Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 212

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 212

"Apa yang terjadi atas diriku ini?" tanya Ki Dalang Camok, merasa heran bahwa hentakan cahaya petir ilmu andalannya sudah tidak lagi sedahsyat sebelumnya.

Hingga akhirnya, Ki Dalang Camok benar-benar tidak mampu lagi menghentakkan cahaya petir lewat tangannya.

Semua perubahan diri Ki Dalang Camok itu berada dalam pengamatan Patih Gajah Mada.

"Ki Dalang Camok, mana serangan cahaya petirmu?" tanya Patih Gajah Mada, mulai berani menghadapi Ki Dalang Camok dari jarak yang sangat dekat.

"Aku akan meremukkan kepalamu!" seru Ki Dalang Camok, yang belum juga mengetahui bahwa kekuatan dirinya telah diserap oleh ajian ilmu lawannya yang sangat aneh itu.

Terlihat Patih Gajah Mada masih membiarkan tangan Ki Dalang Camok mendekati kepalanya.

Namun, begitu kepalan tangan Ki Dalang sudah sangat dekat, tiba-tiba saja tangan Patih Gajah Mada bergerak cepat.

*Brak!*

Benturan tangan pun terjadi di antara mereka.

Terlihat Ki Dalang Camok terlempar dua-tiga langkah dan jatuh ke tanah sambil merasakan sakit yang amat sangat di tangannya akibat benturan itu.

Sementara itu, Patih Gajah Mada terlihat masih tegak berdiri dengan begitu teduh.

Wajah Ki Dalang Camok diliputi rasa penasaran yang amat sangat, seolah masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya.

"Ki Dalang Camok, apakah kamu masih ingin melanjutkan pertempuran ini?" tanya Patih Gajah Mada kepada Ki Dalang Camok yang dilihatnya tengah berusaha bangkit berdiri.

Ternyata Ki Dalang Camok adalah orang yang keras kepala. Ia masih belum menyadari bahwa kekuatan tenaga saktinya sudah terserap habis.

Patih Gajah Mada membiarkan Ki Dalang Camok bergerak menerjangnya dengan sebuah pukulan ke arah dadanya.

"Matilah kamu, anak sombong!" teriak Ki Dalang Camok sambil melayangkan kepalan tangannya ke arah dada Patih Gajah Mada.

*Buk!*

Terdengar kepalan tangan Ki Dalang Camok menghantam dada Patih Gajah Mada.

Arya Damar yang melihat kejadian itu benar-benar menyayangkan mengapa Patih Gajah Mada tidak mengelak sedikit pun dari hantaman tangan Ki Dalang Camok.

Namun, Arya Damar seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukan Patih Gajah Mada yang roboh akibat dadanya terpukul, melainkan Ki Dalang Camok yang terlempar dan jatuh ke tanah.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Ki Dalang Camok? Semula, ketika kepalan tangannya berhasil menghantam dada Patih Gajah Mada, luapan kegembiraan memenuhi hati orang tua itu. Ia merasa tugasnya untuk mengalahkan Patih Gajah Mada telah dapat ditunaikan dengan sangat mudah.

Namun, harapan Ki Dalang Camok seketika sirna manakala kepalan tangannya terasa membentur batu cadas yang amat keras.

Belum habis rasa terkejutnya, tiba-tiba saja Ki Dalang Camok merasakan daya balik pukulannya berbalik menghantam dirinya sendiri.

Ternyata, Patih Gajah Mada diam-diam telah melapisi dirinya dengan ajian setara Lembu Sekilan. Meski hanya seperdelapan dari kekuatan asli yang dimilikinya, ajian itu tetap memberikan daya balik luar biasa yang dirasakan oleh Ki Dalang Camok, yang kini sudah kehilangan seluruh tenaga saktinya.

"Ki Dalang Camok, kekuatan tenaga saktimu sudah terserap habis. Kamu perlu berlatih puluhan tahun lagi untuk dapat memperoleh kekuatanmu kembali," ujar Patih Gajah Mada kepada Ki Dalang Camok yang terlihat sedang berusaha bangkit berdiri.

Mata Ki Dalang Camok terbelalak mendengar perkataan Patih Gajah Mada tentang dirinya.

Ki Dalang Camok mencoba menggerakkan tangannya, bermaksud menghentakkan ilmu andalannya untuk melepaskan cahaya petir.

Namun, upaya Ki Dalang Camok tidak membuahkan hasil.

Barulah Ki Dalang Camok menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia sadar bahwa seluruh tenaga saktinya telah hilang terkuras habis.

"Ajian Pupus Rontek?" tanya Ki Dalang Camok, seakan tidak menyangka pemuda di hadapannya itu memiliki ilmu yang ia kira sudah punah.

"Apa pun ajian yang kamu sebutkan itu, aku tidak mengenalnya. Yang kulakukan hanyalah agar peristiwa Patih Kebo Iwa tidak terulang," jawab Patih Gajah Mada dengan penuh kejujuran.

Cukup lama Ki Dalang Camok tercenung seorang diri.

"Kamu memang pantas mengalahkan muridku, Patih Kebo Iwa. Kamu memang pantas pula mengalahkan diriku yang tidak tahu diri ini. Aku yakin kamu memiliki segudang ilmu lain yang jauh lebih dahsyat daripada apa yang kamu perlihatkan kepadaku. Terima kasih telah membiarkan jiwa tuaku ini tetap hidup," kata Ki Dalang Camok setelah cukup lama berdiam diri.

"Maafkan aku, wahai orang tua. Aku telah melenyapkan seluruh kekuatanmu. Aku juga telah melenyapkan harapanmu untuk tetap menjadi senopati agung di Kuturan," ujar Patih Gajah Mada dengan perasaan sangat iba kepada Ki Dalang Camok yang kini tidak lagi memiliki kekuatan.

Seiring dengan perkataan Patih Gajah Mada, gerimis turun membasahi wajah mereka, membasahi jiwa-jiwa kering yang mulai menyadari bahwa ada kekuatan tunggal yang tidak bisa dihalangi dan dihentikan oleh siapa pun.

"Anak muda, jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Hilangnya kekuatanku ternyata telah mengikis kesombonganku. Hilangnya kekuatanku justru memunculkan kedamaian yang selama ini tidak pernah hadir di hatiku, yang selalu kunantikan dalam setiap tapa brataku. Ternyata, hijab penghalang hatiku selama ini adalah ajian petir yang kumiliki. Aku berjanji tidak akan pernah menjadi penghalangmu," ucap Ki Dalang Camok dengan wajah penuh persahabatan.

"Ki Dalang Camok, kita bertemu karena takdir-Nya. Semoga takdir mempertemukan kita kembali," kata Patih Gajah Mada sambil merapatkan kedua telapak tangan di dada sebagai tanda penghormatan.

Tanpa berkata-kata, Ki Dalang Camok membalas penghormatan Patih Gajah Mada.

Hari telah semakin larut. Hujan gerimis mengiringi langkah Patih Gajah Mada dan Arya Damar yang terus berjalan menyusuri pantai utara Balidwipa.

Perlahan, gerimis mulai reda seiring langkah kaki mereka yang tampaknya telah mencapai sebuah perkampungan nelayan.

"Tampaknya sebentar lagi akan menjelang pagi," ujar Patih Gajah Mada sambil memandang langit kemerahan di atas mereka.

"Kita tunggu pagi di gubuk kosong itu," kata Arya Damar sambil menunjuk ke arah sebuah gubuk kecil yang tidak jauh di depannya, dekat sebuah dermaga kayu.

Keduanya kemudian bersandar di bale-bale bambu di dalam gubuk tersebut sambil memandang deburan ombak di bawah temaram langit pagi yang masih gelap.

Ketika sang surya muncul di ujung timur menerangi tepi pantai, ternyata mereka sudah berada tidak jauh dari tempat penyeberangan.

Beberapa perahu tampak merapat di dermaga kayu yang cukup besar. Dua-tiga perahu juga terlihat merapat di dermaga di depan gubuk tempat mereka beristirahat.

"Apakah kalian akan menyeberang?" tanya seorang pemilik perahu kayu kepada mereka berdua.

"Benar, kami memang hendak menyeberang," jawab Patih Gajah Mada kepada orang itu.

Demikianlah, tidak lama berselang, keduanya telah berada di atas perahu yang akan mengantarkan mereka menyeberang ke Jawadwipa.

Hangatnya cahaya matahari menyinari laut biru pagi yang bergelombang kecil.

"Tidak perlu takut menemui Ki Dalang Camok yang lain," bisik Arya Damar di telinga Patih Gajah Mada.

Patih Gajah Mada hanya tersenyum menanggapi candaan saudara angkatnya itu. Pandangan matanya tertuju ke arah sekumpulan burung camar yang terbang berputar-putar sangat dekat dengan permukaan laut.

Perlahan, warna air laut tampak kehijauan, sebuah pertanda bahwa perahu mereka telah mendekati tepi pantai.

"Bandar Pelabuhan Banyuwangi," kata Arya Damar sambil menunjuk ke arah tiang-tiang layar perahu kayu yang tampak kecil di kejauhan.

"Bandar pelabuhan yang selalu ramai didatangi para pedagang dari berbagai penjuru bumi," ujar Patih Gajah Mada sambil memandang sebuah perahu besar yang merapat di dermaga, bergoyang-goyang dipermainkan lidah ombak.

Suasana kesibukan begitu riuh di Bandar Pelabuhan Banyuwangi ketika perahu yang membawa Patih Gajah Mada dan Arya Damar merapat di dermaga.

Tampak hilir mudik para buruh angkut di antara para pelaut yang sedang melepas lelah di bale-bale depan warung.

"Beristirahatlah di rumah kami. Aku akan mencarikan tumpangan untuk mengantarkan Tuan-Tuan ke Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh," kata seorang pejabat syahbandar yang ditemui kedua pemuda itu di rumahnya.

"Terima kasih, Ki Pandu," ucap Arya Damar kepada pejabat syahbandar kenalannya itu.

Demikianlah, kedua pemuda itu beristirahat di rumah Ki Pandu sambil menunggu perahu dagang yang akan berangkat nanti malam menuju Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

Hingga akhirnya, saat matahari tenggelam di Banyuwangi, sebuah perahu kayu tampak bergerak meninggalkan dermaga Bandar Pelabuhan Banyuwangi.

Daratan Jawadwipa tampak laksana naga hitam besar yang sedang tertidur. Perahu kayu yang membawa Patih Gajah Mada dan Arya Damar terus bergerak menembus lautan malam yang sepi.

Semilir angin laut berembus mengurai rambut hitam Patih Gajah Mada yang sedang berdiri di anjungan, menatap bintang-bintang di langit malam.

"Bintang di langit sungguh sebuah kesetiaan yang tidak pernah tercela; menjadi penunjuk arah bagi para pelaut, serta pertanda bagi para petani untuk memulai bercocok tanam," gumam Patih Gajah Mada dalam hati sambil memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit malam.

"Apa gerangan yang kamu pikirkan, wahai saudaraku?" tanya Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.

"Yang kupikirkan saat ini adalah sebuah pulau sunyi. Di sanalah aku akan menikmati akhir masa tuaku, menikmati kebebasan hati pada hari-hari tanpa pergulatan hidup yang tiada habisnya ini," jawab Patih Gajah Mada kepada Arya Damar sambil tersenyum.

"Ternyata kita berseberangan arah, wahai saudaraku," kata Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.

Terkejutlah Patih Gajah Mada mendengar penuturan saudara angkatnya itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment