Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 41

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 41

Pagi putih cerah di bawah tatapan sang surya di ujung timur bumi seolah menerangi wajah Gunung Arjuno yang membentengi ujung barat Kotaraja Singasari yang sejuk berhawa perbukitan hijau.

Raja dan keluarganya terlihat tengah berdoa di Astana Pura, tempat perabuan leluhur mereka, Sang Rajasa Ken Arok.

Para warga Singasari ikut membakar dupa dan berdoa sebagai tanda bakti serta kecintaan mereka kepada sang pendiri Kerajaan Singasari yang dipercayakan sebagai titisan Dewa Syiwa yang turun ke bumi.

Gapura candi Astana Pura, tempat perabuan Rajasa Ken Arok dicandikan, terlihat kembali lengang manakala Raja dan keluarganya telah berlalu pergi kembali ke istana Singasari.

"Paduka Raja dan keluarganya siang ini akan berkeliling melihat-lihat suasana Kotaraja dan padukuhan di sekitarnya," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada. "Mari kita melihat kesiapan para prajurit Bhayangkara di beberapa tempat yang akan disinggahi oleh Paduka Raja dan keluarganya."

Demikianlah, Ki Putut Prastawa dan Gajahmada terlihat berjalan menyusuri jalan Kotaraja Singasari, melihat suasana pasar yang masih ramai, juga menyusuri jalan ke arah padukuhan di sekitar Kotaraja Singasari yang dipastikan akan disinggahi oleh Paduka Raja dan keluarganya.

Dalam hati, Gajahmada memuji para prajurit Bhayangkara yang diam-diam sudah berada di tempat-tempat tersembunyi membaur dengan keramaian.

"Begitu setianya para prajurit Bhayangkara melindungi Raja dan keluarganya," gumam Gajahmada dalam hati manakala melihat kesiapan para prajurit Bhayangkara yang telah siap bertindak di saat yang tepat bilamana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan untuk melindungi Raja dan keluarganya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Putut Prastawa, siang itu Raja dan keluarganya telah keluar dari Istana Singasari untuk melihat-lihat suasana Kotaraja serta beberapa padukuhan di sekitarnya.

Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya terlihat hanya berjalan kaki dengan pengawalan beberapa prajurit pengawal.

Penghormatan warga Singasari kepada rajanya terlihat begitu agung. Di jalan-jalan Kotaraja, siapa pun mereka langsung bersujud dan tidak berani mengangkat wajah manakala iring-iringan Raja dan keluarganya lewat di hadapan mereka.

Kunjungan Raja dan keluarganya hari itu di beberapa tempat di sekitar Kotaraja Singasari tampak berjalan lancar tanpa terganggu hal-hal yang tidak diinginkan.

Tanah Singasari yang berbukit dan teduh sepanjang hari itu karena dirimbuni banyak pepohonan besar seolah tidak membuat lelah Raja dan keluarganya saat singgah dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya di sekitar Kotaraja Singasari.

"Terima kasih telah memulihkan suasana di Singasari ini," ucap Raja Sanggrama Wijaya penuh suka cita kepada Tumenggung Mahesa Pukat melihat gemah ripah suasana Singasari yang mulai terbangun.

"Paman Gurumu ini tidak sendiri, terutama dalam memulihkan suasana keamanan di wilayah Singasari ini. Ada Ki Gede dari Tanah Perdikan Bajra Seta bersama para cantriknya yang telah banyak membantu menjaga ketenteraman di seluruh wilayah Singasari ini," kata Tumenggung Mahesa Pukat.

"Paman Guru Mahesa Mukti?" tanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengingat nama lain dari Mahesa Mukti yang sekarang lebih banyak dikenal sebagai Ki Gede Bajra Seta karena telah dihadiahkan tanah perdikan di masa pemerintahan Raja Kertanagara atas jasa-jasanya.

"Para gembong perampok akan berpikir ulang untuk membuat ulah di wilayah Singasari ini karena harus berhadapan dengan Ki Gede dan para cantriknya," lanjut Tumenggung Mahesa Pukat.

"Para cantrik Padepokan Bajra Seta sejak dulu banyak berperan menjaga keamanan di bumi Singasari," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Para prajurit di beberapa kesatuan di Singasari ini banyak berasal dari Padepokan Bajra Seta. Bahkan putra tunggal Ki Gede sendiri telah bergabung menjadi pemimpin pasukan khusus, seorang pemuda yang punya masa depan hebat bernama Mahesa Dharma," tutur Tumenggung Mahesa Pukat.

"Artinya tongkat kepemimpinan di bumi Majapahit ini sudah dapat diberikan kepada para angkatan muda. Kebesaran sebuah kerajaan bukan bagaimana kita membesarkannya, tapi bagaimana kita membangun para angkatan muda untuk dapat menggantikan kita yang pasti akan tua dan mati," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya penuh kegembiraan mendengar penuturan dari Tumenggung Mahesa Pukat tentang kemunculan para angkatan muda di bumi Singasari itu.

"Secepatnya aku akan memutuskan siapa angkatan muda yang akan ditempatkan sebagai Raja Muda di istana Singasari ini," sambung Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Sayang sekali kehadiran Tuanku Baginda tidak lama di Singasari. Bila lebih lama lagi, mungkin aku dapat mengundang Ki Gede Bajra Seta untuk datang ke Kotaraja Singasari ini," ujar Tumenggung Mahesa Pukat.

"Sampaikan salam baktiku kepadanya, semoga di tahun depan aku akan lebih lama lagi berada di tanah kelahiranku ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Salam Tuanku Baginda akan kusampaikan bila berjumpa dengannya," sahut Tumenggung Mahesa Pukat.

Demikianlah, guru dan murid itu, Tumenggung Mahesa Pukat dan Raja Sanggrama Wijaya, saling bercerita tentang kenangan mereka berdua manakala berada di Padepokan Bajra Seta beberapa tahun silam. Mereka juga berbicara banyak hal tentang Singasari di masa yang akan datang.

"Terima kasih telah menemaniku di malam ini," kata Baginda Raja kepada Tumenggung Mahesa Pukat yang telah menuruni anak tangga pendapa Pasanggrahan Ratu Anggabhaya untuk pamit mengundurkan diri karena hari telah jauh malam.

Semilir angin malam yang sejuk berembus perlahan memenuhi istana Singasari yang sunyi.

Dan angin pagi pun akhirnya datang bersama suara nyanyian burung-burung yang riang terbang di bawah hangatnya sang surya yang menatap wajah istana Singasari yang telah terbangun.

Empat kereta kencana yang ditarik oleh kuda-kuda pilihan terlihat di halaman istana Singasari.

"Senang bertemu denganmu, wahai putra guruku," kata Baginda Sanggrama Wijaya kepada seorang pemuda yang bersama Tumenggung Mahesa Pukat.

"Ayahanda sering bercerita tentang Tuanku Paduka," ujar pemuda tampan itu yang ternyata adalah Mahesa Dharma, putra Ki Gede Bajra Seta.

"Sampaikan salamku kepada ayahandamu," kata Baginda Raja sambil tersenyum.

Mahesa Dharma dan Tumenggung Mahesa Pukat terlihat membalas lambaian tangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah berada di atas kereta kencananya.

Empat kereta kencana terlihat sudah mulai bergerak perlahan melewati gerbang regol istana diiringi oleh pasukan berkuda.

Warna pagi yang cerah bersama hawa sejuk tanah berbukit Kotaraja Singasari seolah mengantar putranya, sang Baginda Raja penguasa Tanah Majapahit Raya, keluar dari gerbang batas Kotaraja Singasari.

"Mari kita menyisir jalan di belakang iring-iringan Baginda Raja," kata seorang pemimpin prajurit Bhayangkara manakala melihat rombongan Baginda Raja Majapahit telah melewati sebuah jalan yang diapit oleh dua buah tebing curam.

Hari telah bergeser mendekati siang yang terik manakala rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya tengah melewati jalan yang diapit oleh sebuah hutan belantara.

Terlihat beberapa prajurit Bhayangkara tengah berkemas untuk meninggalkan tempat penjagaannya setelah sekitar tiga hari tiga malam berada di sekitar hutan itu berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin akan mengganggu perjalanan Baginda Raja dan keluarganya kembali ke Kotaraja Majapahit.

Dan manakala wajah senja terlihat tengah bergantung di langit bening, rombongan Raja dan keluarganya itu telah memasuki wilayah Kademangan Simpang.

Tergopoh-gopoh terlihat beberapa pelayan wanita dan pria datang menyiapkan perjamuan Baginda Raja dan keluarganya yang telah berada di atas pendapa rumah Ki Demang Simpang.

Ternyata telah datang beberapa pemimpin dari kademangan terdekat ikut menyambut kedatangan Baginda Raja dan keluarganya. Banyak hadiah yang mereka persembahkan kepada Baginda Raja.

Sementara itu, di luar pagar halaman rumah Ki Demang, dua orang terlihat tengah menuntun kudanya mencoba menembus dan melewati kerumunan warga Kademangan Simpang.

Dua orang penuntun kuda itu memang tidak menjadi pusat perhatian warga, namun mereka tidak lepas dari mata seorang pemimpin pasukan Bhayangkara yang tidak pernah melepas pandangannya mengikuti ke mana arah jalan kedua orang itu.

"Kita bayangi kedua orang itu," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada.

Kedua orang penuntun kuda itu sudah terlihat melewati kerumunan warga Kademangan Simpang di muka pagar rumah Ki Demang. Dengan sigap, keduanya melompat duduk di atas punggung kuda masing-masing.

Manakala kedua penunggang kuda itu telah melewati regol Kademangan Simpang, terlihat dua ekor kuda mengikuti jalan mereka.

"Tuan Pendeta, nampaknya ada yang ingin berkenalan dengan diri kita," kata seorang lelaki tua sambil tersenyum menghentikan kudanya di sebuah jalan.

Orang yang dipanggil dengan sebutan Tuan Pendeta itu pun ikut menghentikan kudanya sambil membalikkan arah muka kudanya. Ternyata lelaki tua yang bersama pendeta itu punya daya pendengaran sangat tajam, mengetahui bahwa ada orang lain mengikuti perjalanan mereka.

"Semoga mata tuaku ini tidak salah melihat orang. Apakah diriku ini berhadapan dengan salah seorang putra Lumajang yang bernama Ki Putut Prastawa?" tanya lelaki tua itu sambil tersenyum manakala dua orang berkuda di belakang mereka telah mendekat.

"Tersanjung diri ini bahwa seorang besar seperti Tuan Arya Wiraraja masih mengenal diriku," jawab Ki Putut Prastawa yang datang bersama Gajahmada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment