Chapter 183
"Dari Kotaraja Majapahit seorang diri?" tanya Ki Rangga Gajah Biru.
"Benar, aku memang seorang diri ke Kotaraja Daha ini," jawab wanita itu sambil menahan kepiluan yang amat sangat, terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.
Melihat hal demikian, Ki Rangga Gajah Biru merasa kasihan. "Kamu tidak punya kerabat dekat atau saudara di Kotaraja Daha ini?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata kosong dan hampa.
"Apakah kamu punya kepentingan di kotaraja ini?"
"Aku ingin bertemu langsung dengan Patih Gajahmada," ujar wanita itu.
"Ingin bertemu langsung dengan Patih Gajahmada?" Ki Rangga Gajah Biru mengulangi perkataan wanita itu.
Wanita itu menjawab tanpa keraguan di wajahnya.
"Apapun kepentinganmu, aku akan membantumu mempertemukan dirimu dengan Patih Gajahmada," kata Ki Rangga Gajah Biru kepada wanita itu seolah dapat membaca keraguan di wajahnya. Ia tidak mendesak untuk mengetahui kepentingan apa gerangan hingga harus bertemu langsung dengan Patih Gajahmada.
Melihat sikap Ki Rangga Gajah Biru yang tidak berusaha mendesaknya, wanita itu merasa tidak enak hati. "Tuan sangat baik hati kepadaku. Maaf bila aku tidak dapat menyampaikan apa yang akan kukatakan kepada Patih Gajahmada."
"Aku memakluminya bila memang kepentinganmu begitu rahasia. Apakah aku boleh mengenal namamu?" tanya Ki Rangga Gajah Biru bijaksana, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Namaku Utami," jawab wanita itu.
"Orang-orang di Daha ini memanggilku Ki Rangga Gajah Biru," ia memperkenalkan diri.
"Nama Tuan begitu terkenal di Kotaraja Majapahit sebagai sahabat Patih Mahesa Amping yang sangat setia. Hampir semua orang di Kotaraja Majapahit mengagumi Tuan," kata Utami.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan," jawab Ki Rangga Gajah Biru datar. "Sambil menunggu untuk bertemu dengan Patih Gajahmada, kamu boleh tinggal di rumahku," lanjutnya.
Demikianlah, Utami diajak tinggal sementara di rumah Ki Rangga Gajah Biru. Keluarga Ki Rangga memperlakukannya dengan sangat baik. Hingga pada suatu sore, Ki Rangga Gajah Biru menepati janjinya membawa Patih Gajahmada ke rumahnya.
"Sebuah kebanggaan bagi keluarga ini mendapat kedatangan Tuan Patih Gajahmada," ujar Nyi Rangga Gajah Biru menyambut di pendapa.
"Ki Rangga Gajah Biru memaksaku datang ke rumah ini. Katanya, masakan istrinya paling nikmat di Kotaraja Daha," ujar Patih Gajahmada dengan penuh senyum.
Nyi Rangga Gajah Biru tersenyum tipis. "Aku pamit ke dalam sebentar untuk menyiapkan minuman," pamitnya.
Nyi Rangga Gajah Biru tidak hanya menyiapkan minuman, tetapi juga menemui Utami. "Ki Rangga Gajah Biru telah menepati janjinya membawamu bertemu Patih Gajahmada. Tunggulah sampai Ki Rangga memanggilmu," pesannya.
Nyi Rangga Gajah Biru mengerti ada rahasia besar yang akan disampaikan Utami kepada Patih Gajahmada. Itulah sebabnya ia tidak ikut mendampingi suaminya di pendapa. Ketika seorang pelayan wanita menyampaikan pesan agar Utami datang ke pendapa, Nyi Rangga memberi semangat, "Temuilah mereka, aku tidak ikut mengawanimu."
"Terima kasih, Nyi Rangga, aku akan segera menemui mereka," jawab Utami.
Nyi Rangga Gajah Biru memandangi punggung Utami yang berjalan perlahan menuju pintu pringgitan. "Wanita yang malang," gumamnya dalam hati. Ia sering memperhatikan wajah Utami yang selalu dipenuhi kesedihan, seolah menyimpan kenangan pahit yang tak bisa dilupakan.
Pintu pringgitan terbuka. Mata Patih Gajahmada tidak berkedip memandang ke arah Utami yang mendekat.
"Mari Utami, duduklah di sini," kata Ki Rangga Gajah Biru. Utami duduk di panggung pendapa dengan wajah tertunduk.
"Wanita inikah yang Ki Rangga maksudkan ingin bertemu denganku?" tanya Patih Gajahmada.
"Benar. Apakah Tuan Patih telah mengenalnya?" tanya balik Ki Rangga Gajah Biru, melihat gelagat Patih Gajahmada yang seolah kurang berkenan.
"Ki Rangga Gajah Biru," panggil Patih Gajahmada. "Apakah Ki Rangga pernah punya seorang sahabat?"
"Aku pernah punya seorang sahabat yang kini entah berada di mana," jawab Ki Rangga Gajah Biru sambil menebak arah pembicaraan.
"Apa yang akan Ki Rangga lakukan manakala melihat sahabatmu di depan mata telah diracuni orang?" tanya Patih Gajahmada.
"Aku akan mencincang orang itu hingga hatiku puas," jawab Ki Rangga Gajah Biru tegas.
"Perlu Ki Rangga ketahui, bahwa wanita ini adalah istri dari orang yang telah meracuni Raja Jayanagara," ujar Patih Gajahmada dengan penuh kebencian.
"Istri Ra Tanca, pembunuh itu?" Ki Rangga Gajah Biru terperangah tidak percaya.
"Tanyakanlah langsung kepadanya," perintah Patih Gajahmada.
"Wahai Utami, benarkah kamu istri dari Ra Tanca?" tanya Ki Rangga Gajah Biru. Utami mengangguk perlahan dengan wajah semakin tertunduk.
"Nyi Ra Tanca, kamu sudah menempuh perjalanan jauh dari Kotaraja Majapahit ke Daha. Sekarang, di hadapanmu ada Patih Gajahmada. Katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan," pinta Ki Rangga.
"Ki Rangga," ujar Nyi Ra Tanca dengan suara bergetar. "Pasti selama hidup Ki Rangga punya seorang atasan yang dimuliakan. Apa yang akan Ki Rangga lakukan manakala orang yang dihormati itu meminta bantuan?"
"Dengan senang hati kupenuhi," jawab Ki Rangga Gajah Biru.
"Bagaimana bila yang dimintanya itu sebuah obat?"
"Aku akan mencari obat itu sampai dapat."
"Itulah yang terjadi atas diri suamiku. Dengan ketulusan, ia membawa obat untuk kesembuhan Baginda Raja Jayanagara yang sangat dihormatinya. Malang nasibnya, ternyata obat yang ia bawa telah ditukar dengan racun. Suamiku tidak tahu, ia hanya yakin itu racikan yang sama seperti yang pernah diberikan kepadaku untuk menyembuhkan penyakitku," tutur Nyi Ra Tanca sambil menangis tersedu-sedu.
Patih Gajahmada dan Ki Rangga Gajah Biru tertegun.
"Nyi Ra Tanca," tanya Patih Gajahmada dengan suara membentak, "Apakah kamu mengetahui siapa gerangan yang berbuat ini semua?"
Nyi Ra Tanca menghentikan tangisnya dan mengangkat wajah. "Kuda Jenar. Aku yakin dialah pelakunya. Setelah bertemu dengannya, aku merasakan gatal-gatal yang kemudian timbul bisul. Orang itu juga yang memberikan obat penawar kepada suamiku dengan syarat agar merahasiakan dirinya. Orang itu pula yang memberikan racikan obat untuk Baginda Raja Jayanagara," ujarnya, lalu kembali menundukkan wajah.
Suasana di pendapa menjadi hening. Ki Rangga Gajah Biru merasa kasihan melihat penderitaan wanita itu. Sementara itu, pikiran Patih Gajahmada menerawang jauh ke masa lalu, saat ia menunggu kedatangan Ra Tanca dan menyadari bahwa mangkuk yang dibawa Ra Tanca berisi racun kuat.
"Aku menjadi pembunuh orang yang tidak berdosa?" batin Patih Gajahmada.
Lama suasana begitu sepi. Semua orang bergelut dengan pikiran masing-masing di atas panggung pendapa.