Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 213

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 213

"Aku tidak mengerti arah pikiranmu, wahai saudara angkatku," tanya Patih Gajah Mada.

"Tidakkah terpikir olehmu, wahai saudaraku, untuk hidup sebagaimana seorang raja besar yang penuh kemuliaan, dikelilingi para punggawa setia yang penuh kehormatan?" ujar Arya Damar.

"Menjadi seorang raja besar?" tanya Patih Gajah Mada kembali.

"Tidakkah kamu sadari bahwa selama ini kita hanyalah punggawa biasa yang patuh memenuhi keinginan junjungan besar kita?" kata Arya Damar, mencoba memperjelas maksudnya.

Terlihat Patih Gajah Mada menarik napas panjang. Ia tidak menyangka saudara angkatnya itu memiliki impian seperti itu, sebuah cita-cita besar untuk menjadi seorang raja.

"Kita adalah para punggawa sebagaimana bintang-bintang di langit. Itulah ketetapan garis takdir yang harus kita penuhi dalam kehidupan di dunia ini," kata Patih Gajah Mada.

"Garis ketetapan itu belum berhenti untuk seorang manusia sebelum kematiannya," sahut Arya Damar sambil tersenyum.

Patih Gajah Mada tidak membantah pernyataan Arya Damar. Ia hanya mencoba menyelami jalan pikiran saudara angkatnya itu untuk menjadi seorang raja. Akhirnya, Patih Gajah Mada dapat menyelami dasar hati dan pikiran saudara angkatnya.

"Darah bangsawan Melayu mengalir di dalam dirinya. Wajar saja bila Arya Damar memiliki keinginan untuk menjadi seorang raja," gumam Patih Gajah Mada dalam hati.

"Ada satu matahari yang selalu terbit di timur bumi. Apakah kamu berencana membangun matahari yang lain di belahan barat bumi?" tanya Patih Gajah Mada.

"Aku berharap dirimu ada untuk membantuku, bersamaku membangun cahaya penuh gilang-gemilang di barat bumi sebagaimana kakek buyutku pernah membangunnya," kata Arya Damar.

"Maafkan aku, wahai saudaraku. Aku telah berjanji di dalam hatiku sendiri untuk menjadi sebuah bintang yang selalu setia di atas langit Majapahit ini," kata Patih Gajah Mada sambil menatap wajah Arya Damar dengan senyuman hangat.

"Aku menghormati keputusanmu, wahai saudaraku. Semoga di bumi barat sana aku akan menemui bintang yang lain, yang selalu bersinar penuh kesetiaan sebagaimana dirimu," balas Arya Damar.

"Setidaknya hal itu akan menambah kebanggaan hatiku. Aku pernah memiliki seorang sahabat sejati yang menjadi raja besar di Majapahit ini, dialah Raja Jayanagara. Aku juga memiliki dua orang murid; yang seorang menjadi Ratu di bumi Majapahit, dan seorang lagi menjadi raja muda di Kediri. Kebanggaanku pun akan bertambah bila ada saudara angkatku sendiri yang menjadi raja besar di bumi Swarnadwipa," kata Patih Gajah Mada dengan senyum tulus di hadapan Arya Damar, putra Patih Mahesa Amping dan Putri Dara Jingga itu.

"Terima kasih, wahai saudaraku. Semoga dirimu juga mendapatkan pulau daratan impianmu itu. Akulah orang pertama yang akan mengunjungimu, tentunya bersama selusin cucuku nanti," kata Arya Damar dengan penuh kegembiraan.

"Apakah itu berarti kamu akan meninggalkan selusin cucumu itu untuk menjadi murid-muridku?" tanya Patih Gajah Mada dengan tawa berderai penuh kegembiraan hati.

Sementara itu, perahu kayu terus bergerak melaju di atas laut malam. Angin bertiup lembut di belakang layar yang terkembang. Terlihat bintang kejora bersinar terang cemerlang di langit malam, laksana pangeran tampan di atas kuda putih yang sedang bersenang hati. Air laut di pantai Tanah Ujung Galuh saat itu terlihat begitu tenang dengan ombak rendah yang datang dan pergi menyapu bibir pantai yang landai.

Suara nyanyian ombak dan lukisan alam di waktu pagi di Tanah Ujung Galuh mengiringi kegembiraan hati dua anak muda yang berjalan ringan menapaki jalan tanah pada pagi yang cerah itu. Kedua anak muda itu adalah Patih Gajah Mada dan Arya Damar yang baru saja tiba dari pengembaraannya sebagai petugas telik sandi untuk mengamati keadaan dan suasana di Balidwipa.

"Singgahlah di pasanggrahanku. Nanti siang baru kita berangkat ke Kotaraja Majapahit," kata Patih Gajah Mada kepada Arya Damar, atau yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Tumenggung Adityawarman itu.

"Seperti baru kemarin kita meninggalkan tempat ini," kata Arya Damar dengan penuh kegembiraan, seolah melihat kembali kampung halamannya sendiri.

Kedatangan kedua anak muda itu disambut dengan rasa sukacita oleh semua orang yang ada di pasanggrahan. Mereka adalah Nyi Nariratih, Ki Sahdatun, Supo Mandagri, dan Rangga Seta.

"Kami tidak sabar menunggu cerita perjalanan kalian," kata Nyi Nariratih kepada kedua anak muda yang baru saja berpamitan untuk membersihkan diri di pakiwan itu.

Demikianlah, setelah membersihkan diri dan menikmati sajian makanan serta minuman hangat, secara bergantian kedua anak muda itu menceritakan perjalanan mereka di bumi Balidwipa.

"Cerita perang tanding kalian pasti akan menjadi kisah yang tidak akan pernah habis diceritakan oleh orang-orang di bumi Balidwipa kepada anak-cucu dan keturunan mereka," kata Ki Sahdatun menanggapi cerita tersebut.

"Aku berharap tidak ada satu pun detail yang kalian lewatkan. Hasil pengamatan kalian di Balidwipa sebagai petugas telik sandi sangat menentukan keberhasilan sebuah penyerangan," ujar Nyi Nariratih.

"Beruntung aku tidak diajak oleh kalian. Pasti diriku ini hanya akan menjadi beban," kata Supo Mandagri saat mendengar banyaknya orang sakti di bumi Balidwipa.

"Aku pernah mendengar kesaktian Patih Kebo Iwa dan gurunya di Balidwipa. Kematian Patih Kebo Iwa pastinya akan mengurangi rasa percaya diri orang-orang Balidwipa," kata Ki Sahdatun menyampaikan tanggapannya.

"Siang ini kami akan segera menghadap Mahapatih Arya Tadah," kata Patih Gajah Mada menuturkan rencananya hari itu untuk datang ke Kotaraja Majapahit.

"Apa pun hasil pengamatan kalian di Balidwipa akan menjadi penentu bagi para pejabat di istana dalam menentukan sikap menghadapi para penguasa di Balidwipa," kata Nyi Nariratih.

Terlihat Ki Sahdatun menarik napas panjang. Pandangan orang tua itu tampak jauh menerawang. Jiwa dan perasaannya terbang kembali ke masa-masa lalu, terhenti pada kecamuk perang saudara yang membawa beribu penderitaan.

"Perang adalah anak kandung dari keangkuhan yang hanya akan melahirkan penderitaan," bisik Ki Sahdatun dalam hati sambil kembali menarik napas panjang.

Sementara itu, cahaya matahari mulai merayapi dahan dan batang pohon kemboja kuning di ujung dinding pagar halaman. Bayang-bayang tiga batang pohon randu yang berjajar di sebelah dinding pagar lainnya terlihat semakin menyusut pendek.

"Matahari sebentar lagi akan naik ke puncaknya. Segeralah kalian berangkat ke Kotaraja Majapahit," Nyi Nariratih mengingatkan kedua anak muda itu.

"Jika demikian, kami bermaksud mohon pamit untuk menghadap Mahapatih Arya Tadah di istana," kata Patih Gajah Mada mewakili Arya Damar.

Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu melangkah di halaman menuju gapura gerbang pasanggrahan, diiringi tatapan mata Nyi Nariratih, Supo Mandagri, dan Ki Sahdatun, hingga akhirnya sosok mereka menghilang di balik dinding pagar halaman pasanggrahan.

"Selamat datang di rakitku, wahai Tuan Patih Gajah Mada," sapa seorang tukang rakit menyambut kehadiran Patih Gajah Mada di tepi Sungai Kalimas.

"Selamat berjumpa kembali, wahai kawan," jawab Patih Gajah Mada ramah.

Banyak hal yang ditanyakan oleh tukang rakit itu kepada Patih Gajah Mada, dan dengan penuh perhatian, Patih Gajah Mada menjawab semua pertanyaan tersebut. Ketika mereka akhirnya tiba di tepian seberang, kebanggaan hati sang tukang rakit karena bisa mengenal seorang pembesar seperti Patih Gajah Mada benar-benar membekas di dadanya.

"Seorang pembesar yang rendah hati, mau bertegur sapa dengan rakyat kecil," gumam tukang rakit itu dalam hati sambil memandang Patih Gajah Mada dan Arya Damar yang berjalan menjauhi tepi Sungai Kalimas.

Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu telah memasuki Kotaraja Majapahit. Mereka berbaur di tengah keramaian orang-orang yang berlalu-lalang, di antara pedati para pedagang dan kereta kencana para bangsawan.

"Sebuah kehormatan bagi kami bila diperkenankan mengiringi langkah Tuan-Tuan ke Bale Kepatihan," kata salah seorang prajurit penjaga menyambut kedatangan Patih Gajah Mada dan Arya Damar di istana Majapahit.

"Terima kasih, Ki Lurah," jawab Patih Gajah Mada.

Patih Gajah Mada dan Arya Damar pun berjalan diantar oleh prajurit itu menuju Bale Kepatihan. Setibanya di sana, Mahapatih Arya Tadah kebetulan sedang tidak menerima tamu lain.

"Bawalah keduanya menghadap kepadaku," perintah Mahapatih Arya Tadah kepada prajurit yang meminta izin untuk mempertemukan kedua anak muda tersebut.

"Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan kepada Pamanda," hormat Patih Gajah Mada di hadapan Mahapatih Arya Tadah.

"Puji syukur menyelimuti hatiku melihat kembali dua rajawali mudaku," sambut Mahapatih Arya Tadah hangat.

"Perkenankan ananda berdua menyampaikan apa yang telah kami dapatkan selama berada di bumi Balidwipa," kata Patih Gajah Mada mewakili Arya Damar.

"Ceritakanlah kepadaku apa saja yang kalian temukan di sana," ujar Mahapatih Arya Tadah dengan wajah yang selalu dihiasi senyum ramah.

Secara bergantian, Patih Gajah Mada dan Arya Damar menuturkan hasil pengamatan mereka mengenai suasana dan keadaan Kerajaan Bali.

"Ternyata benar adanya. Mereka tidak lagi mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit, dan tidak lagi memuliakan Gusti Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai pewaris agung takhta suci para raja leluhur mereka," kata Mahapatih Arya Tadah setelah menyimak seluruh cerita dari kedua anak muda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment