Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 55

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 55

Ternyata, pandangan mata mereka merupakan sebuah kesepakatan bersama untuk terjun langsung ke arena pertempuran, membantu Ki Badra dan Ki Badru yang sudah semakin surut tenaganya.

Bukan main terkejutnya Gajah Mada yang tiba-tiba merasakan sambaran tongkat dari arah belakangnya. Seketika itu, Gajah Mada melesat menghindar jauh ke samping sambil melihat siapa gerangan penyerangnya, yang ternyata adalah Ki Ajar Pelandongan. Namun, baru saja kakinya menapak ke tanah, sambaran tongkat lain datang dengan sangat cepat dan keras. Tidak ada jalan lain bagi Gajah Mada selain melompat terbang untuk menghindari serangan tidak terduga itu.

"Jarang sekali ada orang yang dapat menghindari seranganku," ujar lelaki tua di hadapan Gajah Mada sambil kembali melancarkan serangan. Serangan orang yang bernama Gagakpati itu memang sangat dahsyat, seperti ombak besar yang bergulung-gulung.

Kehadiran Ki Pelandongan menjadi angin segar bagi Ki Badra dan Ki Badru yang mulai terkikis daya tahan dan semangat tempurnya. Keduanya tampak memperoleh semangat baru dan langsung menerjang ke arah Gajah Mada.

"Tamat riwayatmu," batin Ki Pelandongan yang langsung menyerang Gajah Mada dari arah lain.

Sementara itu, tidak jauh dari arena pertempuran, seorang pemuda yang terikat kedua tangannya menyaksikan perkelahian itu tanpa berkedip sedikit pun. "Bila anak muda itu mati, akulah penyebabnya. Kelak aku akan berbakti kepada keluarganya untuk menebus kebaikan hatinya yang ingin memerdekakanku dari empat manusia berhati iblis itu," ucap pemuda yang usianya sedikit lebih muda dari Gajah Mada itu.

Manakala Gajah Mada terlepas dari serangan lawannya, pemuda itu tampak bernapas lega. Sambil berdiri di kejauhan, ia terus memperhatikan pertempuran antara Gajah Mada dengan empat orang sakti yang menurutnya sangat memalukan itu. Padahal, pemahaman anak muda itu tentang kanuragan masih sangat dangkal; seandainya ia mengerti, ia pasti akan berdecak kagum dengan apa yang dilakukan Gajah Mada.

Keempat lawan Gajah Mada tampak kehilangan akal karena hampir seluruh serangan mereka dapat dimentahkan dengan mudah. Sebaliknya, serangan Gajah Mada terasa sangat rumit dan sukar ditebak arahnya. Gajah Mada layaknya seekor elang jantan yang terbang menyambar ke sana kemari. Satu dua kali pukulannya pun sempat mengenai sasaran.

Ki Gagakpati, yang paling mapan di antara mereka, sangat kesulitan membaca arah serangan Gajah Mada yang begitu cepat dan tidak terduga. Ia yang sudah malang melintang menghadapi berbagai perguruan, di hadapan Gajah Mada seolah menjadi orang baru yang mengenal ilmu kanuragan. Mereka tidak mengetahui bahwa pemuda yang mereka hadapi adalah murid binaan tiga tokoh sakti mandraguna yang sangat disegani: Patih Mahesa Amping, Prabu Gurusuci Darmasiksa, dan Sang Pertapa dari Gunung Wilis.

Patih Mahesa Amping, yang dikenal sebagai Manusia Dewa, adalah sosok cerdas yang merangkum rahasia kelemahan berbagai olah kanuragan di Jawadwipa dan menciptakan ilmu yang jauh lebih sempurna. Prabu Gurusuci Darmasiksa, mantan Raja Sunda yang mengasingkan diri di lereng Gunung Galunggung, mewariskan ajian rahasia para leluhur raja Pasundan, yaitu Aji Pangeran Muncang Kuning yang dapat menghancurkan gunung batu. Sementara itu, Pendeta Darmaraya dari Gunung Wilis memiliki tingkat ilmu yang sangat tinggi, konon dapat bergerak secepat angin.

Ketiga ilmu pilihan tersebut tumbuh subur di dalam diri Gajah Mada. Namun, Gajah Mada bukanlah orang yang brutal; ia mampu mengendalikan diri. Meski memiliki kesaktian tinggi, ia tidak menunjukkan jati diri yang sebenarnya dan hanya mengimbangi tataran kekuatan lawan-lawannya. Akibatnya, keempat lawan tersebut merasa seperti menghadapi banteng muda yang sukar ditundukkan, hingga tenaga mereka terkuras habis.

Cahaya pagi mulai terang. Keempat orang sakti itu sudah bermandi keringat, sementara tidak setitik pun peluh mengalir di tubuh Gajah Mada. Ia tampak seperti sedang bermain-main, meski dikepung dari berbagai arah. Setelah menyadari tenaga lawan telah habis, Gajah Mada mengakhiri pertempuran dengan gerakan cepat dan pukulan keras yang membuat keempat lawannya jatuh pingsan.

"Mengapa kamu tidak melarikan diri ketika kami bertempur?" tanya Gajah Mada kepada pemuda yang terikat tadi.

Setelah terdiam sejenak, pemuda itu menjawab, "Semula aku mengira Tuan akan terbunuh oleh keempat iblis itu. Jika aku melarikan diri, aku tidak akan mengetahui jati diri Tuan. Aku merasa terharu atas niat Tuan menolongku. Maafkan dugaanku, dan aku telah berjanji untuk berbakti seumur hidup kepada keluarga Tuan."

Gajah Mada tersenyum, diam-diam memuji budi halus pemuda itu. "Sekarang kamu bebas, kembalilah ke rumah keluargamu," kata Gajah Mada sambil melepaskan ikatannya.

Pemuda itu menengadah ke langit, menutupi rasa haru. Ia bercerita bahwa selama ini ia hidup berdua dengan ayahnya yang ahli membuat senjata, termasuk keris. Karena kemelut di Kota Tuban, mereka mengungsi ke Lamajang. Namun, kedamaian itu terusik ketika empat manusia berhati iblis itu datang dan membunuh ayahnya. Ayahnya sempat melawan dan hampir mengalahkan Ki Gagakpati sebelum akhirnya dikeroyok oleh ketiga temannya.

"Siapa namamu?" tanya Gajah Mada.

"Supo Mandagri," jawabnya.

"Namaku Gajah Mada. Kita sama-sama putra tunggal. Ikutlah bersamaku ke Majapahit," ajak Gajah Mada.

"Terima kasih. Aku memang tidak tahu hendak pulang ke mana lagi setelah ayah tiada," jawab Supo Mandagri sambil memandang Gajah Mada dengan tatapan tulus.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment