Chapter 112
"Benar, Adipati Blambangan adalah putra Empu Nambi, sang Patih Amangkubumi Majapahit," kata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan suara yang lebih tegas.
"Apakah Kanjeng Ratu menerima pinangan Adipati Blambangan itu?" tanya Empu Halayuda.
"Aku tidak perlu menjawabnya untukmu karena itu bukanlah urusanmu," jawab Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan nada yang tidak lagi mengindahkan tata krama. Ia menganggap Empu Halayuda hanya seorang utusan yang sangat menjengkelkan.
"Hamba mohon pamit diri. Hamba akan menyampaikan apa pun yang hamba dengar kepada Baginda Raja Jayanagara," ujar Empu Halayuda. Ia dapat membaca raut wajah dan pikiran Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang tampak masam, sehingga ia pun menahan rasa mangkel yang luar biasa.
Setelah Empu Halayuda keluar dari pintu gapura batas Kotaraja Kahuripan, di dalam hatinya ia bersenandung lagu kemenangan karena merasa telah berhasil menciptakan keretakan di dalam keluarga istana Majapahit.
"Hanya anjing bodoh yang mau mengawini saudara tirinya," umpat Empu Halayuda sambil menghentakkan perut kudanya agar berlari lebih cepat menuju arah Kotaraja Majapahit.
Hari telah memasuki waktu sepi manakala kuda tunggangan Empu Halayuda melintasi gapura batas Kotaraja Majapahit. Setibanya di istana, ia langsung melangkahkan kakinya menuju puri pasanggrahan Raja Jayanagara. Ternyata Raja sedang menunggunya.
"Mata ini terasa lelah menatap ujung halaman puri pasanggrahan, gelisah berharap Empu Halayuda datang membawa kabar berita," kata Raja Jayanagara kepada Empu Halayuda.
Empu Halayuda menarik napas dalam-dalam, mencoba melakoni peran seseorang yang telah bersusah payah melakukan perjalanan jauh. Sang putra keturunan keenam dari Raja Wurawari itu memulai kembali lakon adu dombanya untuk merusak suasana di istana Kerajaan Majapahit.
"Sangat disayangkan, kedatangan hamba terlambat satu hari," ujar Empu Halayuda.
"Terlambat?" tanya Raja Jayanagara.
"Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri mengatakan bahwa pinangan Baginda Raja telah didahului oleh Adipati dari Blambangan," jawab Empu Halayuda.
"Istri Adipati Menak Jingga sudah berjumlah sembilan puluh sembilan. Apakah Ibunda Ratu Gayatri menerima pinangannya?" tanya Raja Jayanagara.
"Kemungkinan yang dapat hamba rasakan adalah bahwa Kanjeng Ratu Gayatri sangat menghormati Patih Amangkubumi, ayahanda Adipati Blambangan itu. Kanjeng Ratu Gayatri akan merasa bersalah bila menolak pinangan tersebut," ujar Empu Halayuda sembari mencoba mengeruhkan nama Empu Nambi di hadapan Raja Jayanagara.
"Lebih agung mana nama Amangkubumi dengan nama kebesaran ayahku?" Raja Jayanagara mulai tidak menyukai nama Empu Nambi terdengar di telinganya.
Di dalam hati, Empu Halayuda bersenandung kemenangan, namun ia tidak memperlihatkannya pada raut wajahnya. Ia menarik napas panjang dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.
"Hamba menduga Empu Nambi nampaknya tengah merangkai rencana halus, merangkul Kanjeng Ratu Gayatri dengan cara mempersunting putrinya. Mana kita tahu bila Empu Nambi sedang menyusun kekuatan di dalam istana ini untuk menggulingkan Baginda Raja, menyergap di malam hari saat Baginda pulas tertidur. Bisa jadi, Adipati Menak Jingga yang telah menjadi menantu Kanjeng Ratu Gayatri akan direstui menjadi Raja Majapahit ini," ucap Empu Halayuda sambil mengamati perubahan warna wajah Raja Jayanagara, bagaikan seorang pemburu yang memasang umpan hidup menunggu buruannya masuk perangkap.
Begitu gembira hati Empu Halayuda saat melihat perubahan di wajah Raja Jayanagara.
"Serigala tua itu harus segera disingkirkan," kata Raja Jayanagara yang sudah terjebak dalam hasutan Empu Halayuda yang sangat cerdik.
"Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan serigala tua itu," kata Empu Halayuda merasa telah menjerat mangsanya.
Ternyata keberuntungan masih memihak Empu Halayuda. Tersiar berita duka dari Tanah Lamajang bahwa Ki Banyak Wedi, yang dulu menyandang nama besar sebagai Arya Wiraraja, telah meninggal dunia. Empu Nambi kemudian menghadap Raja Jayanagara untuk meminta izin pergi ke Tanah Lamajang atas nama Kerajaan Majapahit guna menyampaikan belasungkawa, sebagai pertanda bahwa keluarga istana mengakui jasa Ki Banyak Wedi dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Raja Jayanagara pun menerima permohonan tersebut.
Keesokan harinya, saat pagi masih sangat gelap, Patih Amangkubumi yang diiringi sekitar dua puluh prajurit berangkat meninggalkan Kotaraja Majapahit menuju Tanah Lamajang. Rombongan itu membawa tanda khusus kebesaran bendera Majapahit Raya.
"Hendak ke manakah gerangan para utusan Kerajaan Majapahit itu?" tanya seorang petani tua dalam hati saat melihat rombongan Patih Amangkubumi melintasi padukuhan.
Rombongan terus bergerak, meninggalkan debu yang beterbangan. Para pedagang menepikan gerobak mereka di jalan Kademangan sebagai bentuk penghormatan. Patih Amangkubumi memacu kudanya di bawah tatapan sang surya yang terus mendaki cakrawala.
"Kita beristirahat di ujung sana," kata Patih Amangkubumi kepada perwira tinggi yang memimpin rombongan.
Mereka pun berhenti di bawah pohon rindang di tepi jalan, sementara para prajurit membawa kuda-kuda ke sungai kecil di sekitar tempat itu. Setelah matahari mulai bergeser dari puncaknya dan kuda-kuda dirasa cukup bugar, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Tanah Lamajang.
Bendera sang surya Majapahit terus berkibar membelah udara di padang ilalang yang luas. Hingga akhirnya, rombongan memasuki jalan tanah yang membelah dua bukit. Tiba-tiba, perwira tinggi yang memimpin rombongan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Laju kuda pun melambat. Patih Amangkubumi melihat segerombolan orang dengan jumlah dua kali lipat dari kelompoknya telah memenuhi sisi jalan.
"Prajurit Majapahit?" batin Patih Amangkubumi heran karena orang-orang yang menghalangi jalan mereka tampak mengenakan seragam keprajuritan Majapahit.
"Siapakah pemimpin pasukan ini?" tanya perwira tinggi rombongan Patih Amangkubumi.
"Aku pimpinan pasukan di sini," jawab seseorang bersuara berat.
"Dari kesatuan manakah kalian?" tanya sang perwira tinggi karena merasa tidak ada satu pun yang ia kenali di antara mereka.
"Kami tidak dari kesatuan mana pun. Yang pasti, kami berada di bawah perintah langsung Raja Jayanagara," jawab pimpinan yang bersuara berat itu.
Patih Amangkubumi terkejut mendengarnya. "Raja Jayanagara telah membentuk pasukan khusus? Apakah Raja sudah tidak percaya lagi denganku?" batinnya.
"Lalu, apa tugas kalian di sini?" tanya perwira tinggi.
Pertanyaan itu dijawab dengan tawa terbahak-bahak oleh prajurit bersuara berat tersebut. "Tugas kami di sini adalah memenggal kepala kalian semua!"
Mendengar pernyataan itu, perwira tinggi segera turun dari kudanya, diikuti oleh Patih Amangkubumi dan dua puluh prajurit lainnya.
"Penggal kepala mereka semua!" teriak pimpinan pasukan itu memberi perintah kepada pengikutnya.