Chapter 123
Keberhasilan Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya diikuti oleh keberhasilan pasukan pembawa anak tangga lainnya. Lambat namun pasti, dinding pagar batu Istana Lamajang tidak mampu lagi menahan laju aliran pasukan Majapahit yang terus menerobos masuk memenuhi bagian dalam istana.
Melihat sebagian pasukan Majapahit telah berhasil masuk dan bertempur di dalam, Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya bergerak bergeser ke arah pintu gerbang istana. Luar biasa tandang Ikal-Ikalan yang bertubuh pendek dan gempal itu; tidak seorang pun prajurit Lamajang yang dapat menahannya. Trisula di tangan kanan dan senjata cakra di tangan kirinya selalu berhasil singgah di tubuh prajurit Lamajang yang mendekatinya. Akibatnya, Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya tak tertahankan hingga berhasil mencapai pintu gerbang istana.
"Buka gerbang lebar-lebar!" teriak Ikal-Ikalan Bang memerintahkan dua orang prajuritnya.
Di bawah pengawalan kelompoknya, dua prajurit Majapahit berhasil membuka pintu gerbang. Begitu pintu dari kayu jati yang sangat kuat itu terkuak, ribuan prajurit Majapahit bergerak masuk dan langsung memenuhi bagian dalam istana. Perang tanding pun tak terelakkan; denting senjata beradu dan teriakan maut memenuhi setiap sisi halaman. Halaman Istana Lamajang telah berubah menjadi panggung pertempuran yang bergelora.
"Gelar tempur cakar elang," kata Adipati Menak Koncar dalam hati setelah melihat pasukan lawannya membentuk beberapa kelompok tempur dengan gerakan yang pernah ia saksikan di bumi Blambangan beberapa waktu lalu. Hanya bedanya, pasukan lawan menggunakan senjata trisula dan cakra. "Ki Secang tampaknya telah menyempurnakan jurus tempurnya," batinnya.
Empu Nambi juga mengamati gerakan jurus tempur yang mampu menekan prajurit Lamajang itu. "Gajah Mada pernah bercerita kepadaku tentang jurus ini," gumam Empu Nambi di tengah pertempurannya.
Namun, tiba-tiba terdengar suara mengguntur dari Adipati Menak Koncar. "Naga terbang turun ke bumi!"
Empu Nambi tersenyum melihat para prajurit Lamajang langsung membentuk beberapa kelompok, melakukan gerakan tempur ciptaannya sendiri yang dinamakan Naga Terbang Turun ke Bumi. Jika halaman istana adalah panggung tontonan, pastilah ini adalah tontonan yang sangat mengasyikkan. Namun, yang terjadi adalah pertempuran sungguhan. Dua kelompok besar dengan jurus berbeda menunjukkan kelebihannya; seekor naga yang meliuk-liuk melawan seekor elang jantan yang buas—sebuah pemandangan yang menggetarkan hati.
Pertempuran berlangsung lama tanpa tanda-tanda akan berakhir. Kedua pihak sama kuat dan sama banyaknya, begitu pula dengan jumlah korban. Ki Jabung Terewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang menunjukkan diri sebagai pemimpin yang ahli menggunakan trisula dan cakra. Sementara itu, Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Panji Samara, Panji Anengah, dan Panji Wiranagari menjadi tonggak yang membentengi terjangan pasukan Majapahit.
"Akulah lawan tandingmu," ujar Ki Jabung Terewes menghadang Adipati Menak Koncar.
"Aku mengenal banyak perwira tinggi Majapahit, tampaknya kamu orang baru di sana," jawab Adipati Menak Koncar.
"Akulah senapati besar di pasukan ini, pemimpin prajurit Majapahit baru," jawab Ki Jabung Terewes dengan penuh kesombongan.
"Pantas, aku tidak mengenalmu sebelumnya," sahut Adipati Menak Koncar.
"Setelah melihat bumi Lamajang ini menjadi lautan api, kamu baru akan menyesal telah mengenalku," ancam Ki Jabung Terewes sambil bersiap menyerang.
Adipati Menak Koncar memperkuat kuda-kudanya, "Para perwira tinggi Majapahit yang kukenal adalah orang santun, tidak sombong seperti dirimu."
Perkataan itu membuat darah Ki Jabung mendidih. "Kurobek mulutmu itu!" Ia menerjang dengan ujung trisula yang meluncur cepat. Namun, Adipati Menak Koncar hanya bergeser sedikit ke kanan. Trisula itu hanya menembus angin kosong. Belum hilang rasa terkejutnya, suara cakra di tangan Adipati Menak Koncar berdesing menghampiri pinggangnya.
"Gila!" teriak Ki Jabung Terewes sambil melompat jauh.
"Aku ingin melihat sejauh mana kemahiranmu memainkan cakra itu," ucap Adipati Menak Koncar tenang.
"Jarang ada orang yang dapat menghindari seranganku," kata Ki Jabung Terewes sembari berusaha mengendalikan diri, mengakui bahwa lawannya bukanlah orang biasa.
"Aku akan menghancurkan batok kepalamu!" Ki Jabung kembali menerjang. Adipati Menak Koncar merasakan serangan itu lebih bertenaga dan cepat. Ia pun meningkatkan tataran ilmunya, merendahkan tubuh, dan mengayunkan cakra ke arah perut lawan yang tidak terjaga. Menyadari bahaya, Ki Jabung membenturkan cakranya dengan senjata lawan.
*Trang!*
Keduanya terpental mundur beberapa langkah. "Gila, gila, gila!" umpat Ki Jabung sambil menggenggam erat cakranya yang terasa panas dan kesemutan.
"Pegang erat-erat cakramu, wahai orang tua," ledek Adipati Menak Koncar.
"Sudah lama aku malang melintang sebagai bajak laut, namun baru kali ini ada yang membuat cakraku bergetar hebat," aku Ki Jabung. Ia pun bersiap menyerang kembali dengan lebih hati-hati. Kehati-hatian itu membuat Adipati Menak Koncar lebih leluasa menyerang dari berbagai arah.
"Gila, gila, gila!" seru Ki Jabung tiba-tiba. Umpatan itu bukan karena serangan lawan, melainkan karena ia melihat pasukan baru dalam jumlah besar datang menjepit pasukannya. Rangga Pamandana telah membawa pasukan dari Blambangan dan Balidwipa tepat pada waktunya. Lima ribu pasukan baru tersebut langsung terjun ke medan laga dan menyerang prajurit Majapahit dari sisi belakang, membuat pasukan Majapahit terdesak dari dua arah.