Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 92

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 92

"Perkiraanku saat ini ada sekitar tiga ratus orang prajurit," kata Adipati Menak Koncar.

"Berapa jumlah prajurit Majapahit yang saat ini berada di bandar pelabuhan Banyuwangi?" tanya Putu Risang kepada Mahesa Semu.

"Ada sekitar seratus orang di bawah kendali Adityawarman," jawab Mahesa Semu kepada Putu Risang.

"Artinya, ada empat ratus orang prajurit yang dapat menjaga Kadipaten Blambangan dari dalam, sementara dua ratus orang prajurit Majapahit akan tiba menjepit mereka dari arah belakang," ujar Putu Risang mengusulkan sebuah siasat perang untuk menghadapi pasukan Ki Secang.

"Aku punya dua ratus orang prajurit yang siap membantu," sahut Adipati Menak Koncar menawarkan prajuritnya dari Lamajang.

"Itu akan menjadi lebih baik lagi," kata Mahesa Semu dengan perasaan gembira atas tawaran Adipati Menak Koncar.

"Hari ini juga aku akan mengutus dua orang prajurit ke Kadipaten Blambangan agar mereka mempersiapkan diri menghadapi serangan pasukan Ki Secang," ucap Mahesa Semu.

Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Semu memanggil dua orang prajurit Majapahit yang ada di Kadipaten Lamajang untuk segera berangkat ke Blambangan dan Banyuwangi guna mengabarkan perihal pasukan Ki Secang yang akan melakukan penyerangan.

"Mbokayu Endang Trinil pasti akan khawatir menunggu Kakang dan Rangga Seta begitu lama," kata Gajahmada kepada Putu Risang.

"Mbokayumu sudah terbiasa kutinggal berpekan-pekan. Aku dan Rangga Seta sering pergi mengembara ke berbagai tempat di Balidwipa," jawab Putu Risang kepada Gajahmada sambil tersenyum.

"Sedari pagi aku belum melihat anak itu," tanya Gajahmada kepada Putu Risang mengenai putranya, Rangga Seta.

"Sejak pagi tadi sudah diajak Supo Mandagri ke pasar kadipaten," jawab Putu Risang kepada Gajahmada.

"Atas nama pimpinan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa ini, kami mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu membantu perjuangan kami," kata Mahesa Semu kepada Putu Risang.

"Berjuang bersama para prajurit Majapahit adalah sebuah kebanggaan," jawab Putu Risang.

Malam itu bumi Lamajang begitu lengang, gerimis turun sejak senja. Terlihat empat orang berkuda berjalan di atas jalan Kadipaten Lamajang di bawah hujan gerimis yang belum juga reda. Hingga di sebuah persimpangan jalan, mereka berpisah. Dua orang penunggang kuda mengambil jalan berbelok ke arah utara, sementara dua orang berkuda lainnya mengambil jalan lurus ke arah timur.

Keempat orang berkuda itu adalah Gajahmada, Supo Mandagri, Mahesa Semu, dan Putu Risang. Di persimpangan jalan tersebut, Gajahmada dan Supo Mandagri mengambil arah utara untuk menghimpun seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu masih berada di beberapa hutan Lamajang. Rencananya, Gajahmada akan membawa seratus prajurit Majapahit itu lewat jalur laut yang akan muncul dari arah utara Kadipaten Blambangan.

Sementara itu, dua orang berkuda lainnya, yaitu Mahesa Semu dan Putu Risang, mengambil arah lurus ke utara. Mereka berencana menjemput seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu berada di sekitar pantai Panarukan. Mahesa Semu akan membawa pasukannya menuju Hutan Waringin, sebuah hutan yang berada di sebelah barat kaki Gunung Raung. Mahesa Semu telah sepakat dengan Adipati Menak Koncar yang akan membawa pasukannya sendiri keesokan harinya untuk berkumpul di Hutan Waringin.

Keesokan harinya, Adipati Menak Koncar menepati janjinya dengan menghimpun dua ratus orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang untuk bergabung membantu pasukan Majapahit yang akan menghadapi pasukan Ki Secang. Sebagaimana diketahui, penguasa Kadipaten Blambangan saat itu adalah Adipati Menak Jingga, putra kedua Mahapatih Majapahit sekaligus saudara kandung Adipati Menak Koncar. Itulah sebabnya Adipati Menak Koncar memimpin sendiri dua ratus pasukannya untuk bergabung dengan pasukan Majapahit dalam menghadapi pasukan Ki Secang yang akan menyerang wilayah saudara kandungnya itu.

Demikianlah, empat ratus prajurit bergerak dari tempat yang berbeda menuju Blambangan. Seratus prajurit dipimpin oleh Gajahmada melewati jalur laut, seratus prajurit Majapahit bergerak dari arah pantai Panarukan dipimpin oleh Mahesa Semu menuju Hutan Waringin untuk menunggu dua ratus prajurit Adipati Menak Koncar yang akan bergabung di hutan yang berada di sebelah barat kaki Gunung Raung tersebut.

Sementara itu, di sebuah tempat lapang yang terkurung rimba pepohonan yang sangat lebat di bawah kaki Gunung Raung, terlihat sebuah bangunan rumah dengan halaman muka yang sangat luas dan dikelilingi dinding pagar kayu yang cukup tinggi. Pendapa bangunan rumah itu menghadap ke arah terbitnya matahari. Itulah Padepokan Ki Secang, seorang brahmana berilmu tinggi yang dipercayai oleh Ki Banyak Ara untuk menempa enam ratus orang sebagai cikal bakal kekuatan baru di bumi timur Jawadwipa.

Hari itu, matahari sudah tergelincir jauh di barat, bersembunyi di balik kepulan asap kawah Gunung Raung. Angin awal senja itu berdesir cukup keras, memutar-mutar dedaunan dan ranting pepohonan.

"Mereka telah menguasai jurus gelar perang ciptaanku sendiri," kata seorang lelaki tua dalam hati saat berada di atas panggung pendapa. Ia memandang enam ratus orang yang tengah berlatih di halaman muka pendapa yang luas itu. Rambut putih yang terurai panjang di kepala lelaki tua itu hanya diikat oleh sehelai kain. Pakaiannya berupa jubah panjang, sebagai pertanda bahwa ia adalah seorang brahmana. Lelaki tua itu adalah Ki Secang, pemilik padepokan di lereng Gunung Raung, guru dari Ki Gagakpati dan Ki Banyak Ara.

Letak padepokan yang terasing membuat tempat itu benar-benar tertutup dari dunia luar. Ibarat busur, Ki Secang adalah anak panah yang telah dilepaskan oleh Ki Banyak Ara. Ki Secang hanya tahu bahwa saat bulan di langit tampak segaris tipis, itulah pertanda baginya untuk turun gunung dan menguasai Kadipaten Blambangan. Seandainya Ki Secang mengetahui bahwa Ki Banyak Ara sudah tiada dan jalur perdagangan di timur Jawadwipa tidak lagi dalam kendali kekuasaannya, mungkin ia akan berpikir ulang untuk membangun kerajaan. Namun, keterasingan padepokan itu membuat tidak ada berita apa pun yang masuk. Enam ratus orang di padepokan Ki Secang yang sudah sangat terlatih itu adalah enam ratus anak panah yang telah ditarik tali busurnya, siap meluncur dan menerjang Kadipaten Blambangan.

Gerak langkah enam ratus lelaki yang dipisahkan dalam beberapa kelompok itu terlihat sangat serasi dan terlatih, membuat perasaan Ki Secang di atas panggung pendapanya berbinar penuh kebanggaan. Hati lelaki tua itu melambung.

"Mereka adalah para prajuritku yang akan membawaku ke puncak jabatan sebuah kerajaan besar di Jawadwipa ini," katanya dalam hati dengan senyum terlukis di bibir.

"Jabatan apakah yang tepat untukku?" ia bergumam dalam khayalnya. "Menjadi pendeta suci di istana? Tidak, membosankan, hanya sibuk mengurus upacara. Seorang mahapatih? Jabatan itulah yang paling tepat untukku; hari-hariku penuh sanjungan dan kehormatan."

Di ujung senja, halaman muka Padepokan Ki Secang sudah kosong. Tampaknya semua orang sudah masuk ke barak masing-masing untuk beristirahat. Di saat yang sama, ribuan kelelawar keluar dari sarangnya, terbang melintas di atas langit padepokan, menyusuri kaki Gunung Raung menuju arah timur perbatasan Kota Kadipaten Blambangan, lalu terus terbang ke arah laut pantai timur Jawadwipa.

Jalan di Kota Kadipaten Blambangan di ujung senja itu memang sudah sepi dan lengang. Di jalanan yang sunyi itu, tiba-tiba terlihat seorang penunggang kuda yang melarikan kudanya dari arah timur. Penunggang kuda itu berhenti tepat di depan pintu gerbang istana Kadipaten Blambangan dan langsung meloncat dari punggung kudanya. Wajahnya menunjukkan bahwa ia masih sangat muda belia.

"Selamat datang, Tuan Muda," sapa seorang prajurit penjaga istana yang sepertinya sudah sangat mengenalnya.

"Terima kasih," jawab pemuda itu dengan penuh kesopanan sambil menyerahkan tali kekang kudanya kepada prajurit penjaga.

"Kuantar Tuan Muda menghadap Adipati Menak Jingga," ujar prajurit penjaga lainnya yang datang menghampiri.

Pemuda itu berjalan menuju arah pendapa agung istana bersama prajurit yang mengantarnya.

"Aku akan memberitahukan kedatangan Tuan Muda," kata prajurit penjaga itu saat mereka sampai di depan anak tangga pendapa agung.

"Aku akan menunggu," sahut pemuda itu.

Tidak lama kemudian, pintu pringgitan terbuka lebar. Muncul seorang lelaki berwajah bersih dengan kumis tebal, berjambang halus, dan janggut hitam pendek yang terawat rapi. Lelaki itu tampak tampan; dialah Adipati Menak Jingga, putra kedua Empu Nambi, Mahapatih Majapahit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment