Chapter 132
"Sampaikan kepada Mahapatih, aku akan segera menghadap," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada prajurit itu.
Tidak lama berselang, terlihat Tumenggung Jala Rananggana telah keluar dari gubuknya untuk memenuhi panggilan Mahapatih Dyah Halayuda. Sesampainya di gubuk Mahapatih Dyah Halayuda, ia melihat sudah ada Ikal-Ikalan Bang dan beberapa perwira tinggi.
"Dalam pertempuran besok, aku berharap Tumenggung Jala Rananggana tetap menjadi senapati pengapitku di sayap kiri dalam gelar Dirada Meta," ujar Dyah Halayuda.
Tumenggung menarik napas panjang. "Yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga," batinnya. Ia membayangkan bahwa dalam pertempuran esok, ia dipastikan akan berhadapan dengan menantunya sendiri, Adipati Menak Koncar.
"Apa yang harus kukatakan kepada kedua putra mereka bila pedangku ternoda darah ayahnya?" gumam Tumenggung Jala Rananggana di dalam hati.
Malam itu, bulan belum tua di langit Kademangan Pronojiwo, sebuah kademangan yang berada di kaki Gunung Semeru. Di saat bumi Lamajang bergelora, Kademangan Pronojiwo menjadi tempat pengungsian bagi warga Lamajang yang meyakini bahwa peperangan tidak akan menjalar hingga ke sana. Hal itu mungkin dikarenakan letaknya yang berada di ujung paling barat, terpisah oleh sebuah hutan kecil dengan beberapa kademangan terdekat.
Empu Nambi sangat memperhatikan keselamatan para pengungsi dengan menempatkan tiga ribu pasukannya di Kademangan Pronojiwo. Rangga Pamandana dipercaya oleh Empu Nambi untuk memimpin pasukan tersebut, yang sebagian besar berasal dari para prajurit pengawal Kadipaten Blambangan. Di samping menjaga keamanan para pengungsi dan warga, pasukan Rangga Pamandana juga disiapkan sebagai pasukan khusus oleh Empu Nambi, terpisah dari pasukan induk di benteng Randu Agung, jauh dari perhitungan dan pengamatan Mahapatih Dyah Halayuda.
Tadi siang, sebagian dari pasukan Rangga Pamandana telah dengan mudah menggasak gudang persediaan Majapahit. Dengan penuh kegembiraan, hasil jarahan itu langsung dibagikan kepada para pengungsi dan warga Kademangan Pronojiwo. Malam itu, tampaknya Rangga Pamandana ingin kembali membuat kehebohan di perkemahan pasukan Majapahit.
"Malam ini aku perlu seratus prajurit untuk menglanglang di Hutan Ledoktempuro," kata Rangga Pamandana kepada salah seorang kepala kelompok prajurit.
Tidak lama berselang, Rangga Pamandana bersama seratus orang prajuritnya keluar dari Kademangan Pronojiwo. Untuk menghindari pengamatan petugas Majapahit yang tersebar di berbagai tempat, pasukan Rangga Pamandana tidak melewati jalan utama, melainkan memotong di antara pematang sawah menuju Hutan Ledoktempuro.
"Kita buat mereka tidak tidur semalaman," kata Rangga Pamandana ketika mereka telah berada di sekitar perkemahan Hutan Ledoktempuro.
Suasana perkemahan sudah larut malam. Hampir seluruh prajurit Majapahit tertidur pulas setelah lelah bertempur seharian dengan jatah makan terbatas akibat gudang persediaan mereka dijarah oleh pasukan Rangga Pamandana. Terdapat lima pos gardu penjagaan di perkemahan itu, dan para penjaga secara bergilir berkeliling untuk memastikan keadaan tetap aman.
Malam itu, semilir angin terasa sangat dingin hingga menusuk kulit, membuat para penjaga di pos gardu ujung perkemahan duduk berhimpitan di dekat perapian. Namun, salah seorang penjaga melihat seseorang tengah menyalakan perapian di kegelapan malam.
"Mungkin seorang prajurit yang masih kelaparan, sedang berburu unggas di hutan," ujar salah seorang penjaga kepada kawannya.
"Mari kita dekati, siapa tahu ada unggas lebih," sahut kawannya.
Kedua prajurit penjaga itu pun mendekati orang yang tengah membuat perapian. Tubuh orang itu membelakangi mereka sehingga wajahnya belum terlihat jelas.
"Pendeta menyebar benih di tanah kering," ucap salah seorang penjaga, menyebut sebuah kata sandi.
"Pendeta harusnya di pura, membaca kitab suci," jawab orang itu sambil menambahkan ranting-ranting kecil ke perapian.
Mendengar jawaban tersebut, kedua penjaga itu mengerutkan kening. Mereka langsung bersiaga dan meraba pedang di pinggang masing-masing.
"Berdiri dan berbalik badan agar kami dapat melihat wajahmu," perintah salah seorang penjaga.
Lelaki itu berdiri sambil menepak-nepak telapak tangannya yang kotor, lalu berbalik badan. Mata kedua penjaga itu terbelalak menatap wajah lelaki yang tersenyum memandang mereka.
"Rangga Pamandana!" seru mereka bersamaan.
Ternyata lelaki itu adalah Rangga Pamandana, orang yang tadi siang menggasak habis gudang persediaan mereka. Baru saja keduanya meraba gagang pedang, tangan Rangga Pamandana bergerak dengan amat cepat.
*Plok! Plok!*
Dua tamparan kuat mendarat di wajah keduanya hingga mereka limbung dan jatuh ke tanah dengan kepala terasa pening. Kejadian itu disaksikan oleh kawan-kawan mereka.
"Ada sesuatu menimpa kedua teman kita," seru salah seorang penjaga sambil menunjuk ke arah kedua temannya yang terjatuh.
Delapan orang penjaga lainnya berlarian mendekat. Mereka terpaku karena mengenal sosok lelaki yang merobohkan kedua kawan mereka.
"Rangga Pamandana!" ujar beberapa orang yang mengenali sosok yang tengah berdiri tegak dengan senyum tipis itu.
"Mengapa salah seorang dari kalian tidak membunyikan tanda bahaya?" tanya Rangga Pamandana.
Mendengar pertanyaan itu, para prajurit penjaga saling berpandangan.
"Jaluk, lekas kamu bunyikan pertanda, sementara kami akan menahan orang ini agar tidak lari!" perintah salah seorang penjaga kepada kawannya yang bernama Jaluk.
Jaluk segera berlari ke gubuk tempat kentongan berada. Bersamaan dengan itu, sepuluh prajurit Rangga Pamandana menyelinap masuk ke kandang kuda.
"Aku tidak akan lari, mari kita memanaskan tubuh kita di malam dingin ini," ucap Rangga Pamandana saat merasa yakin pasukannya telah berhasil menyelinap.
Baru saja ia berkata demikian, suara kentongan tanda bahaya bergema di malam yang sepi. Tidak lama kemudian, ketujuh prajurit penjaga telah mengepung Rangga Pamandana dengan pedang terhunus.
"Kita tahan orang ini, sebentar lagi kawan-kawan kita akan datang membantu," kata salah seorang penjaga.
Perkataan itu menumbuhkan keberanian. Dua orang penjaga melayangkan pedang dari arah berbeda ke arah Rangga Pamandana.
"Nampaknya kalian banyak berlatih dengan patok-patok mati," ejek Rangga Pamandana sambil bergeser selangkah.
Kedua penyerang itu kecewa karena kehilangan sasaran. Keempat kawan mereka segera menyusul menerjang. Meski diserang susul-menyusul, Rangga Pamandana tidak sedikit pun terluka. Ia bergerak cepat seolah sedang bermain-main dengan bahaya sambil menunggu sesuatu.
Yang ditunggu Rangga Pamandana adalah kedatangan para penjaga dari gardu lain, serta terbangunnya prajurit Majapahit yang panik karena suara kentongan. Rangga Pamandana masih terus meladeni ketujuh penjaga tersebut.
Ternyata, hal yang dinanti Rangga Pamandana adalah suara langkah kaki kuda yang panik berlari ke berbagai arah. Kehebohan luar biasa terjadi saat para penjaga dari pos lain berdatangan dan prajurit terbangun dari tidurnya. Di saat semua orang hendak meringkusnya, terdengarlah derap kaki kuda tanpa penunggang. Pasukan Rangga Pamandana yang menyelinap ke kandang kuda telah membuka pintu kandang selebar-lebarnya.
Semua mata tertuju ke arah kuda-kuda yang berlari tanpa arah. Ratusan kuda berlari ke segala penjuru, bahkan berlawanan arah dengan prajurit yang baru datang. Suasana perkemahan berubah menjadi riuh dengan suara derap kaki, ringkik kuda, dan teriakan orang-orang.
"Kejar dan tangkap kuda-kuda itu!" teriak beberapa orang yang berusaha mengejar kuda mereka.