Chapter 129
Ular sanca raksasa itu merayap terus ke arah timur Kademangan Randu Agung menuju padang Ledoktempuro.
Akhirnya, pasukan besar pendukung Empu Nambi telah memasuki jalan desa terakhir Kademangan Randu Agung yang berujung di muka sebuah padang ilalang yang sangat luas, padang Ledoktempuro.
Di sebelah timur padang Ledoktempuro terdapat hutan lebat dengan pohon-pohonnya yang tinggi menjulang seperti menyanggah langit, menutupi cahaya matahari pagi padang ilalang Ledoktempuro.
Terlihat pasukan Empu Nambi telah memasuki padang ilalang Ledoktempuro dan berhenti tepat di tengahnya, menghadap ke arah hutan Ledoktempuro.
Terdengar suara keras membahana dari Adipati Menak Koncar memberikan aba-aba perintah yang diikuti oleh para penghubung, terus menjalar hingga ke barisan paling ujung. Ternyata, aba-aba itu adalah perintah untuk bergerak membentuk gelar perang.
Dalam waktu yang amat singkat, barisan pasukan Empu Nambi terlihat bergerak membentuk gelar perang yang amat sempurna: gelar Garuda Nglayang.
Tegak berdiri dengan pandangan lurus ke depan, pasukan Empu Nambi siap menantang musuh yang akan muncul dari kegelapan hutan Ledoktempuro di ujung tepi timur batas padang ilalang yang luas itu.
Desir angin pagi bertiup cukup keras, mengibarkan umbul-umbul, rontek, dan tunggul-tunggul di tangan setiap kelompok pasukan.
Warna-warni dan aneka corak lambang umbul-umbul yang mereka bawa merupakan pertanda dari mana mereka berasal: para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang, para prajurit Majapahit di bawah pimpinan Panji Anengah, Panji Samara, dan Panji Wiranagari, serta para cantrik perguruan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa.
Gabungan pasukan besar itu telah bersatu dan disatukan oleh setangkai daun jarak yang terikat di atas kepala mereka.
Tidak lama berselang, muncullah pasukan dari hutan gelap bersama sorak-sorai gemuruh suara penuh semangat.
Itulah pasukan Majapahit yang keluar dari perkemahan mereka di hutan Ledoktempuro, muncul dalam barisan yang panjang seperti seekor naga raksasa yang keluar dari mulut hutan.
Manakala ujung barisan mereka sudah terlihat, pasukan Majapahit itu langsung membentuk gelar sempurna, gelar perang yang tangguh: Dirada Meta.
Terlihat Empu Nambi tersenyum memandang barisan musuh di hadapannya, sementara pasukannya telah meraba senjata masing-masing, memastikan senjata tersebut masih berada dalam jangkauan.
Sementara itu, mereka yang membawa tombak panjang tidak lagi memanggulnya di atas pundak, melainkan sudah terangkat dan merunduk, siap menghunjam dada musuh.
Seorang penghubung di sebelah Empu Nambi terlihat mengibarkan benderanya ke kiri dan ke kanan.
Tampaknya, pimpinan pasukan tombak segera memahaminya sebagai perintah untuk kelompoknya agar bergerak diam-diam, duduk berjongkok di belakang barisan terdepan dengan posisi mata tombak miring meruncing.
Kibar bendera pasukan Empu Nambi diartikan oleh Mahapatih Dyah Halayuda bahwa pasukan musuh telah siap bergerak. Maka, senapati agung pasukan Majapahit itu langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berteriak keras mengguntur.
"Hancurkan pasukan pemberontak itu!" teriak Mahapatih Dyah Halayuda memberi perintah.
Terdengar suara gemuruh prajurit Majapahit menyambut perintah senapati agung mereka.
Padang Ledoktempuro seperti tergoncang manakala pasukan segelar sepapan itu bergerak berlari memburu pasukan musuh di hadapannya.
Terlihat pasukan berkuda prajurit Majapahit di barisan terdepan seperti membelah padang ilalang, meninggalkan pasukan lainnya yang tengah berlari kencang dengan senjata terhunus, ingin segera meluluhlantakkan dada musuh-musuh mereka.
Layaknya seekor gajah raksasa mengamuk, begitulah pasukan besar Majapahit bergerak menerjang pasukan musuh di depan mereka.
"Apakah mereka bermaksud untuk bunuh diri bersama?" kata Dyah Halayuda dalam hati di atas kudanya yang tengah berlari, melihat pasukan musuh diam tidak bergerak menyongsong terjangan mereka.
Dyah Halayuda masih belum dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh pasukan Empu Nambi yang tidak bergerak sedikit pun menghadapi pasukannya yang sudah semakin dekat. "Apakah mereka gentar dan menggigil takut melihat pasukanku?" pikir Dyah Halayuda penuh kebanggaan, membayangkan pasukan besarnya sebentar lagi akan meluluhlantakkan pasukan Empu Nambi.
"Gila, gila, gila!" umpat habis-habisan Ki Jabung Terewes yang berada di pasukan berkuda.
Sebagaimana Ki Jabung Terewes, hampir semua pasukan berkuda Majapahit terkejut dan tidak mampu lagi menahan laju kuda mereka.
Siapa pun pasti akan terkejut bukan kepalang, apalagi masih berada di atas punggung kuda yang tengah berlari kencang, karena di barisan terdepan pasukan Empu Nambi tiba-tiba saja telah bergeser seperti gerbang pintu kayu yang terbuka melebar ke kiri dan ke kanan.
Bukan main terkejutnya pasukan berkuda itu yang telah terperangkap tonggak-tonggak hidup dari ratusan tombak yang sebelumnya terhalang barisan yang bergerak membuka itu.
Terlihat puluhan kuda tertusuk leher dan perutnya, melemparkan penunggangnya jatuh ke tanah berguling-guling dengan badan dan tulang terasa remuk. Bahkan, beberapa orang langsung tidak bergerak lagi karena sebuah batu besar menghantam kepala mereka ketika terjatuh.
Terdengar sorak-sorai pasukan Empu Nambi menyambut penuh kegembiraan melihat perangkap mereka berhasil gemilang memperdayai musuh.
Sementara itu, barisan terdepan pasukan Empu Nambi yang bergeser ke kiri dan ke kanan membuka pasukan tombak itu adalah bagian sayap pasukan dalam gelar Garuda Nglayang yang langsung bergerak menusuk lambung pasukan induk lawan dari sebelah kanan dan kirinya.
Porak-poranda kekuatan pasukan Majapahit yang berada di lambung pasukan induk itu dihantam sayap pasukan Empu Nambi.
Gemeretak gigi Dyah Halayuda menahan amarah yang meluap-luap melihat korban di pihaknya dalam gebrakan pertama itu. Ia langsung memerintahkan pasukannya mundur beberapa langkah untuk membantu pasukan di lambung mereka yang terkoyak-koyak.
Layaknya seekor gajah besar yang terguncang, perlahan pasukan itu dapat berdiri kembali tegak di keempat kakinya.
Pasukan Majapahit yang mundur teratur itu akhirnya kembali dalam gelarnya, mengimbangi gerak gelar musuh yang keras laksana seekor garuda raksasa menukik lincah mencakar dan mematuk mangsanya dari berbagai arah, serta kokoh bergerak dalam kesatuan perintah senapati mereka, Empu Nambi.
"Selamat datang, Mahapatih baru Majapahit. Maafkan bila sambutan kami tidak sesuai yang diharapkan," kata Empu Nambi di atas punggung kudanya, menghadang kuda Mahapatih Dyah Halayuda.
"Jangan merasa gembira dengan perangkap pasukan tombakmu, peperangan ini masih panjang," jawab Mahapatih Dyah Halayuda memandang tajam Empu Nambi seperti tengah mengukur tingkat kemampuan mantan pejabat tinggi istana yang telah berhasil digantikan kedudukannya itu.
"Peperangan ini memang masih panjang. Kulihat pasukanmu sudah berdiri kembali di keempat kakinya," kata Empu Nambi sambil tersenyum membalas tatapan mata Dyah Halayuda yang menusuk.
"Menang atau kalah tidak kupikirkan dalam peperangan ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana dapat membunuhmu," ujar Dyah Halayuda sambil menghentakkan kudanya maju ke depan mendekati Empu Nambi.
Dua trisula di tangan Dyah Halayuda terlihat menusuk ke dua sasaran berbeda: tubuh Empu Nambi dan perut kudanya.
Namun, kuda Empu Nambi adalah kuda pilihan yang sangat mengerti kemauan tuannya. Terlihat kaki belakang kuda Empu Nambi bergeser menjauhi trisula; bersamaan dengan itu, cakra di tangan Empu Nambi langsung bergerak menghantam trisula yang meluncur ke arahnya.
Trang!
Hampir saja Dyah Halayuda melepaskan trisulanya, merasakan telapak tangannya seperti tersengat panas.
"Hem," hanya suara dengusan itu yang terdengar dari bibir Empu Nambi yang dalam benturan pertama sudah dapat mengukur tingkat kemampuan lawannya.
Sementara itu, Dyah Halayuda terkejut bukan kepalang merasakan tataran tenaga sakti sejati lawannya sudah sangat tinggi, melampaui kemampuannya.
Itulah sebabnya dalam serangan-serangan berikutnya, Dyah Halayuda selalu menghindari benturan.
Cara bertempur Dyah Halayuda ini diketahui oleh Empu Nambi. Terlihat cakra di tangan Empu Nambi menjadi lebih leluasa bergerak mengejar ke mana pun tubuh Dyah Halayuda bergerak.
Bertempur di atas kuda tampaknya kurang menguntungkan bagi Dyah Halayuda yang langsung terbang melesat seperti seekor elang, mencengkeram dengan kedua cakar kakinya yang amat tajam.
Trang, trang!
Bersamaan dengan loncatan Dyah Halayuda yang meninggalkan kudanya, terlihat Empu Nambi ikut meloncat meninggalkan kuda seperti terbang menghadang dan menangkis kilatan trisula di tangan Dyah Halayuda.
Luar biasa akibat dari benturan senjata trisula dan cakra itu; tubuh Dyah Halayuda terlempar empat langkah ke belakang dengan kedua tangannya yang terasa sangat perih.
"Hem," hanya itu suara yang keluar dari bibir Empu Nambi yang tegak berdiri tersenyum menatap lawannya yang tengah berusaha untuk tegak kembali setelah limbung beberapa saat.
Namun, Dyah Halayuda memang seorang yang amat licik. Mengetahui bahwa seorang diri tidak akan mampu menandingi Empu Nambi, ia memanggil Lembu Peteng dan Ikal-Ikalan Bang.
"Hem," hanya itu suara yang terdengar dari bibir Empu Nambi menghadapi tiga orang penyerangnya itu.
Sambil menghadapi ketiga penyerangnya, Empu Nambi masih sempat mengamati seluruh sisi pertempuran.
Ia melihat kemapanan pasukan di sayap kanannya yang dipercayakan kepada putranya, Adipati Menak Koncar.
Sekilas, Empu Nambi dapat menilai pasukan sayap kanannya itu telah dapat menekan kekuatan musuh mereka.