Chapter 47
"Kupercayakan dan kutitipkan keris pusaka ini kepadamu, hingga pada suatu masa dapat kamu serahkan kepada salah seorang keturunanku yang paling berhak untuk memilikinya. Kupercayakan keris ini kepadamu," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Terlihat Ki Sandikala seperti terharu menatap keris yang dibalut selembar kain berwarna merah dan putih itu.
Sebuah keris pusaka yang pernah lama bersamanya sebagai keris pusaka leluhurnya, Raja Erlangga.
Kini keris pusaka itu telah berada di tangan seorang anak muda bernama Gajah Mada.
"Semoga jiwa dan semangat leluhur Raja Erlangga hidup kembali. Cita-cita mempersatukan seluruh nusantara dapat terwujud lewat anak muda ini," ucap Ki Sandikala dalam hati dengan perasaan penuh keharuan dan ketulusan hati.
Hingga jauh malam, ketiga orang ksatria Majapahit itu berbicara banyak hal, berbicara tentang cita-cita para leluhur di bumi Jawadwipa ini, cita-cita suci membangun kesejahteraan dan kedamaian di bumi Jawadwipa ini.
"Tugas seorang Ksatria adalah menjaga perdamaian di bumi ini, menjaga hati para petani, menjaga hati para pedagang, menjaga hati para seniman. Hukum keadilan harus tumbuh di bumi Majapahit ini agar semua orang bersama-sama menjaga perdamaian dan keamanan bersama sebagai milik dan hak setiap jiwa yang hidup di bumi Majapahit ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Ki Sandikala dan Gajah Mada.
Keesokan harinya, banyak warga Kota Raja Majapahit bertanya-tanya ketika melihat puluhan prajurit keluar dari gerbang kota berpencar ke berbagai arah menuju berbagai tempat yang berbeda.
Beberapa warga yang dekat dengan orang-orang istana akhirnya dapat mengetahui bahwa puluhan prajurit itu ternyata diutus ke berbagai daerah untuk menyampaikan sebuah undangan resmi.
Ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya akan melaksanakan sebuah hajatan besar, sebuah perayaan perkawinan sang Putri tercinta, Dyah Wiyat, sekaligus upacara kerajaan atas wisudanya dua raja muda yang akan memimpin dua kerajaan bawahan Majapahit, yaitu Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Tumapel.
"Aku ingin kamu sendiri yang akan menyampaikan undangan ini kepada Ki Gede Bajra Seta," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajah Mada.
"Hamba mohon doa restu dari Tuanku Baginda Raja," kata Gajah Mada yang terlihat berdiri berjalan mundur untuk pamit dari hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Maka tidak lama berselang, terlihat Gajah Mada di atas kudanya telah keluar dari pintu gerbang Istana Majapahit.
Angin sejuk bertiup di atas kepalanya, terlihat anak muda itu begitu gagah di atas kudanya yang berlari kencang keluar dari gerbang batas kota.
Seperti seekor rajawali muda, Gajah Mada terlihat begitu menikmati perjalanannya.
Memacu kudanya menembus padang ilalang, mendaki perbukitan hijau dan seperti terbang di bawah langit biru memacu kudanya membelah angin.
Di sebuah jalan bulakan panjang, terlihat Gajah Mada memperlambat laju kudanya.
Ternyata anak muda itu telah melihat ada dua orang tengah menantinya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, dirinya dapat merasakan sebuah firasat buruk, tampaknya kedua orang di depan sana akan bermaksud tidak baik kepadanya.
Berpikir seperti itu telah membuat langkah Gajah Mada semakin mendekat dan semakin berhati-hati serta waspada.
Ternyata dugaan Gajah Mada tidak melenceng jauh, terlihat kedua orang itu tertawa tergelak-gelak ketika langkah kaki kuda Gajah Mada sudah mendekatinya.
"Anak muda, turunlah segera dari kudamu," kata seorang yang berwajah kasar dengan banyak rambut di wajahnya.
"Apa yang Paman berdua inginkan dariku?" tanya Gajah Mada setelah turun dari kudanya.
Kembali kedua orang itu tertawa tergelak-gelak mendengar pertanyaan Gajah Mada.
"Tinggalkan kudamu," kata orang berwajah kasar itu lagi. "Tinggalkan kerismu," sahut kawannya.
"Maaf, Paman berdua, kuda dan keris ini masih sangat kubutuhkan. Jadi tidak akan kutinggalkan," kata Gajah Mada dengan suara perlahan dan sikap masih santun.
"Sikapmu membuat aku tidak sabar," kata orang berwajah kasar itu sambil melepas golok dari sarungnya.
Kawannya ternyata sudah ikut pula menarik golok dari sarungnya.
"Larilah sekencang-kencangnya, atau golok ini akan menebas batang lehermu," kata orang berwajah kasar itu dengan suara mengancam dan golok tajam terangkat di atas kepala.
"Aku tidak akan berlari, juga tidak akan membiarkan leherku ditebas," kata Gajah Mada dengan wajah penuh senyum seolah tidak merasa takut dan gentar sedikit pun.
Melihat sikap Gajah Mada yang tidak gentar itu telah membuat kedua perampok itu menjadi naik pitam, terlihat keduanya tampaknya memang tidak main-main lagi dengan goloknya, terlihat keduanya dengan garang telah melayangkan golok masing-masing ke arah tubuh Gajah Mada yang sangat dekat itu.
Entah dengan cara apa, Gajah Mada yang memang sudah memiliki kepandaian sangat tinggi tiba-tiba saja telah merampas kedua golok kedua perampok itu.
Terlihat kedua perampok itu seperti melihat hantu di siang bolong, tidak habis pikir bagaimana anak muda itu dengan mudahnya merebut senjata mereka.
"Buatan senjata ini masih sangat kasar," kata Gajah Mada sambil mengadu kedua golok itu.
Trangg!!!
Kedua perampok itu matanya seperti terbuka lebar-lebar ketika melihat senjata mereka di tangan anak muda itu telah menjadi kutung terpotong.
Berdebar-debar kembali perasaan kedua perampok itu ketika kedua golok kutung itu telah dilempar ke sebuah batu cadas besar di dekat mereka.
Berdesir bulu kuduk mereka menyaksikan kedua golok kutung itu amblas masuk ke dalam batu keras itu.
Sadarlah kedua perampok itu bahwa mereka telah berhadapan dengan seorang anak muda yang sakti.
"Ampuni jiwa kami, tidak tahu berhadapan dengan tuan muda yang sakti," kata kedua perampok itu bersujud di hadapan Gajah Mada.
"Paman berdua bangkitlah, aku telah mengampuni jiwa kalian berdua. Yang kutahu bumi Majapahit ini begitu subur, sepanjang tahun akan menjaga semua warganya dari kekurangan pangan. Namun hari ini kudapati ada dua orang warga Majapahit berperilaku aneh, mencari nafkah dengan memeras dan mengancam sesamanya. Sampaikan apa yang terjadi hingga membuat perilaku Paman berdua seperti yang kulihat hari ini?" tanya Gajah Mada kepada kedua orang itu.
"Terima kasih telah mengampuni jiwa kami. Bumi Majapahit memang sangatlah subur, namun setahun belakangan ini kami harus menyerahkan lebih dari dua pertiga dari hasil panen kami. Hal itu telah membuat keluarga kami tidak bisa bertahan menunggu panen tahun berikutnya," kata salah seorang dari mereka dengan wajah menunduk seolah menyesali perbuatannya.
"Aturan Kerajaan Majapahit telah dinodai, hukum keadilan yang selama ini dijaga sejak zaman para leluhur penguasa di Jawadwipa ini telah dicederai. Siapakah gerangan penguasa yang telah mengubah aturan ini, wahai Paman berdua?" bertanya Gajah Mada kepada kedua orang itu.
"Tumenggung Yasakala, penguasa di Kahuripan," kata salah seorang di antara mereka.
"Setelah urusanku selesai, aku akan menyelidiki persoalan ini," kata Gajah Mada kepada kedua orang itu sambil melompat ke atas kudanya.
"Kembalilah kalian berdua ke keluarga kalian masing-masing, menjadi seorang pembegal bukan sebuah pilihan yang baik," kata Gajah Mada seolah merasa yakin bahwa kedua orang itu akan menyadari kesalahan dirinya dan berhenti menjadi seorang pembegal jalanan.
Terlihat kedua orang itu masih berdiri ketika Gajah Mada dengan kudanya telah menghilang di sebuah kelokan jalan.
"Anak muda yang sakti," kata orang berwajah kasar itu kepada kawannya.
"Untungnya anak muda itu telah berbaik hati kepada kita," kata kawannya sambil menarik napas panjang membayangkan seandainya Gajah Mada menurunkan tangan dan berbuat keras kepada mereka berdua, pastinya mereka berdua tidak mampu menghindar dan menghadapinya.
"Pasti seorang prajurit perwira tinggi dari Kota Raja Majapahit," kata orang berwajah kasar itu lagi.
"Tumenggung Yasakala pasti akan menghadapi ganjalan besar lewat anak muda itu," kata kawannya berharap akan terjadi perubahan aturan yang selama ini sangat tidak berpihak kepada para petani.
"Mari kita kembali ke rumah kita," kata orang berwajah kasar itu kepada kawannya.
Namun belum lama mereka berjalan, terlihat tiga orang telah keluar dari balik semak-semak dan langsung menghadang kedua orang itu.
"Kebetulan sekali kami lewat dan mendengar kalian berdua telah menjelek-jelekkan nama baik junjungan kami, Tumenggung Yasakala," kata salah seorang dari ketiga orang yang datang menghadang.
"Kami tidak menjelek-jelekkan siapa pun, kami hanya berbicara apa adanya sesuai dengan kebenaran yang selama ini terjadi," kata orang yang berwajah kasar penuh ketenangan, merasa dapat menghadapi ketiga penghadang itu.
Dengan harapan kawannya dapat membantu jika terjadi pertempuran.
"Kalian berdua harus bertanggung jawab atas apa yang kalian katakan kepada orang asing itu," kata salah seorang dari ketiga penghadang itu.
"Kami berdua bukan orang mudah digertak," kata kawan orang berwajah kasar itu sambil tersenyum kecut.
"Kalian berdua tidak bersenjata, bagaimana dapat menghadapi kami?" kata salah seorang dari ketiga penghadang itu lagi, yang tampaknya adalah seorang pemimpin dari mereka bertiga.
Tumenggung Yasakala ternyata punya banyak kaki tangan yang bertugas memata-matai para warganya.
Nasib buruk akan menimpa siapa saja yang dicurigai telah menentang semua kebijakan sang Tumenggung Yasakala.
Tiga orang yang datang menghadang itu adalah sebagian dari kaki tangan Tumenggung Yasakala yang sangat dipercaya.
"Menyerahlah kalian agar dapat kami bawa menghadap tuanku Tumenggung Yasakala," kata salah seorang di antara mereka kepada kedua warga itu.
"Apa untungnya membiarkan diri dibawa menghadap tuanmu, yang kami tahu akan menjadi korban penyiksaan di Istana Kahuripan?" kata orang berwajah kasar itu dengan dada dan wajah menengadah.