para prajurit pengawal Kademangan itu timbul rasa penasaran; ada apa gerangan orang itu datang di saat malam yang sudah sangat larut.

"Bukalah pintunya, kita tanyakan apa keperluannya datang di malam larut ini," kata salah seorang prajurit kepada kawannya.

Terlihat seorang prajurit pengawal Kademangan dengan sebelah tangan memegang obor telah menuruni anak tangga panggungan dan langsung berjalan ke arah pintu untuk membuka palang pintu. Setelah membukakan palang, prajurit itu membuka pintu gerbang dan menerangi wajah pekatik tua itu dengan obor di tangannya.

"Jenggala?" tanya prajurit itu yang tampaknya sudah mengenal nama orang tua tersebut.

"Syukurlah, masih ada prajurit tua seumurmu di Kademangan ini," jawab pekatik tua yang dipanggil Jenggala oleh prajurit yang ternyata wajahnya terlihat seumuran dengannya.

"Masuklah, kita bicara di dalam," ujar prajurit itu meminta Jenggala segera masuk.

Ketika prajurit itu tengah menutup kembali palang pintu gerbang, empat orang kawannya telah menuruni anak tangga panggungan.

"Ini kawanku, Jenggala. Dulu prajurit pengawal Kademangan seperti kita, tapi sekarang bertugas sebagai pekatik di Kadipaten Lumajang," kata prajurit tua itu memperkenalkan Jenggala kepada empat kawannya yang masih muda.

"Aku haus," ujar Jenggala yang langsung melangkah mendekati sebuah gentong air minum yang terletak di bawah panggungan, seolah sudah sangat hafal dan mengenal suasana di Kademangan Randu Agung. Kelima prajurit pengawal Kademangan hanya berdiri memandang Jenggala meneguk air minum dari gayung batok kelapa, membiarkan dahaganya terpuaskan.

"Berceritalah, Jenggala. Pasti ada urusan sangat penting sehingga kamu harus datang kemari malam ini tanpa dapat menundanya," kata prajurit tua itu kepada Jenggala di atas sebuah bale bambu panjang di bawah panggungan.

"Memang tidak bisa ditunda hingga pagi, sangat penting dan genting sekali," sahut Jenggala, lalu mulai menyampaikan hal yang harus segera diketahui oleh Ki Demang Randu Agung, yang didengar oleh kelima prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu dengan penuh perhatian.

"Akan ada penyerangan di rumah kediaman Ki Randu Alam?" tanya prajurit tua itu setelah mendengar penuturan Jenggala, tampak terkejut tidak percaya.

"Jumbala, kita adalah laskar pasukan Sunginep yang telah bersumpah setia kepada junjungan kita. Bangunkan Ki Demang dan katakan apa yang kamu dengar ini kepadanya," perintah Jenggala kepada prajurit tua yang dipanggilnya Jumbala itu.

"Aku akan membangunkan Ki Demang," kata Jumbala yang langsung berlari kecil meninggalkan Jenggala dan keempat kawannya menuju pintu butulan untuk membangunkan Ki Demang melalui pintu samping.

Tampaknya tidak susah membangunkan Ki Demang Randu Agung.

"Ada apa, Jumbala?" tanya Ki Demang Randu Agung setelah membukakan pintu serambinya.

Maka langsung saja Jumbala bercerita sebagaimana yang disampaikan Jenggala kepadanya.

"Bangunkan Ki Jagabaya dan semua sesepuh Kademangan Randu Agung untuk datang ke rumahku malam ini juga," perintah Ki Demang.

Demikianlah, terlihat Ki Demang Randu Agung telah menutup kembali pintu serambinya, sementara Jumbala berlari kecil keluar dari pintu butulan.

Sementara itu, tidak begitu jauh dari Kademangan Randu Agung, di ujung kegelapan malam terlihat sebuah pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar telah memasuki kelebatan hutan Mandeg yang berhadapan dengan hutan Randu Agung.

"Masih ada banyak waktu beristirahat di hutan ini," kata Mahesa Semu yang telah bergabung dalam pasukan itu kepada Gajahmada.

"Benar, pasukan ini akan bergerak kembali menjelang malam nanti," jawab Gajahmada.

"Perjalanan yang melelahkan," gumam Mahesa Semu sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar. Sebagaimana Mahesa Semu, terlihat Gajahmada juga tengah bersandar di sebuah batu besar di dekatnya. Tidak jauh dari mereka, terlihat Putu Risang dan Adipati Menak Koncar berjalan mendekat, sepertinya ingin bergabung.

"Pagi yang indah," sapa Putu Risang saat telah berada bersama Mahesa Semu dan Gajahmada.

Sebagaimana yang dikatakan Putu Risang, saat itu hari memang telah berganti pagi, ditandai dengan suara burung berkicau memecahkan sepi, sesekali terdengar pekik monyet-monyet kecil bergelantungan di ujung-ujung ranting hutan Mandeg.

"Aku telah menugaskan beberapa orang prajurit untuk mengamati situasi di sekitar Kademangan Randu Agung," kata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Mahesa Semu, dan Gajahmada.

Sementara itu, suasana di rumah Ki Demang Randu Agung telah dipenuhi oleh para sesepuh yang sengaja dipanggil sehubungan dengan berita akan adanya pasukan dari Kadipaten Lamajang yang hendak menyerang rumah kediaman Ki Randu Alam.

"Jenggala, ceritakan kepada mereka apa yang kamu ketahui," kata Ki Demang Randu Agung kepada Jenggala yang ikut duduk bergabung di atas pendapa bersama para sesepuh.

"Adipati Menak Koncar tadi malam telah menggerakkan pasukannya untuk menyerang Ki Randu Alam, keluarga, dan seluruh orang yang bersamanya. Mungkin pagi ini mereka telah tiba di hutan Mandeg," tutur Jenggala.

"Separuh lebih warga Kademangan Randu Agung ini pernah berhutang budi dengan Ki Randu Alam, sebagaimana aku dan Jenggala. Haruskah kita berdiam diri tak berbuat apa pun di saat mantan junjungan kita menghadapi mara bahaya?" tanya Ki Demang Randu Agung kepada para sesepuh yang hadir.

Suasana pendapa menjadi sunyi mencekam, para sesepuh diam, tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tatapan mata Ki Demang Randu Agung berkeliling, menyidik satu per satu para sesepuh yang masih diam membisu.

"Hari ini kita harus segera bergerak, berdiri bahu-membahu di belakang Ki Randu Alam," kata Ki Demang mencoba mengangkat kesadaran mereka.

Namun, semua orang yang ada di atas pendapa itu masih terdiam.

"Ki Demang Randu Agung, seandainya seluruh warga penduduk ini tidak ada yang ingin membela Ki Randu Alam, maka aku tetap tidak bergeming sedikit pun untuk berdiri di belakangnya, menghadapi hujan panah dan lembing sekalipun," kata Ki Jenggala yang tiba-tiba merasa marah melihat kebisuan para sesepuh tersebut.

"Ki Jenggala, sebagaimana dirimu, aku akan mengajak semua keluargaku bahu-membahu berdiri di belakang Ki Randu Alam," sahut salah seorang yang duduk berseberangan dengan Ki Jenggala.

"Aku berada di belakang Ki Randu Alam," seru dua orang lainnya sambil mengangkat tangan.

"Angkat tangan kalian yang telah memilih jalan sebagaimana Ki Jenggala," ajak Ki Demang Randu Agung sambil mengangkat tangannya.

Terlihat separuh lebih para sesepuh mengangkat tangan sebagai pertanda memilih jalan berada di belakang Ki Randu Alam menghadapi serangan pasukan dari Kadipaten Lamajang. Mata Ki Demang Randu Agung tampak terbakar memandang sebagian kecil dari mereka yang tidak mengangkat tangan, tertuju ke arah seseorang di sudut pendapa.

"Ki Jagabaya, di mana jiwa kesetiaanmu? Apakah sudah terkikis oleh kemakmuran harta bendamu? Tidakkah kamu sadari bahwa gelimang kemakmuran yang kita terima hingga hari ini adalah berkat budi besar junjungan kita, Ki Randu Alam? Tidakkah kamu sadari bahwa Ki Randu Alam telah melindungi kita dari kemurkaan para prajurit Majapahit atas keberpihakan kita membantu pasukan Ranggalawe di Tuban? Kita dan keluarga kita berhutang nyawa dengan Ki Randu Alam!" seru Ki Demang dengan penuh amarah.

Namun, tanpa diduga, Ki Jagabaya langsung berdiri dengan dada membusung, menatap Ki Demang dengan penuh keberanian.

"Jangan kamu singgung mengenai kesetiaanku, jangan kamu singgung tentang hutang nyawa ini. Tapi buka mata dan pikiran kita, dengan siapa kita berhadapan?" kata Ki Jagabaya dengan suara lantang. Semua mata tertuju kepadanya.

"Buka mata dan pikiranmu, kita akan berhadapan dengan Adipati Menak Koncar. Memusuhinya berarti kita memusuhi Kerajaan Majapahit yang ada di belakangnya," lanjut Ki Jagabaya.

Semua mata berpaling ke arah Ki Demang Randu Agung yang telah ikut berdiri.

"Ki Jagabaya, seorang mantan laskar prajurit Ki Aria Wiraraja yang gagah berani tak pernah takut melihat hujan panah dan hujan lembing, hari ini kulihat belangnya, kulihat kekerdilannya. Yang kulihat bukan pasukan besar Majapahit yang kamu takuti, tapi yang kamu takuti adalah harta bendamu dan istri-istri peliharaanmu!" ucap Ki Demang dengan penuh kemarahan.

"Ki Demang, urusan Ki Randu Alam dengan Adipati Lamajang adalah urusan mereka berdua."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment