Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 05

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 05

"Kakang Putu Risang selalu menemani kita di sini," ujar Pangeran Jayanagara lagi sambil memandang ke arah tonggak-tonggak dan balok perintang kayu keseimbangan.

"Dia pula yang mengajari kita menggunakan berbagai jenis senjata," kata Gajahmada sambil memandang ke arah rak senjata dari berbagai jenis.

"Kenangan yang indah," kata Pangeran Jayanagara sambil berdiri menghadap sebuah tonggak kayu yang berjajar dari rendah sampai tinggi.

Pangeran Jayanagara terlihat seperti menarik napas dalam-dalam.

Ternyata ia tengah bersiap diri untuk melakukan latihan rintangan dan keseimbangan.

Hup!

Pangeran Jayanagara telah melompat ke sebuah tonggak kayu dan hinggap berdiri hanya dengan satu kaki.

Perlahan, Pangeran Jayanagara terus melompat dari satu tonggak kayu ke tonggak kayu lainnya dan berjalan dengan keseimbangan penuh di atas sebuah titian bambu.

Gerakan Pangeran Jayanagara terlihat begitu lincah dan cekatan.

Akhirnya, Pangeran Jayanagara telah mengerahkan tenaga sejatinya, sehingga gerakannya menjadi terlihat begitu cepat, bahkan hanya seperti bayangan yang melesat ke sana kemari.

Melihat apa yang dilakukan Pangeran Jayanagara, Gajahmada pun tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Terlihat Gajahmada sudah langsung seperti terbang, hinggap di sebuah tonggak kayu, dan langsung melesat mendekati Pangeran Jayanagara seolah tengah mengejarnya.

Maka, di dalam ruang sanggar, kedua anak muda itu seperti tengah bermain, menguji kecepatan gerak mereka seolah ingin mengatakan, "Lihatlah, wahai Kakang Putu Risang, aku sudah bukan anak kecil lagi." Begitulah mereka berdua melepas rasa rindu kepada guru mereka yang kini sudah sangat jauh di Balidwipa.

Bila saja ada orang yang tidak sengaja masuk ke sanggar istana itu, pasti akan menyangka ada dua siluman terbang, karena keduanya sudah terlihat seperti dua bayangan yang melesat begitu cepat.

Setelah merasa bosan dengan apa yang telah mereka berdua lakukan di sanggar istana itu, yakni melesat dan hinggap dari satu tonggak kayu ke tonggak lainnya.

Maka mereka pun terlihat telah turun dan berhenti bersama.

"Aku ingin kembali pulang," kata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara. "Hari belum mendekati sore, atau karena di Pura Jayakatwang ada dua bunga semerbak mulai berkembang?" goda Pangeran Jayanagara.

"Tidak ada hubungannya dengan dua gadis itu, aku ingin cepat pulang karena Ki Sabah hari ini sakit. Tidak ada yang menyiapkan kayu bakar untuk perapian," kata Gajahmada kepada Jayanagara.

"Bila kamu tidak ingin mendekati mereka, biarlah aku yang akan mendekatinya," kata Pangeran Jayanagara.

"Pangeran adalah saudara tiri mereka, adat dan aturan mana pun melarangnya," kata Gajahmada.

"Kamu benar, tapi menurutku mereka memang sangat cantik rupawan," kata Pangeran Jayanagara.

"Benar, Pangeran, mereka memang cantik rupawan seperti bunga yang baru mekar," kata Gajahmada dengan polos dan jujur.

"Nah, apa kataku? Kamu ternyata sudah tertarik kepada mereka," goda Pangeran Jayanagara lagi.

"Aku hanya ingin berkata sejujurnya," kata Gajahmada sambil tersenyum, tak dapat mengelak lagi bahwa ia memang mengagumi kedua gadis itu, Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Demikianlah, Pangeran Jayanagara akhirnya tidak dapat mencegah keinginan Gajahmada untuk kembali ke Pura Jayakatwang.

Sebagaimana yang dikatakan kepada Pangeran Jayanagara, hari itu seorang pelayan bernama Ki Sabah memang tengah sakit dan tidak bisa bekerja.

Maka, ketika sampai di Pura Jayakatwang, terlihat Gajahmada sudah langsung ke belakang pura untuk menyiapkan kayu untuk perapian.

Ketika Gajahmada tengah bekerja membelah kayu menjadi lebih kecil, terlihat dua orang gadis tengah melangkah mendekatinya.

"Bolehkah kami ikut membantu?" tanya salah seorang gadis itu yang lebih tua, yakni Dyah Gayatri.

"Tidak perlu, nanti telapak tanganmu jadi keras seperti tukang panggul di bandar pelabuhan," kata Gajahmada sambil menghentikan pekerjaannya dan memandang kedua gadis itu.

"Bukankah ibundamu sendiri adalah seorang pemimpin prajurit wanita di Kerajaan Majapahit ini?" kata Dyah Gayatri kepada Gajahmada.

Mendengar perkataan Dyah Gayatri, Gajahmada berpikir untuk membenarkannya.

"Tuan putri benar, ibu hamba memang seorang prajurit wanita, sudah terbiasa menggunakan berbagai macam senjata.

Tapi bila boleh jujur hamba katakan, bahwa hamba lebih menyukai ibu hamba di rumah memegang jarum sulam merangkai hiasan di atas jarik," kata Gajahmada kepada Dyah Gayatri.

"Wanita tidak lebih dari sebuah hiasan di mata seorang lelaki," kata Dyah Gayatri sambil mencibirkan bibir mungilnya hingga terlihat begitu manis.

Dan tanpa sengaja Gajahmada menikmatinya, dan tanpa sengaja berujar, "Wanita memang seperti kembang mekar penghias taman bunga."

"Aku akan membuktikan bahwa wanita tidak hanya menjadi hiasan di taman bunga istana, tetapi wanita dapat juga menjadi seorang raja, memerintah kaum lelaki," kata Dyah Gayatri dengan penuh semangat.

Gajahmada terkejut mendengar ucapan Dyah Gayatri, namun di hadapan dua gadis ini ia tidak ingin berseteru panjang, apalagi berbicara tentang perbedaan antara lelaki dan wanita.

"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, apa pun kehendak Yang Mahaagung dapat saja terjadi," kata Gajahmada seperti ingin menuntaskan pembicaraan tentang perbedaan itu.

"Jadi, apakah kami sudah dapat membantu membelah kayu?" kata Dyah Gayatri sambil tersenyum.

"Tanggung, sudah tinggal sedikit lagi yang belum dibelah," kata Gajahmada sambil tertawa.

"Katakan saja bahwa kamu memang tidak ingin kami membantumu," kata Dyah Gayatri sambil menggandeng tangan adiknya dan melangkah pergi.

Terlihat Gajahmada mencoba mencuri pandang langkah kaki mereka.

Diam-diam ia menilai sikap gadis bernama Dyah Gayatri sebagai seorang wanita yang sangat tegas, tidak canggung untuk menyampaikan pendapatnya, meski usianya terhitung masih begitu belia.

"Gadis itu tampaknya telah mewarisi sifat kepemimpinan ayahnya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya," kata Gajahmada dalam hati.

Dan ketika wajah senja mulai redup berganti malam, Gajahmada melihat suasana di pringgitan menjadi lebih hangat dengan kehadiran kedua gadis itu.

Waktu itu, Gajahmada dan Jayakatwang tengah berbincang-bincang di pendapa. Nyimas Turukbali, Dyah Gayatri, dan Dyah Wiyat datang ikut bergabung di pendapa pura.

"Apakah harus bibimu yang mengatakannya kepada Gajahmada?" kata Nyimas Turukbali sambil memandang ke arah dua anak gadis itu.

Terlihat kedua gadis itu mengangguk penuh malu kepada Nyimas Turukbali.

Sementara itu, Gajahmada dan Jayakatwang terlihat mengerutkan kening sebagai tanda tidak mengerti keperluan apa dari mereka bertiga.

"Gajahmada," kata Nyimas Turukbali kepada Gajahmada sambil tersenyum. Ia diam sebentar sambil menoleh ke arah dua gadis itu, semakin membuat hati Gajahmada bertanya-tanya.

"Dengarlah," kata Nyimas Turukbali lagi kepada Gajahmada.

"Kedua keponakanku ini meminta dirimu untuk membimbing mereka dalam berlatih olah kanuragan," kata Nyimas Turukbali kepada Gajahmada.

Gajahmada tidak langsung menjawab, terlihat tersenyum memandang ke arah Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Gajahmada melihat kedua gadis itu seperti penuh harap menunggu jawaban darinya.

"Hamba bersedia menjadi pembimbing mereka," kata Gajahmada kepada Nyimas Turukbali sambil tersenyum.

Mendengar kesediaan Gajahmada, terlihat kedua gadis itu seperti tengah menarik napas lega.

"Bergembiralah, wahai Gajahmada, ada dua orang putri raja meminta bimbingan darimu," goda Jayakatwang.

"Namun salah satu dari mereka tampaknya masih meragukan, apakah dirimu dapat menjadi seorang pembimbing yang layak, bukankah begitu, Gayatri?" kata Jayakatwang lagi sambil memandang ke arah Dyah Gayatri.

Mendengar perkataan Jayakatwang ditujukan langsung kepadanya, Dyah Gayatri tersenyum. Ia berpikir bahwa pamannya ini sudah dapat membaca jalan pikirannya.

"Bukan maksudku meragukan Kakang Gajahmada, tetapi aku hanya ingin meyakinkan saja," kata Dyah Gayatri kepada Jayakatwang.

"Kamu dengar sendiri, wahai anak muda, sang putri meragukan dirimu!" kata Jayakatwang sambil tertawa kepada Gajahmada.

"Tunggu apa lagi, lekas kalian berdua turun ke halaman," kata Jayakatwang lagi sambil menepuk bahu Gajahmada.

"Ternyata untuk menjadi seorang pembimbing putri raja, harus melewati sebuah ujian," kata Gajahmada sambil berdiri tersenyum.

Terlihat Gajahmada telah melangkahkan kakinya menuruni anak tangga pendapa, diikuti oleh Dyah Gayatri.

Jayakatwang, Nyimas Turukbali, dan Dyah Wiyat telah melihat Gajahmada dan Dyah Gayatri sudah saling berhadapan di halaman depan pendapa.

"Hamba sudah siap, Tuan Putri," kata Gajahmada kepada Dyah Gayatri.

Mendengar perkataan Gajahmada, terlihat Dyah Gayatri telah bersiap diri untuk memulai serangan pertamanya.

Demikianlah, sejak malam itu, hampir di setiap awal senja, terlihat Gajahmada tengah membimbing dua putri Majapahit, Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Dan hubungan mereka bertiga akhirnya sudah menjadi begitu dekat, kadang-kadang mereka terlihat tengah berjalan bersama di jalan Kotaraja Majapahit.

Gajahmada masih juga menyempatkan diri bertemu dengan ibunya, pemimpin tertinggi pasukan prajurit wanita.

Gajahmada juga masih sering datang ke istana menemui Pangeran Jayanagara.

Namun ada satu hal yang membuat Gajahmada merasa sangat penasaran, bahwa ia tidak pernah sekali pun bertemu dengan Ratu Gayatri, ibu kandung Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Diam-diam Gajahmada mulai mencari tahu ada apa dengan Ratu Gayatri itu, putri bungsu Raja Singasari terakhir, Raja Kertanegara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment