Chapter 215
"Namun, aku merasa tidak enak hati melihat Ki Sahdatun berjalan seorang diri. Biarlah aku ikut menemani perjalanan Ki Sahdatun ke Balidwipa," kata Patih Gajah Mada.
"Bagaimana dengan orang-orang dari Padepokan Bajra Seta dan Perguruan Teratai Putih?" tanya Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.
"Aku akan mengutus para prajurit Majapahit menemui mereka lewat Rangga Mahesa Dharma dan Adipati Menak Koncar," kata Patih Gajah Mada.
"Bukankah pasukanku menjadi penghubung dari dua pasukan yang datang dari utara dan selatan Balidwipa? Pasukan kecilku itu akan menyusup di bumi Balidwipa untuk mengamati seluruh gerak lawan," kata Patih Gajah Mada kembali.
"Senang sekali berjalan ditemani seorang Patih dari Kediri," kata Ki Sahdatun menyetujui rencana perjalanan Patih Gajah Mada.
"Kita berjalan bersama sebagai seorang guru dengan muridnya," kata Patih Gajah Mada.
"Semoga saja Supo Mandagri dapat menjaga Rangga Seta selama kepergian kita. Aku melihat Rangga Seta sangat dekat dengan ahli pembuat keris itu," kata Ki Sahdatun.
"Aku akan meminta ibundaku untuk ikut mengawasi Rangga Seta," kata Patih Gajah Mada.
Sementara itu, suara tonggeret terdengar melengking memecahkan kesunyian malam, bahkan kadang memekik di atas suara debur ombak pantai Tanah Ujung Galuh, menjadi sebuah kesempurnaan nyanyian alam yang hidup dan serasi dalam keheningan malam.
Tidak lama berselang, pendapa puri pasanggrahan yang berdiri di atas Tanah Ujung Galuh itu terlihat begitu sunyi.
Tampaknya, para penghuninya telah masuk ke peraduan masing-masing.
Bulan sabit pucat menggelantung di langit malam, di atas deru ombak pantai Tanah Ujung Galuh.
Keesokan harinya, debur ombak di Tanah Ujung Galuh masih melatari hari dari waktu ke waktu, dihiasi cahaya mentari dan kepak burung yang melintas terbang di bawah awan.
Hingga ketika cahaya mentari mulai meredup dan kepak burung semakin sepi melintas terbang, terlihat sebuah perahu kayu bertiang layar bergerak menjauhi dermaga bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.
Tidak seorang pun yang mengetahui bahwa di atas perahu kayu itu ada dua orang yang mengemban tugas mulia untuk melindungi warga Balidwipa dari sebuah peperangan besar.
Kedua orang itu adalah Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun.
Siapa pun yang melihat mereka berdua pastinya akan menganggap mereka sebagai dua orang pengembara biasa, yang memang sudah menjadi pemandangan umum pada zaman itu.
Ada sebagian orang memandang sebelah mata terhadap para pengembara, menganggap mereka sebagai orang-orang yang malas bekerja dan luntang-lantung tanpa tujuan.
Sementara itu, beberapa orang lainnya sangat menghargai para pengembara yang memang tengah mencari jati diri dan makna kebenaran, yang kelak akan dijadikan penerang jalan hidup di hari tua mereka.
Ki Sahdatun dan Patih Gajah Mada dalam perjalanannya itu memang berpakaian layaknya pengembara biasa. Hal itu tidak lain bertujuan agar perjalanan mereka luput dari perhatian orang dan dapat tiba di Balidwipa tanpa banyak rintangan.
Ternyata, harapan mereka benar-benar terwujud. Tidak seorang pun memperhatikan mereka berdua, baik saat pelayaran di atas perahu kayu, ketika tiba di bandar pelabuhan Banyuwangi, maupun saat kaki mereka menginjak tanah Balidwipa.
"Kedai di sebelah sana tampaknya tidak begitu banyak dikunjungi orang," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun sambil menunjuk sebuah kedai di sekitar Pantai Gilimanuk.
Terlihat keduanya berjalan mendekati kedai tersebut.
"Salam lestari, selamat datang di kedai kami," kata seorang lelaki menyambut kedatangan Ki Sahdatun dan Patih Gajah Mada.
"Siapkan makanan dan minuman hangat untuk kami berdua," kata Patih Gajah Mada kepada pelayan itu.
Tidak lama berselang, pelayan itu kembali kepada mereka dengan membawa makanan dan minuman.
"Terima kasih," kata Ki Sahdatun kepada pelayan itu dengan santun dan ramah.
Sementara itu, Patih Gajah Mada menyapukan pandangannya ke beberapa tamu di kedai tersebut.
Pandangan Patih Gajah Mada pun terpaku pada dua orang tamu yang berada tidak jauh darinya.
Wajar saja bila perhatian Patih Gajah Mada tertuju kepada mereka, karena wajah keduanya terlihat begitu angkuh dengan cara duduk yang kurang sopan layaknya jawara besar yang hebat.
Sambil menyantap makanan, pendengaran Patih Gajah Mada yang amat peka masih sempat menangkap percakapan mereka.
"Sial, di mana-mana ada prajurit berkeliaran," kata salah seorang dari mereka.
"Kudengar mereka tengah mencari dua orang Majapahit yang telah mengalahkan Raden Makambika dan membunuh Patih Kebo Iwa," sahut kawannya.
"Tetapi ini berdampak pada pekerjaan kita. Tidak ada kesempatan bagi kita untuk memeras para pedagang di pasar dan di jalan-jalan umum," kata temannya yang lain.
Sampai di situ, Patih Gajah Mada sudah dapat menebak siapa gerangan kedua orang tersebut. Mereka ternyata adalah para begundal yang malas bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara memeras para pedagang.
Setelah merasa cukup beristirahat di kedai itu, Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun pun beranjak dari tempat duduk mereka.
"Terima kasih, Tuan," kata seorang pelayan sambil menerima pembayaran dari Patih Gajah Mada yang ternyata memberikan uang lebih.
Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun kemudian melangkah keluar dari kedai tersebut.
Di sebuah persimpangan jalan, mereka mengambil arah ke timur.
Namun, belum jauh mereka berjalan dari persimpangan itu, sepasukan prajurit Bali terlihat berlari-lari mengejar dari arah belakang.
"Berhenti!" seru salah seorang prajurit Bali yang paling dekat dengan mereka.
Mendengar teriakan itu, Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun langsung berbalik badan.
Tidak lama kemudian, para prajurit itu langsung mengepung dan mengarahkan pedang terhunus ke arah mereka berdua.
"Mereka berdua adalah orang Majapahit," kata salah seorang di antara mereka, yang ternyata adalah orang yang tadi berada di dalam kedai.
Pandangan Patih Gajah Mada terarah kepada orang yang berbicara itu, dan ia masih mengenali wajahnya.
"Aku mendengar sendiri, orang itu berbicara layaknya orang Majapahit," kata orang itu lagi.
"Katakan, apa benar kalian berdua dari Majapahit?" tanya salah seorang prajurit Bali kepada Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun dengan suara membentak.
"Benar, kami datang dari Majapahit," jawab Patih Gajah Mada dengan suara datar tanpa rasa takut sedikit pun.
Prajurit yang bertanya itu memperhatikan Ki Sahdatun dan Patih Gajah Mada dengan lebih saksama.
"Saat ini, wilayah Balidwipa tertutup untuk orang Majapahit. Dengan sangat terpaksa, kalian harus ikut bersama kami," kata prajurit yang tampaknya merupakan pemimpin pasukan tersebut.
Tampaknya, Ki Sahdatun dapat membaca gelagat Patih Gajah Mada yang hendak bersikeras menolak dibawa oleh pasukan prajurit Bali.
"Kita ikuti dulu apa pun kemauan mereka," bisik Ki Sahdatun perlahan kepada Patih Gajah Mada.
"Kami hanya pengembara biasa yang tidak punya arah tujuan. Kami tidak keberatan dibawa oleh kalian," kata Ki Sahdatun kepada prajurit itu.
"Ikat kedua tangan mereka!" perintah pemimpin prajurit itu.
Dua orang prajurit menghampiri Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun. Keduanya diam saja tanpa melawan ketika tangan mereka diikat.
Tidak lama berselang, keduanya digiring oleh sepasukan prajurit Bali ke arah sebuah padukuhan.
Di padukuhan itu, Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun melihat telah berkumpul prajurit yang jauh lebih banyak lagi.
"Masuklah kalian ke dalam, dan jangan coba-coba melarikan diri!" perintah seorang prajurit, menyuruh Ki Sahdatun dan Patih Gajah Mada masuk ke sebuah bilik kecil yang dijaga oleh beberapa orang prajurit.
Dengan tangan yang masih terikat, Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun berjalan masuk ke dalam bilik itu.
Di dalam bilik itu tidak ada satu pun jendela. Namun, cahaya matahari masih dapat menembus sela-sela dinding bambu, cukup untuk memberikan penerangan bagi keduanya.
Ternyata, di dalam bilik yang tidak begitu besar itu sudah ada lima orang yang terkurung bersama mereka.
Patih Gajah Mada menyapukan pandangannya, menatap satu per satu dari kelima orang yang terkurung di dalam bilik tersebut.
Pandangan mata Patih Gajah Mada pun tertahan pada sosok satu-satunya wanita di dalam bilik itu.
"Andini?" tanya Patih Gajah Mada dengan wajah penuh terkejut.
Ternyata, wanita di dalam bilik itu memang Biksuni Andini, murid tunggal dari Ibu Suri Kerajaan Majapahit, Nyi Ageng Ratu Gayatri, yang juga merangkap sebagai anggota Bhatara Prabu atau setingkat dewan pertimbangan agung kerajaan.
"Selamat berjumpa di Balidwipa," kata gadis jelita itu dengan senyum manisnya, seolah tidak menunjukkan rasa susah sedikit pun walau menjadi tahanan di bilik tersebut.
"Sudah berapa lama kamu berada di ruangan ini?" tanya Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.
"Hanya selisih sehari dengan kalian," jawab Biksuni Andini singkat.
"Apa yang tengah kamu cari di Balidwipa ini?" tanya Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.
"Ibunda Ratu Gayatri menugaskan diriku untuk mencari tahu apakah benar Kerajaan Bali ingin melepaskan diri dari persekutuan Kerajaan Majapahit. Ternyata, berita itu benar adanya. Saat ini, kutemui mereka tengah menggalang kekuatan, bahkan telah mencoba meracuni pikiran warganya agar membenci orang Majapahit. Hingga dalam perjalanan pulang, aku tertangkap oleh sepasukan prajurit Bali dan disekap di ruangan ini," kata Biksuni Andini.
"Tidak mudah menangkap seorang murid tunggal Ibunda Ratu Gayatri, kecuali dirimu memang sengaja menyerahkan diri," kata Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.