Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 138

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 138

Pasukan Lamajang yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar memang lebih menguasai daerahnya, namun pasukan Majapahit yang datang kali ini lebih besar dari sebelumnya, jauh lebih besar dari pasukan Rangga Pamandana dan pasukan Adipati Menak Koncar.

"Mungkin ada baiknya pasukan kita bergabung di Kademangan Pronojiwo untuk menghadapi pasukan Majapahit itu," ujar Panji Anengah memberikan usulan kepada Empu Nambi.

"Aku mengenal Tumenggung Pati Jala dengan baik, dia seorang yang sangat cerdas. Aku curiga mengapa dirinya telah menghadapkan pasukannya ke Kademangan Pronojiwo. Menurutku, itu adalah sebuah jebakan agar kita keluar dari benteng Randu Agung ini," jawab Empu Nambi.

Ternyata kecurigaan Empu Nambi sangat beralasan, karena malam itu pasukan Majapahit memang telah berada tidak jauh dari Kademangan Pronojiwo, di sebuah padang luas yang dipisahkan oleh sebuah hutan kecil di kaki Gunung Semeru.

"Benteng Randu Agung terlalu kuat untuk kita gempur, kita harus memancing mereka keluar dari benteng itu," kata Tumenggung Pati Jala kepada Mahapatih Dyah Halayuda.

"Kita bumi hanguskan tempat pengungsian para warga Lamajang di Kademangan Pronojiwo, pasti Empu Nambi luluh hatinya untuk keluar dari bentengnya," sahut Mahapatih Dyah Halayuda.

Sementara itu, Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana yang telah mendengar berita kedatangan pasukan Majapahit ke kaki Gunung Semeru telah membuat berbagai persiapan.

"Kita kalah jumlah dengan mereka, yang terbaik adalah menghadapi mereka di dalam hutan," kata Adipati Menak Koncar kepada Rangga Pamandana.

"Aku setuju, kita hadapi mereka di dalam hutan," jawab Rangga Pamandana menyetujui usulan tersebut.

Demikianlah, malam itu langit di bumi Lamajang terlihat dipenuhi awan gelap, tiada satu pun bintang di sana sebagai pertanda hujan akan segera turun. Benar saja, di pertengahan malam itu hujan turun begitu lebat mengguyur bumi Lamajang. Suara guntur dan petir silih berganti bersama suara deru hujan yang tumpah benar-benar seperti laskar dari langit mengepung bumi Kademangan Pronojiwo.

Namun, yang terlihat keluar dari Kademangan Pronojiwo di bawah guyuran hujan yang lebat itu bukan laskar dari langit, melainkan pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana. Mereka terlihat berlari-lari kecil menyelinap keluar menuju ke arah hutan di depannya yang menjadi pemisah dengan beberapa kademangan tetangganya.

"Hujan nampaknya telah berpihak kepada kita untuk membuat berbagai persiapan gelar perang senyap di hutan ini," kata Adipati Menak Koncar kepada Rangga Pamandana. Ia merasa yakin bahwa para petugas pengamat dari pihak lawan tidak akan menyangka pasukannya telah mendahului masuk ke hutan itu.

Terlihat di bawah guyuran hujan di hutan Pronojiwo, beberapa prajurit langsung membuat berbagai macam persiapan, di antaranya membuat jebakan yang dapat mengejutkan pihak lawan, serta mencari tempat persembunyian untuk melakukan gelar perang senyap. Mereka bersiap menyerang seperti hantu yang datang mengejutkan pihak lawan dan tidak lama kemudian menghilang seperti tertelan bumi.

Namun, seandainya Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana mengenal Tumenggung Jala Pati sebagaimana Empu Nambi mengenalnya, mungkin keduanya akan membuat perhitungan yang lebih matang. Mereka perlu mempertimbangkan kemungkinan lain, seperti jalan alternatif yang dapat ditempuh lawan untuk mendekati Kademangan Pronojiwo, menyergap warga dan para pengungsi, sekaligus menjepit pasukan mereka di dalam hutan.

Sayangnya, mereka tidak mengenal Tumenggung Jala Pati yang akan mereka hadapi. Ia adalah seorang yang amat cerdas dan sangat licik dalam melakukan berbagai cara untuk mencapai kemenangan dalam setiap pertempurannya.

"Janganlah Mahapatih mengatakan rencana yang sebenarnya kepada Tumenggung Rananggana, aku belum dapat sepenuhnya memercayainya. Perintahkan setengah pasukannya untuk masuk ke hutan Pronojiwo, sementara aku akan membawa seluruh sisa pasukan kita menempuh jalan lain untuk menyergap warga dan para pengungsi di Kademangan Pronojiwo," ujar Tumenggung Jala Pati kepada Mahapatih Dyah Halayuda.

Ternyata Tumenggung Jala Pati sudah dapat memperhitungkan bahwa pasukan lawan pasti akan menyergap mereka di hutan Pronojiwo. Maka dengan liciknya, ia meminta Mahapatih Dyah Halayuda memerintahkan Tumenggung Jala Rananggana membawa setengah pasukannya masuk ke hutan tersebut sebagai pancingan yang dapat menahan pasukan lawan, sementara ia diam-diam menempuh jalan lain.

Demikianlah, diawali di sebuah pagi yang cerah, iring-iringan pasukan Majapahit terlihat keluar dari perkemahannya. Mereka adalah lima ribu prajurit Majapahit yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Jala Rananggana. Sesuai dengan perintah Mahapatih Dyah Halayuda selaku senapati agung, Tumenggung Jala Rananggana ditugaskan sebagai pasukan pelopor pembuka jalur bagi pasukan induk memasuki hutan Pronojiwo.

Tumenggung Jala Rananggana tidak mengetahui akal pikiran Mahapatih Dyah Halayuda saat itu, di mana pasukannya hanya diperalat sebagai pancingan untuk menahan pasukan Lamajang. Pasukan itu mulai menjauhi perkemahan, bergerak di atas tanah basah dan genangan air sisa hujan kemarin malam. Tibalah pasukan itu di muka hutan, membelakangi matahari pagi yang menyinari punggung mereka.

Pendengaran Tumenggung Jala Rananggana yang terlatih mendengar suara binatang memekik ketakutan, dan bersamaan dengan itu dilihatnya banyak burung hutan terbang, pertanda ketenangan binatang-binatang itu telah terusik. Tumenggung Jala Rananggana mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seketika itu seorang penghubungnya meneriakkan aba-aba untuk berhenti.

"Berhati-hatilah, hari ini kita tidak tengah berwisata. Kita akan memasuki kawasan hutan yang telah dipenuhi banyak musuh, yang menunggu kelengahan kita dengan berbagai macam jebakan. Waspadalah kalian, atau nyawa kalian akan terkubur di hutan ini tanpa pertanda apa pun," kata Tumenggung Jala Rananggana mengingatkan pasukannya.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan kepada penghubungnya. Maka terdengarlah aba-aba yang sangat keras untuk kembali bergerak masuk ke hutan Pronojiwo. Rumput-rumput basah rebah tergilas langkah kaki para prajurit. Di depan mereka, hutan Pronojiwo dipenuhi pohon-pohon tua yang menjulang tinggi serta tanaman merambat yang tampak seperti pagar hidup.

Diterangi cahaya matahari pagi, pasukan itu memasuki wilayah hutan Pronojiwo seperti seekor ular naga yang merayap masuk ke lubang hitam. Lambat laun, seluruh wujud pasukan itu lenyap ditelan kegelapan hutan. Cahaya matahari tidak mampu menembus lebatnya pepohonan, membuat suasana di dalam seperti berada di dalam gua yang remang-remang. Semerbak aroma daun dan tanah humus tercium oleh para prajurit Majapahit yang terus menerabas semak belukar di antara kerapatan pohon-pohon besar yang berlumut.

*Krakkk!*

Suara batang pohon patah terdengar di beberapa tempat, membuat semua prajurit yang terlatih itu langsung sigap dengan kewaspadaan penuh. Mereka menyapu pandangan dengan nanar, menanti musuh yang mungkin muncul dari arah mana pun. Ternyata, suara itu berasal dari batang pohon yang memang sengaja dipatahkan dari pangkalnya. Dalam hitungan detik, terdengar puluhan batang pohon roboh di kanan dan kiri pasukan Majapahit.

Kepanikan luar biasa terjadi. Para prajurit Majapahit berlari kesana-kemari menghindari diri agar tidak tertimpa batang pohon yang tumbang.

*Bum, bum, bum!*

Suara batang pohon tumbang menghantam bumi terdengar bersahut-sahutan, diikuti jerit para prajurit yang tidak sempat menghindar. Kesatuan barisan pasukan itu tidak lagi utuh. Di tengah kepanikan yang liar dan tak terkendalikan itu, ribuan manusia bersenjata lengkap dengan pedang terhunus datang dari berbagai arah, menjepit pasukan Majapahit. Puluhan prajurit Majapahit dengan mudah menjadi sasaran pedang lawan yang menyerbu seperti gerombolan kumbang marah yang mengejar siapa pun yang bergerak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment