Chapter 211
"Pengetahuanmu sungguh sangat luas, wahai anak muda," kata Ki Dalang Camok yang sepertinya merasa tersanjung mendengar Patih Gajah Mada telah mengenal namanya.
"Nama Ki Dalang Camok sudah terdengar hingga ke seluruh bumi Majapahit sebagai seorang sakti mandraguna yang dapat terbang mengendarai angin dan memerintahkan petir mengejar musuh," kata Patih Gajah Mada.
Mendengar perkataan Patih Gajah Mada, orang tua itu semakin berbangga hati.
"Anak muda, mengapa kamu tidak lari setelah tahu siapa diriku?" tanya Ki Dalang Camok.
Perkataan Ki Dalang Camok memaksa Patih Gajah Mada untuk sedikit tersenyum.
"Ki Dalang Camok, aku tidak pernah lari dari siapa pun," kata Patih Gajah Mada, masih dengan senyum di bibirnya.
"Anak muda, kepercayaan dirimu sungguh sangat tinggi. Aku jadi semakin penasaran untuk menilai apakah kamu memang lebih unggul dari muridku, Patih Kebo Iwa, atau hanya karena keberuntungan semata," kata Ki Dalang Camok.
"Ki Dalang Camok, apakah kamu menemui kami hanya karena kekalahan muridmu di perang tanding itu?" tanya Patih Gajah Mada.
"Anak muda, kami orang Bali menghormati apa pun yang terjadi dalam sebuah perang tanding. Kehadiranku di sini berkaitan dengan jabatanku sebagai senapati di Kuturan. Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten telah menantangku; jika aku tidak mampu mengalahkanmu, jabatanku itu akan digantikan oleh orang lain," kata Ki Dalang Camok.
"Ternyata hal itu yang membuat seorang senapati agung dari Kuturan harus turun gunung, merendahkan dirinya menjadi nelayan biasa," kata Patih Gajah Mada.
"Apakah sekarang sudah menjadi jelas bagimu?" tanya Ki Dalang Camok kepada Patih Gajah Mada.
"Sangat jelas sekali. Ki Dalang Camok menantangku untuk bertempur," kata Patih Gajah Mada dengan suara yang tidak mengenal rasa takut sedikit pun.
"Bagus, sekarang bersiaplah, wahai anak muda," kata Ki Dalang Camok dengan sikap badan sigap, layaknya akan melancarkan serangan.
Melihat sikap Ki Dalang Camok yang bersiap menyerang, Patih Gajah Mada ikut bersiap diri dengan kuda-kuda kokoh yang menghunjam bumi.
"Berhati-hatilah, wahai saudaraku," bisik Arya Damar kepada Patih Gajah Mada sambil bergeser dan melangkah menjauh, keluar dari tempat yang akan menjadi arena pertempuran dua orang berilmu tinggi tersebut.
Tidak lama berselang, Arya Damar melihat tanah berpasir berhamburan terkena pijakan kaki Ki Dalang Camok yang berlari menerjang Patih Gajah Mada. Sang Patih sendiri telah bersiap menghadapi terjangan itu.
"Terjangan yang sangat kuat," gumam Arya Damar dalam hati dengan mata tidak berkedip sama sekali.
Arya Damar menarik napas lega ketika melihat Patih Gajah Mada dengan sangat gesit bergeser ke kiri dan langsung melayangkan tendangan ke arah pinggang Ki Dalang Camok.
Sebuah serangan balasan yang sangat cepat dari Patih Gajah Mada. Namun, Ki Dalang Camok sepertinya sudah memperhitungkan gerakan tersebut. Dengan sangat mudah, tubuhnya melangkah ke depan diiringi tebasan telapak tangan yang mengancam leher Patih Gajah Mada.
Menghadapi serangan kedua itu, Patih Gajah Mada dapat membaca bahwa lawannya memiliki perhitungan yang sangat matang dalam setiap gerakan. Hal itu membuat Patih Gajah Mada menjadi lebih berhati-hati lagi menghadapi lawannya.
Serang dan balas menyerang pun silih berganti. Ternyata keduanya adalah ahli kanuragan kelas tinggi yang memperhitungkan segala kemungkinan dalam setiap gerakan, termasuk tipu daya yang kadang datang tidak terduga.
Pertempuran pun kian lama menjadi semakin sengit dan seru. Tanah berpasir di tepi pantai itu telah berubah menjadi arena pertempuran yang begitu dahsyat. Pasir berhamburan terhempas oleh langkah kaki mereka, bagaikan dua raksasa kuat yang bertempur dan menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikannya.
Gerakan keduanya menjadi semakin cepat, penuh dengan tenaga sakti yang sangat kuat. Malam yang semakin gelap membuat keduanya tampak seperti dua bayangan yang berkelebat ke sana kemari, saling menyerang.
Ki Dalang Camok bergerak laksana seekor rajawali besar mengejar mangsanya. Sementara itu, Patih Gajah Mada bergerak bagai seekor naga besar bersayap yang selalu sigap meliuk menghindari setiap cengkeraman musuh dan balas menyerang dengan ancaman yang tidak kalah berbahaya.
Tanpa terasa, ratusan jurus telah berlalu dalam pertempuran hebat antara dua orang ahli kanuragan kelas tinggi tersebut. Hingga akhirnya, tiba-tiba saja Patih Gajah Mada mengubah seluruh gerak-gerik dan pola susunan jurus kanuragannya.
"Jurus Adityakundala," gumam Arya Damar dalam hati, mengenali perubahan gerak laku Patih Gajah Mada yang sangat tiba-tiba itu.
Ternyata, gerak langkah rahasia milik Patih Gajah Mada yang jarang dimengerti oleh orang-orang pada zaman itu benar-benar mengacaukan daya serang Ki Dalang Camok. Berkali-kali orang tua itu harus mundur keluar arena demi menghindari serangan Patih Gajah Mada yang datang tak terduga.
Jurus Adityakundala ternyata memang di luar pakem kanuragan yang ada saat itu. Hal ini benar-benar membuat orang tua yang telah banyak melihat berbagai jenis ilmu kanuragan itu merasa sedang menghadapi tembok batu yang amat kukuh. Seluruh serangannya dengan sangat mudah dipatahkan oleh Patih Gajah Mada. Sebaliknya, setiap serangan Patih Gajah Mada membuat orang tua itu berkali-kali harus mundur dan melompat jauh untuk menghindar.
Gerakan Patih Gajah Mada benar-benar di luar dugaannya, di luar pakem kanuragan yang dipahaminya selama ini.
"Luar biasa dan sangat aneh!" seru Ki Dalang Camok tanpa sadar, sambil melompat mundur menghindari serangan Patih Gajah Mada yang tidak terduga-duga itu.
Patih Gajah Mada masih berdiri tegak sambil memandang dan tersenyum ke arah Ki Dalang Camok.
"Apakah pertempuran ini dapat dilanjutkan, wahai Ki Dalang Camok?" tanya Patih Gajah Mada dengan senyum dikulum.
"Jangan berbangga hati dulu," kata Ki Dalang Camok sambil berjalan beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Patih Gajah Mada menarik napas dalam-dalam saat melihat Ki Dalang Camok tiba-tiba melakukan gerakan seperti sedang menghimpun tenaga sakti sejatinya. Ternyata dugaan Patih Gajah Mada tidak meleset jauh. Tiba-tiba saja sebuah kilatan cahaya berkelebat menuju dirinya.
Sontak, Patih Gajah Mada segera berkelit menghindari serangan cahaya petir tersebut. Tubuh Patih Gajah Mada nyaris saja tersambar cahaya petir yang keluar dari tangan Ki Dalang Camok.
Namun, baru saja Patih Gajah Mada meloloskan diri dari serangan tidak terduga itu, serangan susulan kembali dihentakkan oleh Ki Dalang Camok. Kembali sebuah serangan cahaya petir melesat cepat ke arah Patih Gajah Mada.
Dan kembali pula Patih Gajah Mada berkelit untuk membebaskan dirinya dari ilmu sakti andalan Ki Dalang Camok yang sangat dahsyat itu. Namun, begitu Patih Gajah Mada merasa terbebas, seberkas cahaya petir kembali datang memburunya.
Demikianlah, serangan cahaya petir susul-menyusul terus memburu ke mana pun Patih Gajah Mada berkelit menghindar. Beruntung pemudra itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah begitu sempurna, sehingga serangan cahaya petir yang melesat sangat cepat itu masih dapat dihindarinya.
Ternyata kemasyhuran Ki Dalang Camok yang dikatakan orang dapat memegang petir bukan sekadar omong kosong dan bualan. Hari itu, Patih Gajah Mada dapat menyaksikan sendiri kesaktian luar biasa yang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan, sebuah ilmu yang sangat dahsyat dan menggetarkan hati.
Sambil berkelit ke sana kemari menghindari serangan yang amat dahsyat itu, Patih Gajah Mada terus berpikir keras untuk keluar dari himpitan serangan Ki Dalang Camok yang sangat berbahaya. Namun, gempuran tenaga sakti cahaya petir yang datang susul-menyusul dengan cepat membuat Patih Gajah Mada tidak dapat berpikir lebih lama lagi.
"Haruskah kubenturkan dengan kekuatan yang sama?" pikir Patih Gajah Mada.
Namun, Patih Gajah Mada mengurungkan niatnya karena di benaknya terbayang Patih Kebo Iwa yang tewas di tangannya. Akhirnya, Patih Gajah Mada menemukan cara terbaik untuk melumpuhkan Ki Dalang Camok yang berilmu tinggi itu.
"Aku akan menguras seluruh tenaga saktinya," gumam Patih Gajah Mada dalam hati.
Sambil berkelit menghindari sambaran cahaya petir dari tangan Ki Dalang Camok, Patih Gajah Mada menggetarkan tenaga sakti inti sejatinya dengan mengerahkan Ajian Pangeran Muncang secara terbalik. Sebuah ajian yang sangat aneh, di mana kekuatan lawan dapat terserap.
Pada tahap awal, penerapan ajian ini harus menyentuh tubuh lawan. Namun, tingkat kemampuan Patih Gajah Mada sudah begitu tinggi sehingga ia tidak memerlukan sentuhan fisik sama sekali. Demikianlah, Patih Gajah Mada menerapkan ajian ilmu yang sangat aneh itu dari jarak jauh.
Di antara kejaran cahaya petir, Patih Gajah Mada masih sempat melontarkan ajiannya dari jarak yang cukup jauh tanpa menyentuh tubuh lawannya.
Pada awalnya, Ki Dalang Camok tidak menyadari bahwa tenaga sakti inti sejatinya mulai terserap oleh kekuatan ajian sakti yang dilontarkan oleh Patih Gajah Mada. Hingga akhirnya, setelah beberapa kali terpapar Ajian Pangeran Muncang secara terbalik itu, Ki Dalang Camok mulai merasakan kelainan di dalam dirinya.
Ki Dalang Camok mulai merasakan gempuran serangan cahaya petirnya tidak lagi sedahsyat sebelumnya. Ia juga merasa gerakannya tidak lagi selincah dan secepat sebelumnya. Ki Dalang Camok mulai merasakan kekuatan ilmunya kian menyusut.